
Setelah pertengkaran antara Abimanyu dengan Nisa usai, Abimanyu memilih tidur di sofa. Ia tidak berani mendekati Nisa setelah keduanya saling meluapkan emosi.
Abimanyu berbaring dengan gelisah, dari hati yang terdalam ia ingin Nisa mengerti posisinya. Bagaimana rasanya jika ia dipaksa menerima dan memberikan perhatian kepada orang yang sudah jelas-jelas mengkhianatinya. Orang yang sudah menorehkan luka yang sangat dalam di hatinya. Namun bagaimana Nisa bisa mengerti jika Abimanyu tidak pernah bercerita tentang masa lalunya itu kepadanya.
Seandainya sekarang Abimanyu menceritakan semua kisah masa lalunya dengan Dina kepada Nisa apakah pandangan Nisa kepada Dina akan berubah ? Entah mengapa Abimanyu takut Nisa merasa sakit hati karena telah dibohongi oleh dirinya dan Dina.
"Kenapa gue jadi serba salah begini ?" Keluh Abimanyu sambil menjambak rambutnya. Kepalanya terasa pening dan berputar.
Sepulang dari Kalimantan tadi siang Abimanyu hanya sempat tidur dan ia langsung pergi ke rumah Dina tanpa sempat makan siang. Di rumah Dina ia tidak memakan apapun karena keburu terjadi perdebatan dan akhirnya berujung pengusiran Nisa kepadanya.
Bahkan setelah sampai rumah pun Abimanyu dan Nisa langsung bertengkar sehingga membuat Abimanyu benar-benar kehilangan selera makannya.Selain itu Nisa yang sedang marah pun menjadi melupakan apakah suaminya itu sudah makan atau belum.
Abimanyu memaksakan untuk tidur agar rasa pusing yang ia rasakan sirna dan akhirnya ia pun berhasil. Abimanyu akhirnya tidur meskipun dengan sedikit gelisah.
Keesokannya ketika bangun tidur Abimanyu merasakan tubuhnya menggigil dan suhu tubuhnya tinggi. Di kamarnya tampak Nisa sedang fokus pada ipad nya dan sama sekali tidak menoleh kepada Abimanyu yang baru terbangun dari tidurnya.
Perlahan Abimanyu turun dari sofa kemudian pergi ke kamar mandi. Pria tampan itu hanya membasuh muka dan menggosok gigi dan memutuskan tidak mandi karena tubuhnya yang sedang demam.
Abimanyu merasakan kepalanya tiba-tiba seperti berputar-putar dan ia tidak sengaja menyenggol gelas di westafel hingga gelas itu terjatuh dan pecah.
Nisa meletakkan Ipad nya kemudian memburu Abimanyu di kamar mandi. "Kamu kenapa, Mas ?" Tanya Nisa kepada Abimanyu yang sedang berjongkok untuk memunguti pecahan beling yang ada di lantai kamar mandi.
"Aku tidak sengaja menyenggolnya " Jawab Abimanyu.
"Sudah biarkan saja..biar si Bibik yang bereskan !" Nisa menarik lengan Abimanyu agar meninggalkan pekerjaannya.
Abimanyu menurut dan ia pun keluar dari kamar mandi kemudian kembali membaringkan tubuhnya di atas sofa dan membungkus tubuhnya dengan selimut tebal kemudian kembali tidur.
Nisa turun ke bawah dan menyuruh si bibik untuk membereskan pecahan beling di kamar mandinya.
Nisa kembali ke kamarnya untuk mengajak Abi sarapan dan ia tampak kaget ketika mendapati tubuh Abimanyu yang menggigil dengan suhu tubuhnya yang tinggi.
"Mas..kamu demam kenapa tidak bilang aku ?" Tanya Nisa sambil meletakkan punggung tangannya di kening Abimanyu.
"Kamu sedang marah sama aku, mana berani aku bilang " Jawab Abimanyu.
"Walaupun sedang marah tapi aku ini tetap istri kamu bukan monster " Cebik Nisa.
Melihat Abimanyu sakit kemarahan Nisa pun sirna seketika dan berganti khawatir. Meskipun jengkel namun ia sangat menyayangi suaminya itu.
"Kita ke Rumah sakit saja ya..sebaiknya kamu dirawat saja " Saran Nisa.
"Tidak..aku mau dirawat di rumah saja. Untuk apa punya istri seorang Dokter kalau tidak bisa merawat suami sendiri " Jawab Abimanyu.
"Heuumm..baiklah, tapi kamu harus diinfus ya " Kata Nisa.
"Iya " Jawab Abimanyu lemah.
__ADS_1
Seluruh keluarga Abimanyu tidak ada yang tau jika Abimanyu menjalani perawatan di rumahnya. Nisa dan Abimanyu sepakat merahasiakannya karena mereka tidak ingin keluarga Abimanyu menjadi curiga karena yang Abimanyu alami ini juga pernah dialami oleh Dipa dan Satria.
Tanpa sadar Abimanyu dan Nisa telah menyimpan banyak rahasia dari keluarga mereka. Semua demi terwujudnya keinginan mereka untuk menjadi orangtua.
----------------------------------
Setelah terjadi insiden pertengkaran di acara syukuran empat bulanan kehamilan Dina, Nisa tidak pernah menuntut Abi untuk memberikan perhatian kepada Dina lagi dan Nisa tidak pernah membahas apapun tentang Dina kepada Abimanyu.
Meskipun begitu Nisa tetap bertanggung jawab pada kehamilan Dina dengan selalu memperhatikan semua kebutuhan Dina termasuk uang jajannya yang sebenarnya itu adalah kewajiban Abimanyu bukan Nisa.
Nisa juga setia menemani Dina melakukan pemeriksaan rutin ke Dokter kandungan. Jika setiap selesai mengantar Dina melakukan pemeriksaan rutin biasanya Nisa selalu memperlihatkan hasil cetak USG dan menceritakan perkembangan bayi mereka kepada Abimanyu namun sudah beberapa bulan ini Nisa tidak pernah lagi melakukannya.
Nisa menyimpan semua hasil cetak USG itu di dalam laci meja riasnya begitu saja dan tidak berniat menceritakan apapun kepada Abimanyu.
Sampai usia kandungan Dina mulai menginjak enam bulan Abimanyu tidak lagi pernah mendengar kabar tentang perkembangan calon bayinya dari Nisa.Bahkan Abimanyu pun sudah tidak pernah lagi bertemu dengan istri keduanya itu sejak acara syukuran empat bulanan tempo hari.
Abimanyu sedang mencari gunting kuku di laci meja rias Nisa ketika ia menemukan beberapa lembar hasil cetak USG di sana. Abimanyu memperhatikan lembar demi lembarnya dengan seksama dan tanpa sadar sudut mata Abimanyu pun mengembun..apa yang sedang ia perhatikan itu adalah photo calon buah hatinya.
Abimanyu menantikannya selama bertahun-tahun dan kini ia akan mendapatkannya namun sayangnya bukan dari rahim orang ia inginkan melainkan dari rahim orang yang selama ini Abimanyu benci.
"Maaf ya Nak..selama ini Papa tidak pernah memperhatikan kamu " Gumam Abimanyu lirih.
Diam-diam Abimanyu menyimpan semua hasil cetak USG itu kedalam tas kerjanya. Sebenarnya Abimanyu juga penasaran ingin mendengar kabar tentang kehamilan Dina tapi ia terlalu gengsi untuk menanyakannya kepada Nisa apalagi untuk mendatangi rumah Dina setelah apa yang terjadi di acara syukuran empat bulanan Dina tempo hari.
*
Di usia kandungannya yang sudah enam bulan lebih, Dina mulai rajin membeli perlengkapan bayi. Seperti hari ini Dina sedang berada di sebuah toko yang menjual aneka perlengkapan bayi.
Dina tampak terpukau melihat baju-baju bayi yang sangat imut dan cantik dan Dina yang gelap mata pun akhirnya membeli cukup banyak hingga tidak sadar jika barang belanjaannya ternyata sudah cukup banyak.
Setelah merasa barang belanjaannya cukup banyak Dina pun memutuskan pulang. Dina memesan taksi online dan menunggu di halte di pinggir jalan.
Dina yang sedang duduk dengan belanjaan yang cukup banyak tidak menyadari jika ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depannya.
Ketika ia mengangkat kepalanya Dina tampak kaget ketika ia menemui mata Abimanyu tengah menatapnya dari dalam mobil.
"Masuk !" Perintahnya setelah menurunkan kaca mobilnya.
"Maaf Mas..aku sudah memesan taksi online " Tolak Dina sambil membuang muka.
Abimanyu tampak geram dengan penolakan Dina itu. Dengan jengkel Abimanyu turun dari mobilnya kemudian memaksa Dina agar masuk kedalam mobilnya. Semua barang belanjaan Dina ia lemparkan ke kursi belakang bahkan ada sebagian yang tercecer jatuh ke bawah.
"Kamu itu kasar sekali sih, Mas..aku itu sedang hamil " Dina menggerutu sambil memeluk perut buncitnya.
Mendengar ucapan Dina itu Abimanyu merasa bersalah karena sudah bertindak kasar dengan memaksa Dina masuk kedalam mobilnya.
"Kalau kamu tidak membantah aku juga tidak akan memaksa kamu " Sahut Abimanyu sambil mulai melajukan mobilnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan mereka membisu. Dina menutupi perut buncitnya dengan tas bututnya agar Abimanyu tidak bisa melihatnya.
Abimanyu melirik kearah perut Dina yang tertutup tas bututnya. "Bagaimana keadaan bayinya ?" Tanya nya.
"Aku tidak tahu, kamu tanya saja sendiri " Jawab Dina sambil membuang muka.
Mau apa coba menanyakan keadaan si jabang bayi kalau perhatian saja tidak. Hampir semua wanita hamil itu ingin dimanja oleh suaminya, sepertinya hanya Dina saja yang tidak pernah mendapatkan peratian barang secuil pun dari suaminya.
Abimanyu menghela nafas berat dan menghembuskannya.
"Kamu punya nomor rekening ?" Tanya Abimanyu tiba-tiba.
"Tidak " Jawab Dina berbohong
"Ck..susah sekali " Gumam Abimanyu.
"Dari dulu aku memang berasal dari keluarga susah..kamu sudah tahu sendiri " Sahut Dina pedas.
"Maksud aku..aku mau transfer untuk membeli perlengkapan bayi. Kalau kamu tidak punya nomor rekening ya susah " Kata Abimanyu karena Dina sudah salah faham mengira ia mengatai Dina orang susah.
"Kamu tidak usah repot-repot..kalau urusan perlengkapan bayi aku juga masih mampu membelinya " Tolak Dina.
Abimanyu kembali mendesahkan nafasnya kasar. Hari ini Abimanyu berusaha melunakan hatinya dengan bersikap baik kepada Dina namun Dina keliatannya masih marah kepadanya dan tidak memberikan kesempatan untuknya berbuat baik membuat Abimanyu menjadi serba salah.
Ketika melewati sebuah ATM Abimanyu berhenti dan masuk kesana sebentar. Tidak lama kemudian ia sudah datang lagi dan merekapun melanjutkan perjalanan menuju rumah orangtua Dina.
Tidak sampai setengah jam mobil Abimanyu pun tiba di depan rumah orangtua Dina. Sebelum Dina turun Abimanyu menahan tangan Dina dan memberikan semua uang yang tadi ia ambil di ATM yang jumlahnya sangat banyak.
"Terima ini untuk membeli kebutuhan perlengkapan bayi kita !" Kata Abimanyu.
"Maaf Mas aku tidak bisa menerimanya. Sepertinya bayi dalam perut aku juga tidak akan mau memakai pakaian dari uang Ayahnya " Jawab Dina tegas sambil turun dari mobil Abimanyu.
Dina mengambil barang belanjaannya di kursi belakang dengan terburu-buru kemudian masuk ke rumahnya.
Abimanyu membeku menatap kepergian Dina. Uang yang baru saja ia ambil yang sejatinya akan ia berikan kepada Dina kini teronggok di jok yang baru saja Dina tinggalkan..Dina menolak uang pemberian darinya meskipun itu untuk keperluan bayi mereka.
Dengan perasaan seperti tercabik-cabik Abimanyu pun kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah Dina.
Tiba di rumah wajah Abimanyu terlihat muram, ketika ia akan mengambil tas kerjanya di kursi belakang Abimanyu menemukan sepasang kaos kaki bayi di bawah, sepertinya barang itu tercecer dari kantung belanjaan Dina tadi. Abimanyu mengambil kaos kaki itu dan memasukannya kedalam tasnya bersama beberapa lembar cetak hasil USG bayinya.
Malamnya Abimanyu tidur dengan nyenyak sambil menyembunyikan sepasang kaos kaki mungil di bawah bantalnya.
----------------------------------------
Nisa dan Abimanyu baru saja selesai sarapan pagi dan mereka bersiap untuk pergi ke tempat kerja masing-masing. Nisa sudah masuk kedalam mobilnya ketika Abimanyu menghampirinya.
"Nis, tolong berikan uang ini kepada Dina...tolong jangan bilang dari aku. Dia pasti butuh untuk membeli perlengkapan bayi " Kata Abimanyu sambil memberikan sebuah amplop berisi uang yang kemarin Dina tolak. Mungkin jika dari tangan Nisa Dina akan mau menerimanya.
__ADS_1
"Maaf Mas aku tidak mau..kamu kasih saja sendiri ke orangnya " Tolak Nisa membuat Abimanyu melongo.
Abimanyu tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya karena Nisa tidak mau membantunya memberikan uang itu kepada Dina. Kedua wanita itu kompak telah berhasil menjungkir balikan perasaan Abimanyu.