Istri Tahanan Kak Raka

Istri Tahanan Kak Raka
8. Hari pertama


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA!...


Sinar matahari menembus tirai jendela kamar Dinara, gadis itu hanya menggeliat di atas kasur. Beberapa saat kemudian, dia bangun dan mencoba membuka mata. Netra miliknya menatap tajam ke layar ponsel yang menunjukkan pukul 8.30. "Setengah sembilan?" Dinara memekik keras.


Dinara bergerak cepat pergi ke kamar mandi, meninggalkan kasur yang telah membuatnya kesiangan. Bahkan, Raka sendiri masih belum bangun walaupun matahari dengan terang menyinari wajahnya. Lelaki itu hanya membuka mata sedikit, kemudian menggunakan selimut untuk menghalau sinar sang surya.


Gadis itu bergumam kesal. Dia menggedor keras pintu kamar Raka, tetapi suaminya tidak kunjung keluar. "Kak Raka!" Dinara mengeraskan suaranya. "Kak, bangun, Kak!" teriaknya.


Dinara berdecak kesal, menggeram di depan kamar Raka. Kedua tangannya mengepal kuat. "KAK! BANGUN!" Pada akhirnya, Raka membukakan pintu dengan wajah bantalnya. Dinara membuka mulut lebar kala melihatnya.


"Ada apa, sih?" tanya Raka dengan suara beratnya. Dia bersandar di pintu, menghadapi Dinara dengan rasa ngantuk yang masih melekat.


"Kak Raka gila? Lihat ini jam berapa!"


"Jam berapa emang?" tanya Raka, seakan tidak peduli.


"Setengah sembilan."


Raka benar-benar terlihat tidak berselera, dia hanya mengangguk pelan tanpa ekspresi sedikit pun. "Terus?"


"Kuliah, Kak!" hardik Dinara.


"Libur. Emangnya lo gak capek?"


"Ya capek, sih. Tapi---"


"Diem!" Raka mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah Dinara. Dia mengulas senyum tipis. "Kuliah libur dulu. Kita ke rumah lo buat ambil baju ganti," ucap Raka.


Dinara mematung memandangi lelaki itu membalikkan badan membelakangi, kemudian Raka berbalik lagi. "Sama sarapan di sana, sekalian" celetuk Raka.


Dinara mengerutkan dahi melihat suaminya itu. Lalu, Raka menutup pintu kamarnya dan bersegera membersihkan tubuh.


Entah, Dinara heran karena hidup satu atap dengan lelaki yang tidak disukainya, bahkan dia membencinya. Namun, demi sebuah kebahagiaan, mereka harus berkorban agar semua itu terwujud.


Dinara mengerucutkan bibirnya saat Raka menyuruhnya untuk naik ke mobil. Gadis itu duduk di samping suaminya yang akan menyetir. Dinara melipat kedua tangannya di depan dada sambil melihat lurus ke depan. Raka geram melihatnya. "Bibirnya jangan maju-majuin! Mau gue cium?" seloroh Raka.


Dinara sontak mengalihkan wajahnya dan bertambah kesal. Tanpa sadar, pipi itu memerah dan wajahnya terasa panas, Dinara lantas mengeratkan cengkraman tangannya pada pakaian. Sudah tidak peduli lagi dengan lelaki di sebelahnya, dia tak menggubris ocehan Raka.


"Lo mabuk, Ra?" celetuk Raka saat melihat wajah Dinara merah seakan menahan sesuatu. Dinara lantas menggelengkan kepala. "Perut lo sakit?" Gadis itu menggeleng.


Raka menghela napas berat. "Terserah lo, deh." Pada akhirnya, dia memutuskan diam karena Dinara sama sekali tidak mau berbicara dengannya.


Bukan hanya mual, tetapi pusing dan debaran di jantung membuat Dinara bingung harus apa. Padahal, dia paling anti dengan yang namanya mabuk kendaraan.

__ADS_1


Raka sendiri merasa aneh dengan perasaannya. Hatinya selalu menggerakkan mata untuk melihat wajah Dinara, seperti terpesona dengan kecantikan yang asli di wajah sang istri. Namun, jika dalam tiga bulan mereka belum saling mencintai, maka sesuai perjanjian dan akan berpisah.


Suasana kesukaan Dinara sudah terasa saat baru memasuki halaman rumah. Dia melihat tumbuhan segar yang rajin dirawatnya. Dinara belum mengetuk pintu, tetapi seorang wanita keluar dari baliknya. Sang bunda menyapa dengan senyum bahagia. "Sayangku!" ujar Rania, kemudian berhambur memeluk Dinara.


Baru juga sampai, Dinara dan Raka diajak untuk sarapan karena Rania memasak banyak. Mereka pun duduk bersama di meja makan dengan piring di depan.  "Suamimu ambilin juga, dong!" pinta Rania kepada sang putri.


Dinara menatap Raka sejenak, kemudian menghela napas sebelum melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan seorang istri. "Udah?" tanya Dinara saat menuangkan nasi di piring Raka. Lelaki itu mengangguk singkat. "Sama lauk?"


"Gak. Ya pakai, lah!" jawab Raka.


"Gitu aja ngegas."


.....


Dirasanya sudah cukup dengan baju yang akan dibawanya ke rumah baru, Dinara menggeret koper miliknya keluar kamar. "DINARA!" Suara keras dari belakang membuat gadis itu tersentak kaget. Rania berjalan dari belakang dan menatap tajam sang putri. "Kamu ...."


"Kamu semalam gak ngapa-ngapain sama suami kamu?" Ucapan yang keluar dari bibir Rania, lantas tidak dapat dicerna oleh Dinara. Gadis itu menautkan kedua alisnya lantaran bingung. "Kamu bocor," ucap Rania.


Baru saat itu Dinara sadar dan langsung melihat rok bagian belakang. Benar saja, ada bercak merah di sana. "Kalian gak ngapa-ngapain? Serius?" cecar Rania, wajahnya menunjukkan kekecewaan.


"Ngapain apa sih, Nda?"


"Malam pertama," ucap Rania. Lalu, Dinara menggelengkan kuat kepalanya. Terdengar helaan napas berat keluar dari bibir Rania, kemudian dia melengos melewati Dinara.


Dinara segera kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian yang kotor. Gila saja dirinya bila melakukan hal itu dengan orang yang tidak dicintai. Walaupun mereka sudah menikah, Dinara tak semudah seperti memberikan makanan.


"Masih ganti pakaian," jawab Rania.


"Ganti pakaian? Kenapa memang?" Raka penasaran karena tahu pakaian istrinya baik-baik saja tadi.


"Hari pertama." Ucapan Rania dengan cepat dicerna oleh Raka. Namun, melihat wajah sang mertua membuatnya yakin bahwa wanita yang kecewa. "Kamu jangan panggil Tante lagi, dong! Panggil Bunda kayak Dinara aja," ujarnya.


"Siap, Bun."


"Kamu aslinya orangnya baik, ya." Rania memuji menantunya itu terlalu berlebihan, mungkin jika Dinara tahu, pasti dia akan menyangkal ungkapan sang bunda salah. "Saya percayakan Dinara sama kamu," katanya.


"Raka pasti jaga Dinara baik-baik, kok."


.....


"Ikut gue ke bengkel dulu, ya," ujar Raka saat di dalam mobil. Lelaki itu membelokkan setir sebelum Dinara menjawab pertanyaannya.


"Ngapain ke bengkel? Mobilnya rusak?" tanya Dinara.

__ADS_1


"Ngecek aja."


"Ngecek mobil?"


"Banyak tanya. Ngecek bengkel gue."


"Emangnya punya bengkel, Kak?"


"Punya Papa tapi gue yang jalanin." Dinara menganggukkan kepalanya, kemudian kembali melihat ke depan. Namun, berbeda dengan Raka yang sering melirik istrinya diam-diam.


Sampai di bengkel yang Raka maksud. Bangunannya besar dan bisa dibilang bersih. Beberapa pekerja pun aktif melakukan tugasnya. Raka melepas sabuk pengaman dari tubuhnya. "Lo tunggu di sini!" perintah Raka.


"Iya," jawab Dinara, kemudian lelaki itu pergi keluar.


Dinara menghela napas panjang, dia bahkan tidak menyangka pemuda seperti Raka bisa berbisnis.


Lelaki itu nampak bercengkrama dengan orang seusianya. Terlihat seperti atasan pada umumnya. Namun, tidak lama Raka kembali ke mobil dan mendapatkan tatapan aneh dari Dinara. "Kenapa?" tanya Raka.


"Cepet banget." Raka hanya membalas dengan senyuman simpulnya.


Hal lain yang ditemukan Dinara pada diri suaminya. Dia kira, Raka hanya lelaki kasar dan brandal seperti di luar sana. Akan tetapi, Raka mempunyai kelebihan tersendiri.


Tidak langsung pulang, Raka mengajak Dinara mampir ke super market. Tak sedikit yang melirik mereka bersama, lelaki tampan seperti Raka bersanding dengan gadis berpenampilan simpel. Beberapa perempuan melemparkan cuitan dan sedikit cacian. "Gak usah digubris!" ujar Raka.


"Udah pernah. Telinga aku udah kebal," jawab Dinara.


Raka lantas melemparkan tatapan tajam kepada istrinya. "Udah pernah maksudnya?"


Dinara kelepasan, dia berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. "Ambil keranjang, Kak!" pintanya.


Raka mengangguk dan mengambil benda itu untuk meletakkan barang belanjaannya. Tidak banyak yang dibeli, hanya sedikit makanan pokok dan bumbu racikan. Namun, di tengah tempat perbelanjaan itu, Raka tertarik dengan boneka beruang besar terpajang di atas. "Dinara, boneka itu bagus gak?" ujarnya.


Dinara mengikuti arah pandang Raka. Sesaat setelah melihatnya, gadis itu ikut terpesona dan merasa gemas melihat boneka beruang itu. "Bagus, lucu," jawab Dinara. "Mau beli?" Raka mengangguk.


Dinara tidak terlalu peduli, tetapi juga penasaran. Namun, dia berpikir bahwa benda itu tidak mungkin dibeli untuknya.


.....


Hari ini begitu melelahkan. Dinara membanting tubuhnya di atas kasur, merasakan tulang di dalam seperti bergeser. Di dalam kegelapan seperti biasa, dia memikirkan semua aktivitas di esok hari. Dinara tipe orang yang merencanakan untuk kegiatan mendatang.


Terdengar suara ketukan pintu dan sepertinya itu Raka. Dinara segera beranjak dari ranjang untuk menemui lelaki itu. Benar saja itu Raka, membuat Dinara membulatkan mata karena suaminya membawa boneka beruang yang dibeli tadi. "Ada apa, Kak?" tanya Dinara.


"Buat lo." Raka menyodorkan boneka besar itu hingga membuat Dinara berbinar. Dia melirik sedikit ke dalam kamar Dinara yang gelap. "Kamar lo gelap banget, gak takut?" tanya Raka.

__ADS_1


Dinara menggeleng. "Takut apa? Aku suka gelap." Dia memandang boneka di tangannya, terhanyut ke dalam ingatan masa lalu. "Tapi, aku takut kalau ditinggal sendiri, lagi," katanya.


Raka terhenyak mendengarnya, seolah hatinya berjanji tidak akan pernah membuat gadis itu merasa sedih karena sendiri.


__ADS_2