
SELAMAT MEMBACA!
Kantin itu sepi karena beberapa mahasiswa tidak mendapatkan kelas. Jadi, mereka memilih untuk tak berangkat. Dinara sedang bersama Raisa, menikmati seporsi bakso yang terasa pedas.
Saat sedang menikmati, kebahagiaan Dinara karena bakso hancur begitu saja karena kehadiran dua lelaki. Mereka langsung duduk begitu saja, tanpa permisi. Raisa senang akan kehadiran Raka dan Abram, tetapi tidak dengan Dinara.
Abram lebih dulu duduk di samping Dinara. Jadi, Raka mendapatkan kursi di samping Raisa. Mereka saling pandang satu sama lain. Sedangkan Raisa, dia menunduk malu.
"Dinara, makan pedas terlalu sering, itu gak baik buat lambung lo," ujar Raka, membuat Dinara menatap tajam. "Lambung lo meledak, mampus lo!" Lalu, lelaki itu membuang muka.
"Lo dulu gak suka pedas loh, Din. Sekarang suka banget?" ucap Abram.
"Iya. Aku bukan Dinara yang dulu," jawab Dinara.
Hening kemudian, orang-orang di meja itu tidak ada yang mengeluarkan suara, hanya bunyi alat makan Dinara dan Raisa. Abram hanya memandangi jam tangannya, sedangkan Raka melihat sekeliling.
Raisa berdeham untuk memecahkan suasana menegangkan itu. "Kalian gak pesan makanan atau minuman gitu?" celetuk Raisa.
Raka dan Abram saling menatap. "Lo mau apa, Ka? Biar gue pesenin," ucap Abram.
"Soda aja," jawab Raka.
Abram mengangguk singkat. "Dinara, mau apa-apa lagi? Biar gue beliin," ucap Abram seraya bangkit dari kursi.
"Nggak usah, Kak," jawab Dinara, tanpa menatap Abram. Lalu, lelaki itu pun melenggang pergi.
Raisa menatapi kepergian Abram, sesuatu mengganjal di hatinya. Raisa berpikir, ada hal yang tak diketahui olehnya antara Abram dan Dinara. Dinara pun tidak pernah bercerita pada Raisa.
Sedikit khawatir, Raka diam-diam mengamati lamat Dinara yang menunduk memainkan sendoknya di dalam mangkuk. Dari raut wajah gadis itu, ia tengah berpikir akan banyak hal.
Tidak berselang lama, Abram datang membawa soda pesanan Raka dan ayam tepung miliknya di dalam piring. "Loh? Udah habis aja bakso kalian," seloroh Abram, kala melihat mangkuk Dinara dan Raisa yang hanya menyisakan kuah berwarna merah. "Merah banget. Raisa sampai ingusan."
Raisa tidak menyadari, cairan bening menetes dari hidungnya. Dengan cepat dia mengambil tisu di depan, kemudian berbalik badan agar tak dapat dilihat. Dinara menarik kedua sudut bibirnya, tingkah Raisa terlihat lucu.
"Mau?" tawar Abram, kepada Dinara, kemudian dijawab gelengan kepala eleh gadis itu. Abram pun menyantap ayam tepung itu dengan sambal tomat.
"RAKA! ABRAM!" Teriakan lantang itu membuat mereka membuka mata lebar. Bahkan Dinara dan Abram yang membelakangi pintu, menoleh cepat. Kray berjalan ke arah mereka, kemudian berhenti dan menghadap Raka dan Abram.
Napas Kray memburu, dia terlihat seperti orang yang tengah dikejar singa. Raka kemudian menyodorkan soda miliknya dan langsung diambil oleh Kray. "Kenapa?" tanya Abram, masih menikmati makanannya.
__ADS_1
Kray menetralisir napasnya yang tidak teratur, bahkan jantungnya berdetak cepat. "Gawat," seru Kray. "Lo berdua harus ikut gue! Sekarang!" Kray berdiri dari duduknya.
"Cepetan! Gue gak bisa jelasin." Lalu, Kray melenggang pergi, diikuti oleh Abram. Sebelum menyusul, Raka memberikan isyarat berpamitan kepada Dinara.
Di tempat lain, Rega berdiri menghadap Roi kalap dengan emosinya. Jalanan sepi menjadi lokasi pertarungan mereka. Sebenarnya, Rega mencari masalah dengan menghadang Roi yang tengah berkendara.
Roi melayangkan pukulan, tetapi kedua tangannya mendadak tidak bisa bergerak karena ditahan oleh dua orang yang dibawa Rega. Roi mendesis pelan. "Lepasin gue, Anjing!" seru Roi, dia memberontak, tetapi tubuhnya kekurangan energi dan usahanya nihil.
"Rencananya, gue mau buat lo sama kayak kembaran lo itu," kata Rega. Dia mendekati Roi, mengukir senyum iblis untuk lelaki itu. "Berani banget lo datang ke rumah gue."
"Sialan lo! Satu lawan satu kalau berani, Anjing!"
Tak mau dikalahkan, Rega melayang tinjuan yang mendarat di hidung Roi. Sampai cowok itu pun merasakan pusing.
Rega tidak memberi celah sedikit pun kepada Roi, dia terus menghajar cowok itu. Menendang perut Roi, bahkan Roi sudah terbatuk-batuk tapi Rega melanjutkannya.
Kray aneh. Dia seperti orang tidak waras. Membawa pergi Raka dan Abram dengan mobilnya, tanpa memberi tahu tempat tujuan. Namun, lelaki itu menginjak rem, tepat di sana sedang terdapat gerombolan pemuda.
"Roi," ujar Kray.
Raka memicingkan mata dari dalam mobil. Lalu, dia bergegas turun untuk menghentikan sekelompok pemuda yang membuat Roi tersungkur. Abram dan Kray pun menyusul.
"Woi!" Suara lantang berasal dari Raka membuat mereka berbalik badan.
Rega, pemimpin dari mereka yang menggempur Roi. Dia menarik sudut bibir, kemudian berbalik badan dan menatap remeh Raka. "Manggil temen," seru Rega.
"Dari pada lo, bawa temen buat lawan satu orang," balas Raka.
Kray dan Abram berjalan cepat melewati mereka, membantu Roi berdiri dan membawanya masuk ke mobil.
"Cemen," seloroh Raka, tanpa ekspresi apa pun.
"Lo semua emang sialan!" Rega melayangkan tangan kanannya, hendak mendaratkan di wajah Raka. Namun, lelaki dengan gelar ketua LGP itu menahan tangan Rega di waktu yang tepat, kemudian membalasnya dengan pukulan di perut Rega.
Rega mundur beberapa langkah, membuat anggota di belakangnya maju. Pukulan, tendangan, mampu dihentikan oleh Raka. Tiga orang itu dilumpuhkan Raka, sama seperti pemimpin dari mereka.
Kray di belakang, bersorak untuk kemenangan Raka. "Keren lo, Bos!"
Roi masih kesal dengan orang itu, seketika dia puas dengan kondisinya sekarang. Ponselnya berdering karena mendapatkan sebuah panggilan. "Apa? Boi sadar?" Manik Roi berbinar kala itu. "Saya ke sana sekarang. Terima kasih."
__ADS_1
"ABRA! BOI UDAH SADAR!" Teriakan Roi lantas membuat Abram yang berdiri di samping mobil ikut senang. "Panggil Raka, Bra!"
"KA! BOI UDAH SADAR, KA!"
Raka yang berjongkok di atas Rega, menoleh dan bangkit. Rega sudah babak belur karena Raka. "Kalau lo mau tanggung jawab, ikut gue ke rumah sakit!" pinta Raka, kemudian melenggang pergi.
.....
Roi begitu senang akan kabar bahwa saudaranya telah sadarkan diri. Raut wajah dan senyumnya tidak dapat berbohong. Boi benar-benar membuka mata, meski masih harus dirawat di ruang IGD karena kondisinya belum stabil.
Di luar ruangan, Raka tidak menyangka bahwa Rega benar-benar datang meski telat dan membawa seorang teman. Rega membawa adiknya bersamanya. Gadis itu sangat berbeda dengan Rega. Amia berada di samping cowok itu.
"Jadi, tujuan gue nyuruh lo ke sini, gue mau selesain ini secepatnya. Mungkin, meski masalah ini selesai, Roi masih gak terima atas perbuatan lo," ujar Raka. "Kita tungguin Roi keluar dan minta penjelasan tentang pertanggungjawaban lo."
Amia yang awalnya berada sedikit di belakang tubuh Rega, dia maju dan menatap Raka dengan mata bulatnya. "Aku tahu, Kak Rega memang salah. Tapi, bisa kan, kalian maafin Kak Rega?" katanya, penuturannya begitu lembut.
"Kalau soal maaf, kita gak sepenuhnya maafin dia. Siapa yang gak marah, kalau temen kita itu masuk rumah sakit, gara-gara dia?"
"Kita cuma minta dia tanggung jawab. Bukan soal biaya rumah sakit, Roi sendiri juga mampu buat bayar."
"Terus, kalian mau gue tanggung jawab gimana?" seloroh Rega.
Roi yang keluar dari ruangan Boi, segera berujar cepat. "Dengan cara lo nyerahin diri ke polisi."
"Gak boleh!" sahut Amia.
Roi tidak tega melihat air mata menggenangi pelupuk Amia. "Ini soal nyawa, antara hidup dan mati," kata Roi. "Kalau Boi mati, mungkin dia gak akan hidup sampai saat ini."
Amia tidak mau, dia tak bisa. Gadis itu meraih tangan Roi dan menggenggamnya erat. Maniknya berair kala itu hingga membuat hati Roi tercabik. "Kak, maafin Kak Rega! Amia nggak punya siapa-siapa lagi," katanya. "Amia janji, Amia bakal nurutin semua permintaan Kak Roi. Tapi, jangan masukin Kak Rega ke penjara!"
"Amia, gue sebenernya kasihan sama lo. Tapi, Boi juga butuh keadilan!" balas Roi. "Gimana perasaan lo, kalau Rega ada di tempat Boi?"
"Lo bakal sedih, marah, benci, kan?"
"Sama. Gue juga ngerasain itu."
"Selama ini, gue punya keluarga lengkap. Tapi, semuanya kayak gak ada. Cuma Roi! Bukan cuma lo yang ngerasain ini."
"Sorry, gue udah kasar. Tapi, gue gak bisa kalau keadilan gak ada buat kembaran gue."
__ADS_1