Istri Tahanan Kak Raka

Istri Tahanan Kak Raka
10. Kilas lalu


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


...🐰...


Kejadian satu tahun lalu, yang masih sangat membekas di hati dan ingatan Dinara. Tokoh utama dalam hidupnya, pergi tanpa pamit dan tidak kembali meski ia menunggu. Namun, lelaki tersebut hadir di tengah ketenangan jiwa Dinara.


Tepatnya di malam sehari setelah Dinara berulang tahun. Masih terputar suara lelaki itu ketika mengucapkan selamat dan memberi hadiah, kemudian janjinya untuk selalu bersama.


"Selamat ulang tahun ya, Cantik."


Dinara mengukir senyum terindahnya, menatap Abram dengan binar mata karena begitu bahagia. Dia mengulurkan tangan untuk menerima kotak hadiah itu. "Makasih, Kak," ucap Dinara.


"Kakak tahu, kalau menurut sebagian orang, hari ulang tahun tidak dianggap membahagiakan karena bertambahnya umur dan mendekati kematian. Tapi, Kakak mau menjadikan hari ini, hari terindah buat kamu," kata Abram. Lalu, lelaki itu menggapai tangan Dinara dan menggenggamnya erat seakan enggan melepas. "Kita sama-sama terus, ya? Sampai kapan pun dan janji hanya ajal yang memisahkan kita." Ucapan Abram begitu dalam kala itu hingga membuat Dinara mengangguk.


Abram menarik Dinara ke dalam pelukannya, dekapan hangat dan erat dirasakan kedua pasang kekasih itu. Saling mengeratkan satu sama lain dengan kepercayaan. Namun, ternyata hanya Dinara yang terlalu percaya hingga kecewa.


Malam itu bagaimana waktu yang ingin selalu Dinara tempati. Momen indah melebihi suara hujan yang dicintainya.


Keesokan harinya, Abram bak ditelan alam. Tanpa kabar dan menghilang dari pandangan mata, bahkan tidak menerima panggilan telepon Dinara, apalagi pesan yang masih ada sampai saat ini. Dinara mendatangi rumah laki-laki itu, tetapi nihil.


Dinara bersedih, dunianya hancur dalam satu hari. Setelah momen bahagia itu, Abram menghilangkan tanpa dosa. Pada hari kedua Abram tidak menunjukkan batang hidung, tersebar berita bahwa laki-laki itu pindah rumah dan Universitas.


Dinara mencoba mencari tahu, setengah mati dia berusaha, bahkan sang bunda kasihan melihat putrinya yang malang. "Sayang, sudah! Jangan sedih!" Rania mendekap Dinara begitu erat.


Kamar Dinara yang gelap, tidak tersirat sedikit saja kebahagiaan. Hancur berkeping-keping, tak tersisa senyum indah Dinara, semuanya hilang. Abram benar-benar membuat Dinara hancur, rapuh, dan enggan untuk membuka hati lagi. Sampai setengah tahun berlalu, ia menyerah dan memutuskan berhenti.


Dinara menundukkan dalam kepalanya, membuat Raka sedih melihatnya. Lalu, lelaki itu menarik Dinara ke dalam pelukannya sembari mengelus lembut kepala sang istri. Berat, Raka menahan amarah dalam dirinya kepada lelaki yang selama ini menjadi sahabatnya.


Melihat hati sang istri terluka begitu parah, Raka pun merasakan luka hebatnya. Tidak berdarah, tetapi membekas. "Sekarang ada gue," kata Raka. Dinara sadar, dia terlalu melewati batas, sontak mendorong tubuh Raka agar menjauh darinya.


Dinara menyeka air matanya dengan tangan. "Maaf, Kak, aku cuma mau cerita itu, biar Kakak nggak kaget kalau aku takut sendirian."

__ADS_1


"Soal perjanjian kita, beneran tiga bulan?"


Raka terhenyak sejenak karena Dinara masih menganggap itu sungguhan, padahal itu hanya alasan Raka agar dia menerima. "Iya."


"Lo udah baikan?" tanya Raka, Dinara mengangguk. "Kalau gitu, gue mau balik ke kamar." Lalu, Raka melenggang keluar dari kamar Dinara.


Raka membanting pintu kamar Dinara hingga gadis itu sedikit terkejut. Marah, kesal, sedih menjadi satu dalam hatinya. Lelaki itu membanting tubuhnya di atas kasur, merasakan pusing di kepala. "Gue bakal dapetin hati lo, Ra," gumam Raka.


Memang, awalnya Raka menolak, tetapi Dinara berbeda dengan gadis-gadis yang ditemui selama hidupnya. Rasa suka, kemudian cinta bertambah besar kala sering bertemu. Demi apa pun, Raka akan mati-matian mendapatkan hati Dinara, sampai kapan pun.


.....


Kaki jenjang Raka melangkah menyusuri koridor kampus. Dia tengah mencari ketenangan karena tadi beradu mulut bersama Abram. Masih kesal lantaran Abram pernah membuat sang istri hancur. Langkahnya terhenti saat tidak sengaja berpapasan dengan Dinara dan Raisa. Istrinya menatap tajam ke arahnya, sedangkan Raisa nampak kegirangan bertemu Raka. "Hai, Kak Raka," sapa Raisa.


Raka mengerutkan dahi. "Siapa?" tanya Raka, bahkan dia tidak mengenal mahasiswi seangkatannya.


"Raisa, jurusan sastra bahasa." Raisa mengulurkan tangan, berharap dijabat oleh Raka. Namun, lelaki itu malah menarik tangan Dinara dan menariknya menjauh. "Loh? Dinara!" teriak Raisa.


"Hari ini, lo jangan sampai ketemu sama Abram! Soalnya, kalau kalian sampai ketemu ...." Raka menimang lagi kalimatnya, terlihat seperti orang ketakutan. "Pokoknya jangan sampai ketemu!" pintanya.


"Kenapa?"


"Nurut sama gue bisa gak, sih?" Raka berkata dengan ketus.


Dinara tidak menjawab. Lalu, dia melenggang pergi meninggalkan Raka dan bergegas menarik tangan Raisa untuk membawanya pergi. Raka berdecak kesal melihatnya. "Awas aja lo," gerutu Raka.


"Lo ada hubungan apa sama Kak Raka?"


"Kalian pacaran?"


"Pacaran, ya?"

__ADS_1


"Kalau beneran pacaran, jangan sampai masyarakat kampus tahu. Bisa gawat."


Raisa menjadi banyak bicara saat ini, tetapi Dinara mencoba tidak menggubrisnya. "Aku nggak pacaran sama Kak Raka, tadi itu cuma bahas masalah kampus," ujar Dinara, mencari pembelaan agar Raisa percaya.


"Masa, sih? Masalah apa memang?"


Dinara hampir frustrasi dibuatnya, mudah penasaran dan banyak tanya. Sudah habis kata-kata Dinara untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Raisa.


"Dinara!" Suara lelaki yang sangat melekat dalam ingatan Dinara, membuatnya tersentak kaget. Abram berlari menghampirinya, kemudian duduk di kursi sampingnya dan menatap dengan tatapan menenangkan itu. "Kakak mau bilang sesuatu," ucap Abram.


"Tunggu! Jangan-jangan kalian pacaran?" Raisa memekik keras, sehingga mengalihkan beberapa perhatian orang di kantin. "Iya?"


"Nggak!" jawab Dinara dengan keras.


Abram sedikit tersentak mendengar penolakan Dinara. Dia menatap Dinara dengan dalam. "Nanti malam Kakak ke rumah kamu, boleh?" ucap Abram.


"Buat apa?"


"Main aja. Kangen sama Bunda."


"Jangan."


"Kenapa?" tanya Abram. Dinara menggelengkan kepalanya, kemudian bangkit dari duduknya.


"Raisa, aku ada kelas. Kamu kalau masih mau di sini, aku duluan." Belum Raisa menjawab, Dinara sudah melenggang pergi hingga membuat Raisa dan Abram mematung.


"Maaf, Kak, masih sakit banget soalnya," gumam Dinara mengiringi langkahnya, yang entah menuju ke mana. Air mata tidak dirasakan sudah menetes dan jatuh ke bumi.


Untung saja tempat yang dilaluinya sepi, sehingga Dinara tidak perlu takut menuangkan air matanya. Maniknya melebar saat tangannya dicekal dan ditarik. Dinara membuka mata, Raka berdiri di depannya menatap lamat.


Di sebuah ruangan musik yang sepi, Raka menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Dinara mencoba melepas dengan cara mendorong tubuh Raka, tetapi lelaki tersebut mengeratkan pelukannya. "Udah, nangis aja! Di sini aman, kok," ujar Raka sembari mengelus kepala Dinara.

__ADS_1


Dinara terdiam, hatinya yang tidak nyaman semakin memburuk. Bendungan air mata itu kini tumpah di dalam pelukan Raka. Dinara mencengkram kuat baju Raka, menahan agar suara tangis tak ikut keluar. Raka mengulas senyum tipis, merasa senang bisa menjadi tempat keluh kesah seseorang berharga baginya.


__ADS_2