
Suasana mension menjadi tegang malam itu, kehadiran dion dirumah mu membuat Rein salah paham besar, sesuatu yang belum di perbaiki memang akan terus terasa menjadi masalah.
melihat Rein yang berlalu begitu saja kau kembali tersadar dan segera berlari menghapiri Rein, kau tak ingin membiarkan hubungan kalian kembali renggang, karna baru saja kalian merasakan kebahagian dalam rumah tangga kalian.
" Mas Reinaldo...".panggil mu seraya menarik tangan nya menghadap mu.
"dengarkan dulu penjelasan ku dan juga dion".menarik lembut tangan Rein
"lepaskan".jawab nya dingin
"mas,,,".ucap mu lirih
"aku tid...".
Cup
kau mengecup bibir Rein singkat untuk menghentikan ocehan nya, dan benar saja upaya mu itu berhasil membuat nya diam terpaku..
"ayoo,,suamiku dengar kan dulu penjelasan kami hmm".ulang mu lagi
Kali ini Rein menurut saja saat kau menuntun tangannya,Karna masih sedikit terkejut dengan aksi yang baru saja kau lakukan.
sampai posisi kalian sudah di depan Dion ,Rein kembali tersadar, Namun dia hanya diam menatap tajam ke arah Dion yang juga diam.
"Mas,, Dion datang ingin bicara dengan mu,kau dengar kan dulu dia,dan...jangan sok ngambek seperti tadi,, paham ".ucapmu mengadili Rein.
"aku akan menyiapkan makan malam kita".tambah mu lagi
setelah kepergianmu disana, Dion mulai membuka suara memecah kecanggungan yang ada di ruangan itu.
"bang".panggil dion lirih, namun tak ada respon dari Rein,pria itu malah mengalihkan pandangannya malas.
Melihat respon Rein yang begitu dingin membuat Dion tertunduk sedih.
"apa aku masih boleh memanggil mu Abang,?apa aku masih adikmu?".tanya dion masih dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
"mau apa kau datang kesini?".jawab Rein dingin tanpa melihat ke arah dion.
alih alih menanggapi pertanyaan Dion, Rein malah balik bertanya dengan kalimat yang begitu sadis.
"bang kau belum menjawab pertanyaan ku".ucap Dion lesu
Namun masih tak ada jawaban dari Rein, pria itu seakan tak ada niat untuk merespon semua perkataan adiknya itu.
"baiklah aku paham kau sudah tidak menganggap ku adik mu lagi".ucap dion dengan nada yang begitu sedih
Dion menarik nafasnya berat lalu tersenyum
"tapi aku masih menganggap mu saudara ku jadi aku akan bersikap sebagai seperti adikmu ,
aku akan berangkat ke Amerika besok,dan aku berjanji tidak akan kembali,,maaf kan aku bang Karna sudah berani merebut Alexa dari mu dan membuat rumah tangga mu berantakan,aku terlalu buta karna cinta sampai lupa dengan orang yang memberi ku cinta, anggap saja kepergian ku ini adalah hadiah untuk pernikahan kalian, aku benar-benar merasa bersalah dengan semua hal yang telah aku lakukan dengan kalian".ucap dion seraya memberanikan untuk mengangkat pandangannya.
dan ternyata Rein sudah sejak tadi menatap adiknya yang tengah menunduk itu, membuat mata kalian bertemu saling menatap satu sama lain.
tak ada pergerakan sama sekali dari keduanya , mereka larut dalam pikiran masing masing yang entah apa saja yang ada di benak mereka.
"Maaf kan aku ,,aku tumbuh tidak sesuai dengan keinginan mu,,,aku malah mendustai mu.Terimakasih,,atas semua yang sudah kau berikan dengan ku,mendidik ku memenuhi kebutuhan ku,menjadi ayah sekaligus ibu untuk ku,aku sangat menyayangimu,,".ucap Dion dengan tersenyum getir menatap Rein. Ujung mata Dion terlihat mengeluarkan cairan bening saat ingin melanjutkan kalimatnya lagi.
Dion dengan segera mengusap kasar air matanya yang sudah jatuh, dia sekilas mengalihkan pandangannya dan menarik nafas dalam.
"kalau begitu aku Permisi dulu Bang".ucap Dion dengan sedikit bergetar.
Dion mengangkat tangan nya di depan Rein untuk bersalaman, Namun tak mendapat sambutan sama sekali dari Rein.
Dion menarik tangannya kembali dan tersenyum getir.
dia menyadari bahwa Rein begitu membencinya sampai tak ingin menyambut tangan Nya.
Lalu Diom membungkukkan punggungnya dan segera pergi keluar dari ruangan itu, Dion tak ingin berlama lama disana yang hanya akan membuat mood Rein semakin buruk.
setelah keluar dari mension Rein, Dion segera membuka pintu mobil nya untuk segera meninggalkan kediaman Rein.
__ADS_1
Namun berapa terkejutnya Dion, baru saja dia ingin mendudukkan bokongnya di kursi kemudi suara yang begitu dia rindukan dan dia sayangi tengah berteriak memanggil namanya yang sontak membuat Dion menoleh kearah suara itu.
"Dion ,,,".panggil Rein yang tengah berlari ke arahnya.
Jujur saat itu Dion Sangat ingin mencurahkan semua air matanya karna sangat bahagia,pria itu masih belum percaya dengan apa yang ada di depan pandangan matanya.
" Dion".panggil Rein lagi di tengah deru nafasnya yang memburu.
panggilan kedua itu baru menyadarkan Dion jika ini nyata. pria itu tak kuasa menahan dirinya dan segera menghamburkan pelukannya dengan saudaranya yang begitu dia sayangi itu..
Dion memeluk erat Abang nya itu, pahlawan yang sudah menyelamatkan nya dari pahitnya drama kedua orang tua mereka.
"aku merindukanmu sangat bang, maaf maafkan aku ,,,aku sadar jika sangat bodoh".ucap Rein sambil menahan isakan tangisnya.
Rein membalas pelukan Dion hangat ,kemudian dia mengusap lembut punggung adiknya itu...
"semua baik baik saja, Abang minta maaf Karna sudah terlalu egois dengan mu".jawab Rein lembut, sungguh berbeda dari beberapa menit yang lalu
Dion sudah tak kuasa menahan tangisnya, pria itu mengeluarkan semua isakan yang dia tahan di dalam pelukan Rein.
"hey,apa Abang mendidik mu untuk menjadi pria cengeng?".ejek Rein mencoba menghibur adiknya
"terserah,aku sangat merindukan pelukan ini".jawab Dion masih dengan terisak, dia tidak peduli karna terlalu bahagia.
"kau tetap saja seorang bayi manja, walaupun besar tubuh mu sudah mengalahkan abang".tambah Rein lagi
"aku pikir abang sudah tidak menganggap aku adik mu lagi,ku pikir kau sangat membenciku sampai tak sudi melihat wajah ku lagi".ucap dion sendu.
" Bodoh, aku memang sambat marah dengan mu, tapi aku tidak pernah berpikir untuk melepaskan mu, aku hanya memberi pelajaran dengan mu agar tidak melanjutkan kesalahan".timpal Rein lembut.
senyummu merekah sempurna menyaksikan pemandangan yang mengharukan didepan matamu. kau begitu bersyukur karna Rein bisa mengatasi keadaan ini dengan begitu dewasa dan berwibawa, suami mu ith mampu meruntuhkan egonya untuk adiknya.
ya sejak Rein berlari keluar tadi kau juga mengikuti Rein, kau takut suamimi itu akan berbuat aneh aneh terhadap Dion.
Namun ketakutan mu malah berbanding balik.
__ADS_1
Rein tidak semenakutkan itu. pikirmu dengan senyum manis di bibir mu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...