Istri Tahanan Kak Raka

Istri Tahanan Kak Raka
9. Ketakutan


__ADS_3

Sang surya sudah pulang, malam telah datang. Bulan menampakkan diri di tengah langit tanpa seorang teman. Namun, ia tetap bersinar layaknya tengah menyemangati orang yang sedang bersedih. Hembusan angin ringan menggoyangkan ranting pohon, mengugurkan daun kering rapuh itu.


Dinara sudah siap di dapur, dia bergulat untuk membuat makan malam. Beberapa buah wortel dipotong olehnya, kemudian dimasukkan ke dalam panci. Gadis itu memasak capcay, salah satu lauk yang bisa dibuatnya. "Kak, mau ke mana?" tanya Dinara saat melihat Raka keluar dari kamar dengan baju rapi.


Raka lantas berjalan menghampiri Dinara untuk mengintip masakan istrinya. "Mau ke luar," jawabnya. Melihat Dinara mengerutkan dahi dan memasang wajah kesal, dia mengulas senyum tipis. "Sebentar doang."


Dinara menghela napas panjang. "Aku masak bukan buat aku doang, buat Kakak juga." Nada bicaranya seperti tengah memarahi suami pada umumnya.


"Gue pulang, kok." Raka terlihat tidak terlalu peduli. Lelaki itu melenggang mengambil kunci mobil yang terletak di atas meja makan. Lalu, dia melambaikan tangan kepada Dinara. "Gue pergi dulu, ya," ucapnya.


Tidak berani berbuat banyak, Dinara hanya menganggukkan kepala. "Jangan larut kalau pulang!" peringat Dinara, kemudian suaminya itu berjalan meninggalkannya.


Meski tidak suka, mau bagaimana pun Raka tetap suami Dinara. Merasa sedikit kecewa karena lelaki itu pergi, padahal Dinara sudah rela mengorbankan jam belajarnya untuk melakukan tugas sebagai seorang istri. Dia menggerutu sepanjang acara memasakkannya.


"Siap!" Dinara berujar sembari meletakkan hasil masakannya di meja makan. Dia berbinar melihat sayur capcay itu mempunyai penampilan sama persis, seperti yang dibuat oleh sang bunda biasanya. Lalu, Dinara melihat jam dinding di ruang tengah, sudah hampir satu jam Raka meninggalkan rumah. "Katanya sebentar," gumamnya.


Dinara menghembuskan napas gusar, kemudian beranjak pergi ke ruang tengah. "Aku tungguin aja, deh," ucapnya seraya menyalakan televisi dan duduk di sofa.


Sendirian, Dinara merasakan gelisah dalam hatinya. Hanya ada suara televisi yang menyala, gadis itu mulai ketakutan dan memeluk kedua kakinya. Hari sudah semakin larut, tetapi Raka tak kunjung pulang. "Kak, pulang, Kak," lirih Dinara.


Dia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, kemudian menghubungi nomor dengan nama Raka. Berdering, tetapi panggilannya tidak diterima.


Lebih dari lima kali, Raka masih tidak menerima panggilan telepon dari Dinara. Gadis itu mengigit bibirnya. Untuk yang kesekian kalinya, Dinara menyerah dan melemparkan ponselnya ke samping.


Dinara tidak bisa, air matanya mulai menetes dan napasnya tersengal-sengal. Dadanya sesak lantaran traumanya kambuh. Sesuatu yang paling ia takutkan, Dinara menangis. Sudah merasa lemas, dia mamatikan televisi dan berlari ke kamar, kemudian mengunci pintu.


Kegelapan selalu menenangkan ketakutannya. Dinara merengkuh di atas kasur sembari terisak. Tubuh rapuh itu bergetar hebat seperti ada sebuah setruman. Napasnya memburu, hanya karena Raka belum juga pulang.

__ADS_1


"Apa Kak Raka bohong? Apa sebenarnya dia memang tinggalin aku?"


"Dia sengaja pergi dari aku?"


"Dia ninggalin aku ... sendirian," kata Dinara dengan suara serak.


"Lagi."


Malam mengheningkan segalanya, tetapi jerit tangis gadis itu keras di dalam hatinya. Menyembunyikan wajah di balik selimut, menyumpal mulut dengan bantal, dan mencengkram kuat seprainya. Dinara mencoba menenangkan dirinya sendiri, meski itu tidak akan pernah berhasil sebelum seseorang yang ditunggu datang.


"Kak," lirih Dinara untuk yang terakhir, sebelum pengelihatannya buram dan semuanya gelap.


Pukul satu dini hari, lelaki itu baru menginjakkan kaki di apartemen. Raka celingukan tidak melihat batang hidung sang istri. Dia berjalan mendekati meja makan dan menemukan mangkuk besar berisi sayur capcay. "Masih banyak," ucap Raka. Lalu, menatap pintu kamar Dinara yang tertutup rapat. "Apa dia nungguin gue tadi?"


Raka berdiri tepat di depan pintu kamar Dinara, menggerakkan tangan kekarnya untuk mengetuk. Sekali ketukan, yang pelan karena sedikit takut. Kedua kalinya, Raka menggedor-gedor sebab tidak ada jawaban. "Dinara pasti tidur," ucapnya. "Tapi, masa gue gedor gini, dia gak dengar?"


Lelaki itu membanting tubuhnya di atas kasur yang empuk, punggungnya seolah mengangkat banyak beban. Raka merogoh saku untuk mengambil ponsel, kemudian pesan dari seseorang membuatnya bangkit dari tidurnya.


Bundanya Dinara


[Maaf Raka, Bunda mau tanya]


[Dinara keadaannya baik-baik aja kan? Soalnya perasaan Bunda gak enak]


Raka membulatkan mata saat melihat isi pesan terakhir itu.


[Kamu kalau mau pergi, jangan lupa pamit sama Dinara, kalau bisa ajak dia ikut kamu. Pokonya jangan tinggalin Dinara sendirian di apartemen ya, dia punya trauma.]

__ADS_1


Dia berlari secepat kilat pergi ke kamar Dinara. Menggedor pintu dengan keras, kemudian Raka mencoba menurunkan gagang pintu yang ternyata tidak dikunci. Raka membulatkan mata saat melihat Dinara merengkuh di sana. "Dinara!" pekik lelaki itu.


"Ra! Dinara!" Raka menepuk pelan pipi Dinara, tetapi tidak mendapat respon dari gadis itu. Lalu, Raka membenarkan posisi tidur istrinya. "Pingsan."


Panas menyengat kulit Raka ketika bersentuhan dengan Dinara. "Kompres," ujar Raka, kemudian bergegas ke dapur.


Dengan sepenuh hati dan perlakuan yang lembut, Raka menyapu keringat yang menetes di kening Dinara dengan sapu tangan basah. Raka terhenyak melihat wajah manis, menenangkan milik Dinara. "Maaf, Cantik," gumam Raka.


Beberapa saat setelahnya, Dinara membuka mata, membuat Raka menghela napas lega. Gadis itu memeluk tubuh Raka tanpa aba-aba hingga pemiliknya terkejut bukan main. "Ra?"


"Jangan pergi, Kak! A--aku takut," ucap Dinara dengan suara bergetar.


Raka mengelus kepala Dinara dengan lembut, menenangkan gadis itu. Tubuh Dinara masih bergetar, detak jantungnya masih tidak normal. "Maaf, gue lama perginya," kata Raka.


Dinara menunduk dalam, mengelap air mata beserta ingus yang menetes. Kacau sekali wajahnya saat ini, bibir pucat dan rambut berantakan. "Aku trauma, Kak."


"Sebenarnya, Kak Raka dari mana?" tanya Dinara.


"Balapan mobil," jawab Raka, dengan jelas dan seperti tidak ada beban.


Dinara menggelengkan kepala, dia tidak peduli sekarang karena ada yang kurang.


Malam yang tidak sempurna, ketakutan akan kehilangan begitu menghantui Dinara. Kejadian masa lalu menyakiti hatinya itu tak bisa hilang dari ingatan, sangat membekas. Namun, penyebabnya masih tetap ingin Dinara temui, selalu dan akan sama.


"Aku lapar, Kak. Nungguin Kakak nggak datang-datang, sampai aku pingsan." Dinara menghela napas panjang, mengelus perutnya yang kosong hanya berisikan angin. "Makan, yuk!" ajak Dinara.


"Maaf, ya, udah bikin lo ketakutan gini." Raka berdiri dari duduknya. "Gue panasin masakan lo dulu. Lo tunggu di sini aja!" ujar lelaki itu, kemudian melenggang pergi.

__ADS_1


Dinara mengulas senyum tipis melihatnya, seperti diberikan perhatian. Ini sama seperti kisahnya dulu, tetapi berbeda juga karena Raka kembali untuknya, sedangkan seseorang itu pergi dan datang di waktu yang tidak tepat.


__ADS_2