Istri Tahanan Kak Raka

Istri Tahanan Kak Raka
19. Ancaman


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


"Kita putus," ucap gadis berambut panjang itu dengan intonasi tinggi. Kedua matanya melotot kepada kekasih yang menatapnya tajam di depannya.


"Alasannya mutusin aku kenapa?" tanya sang lelaki, raut wajahnya menjelaskan bahwa ia tidak rela hubungannya berakhir.


Gadis tersebut tersenyum miring meremehkan. Dia menatap lamat lelaki di depannya, yang sangat mengharapkan hubungan ini tetap terjalin. "Gue udah gak suka sama lo!" Kalimat menyakitkan itu dilontarkan perempuan bermana Alya.


Ucapan Alya tanpa perasaan tersebut, lantas membuat lelaki bernama Rega itu membuka mulut tidak menyangka. "Kenapa?" tanya Rega, lagi. Rega masih berharap agar Alya dapat kembali bersamanya.


Alya diam sejenak, memalingkan wajah dari Rega. Dia menghembuskan napas panjang. Lalu, dia berkata tanpa menatap Rega. "Lo selalu mentingin diri lo sendiri, Ga! Lo gak pernah peduli sama gue."


"Selama ini, gue yang berjuang sendiri buat mertahanin hubungan kita. Sedangkan lo? Cuma mentingin geng motor lo itu, tanpa peduli gimana perasaan gue."


"Lo gak pernah ada waktu buat gue. Bahkan, lo pernah menghilang selama satu minggu tanpa kasih kabar." Alya menarik kedua sudut bibirnya, menertawai diri sendiri. "Miris," lirih Alya.


Rega membeku, memandangi gadis itu menunduk seakan enggan menatapnya. "Lo suka sama cowok lain, Al?" Ketika pertanyaan itu keluar dari bibir Rega, Alya sontak mendongak memperlihatkan mata merahnya.


"Iya."


Jawaban singkat dan jelas itu membuat Rega marah sekali. Wajahnya memerah, kedua tangan mengepal hingga otot-ototnya menonjol.


"Lo pikir gue cewek apaan yang bisa sabar ngehadapin sikap lo?"


"Iya, memang selama ini gue tahan biar hubungan kita gak rusak. Tapi, lihat yang lo lakuin selama ini! Gak ada, Ga! Sama sekali gak ada."


"Kita pacaran tapi terasa cuma sekadar orang asing. Ketemuan seminggu sekali dan itu cuma satu jam."


"Lo pernah mikirin perasaan gue gak, sih?" Suara Alya menjadi sangat pelan, hatinya terasa sangat perih. Alya menutupi wajahnya yang hancur dengan kedua tangan, pundaknya bergetar membuat jelas tangisnya begitu kencang.


"Siapa yang bikin kamu kayak gini?" tanya Rega, kini suaranya menjadi sangat berat.


Alya mengangkat kepala. "Raka. Puas lo?" Rega membulatkan mata, menatap tajam gadis di depannya. "Raka sama kayak lo, ketua geng. Tapi, dia lebih peduli walau sama orang asing!" katanya, membuat Rega semakin marah.

__ADS_1


Alya berdecih melihat wajah lelaki itu, kemudian melenggang pergi dari taman yang sepi. Rega masih mematung, menunduk dalam, dan menatap sepasang kaki terbalut sepatu.


Mereka bertemu sesuai dengan janji yang dibuat kemarin. Namun, Alya harus menunggu lelaki itu hingga satu jam, dan Rega datang dengan sangat telat. Alya kecewa, marah dan memutuskan untuk mengatakan apapun yang membuat hatinya sakit selama ini.


Bulan sabit itu bersinar di gelapnya malam, menerangi kemurungan dua pemuda tersebut. Ia seperti tersenyum akan berakhir hubungan Rega dan Alya yang sudah terjalin selama setengah tahun.


.....


Menyebalkan. Pagi-pagi, Raka sudah mengajak Dinara bertengkar. Seperti orang pintar saja, Raka mengotot membuat sarapan untuk hari ini. Namun, lelaki itu malah menggosongkan ayam goreng tersebut.


Dinara uring-uringan karena Raka tidak mau dibantu, tetapi malah berujung nihil seperti itu. Dinara pergi ke Universitas dengan perasaan kesalnya, juga berangkat sendiri meninggalkan Raka, yang tadi masih mengenakan kolor.


Rambut pendek Dinara sudah lebih panjang dari sebelumnya, kini sudah sampai pundak. Dia berjalan sendiri, menggendong tas, dan membawa beberapa buku di tangan. Dinara mengedarkan pandangannya mencari sosok tampan yang masih menempati hatinya. Lalu, gadis itu menghentikan langkahnya di teras dan melihat ke arah lapangan. "Biasanya, Kak Abram suka nongkrong di kursi itu sama temen-temennya," gumam Dinara.


Dinara celingukan mencari keberadaan lelaki itu. Namun, orang yang dicari tidak menampakkan batang hidungnya.


"DINARA!" Seseorang meneriaki namanya dari belakang, membuat Dinara sontak berbalik badan.


Dua gadis yang tidak pernah dilihatnya berjalan mendekati Dinara. Mereka melenggak-lenggok menenakan pakaian ketat. Dinara mengerutkan dahi melihat mereka. "Iya, ada apa?" tanya Dinara.


Dinara menelan saliva susah payah. Jantungnya berdebar kala itu. "Iya benar aku Dinara. Tapi, kalau soal Kak Raka, aku nggak tahu," jawab Dinara.


Alya melihat Dinara dari kaki hingga ujung rambut. "Biasa aja," celetuk Alya.


"Iya?" sahut Dinara.


Alya maju selangkah. Menatap sinis Dinara. "Gue mau lo gak usah deketin Raka! Karena dia akan jadi punya gue."


Dinara tersentak kaget. Ah, aku sudah jadi istrinya. Batin Dinara.


"Kamu ... pacarnya Kak Raka?" tanya Dinara, dengan memberanikan diri.


"Iya. Belum juga, sih. Tapi, nanti Raka akan jadi punya gue," kata Alya. "Jadi, gue ingentin sama lo! Kalau mau aman, gak usah gatel sama cowok gue!"

__ADS_1


Dinara mengangguk pelan, menanggapi ucapan gadis itu. "Iya," ucap Dinara.


Merasa sudah puas dengan ancaman yang diberikannya kepada Dinara, Alya melenggang pergi dengan temannya yang terlihat takut dengannya itu.


Dinara mematung melihatnya. "Ngeri banget." Dinara bergidik ngeri. "Sesuai perintah, aku akan jauhi Raka," ujarnya.


"Makasih atas ancamannya." Dinara mengulas senyum lebarnya, kemudian berjalan menuju kelas.


Sinar matahari yang menyengat tidak membuat Rega berniat pergi dari tempat itu. Dia mengikuti Raka dari Universitas, sampai pulang ke rumah. Dia penasaran, kenapa Raka tinggal di apartemen, sedangkan Raka mempunyai rumah yang tidak jauh dari tempat kuliah. Rega berdiam diri di atas motor, mengamati apartemen.


Seorang gadis menarik perhatian Rega. Itu Dinara yang sedang berjalan mendekati bangunan apartemen. Rega segera mengamankan diri dengan cara bersembunyi di belakang pohon.


Rega menyipitkan mata, melihat dengan serius gadis itu. Lalu, Dinara menghilang karena sudah memasuki bangunan.


"Cantik itu cewek," ujar Rega.


Rega menghela napas panjang. "Raka ngapain tinggal di apartemen kecil kayak gini?"


"Bukannya dia anak orang kaya. Raka juga punya bengkel besar sendiri."


Rega berpikir keras tentang hal-hal yang menyangkut Raka, sebab Raka adalah saingannya.


Rega mendongak, menutupi silau matahari dengan tangan. Dia melihat ke arah apartemen Raka. Lalu, gadis cantik itu kembali menarik perhatiannya. "Cantik banget."


Rega mengerutkan keningnya. "Loh? Cewek itu kenapa masuk ke apartemennya Raka?"


"Pacarnya?"


"Atau Raka punya sugar baby?" Rega membulatkan mata sambil menggelengkan kepala, seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Dinara masuk ke dalam apartemen, membuat Rega yang diam-diam melihatnya semakin heran. "Beneran masuk?"


.....

__ADS_1


"Udah pulang?" ujar Raka melihat kehadiran sang istri.


"Menurut Kak Raka?" Dinara jadi kesal. Dia melenggang tanpa memperdulikan lelaki itu.


__ADS_2