Istri Kedua Sang Mantan

Istri Kedua Sang Mantan
Menepati Janji


__ADS_3

Setelah kelahiran bayi mungil yang diberi nama Sabina Putri Abimanyu, Nisa mengambil keputusan besar yaitu resign dari Rumah Sakit tempatnya bekerja. Nisa memutuskan untuk fokus mengurus Sabina, bayi yang selama ini sangat ia nantikan kehadirannya.


Sesuai dengan perjanjiannya dengan Abimanyu, Dina masih tinggal di rumah sebelah dan mengurus Sabina bersama-sama. Nisa sama sekali tidak mengetahui mengenai perjanjian antara Dina dengan Abimanyu dibelakangnya sesaat setelah Dina melahirkan.


Setelah Sabina lahir Nisa sama sekali tidak ada niat sedikitpun untuk menyingkirkan Dina. Sesuai niat awal ketika ia meminta Dina untuk menjadi madunya, Nisa samasekali tidak keberatan untuk berbagi suami dengan Dina dan mengurus Sabina bersama-sama.


Sore ini Nisa sudah memandikan Sabina dan Dina langsung menyusuinya hingga kenyang dan akhirnya bayi mungil itu tertidur pulas diatas ranjang cantiknya.


Setelah membuat Sabina tidur nyenyak Dina pun kembali ke rumah sebelah sebelum Abimanyu pulang dari kantor. Meskipun pada akhirnya Abimanyu mengijinkan Dina masuk ke rumahnya namun Dina selalu berusaha untuk menghindari bertemu dengan Abimanyu.


Demi mempermudah akses Dina keluar masuk rumahnya Abimanyu membuat conecting door yang menghubungkan rumah mereka sehingga memudahkan Dina masuk jika baby Sabina ingin menyusu.


Abimanyu datang sesaat setelah Dina pulang ke rumah sebelah. Begitu tiba orang yang pertama Abi cari adalah bayinya, dan ia menemukannya sedang tidur dan Nisa berada di sampingnya sedang mendekapnya.


"Cantik..Papi pulang " Kata Abimanyu yang langsung memelankan suaranya saat melihat Nisa memberi kode agar Abimanyu tidak berisik.


"Pengen cium boleh tidak ?" Tanya Abimanyu dengan suara pelan.


"Cuci tangan dan cuci muka dulu sana kalau mau cium !" Perintah Nisa.


"Kalau cium Maminya ga usah cuci muka dan cuci tangan kan ?" Tanya Abimanyu


"Maas..ih" Nisa tidak dapat menghindar ketika bibir Abimanyu melahap bibirnya dengan rakus.


Setelah puas dengan bibir Maminya, Abimanyu pun beranjak menuju westafel dan mencuci tangan dan juga wajahnya sebelum ia menyentuh putri kecilnya dan menciumnya.


"Hmm..wangi banget " Gumam Abi sambil menghirup aroma minyak telon khas bayi dari tubuh bayi mungilnya.


Baby Sabina menggeliat saat bibir Abimanyu menyentuh pipi mungilnya namun tidak membuat bayi itu terjaga. Hanya bibirnya yang bergerak-gerak lucu seperti sedang menyusu.


"Sudah  jangan diganggu nanti malah bangun " Nisa menarik tangan Abimanyu agar menjauh dari Baby Sabina.


Abi hanya bisa pasrah saat Nisa menggusurnya keluar dari kamar bayi. Abimanyu tertawa melihat tingkah Nisa yang sangat protektif kepada bayinya hingga tidak mau Abimanyu sampai mengganggu tidur bayi mereka.


Di ruang tengah Nisa melihat sebuah kotak dengan logo buah Apel separuh teronggok di samping tas kerja Abimanyu.


"Kamu beli hape baru,Mas?" Tanya Nisa.


"Tidak..itu untuk mengganti hape Dina. Sebenarnya hape Dina itu bukan jatuh tapi aku lempar hingga hancur " Jawab Abimanyu jujur. Ia tidak mau menyembunyikan apapun kepada Nisa.


"Kamu lempar hingga hancur? Kenapa, Mas?" Tanya Nisa


"Sebelum ke Rumah Sakit kita sempat bertengkar karena Dina tidak mau aku antar ke Rumah Sakit dan malah akan pesan taksi online..aku sempat emosi dan lempar hape dia hingga hancur " Abi mengakui perbuatannya.


"Ya ampun, Mas..tega banget sih kamu " Omel Nisa.


"Aku kelepasan..makanya tolong kasih itu sama Dina dan jangan bilang dari aku karena Dina pasti tidak akan mau menerimanya " Ujar Abi.


"Kenapa kamu tidak coba dulu, Mas?" Tanya Nisa


"Aku sudah malas ribut sama dia " Jawab Abimanyu.


"Ya sudah..kali ini saja aku bantu kamu, lain kali jangan harap. Aku kasian saja sama Dina sampai tidak punya hape gara-gara kamu " Ujar Nisa.


"Kalau dianya tidak keras kepala juga aku tidak akan emosi " Abimanyu masih mencoba membela diri.


"Ya sudah aku kasih ke dia sekarang. Aku titip Bina ya..kalau bangun panggil saja " Pesan Nisa sambil buru-buru pergi ke rumah sebelah melalui pintu penghubung yang ada di ruang tengah.


*


Dina sedang memompa ASI nya ketika Nisa datang. Dina memang rajin memompa ASI nya karena jika malam hari Bina bangun Nisa tidak pernah membangunkan Dina tapi ia memberi ASI melalui botol. Di kamar bayi sudah tersedia kulkas portable untuk stok ASI dan juga Bottle Warmer untuk menghangatkannya.


Ini semua Dina lakukan untuk jaga-jaga agar Baby Sabina bisa menyusu melalui botol jika suatu hari nanti Dina pergi.


"Na..Mbak beli ini buat ganti hape kamu yang rusak " Kata Nisa sambil memberikan hape baru kepada Dina.

__ADS_1


"Ya ampun Mbak..ini kan harganya mahal. Hape aku yang rusak harganya tidak semahal ini " Dina melotot melihat merk hape barunya.


"Tidak apa-apa..masa istri Mas Abi hapenya jelek " Jawab Nisa sambil tertawa.


Dina tersenyum getir mendengar Nisa menyebut Dina istrinya Abi, mungkin sebutan yang lebih cocok untuk Dina adalah istri yang tidak dianggap.


Setelah memberikan hape baru kepada Dina, Nisa pun kembali dengan membawa satu botol ASI dan ia simpan di dalam lemari es khusus.


---------------------


Waktu berjalan terasa begitu cepat, Baby Sabina sebentar lagi akan menginjak enam bulan. Itu artinya Dina harus mulai mempersiapkan diri untuk pergi dari kehidupan Abimanyu sesuai dengan janjinya.


Sore ini Dina pergi ke Coffe Shop tempatnya dulu bekerja untuk mencari pekerjaan. Ia akan menemui Mbak Caca siapa tau dia bisa memberikan pekerjaan untuknya.


"Kenapa kamu ingin kerja lagi ? Bukankah suami kamu orang kaya ?" Tanya Mbak Caca saat Dina datang ke ruangannya.


"Aku akan bercerai Mbak " Jawab Dina.


"Kalau menikah sama orang kaya ya begitu..kalau sudah bosan ya ujung-ujungnya kita ditendang " Kata Mbak Caca.


"Kalau ada lowongan pekerjaan aku mau Mbak " Kata Dina penuh harap.


Mbak Caca tampak termenung


"Kalau kerja disini lagi mau tidak ?" Tanya Mbak Caca


Kini giliran Dina yang termenung


"Kalau ada sih jangan disini..dimana saja asal jangan disini " Jawab Dina.


"Euum..kalau di Cirebon mau tidak? Kebetulan Mbak baru cabang disana " Tanya Mbak Caca


"Mau Mbak " Jawab Dina cepat.


"Tapi gajinya tidak besar karena Coffe Shop nya kan baru buka jadi belum banyak pelanggan. Tapi kalau sudah mulai rame gajinya pasti akan Mbak setarakan dengan gaji kamu disini " Kata Mbak Caca.


"Kamu yakin mau ambil kerja disana ?" Mbak Caca menatap ragu kearah Dina.


"Yakin, Mbak " Jawab Dina


"Oke..kalau begitu kamu siap-siap saja nanti Mbak hubungi lagi " Kata Mbak Caca.


"Iya, Mbak..terimakasih bantuannya " Kata Dina.


Dina sengaja mengambil keputusan mencari kerja di luar kota karena setelah berpisah dengan Abimanyu ia tidak mungkin pulang ke rumah orangtuanya. Dina tidak mau keluarganya menjadi bahan gunjingan tetangga apalagi jika mereka melihat Dina pulang ke rumah orangtuanya tanpa membawa bayinya. Semua orang pasti akan heran kenapa Dina pulang  tanpa membawa bayinya karena semua tetangga tahu jika Dina sempat hamil.


Tanpa sepengetahuan Nisa dan Abimanyu dan juga kedua orangtuanya diam-diam Dina sudah mempersiapkan keberangkatannya ke Cirebon dengan sangat rapi.


Dina tidak akan membawa banyak barang, hanya yang penting-penting saja yang akan ia bawa dan semuanya sudah ia susun kedalam sebuah koper berukuran sedang yang ia sembunyikan di sudut kamarnya agar tidak ketahuan oleh Nisa.


Ada waktu dua minggu bagi Dina untuk menghabiskan waktu bersama putri kecilnya yang kini sudah bisa duduk dan sudah tau namanya sendiri. Baby Sabina akan langsung menoleh jika namanya dipanggil dan tangan mungilnya sudah mulai pintar meraih benda-benda disekitarnya.


Nisa dan Dina harus mengawasi bayi mereka dengan ketat agar Baby Sabina tidak mengambil benda yang berbahaya yang akan melukai tangan mungilnya.


Selama enam bulan ini Baby Sabina adalah bayi yang paling bahagia dan beruntung karena ia memiliki Ayah dan dua ibu yang menyayanginya.


Seolah sadar jika salah satu ibunya akan pergi meninggalkannya sudah beberapa hari ini Sabina selalu rewel dan tidak mau lepas dari Dina. Bahkan sudah dua malam ini Sabina tidur dengan Dina karena tidak mau jauh dari Dina barang sebentar pun.


"Bina belum bangun ?" Tanya Abimanyu saat ia dan Nisa sarapan


"Belum, tadi aku lihat dia masih tidur di kamar Dina " Jawab Nisa


"Tidak biasanya akhir-akhir ini dia rewel dan tidak mau tidur dengan kita " Kata Abi.


"Iya Mas, aku juga heran " Jawab Nisa

__ADS_1


Setiap pagi sebelum pergi ngantor biasanya Abi sempat mencium Sabina walaupun putrinya itu masih tidur, namun karena Sabina tidur di kamar Dina maka Abi pun pergi ke kantor tanpa sempat menciumnya karena Abi menolak masuk ke kamar Dina meskipun Nisa menyuruhnya.


Tidak ada yang salah seandainya Abi masuk ke kamar Dina karena toh mereka itu suami istri namun Abi tidak mau melakukannya karena Dina juga belum tentu suka jika Abi masuk ke kamarnya, yang ada mungkin Dina malah mengusirnya.


Sebenarnya setelah Sabina lahir Abi sudah mulai bisa mengontrol emosinya dan sudah tidak pernah lagi berbicara kasar kepada Dina.


Abi juga sempat melihat orangtua Dina datang berkunjung dan ia tidak keberatan saat Dina mengambil Sabina dan membawa ke rumah sebelah untuk bertemu dengan orangtuanya.


Setiap kali orangtua Dina datang berkunjung Abi memang tidak pernah sekalipun menemui mereka karena ia tau jika orangtua Dina masih marah dan tidak menyukainya. Mereka datang hanya untuk bertemu dengan Dina dan cucunya saja bukan dirinya.


*


Satu minggu ini Abi ada perjalanan bisnis ke Malaysia dan Singapura . Tidak ada kekhawatiran pada saat ia meninggalkan putri kecilnya karena ia yakin Sabina akan baik-baik saja bersama dua ibu disampingnya.


Namun diseparuh perjalanan bisnisnya itu Abi dibuat kaget ketika pagi-pagi sekali Nisa menelponnya sambil menangis. Abi juga mendengar suara tangis putri kecilnya yang cukup kencang.


"Nis..ada apa ?" Abi yang sedang mengumpulkan nyawanya langsung panik ketika mendengar suara tangis Nisa dan Sabina.


"Mas..Dina pergi " Jawab Nisa di sebrang sana


"Pergi kemana ? Mungkin ke rumah orangtuanya " Kata Abimanyu


"Aku barusan bel Ayah dan Ibunya tapi mereka bilang Dina tidak pulang kesana " Jawab Nisa.


"Mungkin ke rumah temannya atau sedang ada keperluan " Abi masih berusaha berpikir positif.


"Tapi baju-baju di lemarinya juga tidak ada " Kata Nisa


Mendengar ucapan Nisa itu Abi pun langsung lemas terlebih setelah menyadari jika bulan ini Sabina genap berusia enam bulan. Apakah Dina pergi menepati janji kepadanya untuk pergi dari kehidupan Abi setelah ia diberi kesempatan  memberikan ASI ekslusifnya kepada Sabina ?


"Maas.." Panggil Nisa ketika tidak terdengar apapun.


"Kamu sudah coba hubungi nomor dia ?" Tanya Abi


"Sudah tapi nomornya tidak aktif " Jawab Nisa dan Abi semakin merasa kacau saat terdengar suara tangis Sabina yang semakin kencang..rupanya putri kecilnya itu tau jika ibu kandungnya sudah pergi meninggalkannya.


Nisa terpaksa mengakhiri panggilan saat tangis Sabina semakin kencang dan sulit untuk dikendalikan.


"Ya ampun, Na...kamu kenapa pergi sih ? Bukannya Mbak sudah bilang kalau kamu tidak usah pergi dan kita besarkan anak kita bersama-sama " Nisa bermonolog sambil berusaha meredakan tangis Sabina.


"Cup..cup sayang jangan nangis ya..kita akan cari Mami Didi sampai ketemu " Kata Nisa sambil mengusap-usap punggung putri kecilnya dengan lembut.


Setelah beberapa waktu berlalu Sabina pun berhenti menangis dan siangnya Nisa pun pergi membawa Sabina ke rumah orangtua Dina.


*


"Ayah dan Ibu yakin jika Dina tidak bilang mau pergi kemana ?" Nisa tidak percaya saat orangtua Dina mengatakan jika Dina tidak mengatakan kepada mereka akan pergi keman.


"Demi Tuhan, Nak..semalam Dina memang telepon dan minta ijin mau kerja di luar kota tapi dia tidak mengatakan kota tujuannya " Jawab Ayah.


Mendengar ucapan Ayah tidak ada alasan bagi Nisa untuk tidak percaya namun Nisa terlihat sangat terpukul dengan kepergian Dina yang tiba-tiba itu.


"Menurut ibu keputusan Dina itu adalah keputusan yang terbaik.  Selama ini Dina sudah banyak berkorban untuk kami jadi biarkan sekarang dia mencari kebahagiannya sendiri " Kata Ibu Dina sambil mengusap matanya yang basah.


"Saran Ayah..lebih baik kamu fokus saja sama keluarga kamu bukankah keinginan kamu dan suami untuk memiliki momongan sudah tercapai..soal Dina Ayah yakin dia akan baik-baik saja dimanapun dia berada " Kata Ayah.


"Tapi aku itu sayang sama Dina, Aku sudah menganggap Dina itu seperti adik aku sendiri " Kata Nisa sambil terisak pelan agar tidak membangunkan Sabina yang tidur di pangkuannya.


"Ayah tahu kamu sangat menyayangi Dina tapi jika tidak pergi Dina akan tersiksa seumur hidupnya. Ayah juga tidak akan tega melihat putri Ayah menderita "


"Pasti karena perlakuan Mas Abi " Ujar Nisa lirih.


"Dina memang pernah melakukan kesalahan kepada suami kamu dan Ayah rasa Dina sudah membayarnya. Jadi mulai sekarang lupakanlah Dina dan Ayah hanya berpesan sama kamu tolong jaga dan rawat cucu Ayah dengan sebaik-baiknya " Pesan Ayah.


Nisa sebenarnya sangat penasaran akan arti ucapan Ayah Dina itu namun sayangnya orangtua Dina tidak mau menceritakan apapun lagi. Mungkin sebaiknya Nisa menanyakan kepada Abimanyu saja sepulang dia dari perjalanan bisnisnya.

__ADS_1


Sebenarnya Nisa mulai curiga jika sebelumnya Abi dengan Dina itu sudah saling mengenal namun ia ingin memastikannya sendiri dengan menanyakan langsung kepada Abimanyu.


__ADS_2