
Dua hari setelah pernikahannya, Dina tidak pernah bertemu dengan Abimanyu. Hanya Nisa saja yang sering mendatanginya setiap pagi sebelum pergi ke Rumah Sakit.
Seperti pagi ini Nisa datang dengan membawa satu piring nasi goreng seafood buatannya dan memberikannya kepada Dina.
Dina yang kebetulan sedang lapar pun langsung memakannya di hadapan Nisa dengan sangat lahap.
"Na..Mas Abi sedang sedikit sibuk jadi dia belum bisa menemui kamu..kamu tidak apa-apa kan ?" Tanya Nisa.
"Tidak apa-apa Mbak..aku mengerti kok " Jawab Dina.
Sesungguhnya Dina sendiri belum siap untuk bertemu dengan Abimanyu setelah melihat sikap Abimanyu pada saat hari pernikahan mereka. Jika boleh jujur sebetulnya ada kerinduan yang teramat dalam kepada sosok pria tampan itu namun semuanya harus Dina buang jauh-jauh saat ia menyadari jika Abi yang diam-diam ia rindukan itu sekarang bukanlah Abi yang dulu.
Dina juga tidak menyalahkan jika Abi bersikap seperti itu. Kesalahan sepenuhnya ada di tangannya dan rasanya wajar jika Abi bersikap seperti itu kepadanya. Dirinya saja yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu.
Dina menelan nasi gorengnya dengan susah payah seperti menelan batu, padahal tadi Nasi goreng buatan Nisa itu terasa sangat enak karena dibuat dari bahan yang premium.
"Na..aku mau membicarakan masalah pembagian tugas..ini harus kita bicarakan agar kedepannya kita bisa sejalan " Kata Nisa.
"Iya, Mbak " Jawab Dina sambil menghentikan makannya.
"Kamu lanjut makan saja " Kata Nisa ketika Dina malah menghentikan makannya padahal nasi goreng di piringnya masih banyak.
Dina mengangguk patuh dan melanjutkan makannya sambil menyiapkan telinganya untuk menangkap apa yang akan Nisa bicarakan.
"Kita akan mengurus Mas Abi bersama-sama. Untuk jatah malam sebaiknya kita bicarakan setelah Mas Abi sudah benar-benar nyaman dengan kamu. Kalau kita menuntut untuk pembagian yang adil aku takutnya Mas Abi merasa terbebani dan merasa tidak nyaman, aku harap kamu mau mengerti dan bersabar " Kata Nisa.
"Aku tidak masalah Mbak...aku ngikut apa kata Mbak Nisa saja " Jawab Dina.
"Tidak bisa begitu juga, Na. Sekarang ini kamu memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan aku..yang aku bicarakan barusan adalah hanya berlaku untuk saat ini dimana Mas Abi masih belum terlalu mengenal kamu. Pastinya Mas Abi juga butuh waktu untuk mengenal orang asing yang tiba-tida hadir dalam kehidupannya " Kata Nisa.
Dina menunduk..hatinya terasa sakit menerima kenyataan jika Abi sekarang menganggap dirinya orang asing, padahal dulu mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencinta.
"Aku harap kamu juga mengerti posisi Mas Abi "
"Iya..aku mengerti Mbak " Jawab Dina sambil tersenyum getir.
"Dan ada satu lagi yang paling penting..semua keluarga Mas Abi tidak ada yang tahu tentang pernikahan kalian karena ini permintaan Mas Abi sendiri. Jadi kalau ada keluarga Mas Abi yang datang berkunjung aku mohon kamu bisa menjaga sikap " Pesan Nisa.
"Baik Mbak " Jawab Dina.
"Oh iya..hari ini giliran aku dinas malam, aku minta tolong siapkan makan malam untuk Mas Abi ya..sekalian kamu coba mengambil hati dia. Perlu kamu tahu kalau Mas Abi itu type orang yang susah dekat dengan orang yang baru dikenal, makanya kamu harus padai-pandai memanfaatkan kesempatan " Saran Nisa.
"Iya, Mbak " Jawab Dina
Setelah berbicara panjang lebar Nisa pun pulang dan bersiap pergi ke Rumah Sakit setelah memberikan kunci rumahnya kepada Dina.
Setelah Nisa pergi Dina membereskan rumah dan membersihkan halaman. Ia juga membersihkan halaman rumah Nisa dan menata tanaman yang sepertinya kurang begitu terawat karena kesibukannya. Dina juga menyirami semua tanaman itu hingga terlihat lebih segar dan cantik.
__ADS_1
Dina tidak berniat untuk masuk ke rumah Nisa karena itu adalah ranah pribadi Nisa walaupun Nisa memberikan kunci rumahnya kepada Dina. Setelah membersikan halaman Dina pun pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan yang akan ia masak untuk nanti malam. Dina ingat pesan Nisa agar ia menyiapkan makan malam untuk Abi karena Nisa sedang dinas malam di rumah sakit.
Dina masih memiliki sisa uang pemberian dari Nisa yang cukup untuk belanja kebutuhan dapur. Selesai belanja Dina menyusun semua barang belanjaannya di dapur, daging, telur, bumbu dapur sampai buah-buahan sudah memenuhi kulkasnya. Seumur hidupnya Dina belum pernah memenuhi kulkas di rumahnya dengan banyak makanan paling juga berisi berbotol-botol air dingin. Dan Dina juga tidak pernah memiliki uang sebanyak yang Nisa berikan kepadanya.
Jam 17 30
Dina mendengar suara mobil masuk di pekarangan rumah Nisa, dari celah gorden Dina melihat Abimanyu turun dari mobilnya dan masuk kedalam rumah. Beberapa tahun berpisah Dina dibuat terpesona dengan penampilan Abimanyu sekarang ini.
Sekarang ini Abimanyu terlihat sangat tampan dan matang. Dari wajahnya terlihat ada aura seorang pemimpin dengan sorot matanya yang tajam. Dulu juga Abimanyu memang tampan, namun dulu dia itu tengil. Pembawaannya yang santai selalu membuat Dina nyaman..sifat itulah yang telah membuat Dina jatuh cinta dan cintanya itu tidak pernah lekang terkikis oleh waktu.
Sesuai perintah Nisa hari ini Dina memasak untuk makan malam Abimanyu. Ia membuat Ayam goreng dan sup jamur. Kebetulan Nisa baru mendapat kiriman jamur tiram dari Ayahnya yang habis panen. Dulu sewaktu pacaran Abimanyu juga suka makan sup jamur di rumahnya dan Dina ingin mengembalikan momen itu agar ia bisa mendapatkan kembali hati Abimanyu seperti saran dari Nisa.
Setelah masakannya matang, Dina memasukannya kedalam rantang dan ia antarkan ke rumah sebelah. Meskipun memiliki kunci sendiri namun Nisa memilih mengetuk pintu dan menunggu Abimanyu membuka pintunya.
Setelah beberapa kali ketukan akhirnya pintu rumah pun terbuka. Abimanyu berdiri menjulang dengan pakaian santainya dan sebuah handuk tersambit di lehernya. Wangi shampo dan sabun mandi menguar di indra penciuman Dina..sepertinya Abimanyu baru selesai mandi.
"Mau ngapain lu kesini ?" Tanya Abimanyu masih berdiri di pintu seolah tidak memberi jalan bagi Dina untuk masuk.
"A.aku mau mengantarkan makan malam untuk Mas Abi " Jawab Dina dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Dulu Abi tidak pernah menyebutnya Lu..meskipun tengil namun dulu Abi adalah pria yang santun.
"Lu ga usah repot-repot masak buat gue. Kalau Nisa tidak ada gue sudah terbiasa cari makan sendiri " Ujar Abimanyu.
"Tapi ini Mbak Nisa yang suruh " Jawab Dina sambil menunduk menyembunyikan airmata yang mulai mengambang di kelopak matanya.
"Ya sudah..simpan sana di meja. Sekalian ada yang mau gue omongin sama lu " Abimanyu menggeser tubuhnya memberi ruang bagi Dina untuk masuk.
Setelah semua beres Abimanyu menyuruh Dina duduk di ruang tengah. Dina duduk dengan kepala menunduk menatap ujung jari kakinya yang telanjang. Dina tidak tahu apa yang akan Abimanyu bicarakan kepadanya namun pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu sempat pergi ke kamar dan tidak lama kemudian kembali lagi dengan sebuah amplop ditangannya.
Abimanyu melemparkan amplop berisi uang itu keatas meja tepat di hadapan Dina membuat gadis itu terperanjat.
"Itu uang seratus juta .Gue mau lu ganti uang Nisa yang sudah terpakai untuk biaya oprasi Ayah lu..sisanya ambil saja untuk kebutuhan lu. Setelah itu pergi dari kehidupan gue dan Nisa !" Perintah Abimanyu.
Dina terperangah dengan mata yang mulai berembun.
"Walaupun lu mengingkari kesepakatan dengan Nisa tapi Nisa tidak dirugikan karena uangnya kembali. Dan lu bisa pergi dan jangan menampakan diri lagi di hadapan gue " Perintah Abimanyu.
Dina termangu dengan mata berembun.
"Gue bilang ambil uang itu dan enyah dari hadapan gue !" Perintah Abimanyu.
Dengan tangan gemetar Dina mengambil amplop berisi uang itu kemudian pergi dari hadapan Abimanyu. Belum sampai di pintu air matanya sudah luluh berhamburan membasahi pipi mulusnya.
Dina tidak kuasa menahan sakit di hatinya atas perlakuan Abimanyu kepadanya. Jika saja ia terlahir dari keluarga berada tidak mungkin ia terjebak di dalam masa lalu hanya demi mencari uang untuk pengobatan Ayahnya. Dina merasa tidak mempunyai harga diri di hadapan mantan kekasih yang kini berstatus sebagai suaminya.
Dengan perasaan hancur Dina membereskan bajunya dan malam itu juga Dina pulang ke rumah orangtuanya.
Kedatangan putrinya malam-malam tentu saja membuat Ayah dan Ibunya heran terlebih ketika mereka melihat mata Dina yang sembab seperti yang habis menangis.
__ADS_1
Tanpa bertanya pun orangtua Dina sudah bisa menebak jika Abimanyu pasti sudah memperlakukan Dina dengan tidak baik karena mereka melihat sendiri sikap Abimanyu di saat hari pernikahannya dengan Dina.
"Ayah akan berusaha cari pinjaman untuk mengganti uang Dokter Nisa agar kamu tidak usah mengorbankan diri kamu " Kata Ayah dengan suara getir.
"Mas Abi sudah memberikan uang untuk mengganti uang mbak Nisa, Yah " Kata Dina lirih.
"Suami kamu memberi kamu uang ?" Tanya Ayah tidak percaya.
"Iya..dan dia menyuruh aku pergi " Jawab Dina.
"Ya Tuhaan "
*
Nisa tiba di rumah disaat Abimanyu sudah pergi ke kantor. Ketika masuk ia mendapati di meja makan ada sup jamur dan ayam goreng. Nisa sudah menebak pasti Dina yang sudah memasakkannya untuk Abimanyu tapi sayangnya makanan itu tidak ada tanda-tanda disentuh sama sekali. Bahkan piring dan gelas yang ada di meja pun terlihat tidak dipakai pertanda malam tadi Abimanyu tidak makan.
Karena sangat mengantuk Nisa pun memilih langsung tidur karena semalam ia menangani cukup banyak pasien di IGD. Bahkan ada korban kecelakaan yang membutuhkan penanganan khusus membuat Nisa sama sekali belum sempat memejamkan matanya.
Nisa baru terbagun dari tidurnya ketika jam sudah menunjukkan angka dua. Setelah membersihkan tubuhnya Nisa pun pergi ke rumah sebelah untuk menemui Dina namun sayang disana Nisa tidak menemukan Dina.
Nisa malah menemukan segepok uang dan sebuah surat dari Dina.
Mbak Nisa maaf saya terpaksa mengingkari kesepakatan kita dan saya mengganti uang mbak Nisa yang sudah terpakai untuk biaya oprasi Ayah saya. Sekali lagi saya mohon maaf dan saya ucapkan terimakasih atas pertolongan Mbak Nisa
Nisa terlihat sangat kecewa dengan keputusan Dina itu. Padahal Nisa sangat berharap Dina mau mengabulkan permintaannya untuk memberikan keturunan.
Nisa heran darimana Dina mendapatkan uang untuk mengganti semua uangnya itu, bahkan setelah dilihat ternyata uang itu berjumlah seratus juta rupiah.
Nisa yang kesal dengan keputusan sepihak dari Dina itu pun langsung mendatangi Dina di rumahnya namun sayang Dina sedang tidak ada dan menurut Ayah dan Ibunya Dina sedang pergi untuk melamar pekerjaan.
Setelah diselidiki akhirnya Nisa tau ternyata Dina mendapatkan uang itu dari Abimanyu.
Nisa kembali dari rumah Dina dan mendapati Abimanyu sudah ada di rumah. Tanpa ba bi bu Nisa langsung melemparkan amplop berisi uang itu kepada Abimanyu.
"Kamu itu tega sekali Mas..kamu tahu aku sangat berharap sekali Dina akan memberi kita momongan. Tapi dengan uang kamu ini telah membuat Dina pergi " Kata Nisa dengan wajah merah padam karena menahan amarah yang membuncah.
Abimanyu mengembuskan nafas berat ke udara. Ia merutuki Dina yang malah mengaku jika ia yang sudah memberikan uang itu..dasar gadis bodoh.
"Maaf sayang..aku--"
Ucapan Abimanyu menggantung di udara.
"Aku sangat kecewa sama kamu Mas..kamu sudah mengacaukan semuanya " Kata Nisa sambil pergi ke rumah sebelah.
Nisa sangat kecewa kepada Abimanyu yang sudah dengan teganya mematahkan mimpinya yang ingin segera memiliki momongan. Abimanyu tidak tahu bagaimana perasaannya jika sedang berkumpul bersama seluruh keluarganya.
Abimanyu tidak tahu jika Nisa merasa tidak percaya diri, Nisa juga ingin menjadi seorang ibu seperti Selina, Nana dan Sherina. Nisa merindukan suara tangis bayi dan celotehan anak di rumahnya yang selama ini selalu sepi...Abimanyu benar-benar tidak mengerti perasaannya.
__ADS_1