
...Terdapat sedikit scene kekerasan, bisa di-skip....
...SELAMAT MEMBACA...
Mungkin saja, jika Dinara tahu, gadis itu akan marah besar.
Saat ini pukul 10 malam, Raka mengendap-endap untuk keluar dari kamarnya. Lelaki itu melangkah begitu pelan, sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara. Lalu, dia mengambil sepatu di di ruang tengah dan bergegas pergi dari apartemen.
Sesampainya di luar, dia menghela napas panjang sambil mengelus dada. Akhirnya, Raka bisa berjalan dengan santai menuju parkiran.
Malam yang sepi karena sudah larut. Raka juga tidak melihat orang di sekitarnya. Sedikit takut, bila saja istrinya mencari dan ketakutan itu akan terjadi lagi. Namun, sebisa mungkin Raka akan menyelesaikan acaranya dengan cepat.
Raka adalah ketua yang hampir tidak pernah mengecewakan anggotanya. Dia selalu menerima tawaran untuk balap mobil, hadiah didapatkan dan Raka akan memberikan kepada seluruh rekan. Meski dikenal arogan dan kasar, ia tahu bagaimana caranya memanusiakan manusia. Namun, rendah hati seorang Raka, tak berlaku bagi orang jahat.
Rembulan senantiasa mengikuti. Suara mobil kesayangan terdengar menderu di telinga para pengguna jalan. Dia membelah sunyi malam dengan mobilnya. Raka menginjak rem, kala sudah terlihat tempat yang akan menjadi arena.
Orang-orang dengan wajah tidak asing menyambut kehadirannya. Mereka langsung mengerumuni mobil Raka. Lalu, lelaki itu tak mau berlama lagi dan keluar dari sana untuk menghadap lawannya malam ini. "Mana?" tanya Raka, kepada Kray yang berantusias.
Kray mengangkat kedua alisnya, mengarahkan kepada lelaki yang tengah berjalan dari arah belakang mobil Raka. Raka lantas membusungkan dada, saat lawannya berada di depannya.
"Malam," ujar Rega. Dia adalah ketua geng Red Swan 24, dikenal kasar dan bertubuh kekar. Ia tampan, tetapi sampai sekarang tidak mempunyai seorang pasangan. "Siap buat lawan gue?"
Nada bicaranya sombong, membuat Raka semakin percaya diri untuk melawan. Raka menarik sudut bibirnya. "Siapa takut?" balas Raka dengan remeh.
Rega berdecih, meludah dengan sembarang. Dengan dada dibusungkan, dia melangkah kembali ke mobilnya.
Terdengar sorakan para penggemar saat dua mobil itu mulai menyalakan mesin.
"REGA!"
"RAKA!"
__ADS_1
Mereka saling bersahutan, berdiri di tepian arena yang akan menjadi tempat mobil itu melaju. Rega mengklakson mobilnya, dia memang sombong dan terlalu percaya diri. Padahal, lelaki itu sudah kalah dua kali berturut saat bertanding dengan Raka.
"KA! AYO, KA! LO BISA, KA!" Teriakan Kray tidak kalah kelas dari para penggemar. Dia mengangkat kedua tangannya untuk melambai kepada Raka. Dia adalah orang terdepan saat ada balapan seperti ini.
"BOS! KALAHIN DIA, BOS!" teriak Boi, tak kalah heboh dan menggelegar dari teriakan Kray. Dua orang itu terlihat kembar, sedangkan Roi yang merupakan kembaran asli Boi, tidak bersikap sama sepertinya.
Wajah dua orang itu berbeda, apalagi sifat dan perilakunya, sangat bertolak belakang. Roi diam saja sembari bersendekap dada di samping Kray dan Boi, yang terlalu berantusias. Tidak ada hal lain, hanya hadiah taruhan menjadi salah satu semangat mereka. Ada juga anggota lain LGP, bersama-sama menyoraki Raka.
Tidak tunggu lama, mobil dua orang itu pun melesat dari tempat, membuat penonton bersorak semakin keras. "Ayo, Ka!" teriak Kray.
"Lo bisa, Bos!" sambung Boi.
Lantaran kesal dan sejak tadi menahan amarah, Roi melirik sinis dua orang itu. "Diem lo berdua!" bentaknya. Tidak banyak kalimat, tetapi Kray dan Boi langsung membisu dan hanya berani bertepuk tangan untuk menyemangati.
Tidak mau kalah dari Raka, Rega menyalip mobil hitam Raka. Namun, tetap saja Raka selalu di depan. Panjangnya jalan aspal itu, membuat pertarungan semakin sengit. Malam yang mencengkram.
Sedikit lagi garis finis. Lagi-lagi Rega menyalip, tetapi Raja mendahului kemudian. Persaingan panas. Suara teriakan penonton semakin ramai kala mobil Raka sampai di garis penyelesaian terlebih dahulu.
"Gimana, Bro?" celetuk Kray, dia menatap remeh lelaki di depannya. Kray berani meremehkan Rega, sebab Kray pun pernah mengalahkannya.
Rega mengepalkan kuat kedua tangannya. Pundaknya naik turun. Lalu, dia mendaratkan pukulan keras tepat di rahang Kray, sehingga lelaki itu jatuh tersungkur. "Sialan lo!" umpat Rega, berjongkok dan kembali memukuli Kray.
"Woi!" Boi datang dan menendang Rega, sampai lelaki itu jatuh di samping Kray.
Kray batuk karena perutnya yang nyeri akibat pukulan keras Rega.
"Kalau kalah gak usah gini, Bro!" ujar Boi.
"Temen lo sialan, Anjing!" balas Rega.
Raka pun turun dari mobilnya, datang bersama Roi menghampiri kerumunan itu.
__ADS_1
Saat mulai terjadi pertengkaran fisik itu, anggota LGP dan Red Swan 24 datang mengerumuni. Raka menengahi dan menghalau agar tidak terjadi keributan. "Gak usah ribut! Ini pertandingan, ada kalah, ada menang. Gak usah kayak anak kecil!" ujar Raka.
Rega bangkit dan menegakkan tubuhnya. Dia menarik sudut bibir, menatap remeh ke arah lawannya. "Bilang aja takut," kata Rega.
Kray mendengus kesal, ingin maju tapi tubuhnya ditahan oleh Boi. "Kita gak pernah takut. Kita cuma menegakkan, kalau kalah gak usah marah," sarkas Boi.
"Bocah sialan lo!" Sudah tidak tahan dengan emosinya yang meluap, Rega menonjok Boi, pun diikuti anggotanya maju melawan LGP.
Raka yang ikut kehabisan kesabaran, mulai melumpuhkan anggota Red Swan 24. Mereka tidak kalah kuat dari teman-temannya. Namun, Raka bisa menundukkan lebih dari 10 orang.
Pertarungan panas antara Boi dan Rega, keduanya saling memukul keras di badan. Bahkan, Boi hampir terjatuh berkali-kali karena ilmu bela dirinya masih kurang, dibandingkan Rega yang merupakan ketua geng. "Gue habisin lo malam ini!" teriak Rega dengan suara berat.
Sampai di titiknya, Rega berada di atas tubuh Boi. Tangan berototnya mengudara hendak mendaratkan di wajah Boi. Namun, Roi datang tepat waktu dan menendang Rega dari atas kembarannya. "Berani-beraninya lo!" seru Roi.
Roi akan melangkah untuk menghampiri Rega, tetapi tubuhnya lebih dulu ditahan oleh Raka. "Udah!" pinta Raka. Raka mengalihkan pandangannya ke arah Boi, yang wajahnya dipenuhi luka.
Raka mengerutkan dahi, saat melihat Boi mulai kehilangan kesadaran. Juga, sesuatu menancap di perut lelaki itu. "Roi, perutnya Boi," ucap Raka pelan. Roi lantas berlari ke arah Boi.
Saat itu juga, Rega memberi instruksi kepada semua anggotanya untuk pergi meninggalkan tempat.
Roi memangku tubuh kembarannya, yang sudah hilang kesadaran. "Boi, bangun! Jangan bercanda lo!" ucap Roi dengan panik. Menepuk pipi Boi berulang kali, tetapi lelaki itu tidak memberi respon. "Bangsat."
Boi dilarikan ke ruang UGD. Perutnya mengeluarkan darah begitu banyak hingga membuat anggota inti LGP khawatir. Roi tanpa sadar meneteskan air mata, meski sering bertengkar dengan kembarannya itu, tetapi dia sayang layaknya saudara.
"Dia harus dioperasi." Penjelasan dari dokter yang menangani, membuat Roi naik pitam dan tidak henti berkata kasar dengan nama Rega.
"Rega, Bangsat! Bisa-bisanya dia nusuk Boi pakai beling," gumam Roi. "Gua gak akan biarin dia baik-baik aja, setelah apa yang udah dia lakuin sama kembaran gue." Sorot kebencian Roi, menatap kosong ke arah depan.
Kray di sana merasa bersalah, dia pun mendekati Roi. "Sorry, kalau gue gak adu mulut sama Rega, Boi gak akan kayak gini," ucap Kray.
"Bukan salah lo."
__ADS_1