
...SELAMAT MEMBACA...
Raka memasang wajah juteknya, menonton televisi sambil memakan salad yang dibeli Dinara tadi. Siang hari di luar sangat panas, tidak ada awan yang menutupi matahari, sehingga cahaya menembus membuat cuaca terasa gerah. Lelaki itu sedang marah karena sang istri pulang telat.
"Kak, maafin!"
Raka tetap mengacuhkannya. Memalingkan wajah, tidak sedikit pun menatap Dinara yang memohon maaf itu. "Gue suruh lo langsung pulang, kenapa gak nurut?" ucap Raka, ketus.
"Dosennya ada yang nggak masuk," jawab Dinara, tentu saja berbohong.
"Siapa? Gue tahu semua jadwal lo. Gue juga tahu kalau lo main dulu, gak langsung pulang."
Dinara berdecak kesal, kemudian berdiri di depan Raka, menutupi layar televisi dengan tubuhnya. "Dari pada Kak Raka, gak kuliah," cetusnya. "Lagian, dari mana Kak Raka tahu, kalau aku main dulu?"
Raka menarik sudut bibirnya, menatap Dinara dengan remeh. "Di luar sana, kamera gue banyak. Gue tinggal tunggu laporan soal lo," kata Raka.
"Kamera? Kak Raka penguntit?"
"Biarin. Gue ngawasin istri gue sendiri. Kalau gak diawasin, bisa bahaya."
"Kenapa bahaya?"
"Banyak banget tanda tanya lo. Males. Minggir, gue mau nonton TV!" Raka menyingkirkan Dinara dari hadapannya dengan cara menggeser gadis itu. Dinara menghembuskan napas gusar, kemudian melenggang ke kamar.
Raka sedikit melirik, puas sekali memarahi gadis itu. Melihat wajah kesal Dinara, Raka dibuat gemas. Dia pun melanjutkan acara menonton televisinya.
Kesal setengah mati. Dinara bahkan membanting pintu saking gregetnya dengan suaminya itu. Dia mematikan lampu, kemudian menutup gorden dan melempar tubuh di atas kasur.
Dinara jadi kepikiran sesuatu. Dia bangun dan mengambil boneka monyet pemberian Raka, yang diletakkan di atas meja belajar. Lalu, Dinara membawanya ke kasur. "Kak Raka bilang, dia punya kamera dan bisa tahu semua apa yang aku lakuin. Apa jangan-jangan, dia juga taruh kamera di boneka ini?"
__ADS_1
Kemungkinan, kecurigaan Dinara terhadap Raka, juga karena ulah Raka sendiri. Lelaki itu, bila sudah jatuh cinta, dia bisa jadi orang yang kalap dan sulit untuk berbohong.
"Bisa bahaya kalau lihat aku waktu nggak pakai pakaian," ucap Dinara. Kedua matanya membulat, bibirnya terbuka, kemudian dengan secepat kilat dia memasukkan boneka itu ke dalam almari. "Seenggaknya, dia nggak bisa lihat."
Dinara kembali ke surga dunianya. Kasur tercinta. Tidur di siang hari saat tubuh merasa lelah, mungkin akan begitu nyenyak. "Mau marah, mau enggak, aku nggak peduli," cetus Dinara. Lalu, dia memeluk erat guling kesayangan dan memejamkan mata.
Damai sekali rasanya hati dan pikiran Dinara. Tanpa cahaya, terdapat ketenangan dan diiringi suara hujan yang terputar dari playlist di ponselnya, menuntun Dinara memasuki alam mimpi.
Siang yang panas dan melelahkan.
Salad milik Raka habis, semuanya telah masuk ke dalam perut. Dering ponsel yang tergeletak di atas meja, membuat Raka bergerak mengambilnya. Terpampang nama Kray di layar handphone Raka.
Raka memastikan bahwa Dinara tidak ada di dekatnya. Lalu, dia melangkah keluar apartemen. Raka menerima panggilan itu, kemudian terdengar suara heboh Kray. "Ka! Malem ini, di tempat biasa. Lo ditantang sama Rega buat balap mobil!"
Raka sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Suara Kray hampir mendekati nyaring. "Lo aja! Gue lagi males," jawab Raka.
Di sana, Kray menggaruk tengkuk lehernya. Dia menatap Boi yang berdiri di sampingnya. "Gue sebenernya mau aja. Tapi, Rega maunya sama lo, Ka," ucap Kray. Boi mengacungkan jempol kepada Kray.
Kray dan Boi bersorak kegirangan, keduanya melakukan pelukan singkat. "Siap, Bos! Gue tunggu di sana!" ucap Kray, kemudian menutup telepon.
Raka menyandarkan tubuhnya di sandaran. Netra miliknya menyadari sepasang mata menatap ke arahnya. Lantas, saat Raka memandang balik, orang itu memalingkan wajah. Raka melihat kakinya yang tidak terbalut apa-apa. Pakaiannya terkesan santai, dengan kaos putih dan celana pendek hitam bergambar tengkorak.
Mungkin, hal tersebut membuatnya menarik perhatian seseorang.
Jarum jam berputar dengan cepat. Dinara beranjak dari tempat tidurnya, keluar kamar dan mencari keberadaan suaminya. Lelaki itu masih bertengger di sofa, menonton siaran televisi yang sama. "Kak," panggil Dinara dengan suara beratnya.
Raka menoleh, mendapati keadaan kacau Dinara. "Apa?" Dinara duduk di sampingnya, membuat Raka sedikit termanggung. "Lo ngigau, Ra?" seloroh Raka.
Dinara menggelengkan kepala. "Kak, malam ini aku mau pergi main ke luar sama temen, boleh?" tanya Dinara. Dia menatap Raka, membuat mata bulat yang menggemaskan.
__ADS_1
"Temen siapa?"
"Ya temen aku pokoknya."
"Memangnya Dinara punya teman?" tanya Raka dengan nada bicara yang mengejek. Sebab, setahunya, di kampus Dinara selalu sendiri.
"Kak! Ngeremehin aku? Temen aku banyak!" tegur Dinara.
Raka menarik kedua sudut bibirnya. "Gak ada main. Di rumah aja!" kata Raka, penuh dengan penekanan.
Dinara melebarkan mata. "Kak! Aku juga butuh hiburan, masa main sekali aja nggak boleh?"
Raka menggelengkan kuat kepalanya. "Sekali gue bilang gak, ya tetap gak boleh."
"Ngeselin banget!" Dinara memajukan bibirnya, melipat kedua tangan di depan dada. Lalu, dengan keras dia memukul lengan Raka hingga lelaki itu meringis pelan. "Sialan lo, Kak!" Tidak hanya sekali, berulang kali Dinara mendaratkan pukulan keras di tempat yang sama.
"Mending nggak usah nikah, kalau dapat suami kayak gini."
Raka mencekal tangan Dinara, membuat gadis itu menciut seketika. "Sekali lagi lo ngomong kasar, gue jahit mulut lo!" peringat Raka.
Dinara menekan gigi-giginya, menatap Raka dengan tajam, seolah siap menerkam. Lalu, dia menepis tangan Raka dan berdiri dari sofa. "Kak Raka kayak monyet!"
"Mirip sama boneka yang Kak Raka kasih!" Lalu, gadis itu menghentakkan kaki ke lantai dan melenggang pergi dengan perasaan kesal. Namun, hal tersebut terlihat menggemaskan di mata Raka.
"Lo yang kayak monyet, Ra!" teriak Raka, kemudian disusul tawa ringan yang keluar dari bibirnya. Raka mematung sejenak, menyadari perilaku anehnya. "Gue? Beneran jatuh hati?" Dia memegang dadanya, jantung di dalam sana berdetak kencang.
Malam berseteru dengan hujan. Suara gemericik yang membuat Dinara mencintainya. Dia menikmati keindahan itu melalui balkon, merasakan sejuknya udara ini. Angin sesekali menerbangkan rambut pendeknya. Dari belakang, Raka memandang diam-diam istrinya.
Raka mendudukkan tubuhnya di sofa, meletakkan secangkir kopi di meja. "Buruan masuk, Ra! Nanti masuk angin," ujar Raka. Lalu, Dinara menoleh sebentar dan kembali menikmati hujan. "Ra," panggil Raka sekali lagi, dengan nada yang berbeda, terdengar manja.
__ADS_1
Dinara tidak menjawab, dia masuk dan menutup pintu balkon. "Aku tidur duluan, Kak," katanya. Lalu, Dinara melewati Raka dan masuk ke kamar.
Entahlah, Raka merasa bersalah karena telah berlaku kasar kepada gadisnya.