
...SELAMAT MEMBACA CIHUYY...
Baru saja bangun tidur, tetapi Raka sudah mendapatkan kabar buruk di hari paginya. Sang mama menelpon sambil menangis, mengatakan bahwa Nek Hani telah tutup usia.
Raka bergegas pergi ke rumah bersama sang istri. Di perjalanan, Raka terus meneteskan air mata, Dinara juga berusaha menenangkan suaminya.
Saat Kania memasuki kamar Nek Hani, wanita tua itu sudah tidak bernapas di atas tempat tidurnya. Padahal, beberapa hari sebelumnya, dokter mengatakan bahwa kondisi Nek Hani semakin membaik. Namun, Tuhan menyayangi wanita itu dan menjemputnya.
Banyak kerabat dekat yang datang. Tangis haru memenuhi kediaman almarhumah. Sesampainya di sana, Raka langsung berlari menghampiri jenazah yang berada di tengah-tengah antara banyak orang itu. Melihat Raka menangis keras seperti itu, Kania semakin menangis.
Dinara melihat mama mertuanya yang wajahnya basah karena air mata. Dia segera menghampiri dan duduk di samping Kania. Kania langsung memeluk menantunya dan menangis. "Neneknya Raka sudah tidak ada umur, Dinara!" ucapnya, dengan suara serak.
"Mama yang ikhlas, ya?" tutur Dinara. "Nek Hani sudah bahagia di sana. Mama nggak boleh nangis!"
Bukannya berhenti menangis, Kania malah semakin mengeratkan pelukannya pada Dinara.
Tidak menghabiskan banyak waktu, mereka segera mengebumikan Nek Hani pagi itu juga.
Raka yang ikut mengantar, sepulangnya ia berlari menghampiri Dinara dan memeluk istrinya sambil menangis di sana. "Nenek, Ra," rengek Raka. "Gue belum siap, Ra."
Dinara menenangkan Raka, membawa lelaki itu ke kamar. Pantas saja Raka merasa sangat kehilangan, ia sudah bersama neneknya sejak kecil. "Kak, udah, ya?" tutur Dinara. "Kak Raka harus ikhlas, biar Nek Hani tenang di sana."
"Jangan nangis terus kayak gini," ucap Dinara, sambil menepuk-nepuk punggung Raka yang menangis di depannya.
Dinara juga ikut menangis. Melihat suaminya begitu hancur, Dinara merasakannya. "Kak Raka makan dulu, ya?" ujar Dinara, tetapi Raka menggelengkan kepala. "Kak, kamu belum sarapan, loh. Ini udah mau masuk jam makan siang juga."
Raka terus menggelengkan kepala. Dia mengusap air matanya, meski cairan itu terus menetes. "Gue gak selera makan, Ra," jawab Raka.
Gadis itu menghela napas panjang. "Aku juga belum makan," ucap Dinara, menundukkan kepala. Bersamaan dengan itu, Raka mengangkat wajah menatap istrinya yang memegangi perut. "Aku nggak akan makan, kalau Kak Raka juga nggak makan."
Dinara mengulas senyum tipis kepada suaminya. Tentu saja, Raka tidak akan membiarkan istrinya kelaparan. "Ya udah, gue mau makan. Tapi, lo juga makan!" ujar Raka.
Malam itu, dilakukan pengajian kirim doa untuk Nek Hani. Rania dan Roni pun datang, mereka juga menyapa sang putri yang sudah lama dirindukan.
Pengajian sudah selesai, beberapa tamu sudah pulang. Sedangkan Rania, dia duduk di ruang tengah bersama Dinara, mengobrolkan beberapa hal. "Kalian nginap di sini malam ini?" tanya Rania.
Dinara mengangguk. "Kak Raka masih harus temani mamanya," jawab Dinara. "Dia juga kelihatan masih sedih banget." Dinara mengalihkan pandangannya, melihat Raka yang duduk di sisi lain, sendirian.
__ADS_1
Wajah lelaki itu hampa, sorot matanya sendu. Dia tidak bergabung dengan orang-orang lainnya, bahkan ia seolah tidak peduli akan sekitar.
Rania setuju dengan putrinya. Menantunya itu terlihat sangat terpukul. "Kamu harus bisa hibur suamimu," ujar Rania.
Hari semakin malam, tamu-tamu sudah pulang. Rania dan Roni juga pulang lebih awal karena Roni harus pergi bertugas esok hari.
Raka dan Dinara, malam ini akan tidur di kamar Dinara. Mereka bersiap untuk menjemput mimpi.
Dinara tidur di ranjang Raka, sedangkan Raka merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di kamar. Dinara masih terjaga, menatap langit-langit kamar. "Kak," panggil Dinara.
Raka yang awalnya membelakangi, ia memutar tubuhnya dan menatap Dinara. "Ada apa?"
"Maaf, tempat tidur Kak Raka aku ambil," ucap Dinara.
Lelaki itu menarik tipis sudut bibirnya. "Iya, gak apa-apa."
Dinara memalingkan wajah. "Kak Raka kalau mau tidur di sini, boleh, kok," katanya, dengan malu-malu, tidak berani mengatakannya dengan menatap Raka di sana.
Raka senang mendengarnya. Namun, ia tahu, istrinya pasti masih tidak nyaman jika tidur bersama. "Tidur aja, Ra!" ujar Raka.
"Oke, Kak!" jawab Dinara, kemudian dia memutuskan untuk memejamkan matanya.
Bahkan, sampai titik saat ini, Raka masih bersikap dingin kepada Dinara. Mereka masih belum mengerti satu sama lain. Namun, sebisa mungkin, keduanya akan tetap bertahan, sepetinya.
Mentari telah datang untuk menyinari. Embun pagi masih menempel di tumbuhan hijau. Dedaunan basah, hembusan angin sejuk membuat udara terasa segar. Dinara baru selesai membersihkan diri. Lalu, dia membuka tirai jendela untuk membiarkan cahaya masuk.
Setelah Dinara mandi, sekarang adalah giliran Raka.
Dinara duduk di sofa, meletakkan beberapa skincare di meja. Baru-baru ini, Dinara mencoba merawat wajahnya yang terlihat kusam.
Setelah itu, Dinara beranjak dari sana, membawa benda-benda itu dan hendak meletakkannya di laci nakas samping tempat tidur.
Dinara membuka laci itu dan menata skincare di sana. Namun, netranya terpaku pada sebuah benda yang berada di sana. Kalung berbentuk bulan. Dinara mengambil benda itu dengan niat bertanya pada Raka, karena lelaki itu terdengar sudah keluar dari kamar mandi. "Kak," panggil Dinara.
Raka mendengarnya dan berjalan menghampiri. Dia melihat sebuah kalung di tangan Dinara.
"Punya siapa, Kak?" tanya Dinara, menunjukkan kalung dengan gandul bulan sabit berwarna perak kepada Raka. "Punya Kakak, ya?"
__ADS_1
"Punya lo," celetuk Raka.
Dinara membulatkan mata. "Bukan."
Raka mengambil kalung itu dari tangan Dinara, kemudian hendak memasangkannya ke leher Dinara. Namun, gadis itu malah menghentikannya. "Bukan punyaku, Kak!"
"Punya lo, Ra." Lalu, Raka memaksa untuk memasangkan. "Dari Nek Hani," katanya.
Dinara berlari ke arah almari, ada kaca di sana. Dia melihat kalung itu terpasang di lehernya. "Cantik."
Raka senang melihatnya. Ia menghampiri dan berdiri di samping Dinara. "Selalu cantik," ujar Raka.
"Aku, Kak?"
"Bukanlah! Pilihan Nenek selalu cantik!" kata Raka, seraya melenggang dari sana.
"Oh."
Nek Hani memberikan kalung itu kepada Raka beberapa hari lalu. Wanita itu mengatakan, "Kasih ini ke istri kamu, ya? Biar dia selalu ingat Nenek." Raka menangis dan memeluk neneknya saat itu juga.
Raka tidak tahu, bahwa itu adalah kali terakhir ia mendengar suara sang nenek. Pelukannya, bahkan rasanya seolah masih melekat.
Raka memandang fotonya dengan sang nenek, yang saat itu dirinya masih berada di bangku SMA. Foto di dalam figuran itu pun pemberian dari Nek Hani.
Melihat Raka yang duduk di kasur, Dinara menghampiri dan ikut mendudukkan tubuhnya di sana. "Udah, Kak! Jangan sedih lagi!" ujar Dinara.
"Gue udah kangen, Ra," ucap Raka.
"Nih!" Dinara menarik pundak Raka, membuat lelaki itu menghadap ke arahnya. Lalu, dia menunjukkan kalung yang melingkar di lehernya. "Kalau kangen, lihat ini aja!" ujar Keyra.
Raka menarik sudut bibirnya. Entah mengapa, sekarang, setiap tutur kata Dinara selalu membuatnya tenang.
Raka mengangguk, menyetujui ucapan Dinara.
...Duhhh udah lama jadi lupa alur dan harus baca ulang🥺...
...Hehehe tapi tetap gas aja ketik😁...
__ADS_1
...Kasih aku komen lope lope dong❤️💖...