
Sudah semalaman Boi tidak sadarkan. Operasi pengambilan pecahan kaca yang masuk ke perutnya, telah usai, dan kini ia berada di ruang IGD. Detak jantungnya normal, obat bius pun sudah habis, tetapi lelaki itu tak kunjung membuka mata.
Roi sebagai saudara kembarnya, menjadi orang yang paling menderita di dalam satu ruangan itu. Kedua orang tua mereka sedang berada di luar negeri dan tidak bisa pulang sekarang, sebab cuaca buruk. Dia masih menundukkan kepala selama hampir setengah jam, memandang tangan Boi yang diinfus.
Pundak cowok itu bergetar, membuatnya jelas bahwa ia tengah menangis. Bulir air mata pun menetes dan jatuh ke tangannya. Dia mengigit bibirnya begitu kuat, menahan emosi yang memuncak. Roi mencengkram kuat jemarinya sendiri, tak peduli betapa sakit karena tertusuk kuku. "Gue gak bisa diem aja," gumam Roi.
Roi itu keras kepala, padahal perawat yang bertugas tidak memberikan izin untuk masuk. Namun, dia memaksa dan memohon hingga berlutut kepada sang perawat. Di ruang IGD, ada Boi dan seorang wanita yang selalu sendiri sejak berada dirawat. Hanya mereka berdua.
Hanya Roi yang bisa masuk, sedangkan anggota lain berada di area luar. Banyaknya mereka saat malam itu, bahkan hampir memenuhi rumah sakit. Namun, Raka mengintruksikan agar tidak menghawatirkan keadaan Boi.
Roi dipenuhi emosi, dia keluar dari ruangan itu. Lalu, melangkahkan kaki melewati koridor rumah sakit. Ia mengikuti kata hatinya untuk menuju ke mana.
Terbakar. Roi mengendarai motornya seperti orang kesetanan. Dia tidak peduli seberapa padat jalanan saat ini, lelaki di itu menerobosnya. Beberapa mobil mengklakson, tetapi tak dihiraukan olehnya.
Rumah besar dan megah. Bangunan itu menghentikan motor Roi. Matanya menyorot tajam. "Gue gak akan lepasin lo gitu aja," katanya. Roi segera turun tanpa mau berlama-lama. Langkahnya cepat.
Menghadap pintu besar rumah itu, kemudian mengetuknya cepat. Sepertinya tidak ada banyak orang di dalam rumah itu, sebab Roi tak mendengar suara dari luar. Kedua kalinya, dia mengetuknya lebih cepat dari sebelumnya.
Sedikit kesal, Roi mengetuknya lagi. Ini semakin membuatnya sangat marah.
Pintu besar itu kemudian terbuka, memperlihatkan wajah Rega yang seperti iblis tidak sadar akan dosanya. Rega ketakutan, hendak menutup pintu tapi tangannya dicekal oleh Roi. "Gue perlu bicara sama lo," ucap Roi.
"Gak penting. Mending lo pergi!" jawab Rega.
Roi menarik sudut bibirnya, senyuman mengancam yang ditunjukkan ketika bersama musuh. "Gak seharusnya lo bersikap kayak gini sama tamu," tutur Roi, nada bicaranya menjadi terdengar sedikit ... seram.
Roi menarik tangan Rega, membawanya lebih ke luar agar tidak berada di depan pintu. Lalu, Roi menghempaskan Rega ke tembok. "Sekarang gue tanya sama lo. Mau tanggung jawab atau kita selesai di sini?" tanya Roi.
"Gak jelas lo!" bentak Rega, kemudian dia ingin menghindar pergi. Namun, lengan kanan Rega ditahan Roi di tembok, pergerakan lelaki itu dikunci. "Lepasin!"
__ADS_1
Roi naik pitam. Dia mendekatkan wajahnya ke Rega, walau sebenarnya benci sekali melihatnya. "Gue gak suka kalau pertanyaan gue gak dijawab," katanya. "Jadi, lo mau tanggung jawab atau selesai di sini?"
"Selesai di sini, yang artinya lo akan mati di sini."
Rega membeku. "Gue akan tanggung jawab. Semua biaya rumah sakitnya gue yang bayar." Namun, bukan itu yang Roi inginkan, sehingga membuatnya berdecih.
"Gue punya duit, banyak. Gak perlu lo biayain, gue bisa bayar," seloroh Roi.
"Terus? Lo maunya gue tanggung jawab kayak gimana?"
Roi menatap tajam lelaki di depannya. "Dengan cara lo harus serahin diri lo ke polisi!"
Rega membuka lebar matanya. "Lagian, ngapain gue harus tanggung jawab? Ini tawuran, ada korban udah biasa."
"Gak!" Roi mendorong tubuh Rega ke dinding. "Itu cuma acara balap mobil. Tawuran gak ada di dalam acara. Jadi, lo harus tanggung jawab karena udah buat saudara gue luka!"
Bhug! Hantaman keras mendarat di wajah Rega, dia tidak bisa membalas karena posisinya berada di bawah. Roi belum puas, dia tak kenal memberi ampun kepada siapa. Menyangkut saudara kembarnya, Roi berada di paling depan.
Luka dan darah keluar dari wajah lelaki itu. Kulitnya yang mulus, sudah tidak lagi. "Gue benci sama lo!" kata Roi sambil mencengkram kera baju Rega. "Karena lo gak mau tanggung jawab, gua anggap lo pilih selesai di sini." Lalu, Roi kembali memukul Rega tanpa memberi celah sedikit pun.
Dari jalan sana, ada lelaki yang tengah berjalan santai tidak sengaja melihat perkelahian itu. Dia Kray, menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas. "ROI!" teriaknya, kemudian bergegas menghampiri mereka.
Tidak pikir panjang, Kray menarik baju Roi agar cowok itu mundur. "Udah!" perintah Kray. Namun, Roi seakan tuli dan kembali menghajar Rega.
"KAKAK!" Suara perempuan, menghentikan Roi. Lalu, Roi mengangkat kepala dan mendapati seorang gadis berlari ke arahnya. "Kamu apain Kakak aku!" bentaknya.
Roi bangun dari sana, membuat gadis itu membantu Rega yang sudah kehabisan tenaga untuk bangun. "Kakak luka," katanya.
Roi tidak percaya melihatnya. Gadis itu, membuat hatinya tersayat. "Amia?" gumam Roi.
__ADS_1
Amia---murid SMA angkatan ketiga yang bertemu dengannya setengah tahun lalu, dan mengambil hatinya. Ini adalah rahasia Roi bersama Boi. Amia mendongak, mendapati wajah Roi. "Kak Roi?"
Roi pun menatapnya balik. "Kenapa pukulin Kakak Amia?" tanya Amia.
Kakak Amia. Itu seakan membuat Roi semakin hancur. Sedangkan Kray yang tidak tahu apa-apa, dia hanya menahan tangan Roi agar tidak kembali nekat.
"Gue tunggu tanggung jawab dari lo, Rega," kata Roi, kemudian dia melenggang pergi dan membawa Kray bersamanya.
Kray suka berjalan-jalan, bahkan sampai bolos kuliah. Rumahnya berada di tidak jauh dari rumah Rega, hanya berjalan tiga rumah.
Roi langsung kembali ke rumah sakit karena perasannya mendadak berubah. Risau, bagaimana jika gadis yang dicintainya itu akan menjauh dan pergi? Roi tidak rela karena dia benar-benar cinta, meski hubungan mereka tidak lebih dari seorang teman.
Roi dihadapkan dengan Raka, yang ternyata menunggunya di depan ruang IGD. "Dari mana? Kata perawat yang jaga, lo pergi dan kelihatan marah," seru Raka.
Roi tidak bergeming, dia memilih duduk untuk meredam emosinya. "Gue hancur, Ka," ucap Roi, begitu pelan.
Raka kemudian melirik Kray, membuat Kray pun bercerita kepada ketuanya.
"Gue lihat dia hajar Rega di rumahnya," kata Kray.
Raka tidak habis pikir. Dia menghela napas panjang, kemudian duduk di samping Roi. "Gue tahu lo marah, marah banget. Tapi, dengan cara lo kayak gitu, itu gak akan buat Rega nyesel."
"Dia itu brandal. Dia berpikir di luar logika. Gue yakin, dia gak peduli dengan apapun ancaman yang lo kasih, Roi."
"Lo cuma perlu fokus sama kesembuhan Boi, dia butuh lo!" Raka menepuk pundak Roi. "Gue harap lo bisa kontrol emosi itu," katanya.
Chuuu!
Salam cinta
__ADS_1