Istri Tahanan Kak Raka

Istri Tahanan Kak Raka
7. Pernikahan dan tinggal bersama


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Nanti sore ada jadwal balapan. Nonton gak?" Ajakan Kray mendapat banyak persetujuan dari temannya. Namun, Raka hanya diam mendengarnya. "Lo gak bisa ya, Bos?" tanya Kray.


Raka termenung tidak menjawab. Dia mematikan ponsel dan meletakkan di atas meja. Tiga sahabatnya menatap dengan penuh tanya, terlebih Kray. Mereka berkumpul di kantin, tak sedikit yang mencuit untuk mendapatkan perhatian dari empat pemuda itu.


Abram menolak untuk diajak ke kantin, seperti biasa, dia belajar di kelas. Lelaki itu sangat perhatian dengan nilai-nilainya. Bahkan, para gadis tidak hanya mengagumi parasnya yang tampan, tetapi juga kepandaian Abram. Sempat ditawari untuk menjadi mahasiswa pertukaran ke negeri Ginseng, Korea. Namun, lelaki itu menolak.


Dia mengusap kasar wajahnya, menghela napas berat hingga menciutkan nyali sahabatnya. "Gue gak bisa ikut hari ini, ada acara," ucap Raka.


"Acara apa? Keluarga? Jangan-jangan lo mau nikah," seloroh Kray.


"Pantat lo!" umpat Raka. Lalu, dia berdiri dari duduknya. "Males sama lo. Gue mau balik aja." Lelaki itu pergi meninggalkan tempat, sampai membuat sahabatnya melongo.


"Dia gak pernah absen buat ikut balapan, loh," ujar Boi.


"Kayaknya ada masalah," lanjut Kray, menopang dagu dengan tangan seraya mengetukkan jari telunjuk ke dahi, dia sebenarnya memikirkan hadiah uang lomba balap motor nanti.


"Raka juga manusia, dia bisa capek," seru Roi, kembaran Boi yang sedari tadi sibuk bermain rubik kesayangan.


Roi dan Boi merupakan anak kembaran. Namun, orang tidak mempercayai bahwa mereka kembar karena perbedaan fisik dan perilaku. Tubuh Roi lebih pendek dari Boi, tetapi Boi kurus dibanding dirinya. Rambut Roi mendekati keriting, berbeda dari Boi yang berambut lurus.


Boi terlalu aktif, sehingga dicap sebagai anak yang tidak bisa diam, sama seperti Kray. Namun, Boi selalu malas melakukan aktivitas fisik, apalagi terkena sinar matahari langsung, dia seperti vampir. Akan tetapi, meski perbedaan mereka terlihat begitu menonjol, kasih sayang orang tua didapatkan cukup adil.


Raka bergegas memasuki rumah setelah pulang dari kampus. Dia melihat sang mama di ruang tengah sedang menata pakaian di sofa. Saat menyadari kedatangan Raka, dia menyambut. "Tumbe sekali pulangnya cepat. Pasti tidak sabar nanti sore," ujar Kania, menggoda putranya.


Lelaki itu berdecak kesal, kemudian duduk di samping sang mama. "Masih mending aku pulang. Kalau aku gak pulang?" cetus Raka.


"Kamu gak pulang? Mama cepat-cepat keluarkan kamu dari kartu keluarga."


Raka menghela napas berat, dia memandang setelah jas di meja depannya. "Buat aku nanti?" tanya Raka, Kania lantas menganggukkan kepala. "Gaunnya dia warna apa?"


Kania menoleh, menatap bingung ke arah putranya. "Dia? Dia siapa?" tanyanya.


"Dinara, Ma. Gaunnya dia warna apa?"


Kania mengangguk singkat, putranya itu sepertinya tengah gugup. "Putih, ada perpaduan ukiran bunga warna gold. Nenek yang pilih soalnya suka banget sama warna emas," jelas Kania. "Ini pakaian kamu gak kepilih sama Nenek, jadi mau dikembalikan."


"Jadi, punyaku di mana?"

__ADS_1


"Di kamar Mama, rahasia."


Mempunyai orang tua yang asik memang menyenangkan, tetapi ketika sudah jahil, rasanya anak muda pun kalah dengan tingkah mereka.


"Ya udah, Raka mau tidur, capek," ujar Raka seraya berdiri dari duduknya.


"Iya," jawab Kania.


.....


Mungkin, setiap manusia pasti menantikan hari di mana ia akan menikah dan bersatu dengan seseorang yang dicintai. Namun, dua insan duduk di depan penghulu itu berbeda, mereka harus menikah walau tidak saling mencintai. Sesuatu telah dipaksakan demi mewujudkan suatu impian. Tidak bisa mengecewakan orang tua lebih dalam, Dinara dan Raka memutuskan menerima.


Gedung luas itu dihiasi bunga-bunga cantik dan berwarna menarik. Para tamu undangan yang tidak banyak, mereka duduk di kursi tersedia untuk menjadi saksi pernikahan dua insan tersebut.


Raka dipintahkan untuk menjabat tangan Roni sebagai wali dari sang putri. Detik menegangkan, lelaki itu merasakan sesuatu dalam tubuhnya berdetak kencang. "Mempelai laki-laki, sudah siap?" ujar pak penghulu.


Raka terdiam sejenak, bahkan Dinara menatap lelaki di sampingnya itu. "Siap," jawab Raka sambil mengangguk, membuat Dinara merasa bergetar melihat kharisma calon suaminya.


"Mempelai perempuan, sudah siap?" Giliran Dinara, sedangkan gadis itu kalut dengan perasaan takutnya. Hanya mengangguk singkat, Dinara sudah tidak mampu bergerak.


Roni mengenggam erat tangan Raka di depannya, kemudian mulai mengucapkan kalimat akad. "Saya nikahkan engkau, Raka Arona bin Dio Arona dengan putri saya, Dinara Sarafati binti Roni dengan maskawin seperangkat alat sholat serta emas 900 gram dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"SAH!"


Ucapan syukur atas terlaksananya acara itu dengan khidmat, juga rasa senang kedua orang tua melihat putra dan putri mereka sudah menikah.


Bimbang, antara senang dan merasa penderitaan mengintainya. Dinara mengulas senyumnya yang terbaik mendapat ucapan selamat atas pernikahannya.


Tamu undangan bukan dari teman Dinara, maupun Raka, tetapi teman-teman bisnis orang tua. Tentu saja hubungan mereka akan menjadi rahasia. "Kak, jangan kasih tahu siapa pun soal pernikahan kita," ujar Dinara.


Raka pun setuju karena bila seluruh kampus tahu, bukan dirinya yang akan mendapat masalah, tetapi sang istri. "Gue juga maunya hubungan kita jadi rahasia," balas Raka.


Berdiri di samping lelaki tinggi yang kini sudah sah menjadi suaminya, Dinara melirik sekilas ke arah Raka. Ada rasa tidak terima atas semua hal pemaksaan ini, tetapi terbesit rasa terima kasih karena Raka sudah mau mengerti dirinya.


Mereka bersanding di altar, menyaksikan seri wajah tamu undangan. Seperti mimpi yang tidak pernah diduga, ini menjadi jalan awal dua pasang suami-istri tersebut.


Dinara kembali menghampiri Raka karena dipanggil sang bunda tadi. "Kak, ayo foto bareng!" ajak Dinara. Raka mengangguk singkat.

__ADS_1


Dinara berjalan mendahului, gaun terasa berat di tubuhnya yang bisa dibilang kecil. Hampir saja gadis itu terjungkal karena bagian belakang gaunnya diinjak Raka. Dinara sontak menoleh dan melemparkan tatapan tajam. "Gimana, sih?" tegurnya dengan ketus.


"Sorry, gue gak sengaja," ucap Raka, merasa takut bila istrinya itu marah. Lalu, dia mengambil bagian belakang gaun Dinara dan membawanya mengiringi langkahnya.


Mengabadikan momen penting merupakan suatu keharusan, dengan foto bersama akan menjadi suatu jalan. Dinara dan Raka berdiri di antara mereka. Rania dan Roni beradaptasi di samping Dinara, sedangkan Nek Hani, Kania, dan Dio di sebelah Raka.


Mereka berpose saat fotografer mengarahkan kameranya. Suara kamera beserta flash mengartikan foto telah diambil. Tidak hanya satu, tetapi banyak jepretan yang mereka dapat. Sebuah momen yang tak bisa terulang.


Apartemen yang mempunyai tiga lantai, menjadi tempat tinggal baru untuk Dinara dan Raka. Rupanya, lelaki itu sudah menyiapkan sedari lama, bahkan dari awal mereka dinyatakan akan menikah.


Dinara menenteng totebag yang berisi baju ganti untuk sementara. Sedangkan Raka, dia membawa koper besar. "Kamarnya ada berapa?" tanya Dinara.


"Dua. Lo kamar depan, gue belakang dekat dapur," jawab Raka. "Sorry, apartemennya kecil, supaya lo gak capek kalau bersihin."


Dinara mengangguk singkat. "Aku ke kamar duluan," ujar Dinara, kemudian melenggang pergi.


Memilih apartemen yang kecil terdapat alasan khusus bagi Raka. Selain agar tidak terlalu lelah saat membersihkan, dirinya dan Dinara tak berjarak jauh, sehingga bisa saling berdekatan.


Raka masuk ke dalam kamarnya, sudah rapi dan bersih. Hendak mandi, tetapi air di sana tidak keluar setetes pun. "Gue mandinya gimana? Sialan!" Raka menggerutu, padahal tubuhnya sudah terasa lengket.


Raka membanting tubuhnya di atas kasur, menutup matanya rapat-rapat, menghalau cahaya lampu mengenainya. "Masa gue numpang di kamar mandinya Dinara?" gumam laki-laki itu. Lalu, Raka bangkit dan menghela napas panjang. "Terpaksa."


Mengetuk pintu seraya bersandar di dinding, Raka menunggu gadis itu membukakan pintunya. Sedangkan Dinara yang baru selesai mandi, dia tengah mengeringkan rambut dengan handuk.


Pintu terbuka, memperlihatkan Dinara dengan rambut basah. Raka pun menegakkan tubuhnya. "Air di kamar mandi gue gak keluar. Kalau gue numpang mandi, boleh?" ujar Raka.


Dinara menghembuskan napas panjang, kemudian mengangguk singkat. Dia keluar dari kamarnya. "Aku tunggu di depan. Mandinya jangan lama-lama!"


Raka mengangguk singkat, dengan secepat kilat dia masuk ke kamar mandi dan segera menguyur tubuhnya yang gerah dengan air dingin.


Raka hampir tidak mau keluar karena harum sampo Dinara masih menempel di sana. Entah gadis itu menggunakan berapa banyak hingga tercium sampai memabukkan.


Lampu kamar Dinara sudah padam, tetapi matanya tak kunjung bisa terpejam. Rasa gelisah tidak nyaman, dia mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Suara hujan yang biasa menenangkan, terdengar mengusik di telinga.


Mata yang sudah terpejam rapat, memaksa untuk kembali terbuka. Raka dalam keadaan yang sama seperti Dinara. Bedanya, Raka tidur dalam keadaan lampu menyala karena dia tidak suka kegelapan. Menurut lelaki itu, kegelapan artinya dalam kesedihan. "Gue kenapa, sih?" gerutu Raka.


Kegiatan pernikahan tadi, terus terputar dalam otaknya. Ingin mengulangi kejadian itu sekali lagi, mungkin terus-menerus. Bahagia, waktu yang menyenangkan bagi dirinya.


Di dalam gelapnya malam, apartemen itu sepi sunyi. Namun, tidak untuk dua insan yang tengah bergelut dengan ketakutan. Bagaimana menjalani kehidupan esok hari? Harus berbuat apa? Sudahlah, bulan pun menyaksikan mereka sedang sama-sama jatuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2