Istri Tahanan Kak Raka

Istri Tahanan Kak Raka
11. Kado


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA!...


Gadis itu sedang mempelajari materi di hari mendatang, sendirian di dalam kelas. Dinara memegangi kepalanya sambil mengetukkan bulpen ke dahi. Dia merasa kurang bersemangat tanpa sebab yang tidak diketahui, malas untuk bergerak dan lebih baik belajar. Namun, tak satu pun penjelasan dimengerti olehnya.


"Dinara." Suara lembut seorang lelaki mengejutkannya, Dinara lantas mengangkat kepalanya dan mendapati Abram bersama Raka di belakang, tengah berjalan ke arahnya. "Sendirian, aja?" tanya Abram.


Lelaki itu kemudian duduk di kursi samping Dinara, menatapnya dengan mata bulat itu. Sedangkan Raka, dia memilih berdiri di antara Abram dan Dinara. "Ada apa ya, Kak?" tanya Dinara, merasa gugup karena keberadaan sang suami.


Raka pun menatap Dinara dengan tidak biasa, seperti elang yang menemukan mangsa, tajam. Bulu kuduk Dinara sampai berdiri, tubuhnya meremang mendapatkan tatapan tersebut. Detak jantung gadis itu sangat jauh dari kata normal, senang oleh kehadiran Abram, juga takut karena Raka berada di antara mereka.


Abram mengukir senyum manisnya sejak tadi, kemudian dia mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku jaketnya. Lalu, diletakkan benda persegi itu di atas meja Dinara, membuat Dinara kebingungan. "Apa itu, Kak?" tanya Dinara.


"Kado," jawab Abram.


Dinara membulatkan mata, bahkan Raka juga. Hati Raka tersayat karena dirinya bahkan tidak mengetahui hari spesial bagi Dinara.


"Kado? Hari ini tanggal berapa?" tanya Dinara. Dia seperti orang kebingungan hingga membuat Abram kecewa.


"Masa lupa sama hari ulang tahun sendiri. Aku aja ingat, loh," celetuk Abram. "Tanggal 16."


Dinara terdiam sejenak. Benar, ini adalah hari ulang tahunnya, tetapi Dinara melupakannya. Sesakit itu sampai dia tidak mau mengingat hari itu, waktu yang menjadi perpisahan antara dia dan Abram---cinta pertamanya. "Aku lupa, Kak, soalnya sakit banget," ucap Dinara dengan suara pelan, kemudian mengambil kotak di atas meja tersebut. "Jadi, ini buat aku?"


Abram menganggukkan kepala setelah sadar dari lamunan singkatnya. Sesakit itu luka yang dia berikan? Dia menunduk dalam, kemudian menghela napas berat. "Maaf, Dinara," kata Abram.


"Nggak usah diingat lagi, Kak." Dinara mencoba untuk tetap tersenyum, meski hatinya menjerit dan menangis hebat. Bahkan, Raka hanya diam karena tahu Dinara masih terluka akan kejadian masa itu.


"Mau jalan buat ngerayain ulang tahun kamu nanti malam?" tawar Abram, tetapi Dinara dengan cepat menatap ke arah Raka.


Raka membuang muka, rahang kokoh yang mengeras itu dilihat jelas oleh Dinara, dan membuatnya takut. "Maaf, Kak, nggak bisa," ucap Dinara.


"Kenapa?"


"Banyak tugas belum selesai."

__ADS_1


Pada akhirnya, Abram menyerah karena ajakannya terus ditolak oleh Dinara. Bagaimana mau menerimanya, sedangkan Raka selalu melemparkan tatapan maut ke arah Dinara?


Setiap orang tua, pasti menginginkan anaknya bahagia dan damai dalam kehidupan rumah tangga. Selalu ingin ikut campur, agar dapat menjadikan mereka sebagai keluarga cemara. Sama seperti merawat sepasang hewan dan membuatnya gembira.


Kania seperti orang tua pada umumnya, khawatir terhadap keluarga baru sang putra. Apalagi, Raka dinikahkan secara paksa. Kini, dia berdiri di depan apartemen menunggu kedatangan Raka dan Dinara. Namun, wanita itu tidak memberi tahu bahwa dirinya akan berkunjung.


Hampir setengah jam Kania menunggu, Raka dan Dinara pun datang, mereka sempat kaget melihat kedatangan wanita itu. "Mama, kenapa nggak kasih tahu mau ke sini?" ujar Dinara.


"Biar kejutan, tapi nunggunya malah kelamaan," jawab Kania, berkeluh kesah karena kakinya jadi kesemutan.


"Salah siapa gak ngabarin?" celetuk Raka, sontak mendapat pukulan keras di lengan dari sang mama.


.....


Bencana. Kania benar-benar jahil, bahkan melebihi candaan anak-anak muda. Dia memaksa masuk ke kamar Raka dan keluar, kemudian pamit pulang. Ternyata, dia merencanakan semuanya.


Kamar Raka hancur, mirip kapal pecah. Sampah di kamar lelaki itu, dibuang ke segala arah. Seprai bersih yang baru diganti, kotor karena tumpahan kopi. Raka marah, geleng-geleng kepala akan kelakuan sang mama. Mau bagaimana mana lagi, selain membersihkan?


Langit malam termasuk surga dunia. Gemerlap bintang membuat mata berbinar melihatnya, terlebih bulan sabit yang bercahaya di sana. Angin sepoi mendukung suasana, menerbangkan rambut pendek Dinara, yang tengah duduk di balkon apartemen. Beberapa buku berada di depannya, juga bulpen digenggaman tangan.


Dinara mendongak sejenak, menatap wajah tampan suaminya. "Iseng bikin desain logo makanan," jawab Dinara.


Raka mengintip sedikit ke arah buku gambar Dinara. Terdapat gambar-gambar yang tidak Raka pahami. "Kalau misal gue ajak lo buat buka bisnis bareng, mau gak?" Ujaran Raka sontak membuat Dinara menatapnya, kemudian gadis itu tergelak tawa ringan. "Malah ketawa," seloroh Raka.


"Bisnis apa memang?"


"Lo minatnya apa?"


"Aku pernah kepikiran, mau buka toko makanan pakai desain aku. Bunda juga produksi roti, aku bisa pakai resep Bunda buat dijadikan menu tambahan," kata Dinara.


Raka mengangguk singkat, seakan setuju dengan masukan Dinara. "Boleh juga."


"Kak Raka serius?" Raka mengangguk. "Modalnya?"

__ADS_1


"Kita berdua, nabung dulu." Raka mengulurkan tangannya. "Setuju?"


Dinara pun menjabatnya sambil menganggukkan kepalanya. "Setuju.


Baiklah, selain perjanjian pernikahan, sekarang akan ada perjanjian dalam bisnis.


"Kak, tidur di sofa?" tanya Dinara saat melihat Raka memposisikan tubuhnya untuk tiduran di sofa ruang tengah. Raka menganggukkan kepala.


Sedikit ragu untuk mengatakannya, tetapi Dinara juga kasihan melihat suaminya tidur kedinginan. Apa lagi, Raka baru saja muntah di kamar mandi karena merasakan perutnya tidak enak. Dinara menghembuskan napas panjang. "Tidur di kamar aku aja, Kak."


Mata yang sudah terpejam, Raka buka dengan cepat. "Boleh?"


"Kak Raka udah masuk angin, dari pada tambah parah dan aku yang repot." Lalu, Dinara melenggang masuk ke kamarnya. Raka pun mengikuti karena tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.


Bukan suasana yang baik. Udara terasa begitu dingin malam ini, bahkan Dinara sudah mematikan AC, tetapi masih saja sejuk. Tidur di dalam satu selimut, membuat detak jantung kedua pasang itu tidak normal. Mereka saling membelakangi, masih dengan mata terbuka.


Dinara merasa gugup. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan pelan. Lalu, mencoba menutup mata meski terasa susah. Sedangkan Raka, ia sama halnya seperti Dinara. Raka ingin memeluk Dinara dari belakang, tetapi ditahannya karena takut istrinya itu akan marah.


Malam ini, pertama kali sepasang suami istri itu tidur bersama di atas kasur yang sama. Di dalam gelapnya kamar Dinara, sebenarnya Raka tidak bisa tidur juga karena gelap. "Ra," panggil Raka, kemudian disahut dehaman oleh Dinara. "Lo tidur selalu matiin lampu?"


"Iya," jawab Dinara.


"Gak takut?"


"Nggak, Kak. Aku suka gelap."


"Tapi, lo takut sendirian."


"Ditinggal sendirian dalam satu bangunan. Kalau satu ruangan masih berani." Dinara menghela napas panjang, lagi. "Kak Raka tahu sendiri, kan,?"


"Iya, maaf. Gue gak akan ngulang hal yang sama."


"Udah, Kak. Tidur!"

__ADS_1


"Ya."


__ADS_2