Istri Tahanan Kak Raka

Istri Tahanan Kak Raka
24. Karena cumi bakar


__ADS_3

Karena langit malam, jalanan terlihat gelap dengan cahaya lampu yang redup. Hanya adalah suata motor Raka dan hembusan angin. Dinara berpegangan pada pinggang lelaki di depannya. Udara terasa dingin hingga menusuk ke tulang.


Di tengah perjalanan pulang, Raka melihat sebuah gerai di tepi jalan. Terpampang tulisan cumi bakar. Raka memelankan motornya. "Ra, mau cumi bakar?" tawar Raka.


Dinara menoleh, celingukan mencari keberadaan gerai itu. Sudah lama juga, Dinara tidak makan cumi, terakhir saat masih sd. "Boleh," jawab Dinara.


Kemudian, Raka menepikan motornya dan berhenti di depan gerai tersebut.


Ada sedikit asap yang mengepul saat penjual itu membakar cumi tersebut. Raka dan Dinara menunggu di dekat motor, tidak terlalu jauh dari gerai. Raka membiarkan Dinara tetap duduk di atas motor, sedangkan dirinya berdiri di samping.


Raka melirik, Dinara terlihat tidak nyaman dengan asap yang mendekat ke arah mereka. Tanpa bersuara, Raka menutup hidung Dinara dengan telapak tangannya membuat Dinara sedikit terkejut. "Kalau gini bisa napas, kan?" tanya Raka, memastikan.


Dinara mengangguk pelan, membiarkan tangan Raka berada di sana.


"Tangan kamu bau aneh. Abis pegang apa?" tanya Dinara, yang baru sadar dan kemudian menjauhkan tangan Raka darinya.


Raka menghembuskan napas gusar. "Abis garuk pantat," jawab Raka, sembarangan.


Dinara sontak melebarkan mata, melototi Raka. Raka menghela napas berat. "Gue gak sejorok itu," selorohnya. "Palingan itu bau mulut lo sendiri."


Dengan kepolosannya, Dinara mengecek bau mulutnya hingga membuat Raka menahan tawa. "Gak jelas banget istri gue!" ucapnya, dengan mengacak-acak rambut Dinara.


Dinara mengerut kesal.


.....


Sesampainya di rumah, Dinara langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangan. Lalu, dia pergi ke dapur untuk memindahkan cumi bakar ke piring. "Kak, mau makan di mana?" tanya Dinara, dengan sedikit berteriak karena Raka berada di kamar mandi.


"Di ruang tengah, Ra. Aku mau nonton bola," jawab Raka, juga berteriak.


Rambut Dinara dikuncir asal, membuatnya terlihat berantakan. Dia duduk di sofa sambil meletakkan piring bersisi cumi bakar di atas meja, kemudian meraih remot televisi dan menyalakannya.


Tidak terlalu malam, masih pukul 9. Cumi di atas piring yang berwarna kecoklatan itu terlihat cukup besar dan sepetinya enak. Dinara sebenarnya tak terlalu suka makanan laut, kecuali udang. Namun, dia selalu ingin merasakan binatang air itu.


Dinara memasukkan sepotong cumi yang tadi sudah dipotong olehnya terlebih dahulu. Ada rasa perpaduan kecap manis dan saos pedas. Dinara tidak terlalu mengerti karena tak sering memakannya. Dagingnya empuk membuatnya lebih mudah mengunyah. "Enak, Ra?" Suara Raka terdengar dari belakang, kemudian duduk di samping Dinara dan mengambil sepotong menggunakan tangan.


Kening Raka mengerut, rasa asin di lidahnya sedikit menganggu. "Keasinan gak, sih?" tanyanya, menatap Dinara yang sepetinya sama sekali tidak terganggu.


"Enak tau, asin," jawab Dinara.

__ADS_1


"Kurang pedes. Lebih ke manis." Raka mengkomentari makanan itu cukup banyak.


Karana katanya Raka tidak terlalu menyukai rasanya, Dinara yang harus menghabiskan. Sepertinya, Raka hanya makan seperenam, selebihnya masuk ke perut Dinara.


Setelah menghabiskan hingga ke titik terakhir, Dinara meneguk segelas air. Dia tidak langsung tidur, melainkan ikut menonton televisi bersama Raka, meski kurang mengerti sepak bola. Hanya tujuh menit, Dinara mulai menguap dan memutuskan pergi kamar.


Mematikan lampu, kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuhnya untuk menghalau udara dingin. Dinara mulai menutup mata.


Gerah. Dinara menyingkirkan selimut tebal itu darinya. Entah mengapa, tubuhnya tiba-tiba terasa sangat gatal dan panas membuatnya tidak nyaman, kemudian terbangun.


Dinara mendudukkan tubuhnya, wajahnya gelisah. Segera, dia melihat kulit tangannya yang ternyata terdapat ruma di sana. Dinara beranjak dari tempat tidur, kemudian mengecek kasurnya. Mungkin saja, ada serangga seperti ulat atau semut. Namun, ternyata tempat itu bersih.


Dinara duduk di pinggir kasur, mengambil kaca kecil miliknya yang berada di atas nakas. Ternyata, bintik merah tidak hanya ada tangannya, wajahnya juga bentol-bentol, bahkan berwarna seperti kepiting rebus. Dinara ingin menangis.


Sudah pukul 11 malam, Raka belum masuk kamar dan masih terdengar suara televisi.


Dinara memutuskan untuk keluar kamar.


Saat itu, sepetinya Raka mendengar decitan pintu dan membuatnya menoleh. Netra mereka saling bertemu, Raka melihat kerutan di wajah Dinara.


Raka pikir, istrinya itu akan pergi ke kamar mandi, tetapi Dinara justru berhenti di dapur dan mengeluarkan kotak obat.


"Obat gatal," jawab Dinara, tanpa berbalik badan.


Awalnya, Raka tidak menyadari, tetapi saat ia melihat leher Dinara yang kemerahan, Raka langsung membuat Dinara berbalik badan. Raka langsung mengamati setiap sudut tubuh Dinara.


Raka menyentuh wajah Dinara yang memerah. "Kenapa?" tanyanya, dengan khawatir.


"Panas, Kak. Gatel," keluh Dinara, menggaruk kulit tangannya dengan gelisah. Dia sudah sesenggukan karena memang sangat gatal, apalagi terasa panas.


"Lo punya alergi?" Raka mengingat, terakhir kali Dinara makan cumi-cumi tadi.


Dinara hanya menggelengkan kepala.


Melihat Dinara yang terus menggarukknya karena kesal, Raka langsung menghentikannya. "Kita ke rumah sakit sekarang," katanya. "Tunggu! Aku ambil jaket kamu dulu." Lalu, Raka berlari kecil masuk ke kamar dan kembali membawa jaket di tangannya, kemudian ia pakaikan di tubuh Dinara.


Raka menuntun sang istri untuk dibawanya ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan.


Sepanjang perjalanan, Dinara hanya menangis sambil sesekali menggaruk-garuk. Sangat menganggu. Untungnya, dengan berkendara seperti itu, membuat kulitnya terkena angin hingga tidak terlalu panas.

__ADS_1


Raka tentunya sangat khawatirkan, harus pergi ke rumah sakit di saat orang-orang sudah tidur. Dia tidak bisa tenang, sambil berdiri di depan pintu menunggu istrinya diperiksa.


Setelah enam menit menunggu, seorang dokter wanita keluar dari ruang UGD. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, saya sudah memberikan obat untuk alerginya," ucapnya.


Kening Raka mengerut. "Alergi?"


"Tidak tahu, ya?" Raka menggelengkan kepala menjawab pertanyaan dokter tersebut. "Istri Anda mempunyai alergi. Tadi, dia bilang terakhir makan cumi-cumi, maka istri Anda alergi cumi-cumi. Dan gejala yang ditunjukkan, juga merupakan tanda-tanda adanya alergi," jelas dokter itu.


"Jadi, untuk selanjutnya, pesan saya harus hati-hati. Tidak boleh mengkonsumsi yang mengandung cumi-cumi, meski cuma sedikit, ya," ujarnya, sambil mengulas senyum.


"Baik, dokter," jawab Raka.


"Untuk saat ini, harus dirawat dulu sampai ruam dan demamnya hilang," ujar dokter.


"Baik." Lalu, dokter itu melenggang pergi meninggalkan Raka.


Raka masuk ke dalam ruangan itu. Melihat istrinya terbaring lemah di sana, membuatnya tidak tega. Apalagi, untuk membeli cumi bakar itu adalah ide miliknya.


Melihat kedatangan Raka, Dinara melemparkan senyum tipis. Wajahnya tidak semerah tadi. Meski masih gatal, tetapi perlahan sedikit hilang. Bintik kemerahan di tubuhnya juga memudar.


Tangan kekar Raka mendarat di pucuk kepala Dinara, membelai wajah itu dengan lembut. "Maaf, gara-gara aku," ucap Raka.


"Apaan, sih. Kan, aku juga yang makan," jawab Dinara. "Kita sama-sama nggak tahu, Kak."


"Kamu harus dirawat dulu, Ra. Palingan sampai besok, nunggu demam kamu turun dulu." Jemari Raka masih setia membelai pipi istrinya. "Aku juga udah kabarin Bunda tadi," lanjutnya.


"Bunda?"


Raka mengangguk. "Aku bilang kamu harus dirawat dulu, terus aku bilang bunda ke sininya besok pagi aja."


"Terus, katanya bunda, kamu emang punya alergi cumi-cumi sama gurita, waktu kamu kelas lima sd."


Dinara mencoba mengingatnya, tetapi dia lupa. "Aku belum makan cumi-cumi sama gurita, terakhir waktu sd, sih," katanya.


Raka menghembuskan napas, mengelus kepala Dinara. "Aku bayar dulu, ya? Biar kamu bisa dipindahin ke ruang rawat," ujar Raka.


"Iya, Kak." Lalu, Raka melenggang dari sana.


Dinara memandang kepergian suaminya hingga punggung itu menghilang di balik pintu. Dia merasa akhir-akhir ini merasakan perhatian Raka.

__ADS_1


__ADS_2