
Seminggu berlalu, kondisi Ayah Dina sudah mulai membaik dan hari ini sudah di perbolehkan pulang ke rumah.
Dokter Nisa sendiri yang mengantarkan Ayah Dina pulang. Ketika mobil mewahnya memasuki halaman rumah Dina yang sederhana mereka disambut oleh para tetangga yang ingin melihat keadaan Ayah Dina.
Setelah para tetangga satu persatu mulai pulang barulah Nisa berkesempatan untuk mengobrol dengan Ibunya Dina.
Sedari awal Dina sudah memberitahu tentang permintaan Dokter Nisa itu.
Ibu dan Ayahnya tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti apa yang sudah Dina putuskan.
"Bagaimana kalau pernikahan itu dilaksanakan Minggu depan menunggu suami saya libur ngantor " Saran Nisa.
Ayah dan Ibu Dina saling tatap. Jujur sebenarnya mereka merasa berat untuk menikahkan Dina dengan Pria yang tidak dikenal apalagi statusnya adalah suami orang.
Ada rasa sakit di hati mereka saat melihat putri satu-satunya mereka itu harus mengorbankan dirinya demi keluarga untuk yang kedua kalinya. Dina memang anak yang berbakti dan sikap itu sudah terlihat dari sejak ia kecil.
Dina yang tumbuh diantara ketebatasan ekonomi keluarganya tidak pernah meminta apapun yang memeratkan orangtuanya. Bahkan dari kecil ia sudah terbiasa membantu kedua orantuanya menjalankan usaha jamur tiramnya.
Dina tidak segan ikut membantu mengantarkan pesanan jamur tiram kepada langganannya dengan motor butut Ayahnya dan sayangnya motor itu kini sudah tidak berbentuk lagi setelah kejadian tabrak lari yang menimpa Ayahnya.
Dulu Dina harus kehilangan kekasih hatinya demi keluarga, masih beruntung dulu Dina bisa terbebas dari jerat si rentenir dan gagal menikah.
Namun kini belum tentu nasib baik akan kembali berpihak kepada putrinya.
Ayah dan Ibu Dina terlihat bersedih karena mereka terkesan seperti menjual putri tersayangnya.
Dulu pun saat Dina memutuskan untuk menerima pinangan sang rentenir dan memutuskan pacarnya itu adalah keinginan Dina sendiri karena Dina tidak ingin melihat Ayahnya meringkuk di dalam jeruji besi.
"Apakah keputusan Dokter ini sudah bulat ? Di dunia ini tidak ada istri yang mau dimadu " Tanya Ibunya Dina.
"Keputusan saya sudah bulat Bu..saya bertekad ingin memberikan keturunan untuk suami saya walaupun melalui rahim orang lain " Jawab Nisa tegas.
"Ya sudah kalau begitu. Kami hanya tidak ingin saja jika di kemudian hari ini Kan menjadi masalah untuk pernikahan Bu Dokter "
"Saya usahakan semua akan baik-baik saja, Bu " Jawab Nisa.
"Lalu rencana Bu dokter pernikahan itu akan dilaksanakan dimana ?" Tanya Ayah Dina yang sedari tadi tidak banyak berbicara.
"Di rumah saya Bu " Jawab Nisa.
"Kalian akan tinggal satu rumah ?" Ibu Dina terlihat kaget.
"Saya memiliki satu unit rumah yang berada tepat di sebelah rumah yang saya dan suami tinggali. Dina akan tinggal disana. Kalau Bapak dan Ibu mau juga boleh kalau ikut tinggal disana " Jawab Nisa.
"Tidak terimakasih.. kami disini saja untuk meneruskan usaha jamur tiram kami " Tolak Ayah Dina halus.
Setelah semuanya sudah dibicarakan dengan orangtua Dina, Nisa pun mengajak Dina untuk membeli kebaya pengantin dan juga jas dengan warna yang senada dengan Abimanyu.
Meskipun pernikahan ini terkesan dipaksakan namun Nisa ingin Dina mendapatkan kenangan yang indah di hari pernikahan nya.
Nisa juga membeli seperangkat perhiasan yang nantinya akan menjadi mas kawin.
Nisa benar-benar menyiapkan semuanya untuk pernikahan kedua suaminya itu walaupun pernikahan itu nantinya akan dilakukan secara tertutup.
* * *
Dina dan keluarganya sudah tiba di rumah yang sudah Nisa siapkan untuk Dina sekaligus tempat untuk acara akad nikah.
__ADS_1
Nisa sudah memesan makanan dari Restoran langganannya karena setelah acara akad nikah rencananya mereka akan makan bersama untuk lebih saling mengenal satu sama lain terutama dengan Abimanyu.
Penghulu yang akan menikahkan Dina dengan Abimanyu sudah datang di rumah sebelah namun Abimanyu tampak malas-malasan memakai setelan jas pengantinnya.
"Ayolah Mas...aku mohon. Ini semua demi kita Mas.." Nisa memohon.
Abimanyu diam tidak bergeming.
"Kalau kamu begini terus sepertinya aku akan pergi saja dari hidup kamu. Tanpa aku juga nantinya ujung-ujungnya kamu akan menikah lagi dan mendapatkan keturunan dari wanita lain...lalu apa bedanya dengan sekarang ?" Mata Nisa mulai berkaca-kaca.
"Kamu tidak tahu betapa mindernya aku selama ini jika sedang berkumpul dengan keluarga kamu..semua sudah memiliki anak hanya kita saja yang tidak " Kata Nisa.
"Aku juga ingin menjadi seorang ibu seperti kak Selin, kak Nana dan Sherina..jadi tolong kabulkanlah permintaan aku ini Mas " Nisa terus memohon.
Abimanyu merasa ada yang mengganjal di tenggorokannya dan menyesakkan dadanya saat melihat air mata mulai luluh membasahi pipi mulus Nisa.
"Baiklah..ini aku lakukan demi kamu Sayang...aku akan mewujudkan keinginan kamu itu untuk menjadi seorang ibu " Ucap Abimanyu lirih.
"Terimakasih, Mas " Nisa pun menghambur kedalam pelukan Abimanyu.
Nisa dan Abimanyu saling berpelukan cukup lama.
"Aku bantu kamu pakai bajunya ya " Ucap Nisa sambil pelan-pelan melepaskan diri dari pelukan Abimanyu,
"Iya " Jawab Abimanyu pasrah.
"Kamu sangat tampan Mas..aku jadi ingat saat kita menikah dulu " Kata Nisa sambil merapikan jas pengantin Abimanyu.
Abimanyu hanya tersenyum getir.
Ia tentu masih ingat moment pernikahan mereka di Resort milik keluarga Ardinata beberapa tahun yang lalu.
Setelah siap Nisa pun membawa Abimanyu ke rumah sebelah.
Dina dan orangtuanya sudah siap sejak beberapa jam yang lalu. Mereka tampak menunggu dengan sabar bersama seorang penghulu dan dua orang saksi yaitu sopir Abimanyu dan ketua RT tempat tinggal Dina.
"Maaf lama menunggu..sebaiknya acaranya kita mulai sekarang saja " Ucap Nisa yang tiba-tiba muncul di pintu bersama suaminya.
Duarrr....
Serasa ada petir yang menyambar begitu Dina melihat pria disamping Dokter Nisa itu adalah ternyata Abimanyu..pria yang dulu pernah ia putuskan.
"Mas Abi ?" Batin Dina.
Dina seperti sedang bermimpi ketika pria yang selama ini selalu mengisi hatinya kini sedang berdiri di depannya dengan mengenakan jas pengantinnya.
Dina sudah membuang jauh-jauh mimpinya untuk bersama sang kekasih hati apalagi bersanding di pelaminan namun takdir Tuhan benar-benar tidak bisa ditebak, kini Dina akan benar-benar menikah dengan Abimanyu walaupun sebagai istri kedua..apakah ini nyata ataukah hanya minpi ?
Begitu menyadari jika wanita yang akan ia nikahi tentu saja Abimanyu pun tidak kalah kagetnya namun dengan cepat pria tampan itu berusaha menyembunyikan kekagetannya dengan mengangkat kepalanya dan tidak mau melihat kearah Dina.
Ada sesuatu yang perih Dina rasakan saat Abimanyu membuang muka dan tidak mau melihat kearahnya. Dengan kenyataan ini Dina pasrah seandainya Abimanyu memutuskan menolak menikah dengannya dan Dina pun harus bersiap-siap untuk mengganti uang Nisa yang sudah terpakai untuk pengobatan Ayahnya.
Namun Abimanyu tidak mengatakan apapun pada saat penghulu akan bersiap menikahkan mereka..apakah itu Artinya Abimanyu tidak keberatan menikah dengannya ? Lalu kenapa wajahnya begitu dingin ?
Dengan tanpa berbasa-basi acara akad nikah pun dilakukan. Dan tidak sampai hitungan jam Abimanyu dan Dina pun sudah sah menjadi suami istri.
Ayah dan Ibu Dina yang cukup mengenal Abimanyu berniat menyapa mantan pacar putrinya itu namun mereka urungkan ketika mendapati wajah dingin dari sang menantu itu.
__ADS_1
Setelah acara akad nikah selesai Abimanyu langsung kembali pulang ke rumahnya meninggalkan mempelai wanitanya yang hanya bisa terpekur menatap lantai.
Sikap Abimanyu itu membuat Ayah dan ibu Dina tersinggung. Abimanyu sama sekali tidak menegur Dina dan kedua orangtuanya sehingga kedua orangtua Dina pun memutuskan untuk langsung pulang sesaat setelah acara akad nikah.
Nisa merasa malu atas sikap Abimanyu itu dan ia pun sangat marah. Sementara Dina dan orangtuanya sepakat untuk tidak membahas masa lalu dan berpura-pura tidak mengenal Abimanyu sebelumnya karena Abimanyu pun bersikap seolah tidak mengenal mereka.
Di rumahnya Nisa sempat menegur Abimanyu atas sikapnya yang menurutnya tidak sopan kepada mertuanya namun Abimanyu malah tidak terima.
"Kamu tahu sendiri kalau aku itu terpaksa melakukannya. Sekarang kamu malah ngomel-ngomel.. benar-benar tidak tahu berterima kasih" Jawab Abimanyu sambil mengambil kunci mobilnya lalu pergi setelah menanggalkan jas pengantinnya.
Nisa berusaha bersabar, mungkin Abimanyu butuh waktu untuk menerima orang asing yang tiba-tiba datang dalam kehidupannya.
Hari itu Abimanyu pulang ke rumah Bundanya dan ia pun memutuskan untuk menginap. Bintang dan Dipa merasa curiga kenapa Abimanyu tidak pulang ke rumah, terlebih setengah jam yang lalu Nisa menelpon Bintang menanyakan apakah Abimanyu ada disana.
"Kak..apakah kalian sedang ada masalah ?" Tanya Bintang yang mendatangi Abimanyu di kamarnya.
"Hanya sedikit salah faham " Jawab Abimanyu.
"Hanya sedikit salah faham pastinya bisa dibicarakan baik-baik kak, bukannya malah menghindar " Kata Bintang
"Bukan menghindar Bun..aku hanya butuh waktu saja. Besok juga aku akan pulang " Jawab Abimanyu.
"Sebaiknya segera selesaikan jangan sampai masalah kesalah fahaman biasa berubah menjadi masalah yang serius jika dibiarkan berlarut-larut " Nasehat Bintang.
"Iya, Bun..aku akan menyelesaikannya " Janji Abimanyu.
Bintang mengangguk kemudian meninggalkan Abimanyu di kamarnya sendirian dan menemui Dipa yang sedang rebahan di ranjangnya.
"Ada masalah apa mereka ?" Tanya Dipa sambil menarik tangan Bintang agar berbaring di pelukannya.
"Abi bilang hanya salah faham..tapi entah mengapa aku merasa jika ada yang sedang Abi sembunyikan dari kita " Jawab Bintang sambil menyusupkan wajahnya di dada Dipa.
"Kalau tidak mau cerita tidak usah dipaksa, nanti juga kalau sudah siap pasti akan cerita " Kata Dipa.
"Iya, Yang " Jawab Bintang.
Di kamarnya Abimanyu termenung sendirian. Ia merasa kesal, kecewa dan merasa terjebak. Abimanyu merasa tidak siap menghadapi semua ini. Selain tidak siap untuk beristri dua ia juga benar-benar tidak siap menerima kehadian Dina kembali dalam kehidupannya.
Dina adalah wanita yang sangat ia benci dan tidak ia harapkan kehadirannya tapi sekarang wanita itu malah resmi menjadi istri siri nya yang Nisa harapkan akan melahirkan anak-anaknya kelak.
Keesokannya pagi-pagi sekali Abimanyu memutuskan pulang. Ketika ia masuk Abimanyu terhenyak mendapati Nisa tengah tertidur di sofa. Nisa memang tertidur disana setelah semalaman menunggu Abimanyu pulang.
Dengan hati trenyuh Abimanyu mengangkat tubuh Nisa dan membawanya ke kamar mereka. Merasa tubuhnya melayang Nisa pun bangun dan ia kaget ketika menyadari jika ia sedang berada di gendongan Abimanyu.
"Kenapa tidur di sofa ?" Tanya Abimanyu sedikit mengomel.
"Aku menunggu kamu pulang jadi ketiduran disana " Jawab Nisa.
Abimanyu menurunkan Nisa diatas ranjang mereka dan tatapan mereka bertemu.
"Kamu masih marah ?" Tanya Nisa ketika ia menangkap itu dalam mata kelam Abimanyu.
"Tidak ada gunanya juga aku marah, semua sudah terlanjur terjadi..aku hanya belum siap saja dan butuh waktu " Jawab Abimanyu.
"Aku mengerti " Ujar Nisa sambil memeluk perut Abimanyu.
Abimanyu mengecup puncak kepala Nisa.
__ADS_1
"Maaf ya Mas..semua yang aku lakukan adalah karena aku ingin melihat kamu bahagia..aku tahu kamu sangat ingin memiliki keturunan..dan sesungguhnya akupun sangat ingin menjadi seorang ibu " Kata Nisa lirih.
Abimanyu memejamkan matanya, hatinya pedih. Baginya tidak memiliki anak pun tidak masalah namun kenyataannya Nisa sendiri menginginkan menjadi seorang ibu dan pastinya Abimanyu tidak tega untuk menghancurkan mimpi istrinya itu.