Istri Tahanan Kak Raka

Istri Tahanan Kak Raka
25. Beraninya!


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


...Lama banget yaaa hehehe sorry...


...💗💗...


Sebagai seorang ibu, Rania tentu saja sangat khawatir terhadap putrinya. Ketika Raka memberinya kabar, ia langsung tidak bisa tidur. Karena sang suami tidak mengizinkan untuk pergi sebab hari sudah larut, Rania terpaksa harus menunggu matahari terbit.


Hingga sampai pada pagi hari. Rania memaksa suaminya untuk pergi meski matahari baru saja muncul. Sesampainya di rumah sakit tempat Dinara dilarikan kemarin malam, Rania langsung memeluk putrinya erat. "Sayang, kamu gak papa, kan?" tanyanya.


"Gak apa-apa kok, Nda," jawab Dinara.


Rania melepas pelukan itu, kemudian mengelus kepala Dinara dengan lembut. "Bunda," panggil Raka, yang sedari tadi merasa canggung berdiri di belakang sang mertua.


Rania menoleh, membuat Raka menundukkan kepala. "Raka minta maaf gak bisa jagain Dinara," ujar lelaki itu.


Wanita itu tersenyum tipis melihat Raka seolah-olah menjadi orang yang paling salah di sini. Lalu, dia menatap Dinara sejenak. "Gak papa, kamu mungkin gak tahu soal alergi Dinara. Lain kali dihati-hati, aja!" tutur Rania. Dia melirik sinis putrinya secara tiba-tiba. "Kamu juga, kenapa bisa lupa kalau ada alergi?"


Dinara seketika merasa dimarahi sekarang. "Ya mana inget, namanya juga lupa, Nda," jawab Dinara. Rania menggelengkan kepala melihat putrinya yang masih muda, tetapi sudah pikun itu.


Ayah hanya tersenyum tipis menyimak perbincangan mereka.


.....


Dinara tidak memerlukan perawatan khusus di rumah sakit, ia tak perlu menginap terlalu lama. Hari ini juga, Dinara sudah diizinkan untuk pulang karena gatal-gatal di tubuhnya juga mulai hilang, ia juga sudah tidak demam.


Rania ikut pulang bersama putrinya, berniat untuk menjaga anak gadisnya seharian ini. Sedangkan Roni harus berpamitan pulang karena ada tugas mendadak.


Saat ini, Dinara sedang memakan bubur yang tadi dibeli Raka dari luar. Duduk di ruang tengah bersama sang bunda. Meski tengah merawat sang putri, Rania tidak mau ketinggalan drama di televisi.


Sambil memakan bubur ayam, Dinara sesekali melihat ke arah bundanya yang begitu serius. Raka tiba-tiba saja datang dan duduk di samping Dinara, kemudian menyentuh kening istrinya. Lalu, Raka membukakan obat untuk Dinara.


Dinara tersenyum tipis. "Makasih, Kak," ucapnya. Lalu, Dinara memasukkan pil pahit itu ke dalam mulutnya, diikuti segelas air.


"Raka gak kuliah?" tanya Rania, melihat ke arah sepasang suami-istri di sampingnya. "Dinara biar bunda yang jagain."


Raka menggelengkan kepala. "Aku udah absen, Bun, mau nemenin Dinara."


Rania tersenyum lebar saat itu juga, dia seolah salah tingkah. "So sweet banget kalian berdua," selorohnya sambil memukul pelan lengan Dinara. Dia terus menarik sudut bibirnya dan menutupi mulutnya.


Ya begitulah, ibu-ibu yang masih suka menonton drama anak muda.


Langit biru menjadi jingga, banyak burung yang terbang untuk pulang. Kicauan beberapa dari mereka terdengar. Matahari sudah mulai menghilang, sedangkan bulan bertengger di atas sana.


"Dinara, ini nanti kalau kamu lapar, dipanasin dulu, ya!" ujar Rania, seraya mengelus-elus rambut Dinara.


"Iya, Nda," jawabnya. "Nggak mau bawa pulang? Buat makan ayah, Nda."


Rania menggelengkan kepala, sambil mengambil tasnya yang berada di sofa. "Nanti makan di luar, aja. Sekalian kencan," katanya.


Dinara menghela napas berat saat itu juga. "Dinara nggak diajak?"


"Sama suamimu sana!"

__ADS_1


Roni sudah menjemput Rania sejak tadi. Dia juga baru pulang dari kerjanya dan langsung datang ke rumah putrinya. Ia hanya singgah sejenak, kemudian mengajak Rania pulang karena ada janji dengan teman di rumah.


Meskipun berat harus berpisah lagi dengan sang bunda. Dinara membiarkan mereka pergi.


.....


Malam yang sepi, hanya suara gemericik hujan. Ia tiba-tiba saja turun, membasahkan jalanan. Karena hari sudah mulai larut, Raka menyuruh Dinara untuk tidur.


Mereka tidur di atas ranjang yang sama, menatap langit-langit rumah dan satu lampu di sana. Entah mengapa, Dinara membutuhkan sesuatu agar membuatnya bisa tidur. Dia melirik ke arah Raka yang teleh memejamkan mata. "Kak, udah tidur?"


Suara lembut Dinara, masuk dengan nyaman ke telinga Raka membuat lelaki itu membuka matanya cepat. "Kenapa?" katanya sambil menoleh.


"Mau peluk, boleh?" kata gadis itu dengan malu-malu. Dia mengangkat wajah, memberanikan diri menatap Raka yang berada di sampingnya.


Raka menarik sudut bibirnya, kemudian menggeser tubuhnya hingga dekat dengan Dinara. Lalu, dia menarik Dinara hingga gadis itu tidur menghadap ke arahnya.


Dinara merasakan detak jantungnya berdebar. Tangan kecilnya bergerak melingkar di pinggang Raka, sedangkan lelaki itu juga membalut tubuh kecil Dinara dengan tangan besarnya. "Mimpi indah, Sayang," kata Raka.


Terkejut bukan main, Dinara seketika mati kutu. Ia tidak membalasnya, melainkan menyembunyikan wajahnya karena mungkin sudah memerah.


Karena tiba-tiba saja Dinara bersin berulang kali, Raka tidak mengizinkan istrinya pergi. "Kak, aku mau kuliah," rengek Dinara, terus mengikuti Raka yang sedang bersiap untuk pergi. "Kak Raka."


"Dinara." Raka membalik tubuhnya, membuat Dinara menabraknya. "Di rumah, aja! Kamu flu," tuturnya.


"Aku udah minum obat."


"Nanti temen kamu tertular, gimana?"


Raka menghembuskan napas panjang menghadapi istrinya itu. Dia tersenyum, membuat Dinara senang karena berpikir Raka akan mengizinkannnya pergi. Namun, salah. Raka mendudukkan tubuh Dinara di sofa. "Tetep di rumah! Jangan ngelawan!" ujar Raka. "Kalau kamu maksa mau berangkat, aku bilangin ke bunda."


"Jangan!"


"Ya udah, makanya di rumah, aja! Tidur! Istirahat!"


Dinara mengerucutkan bibirnya. "Kak."


"Jangan monyong-monyong! Mau aku cium?"


Dengan cepat, Dinara menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Akan tetapi, Raka malah mencondongkan tubuhnya mendekati wajah Dinara. Sontak, Dinara mendorong lelaki di depannya itu hingga terjatuh. "Ra!"


"Maaf," kata Dinara.


Raka memasang wajah marah, menyorot tajam istrinya. Dia berdiri, merapikan bajunya. "Aku pergi. Mau dibawain apa?" tanya Raka, dengan nada bicara yang dingin.


Dinara menggelengkan kepala.


Melihat Raka yang memasang wajah buruk sambil mengambil kunci motor di dapur, Dinara merasa khawatir. Ketika Raka datang, Dinara berdiri di depannya. "Kak, maaf," katanya.


Raka hanya berdeham menjawabnya.


Karena melihat wajah menakutkan itu, Dinara mendekatkan tubuhnya. Lalu, ia berjinjit di hadapan Raka dan mencium sekilas bibir suaminya membuat lelaki itu seketika mematung.


Raka seolah sangat terkejut, hanya menatap dengan mata bulat, tidak menyangka. "Lagi!"

__ADS_1


Dinara mengerucutkan kening. "Nggak!" tolaknya.


"Tadi aku lagi gak sadar, Ra."


Dinara menggelengkan kepala, kemudian mendorong Raka agar segera pergi. "Cepet berangkat! Nanti telat!" katanya.


"Belum. Masih ada satu jam," celetuk Raka. "Ayo, ciuman dulu."


"Nggak mau, Kak. Udah sana!" Dia mendorong-dorong Raka hingga ke depan pintu, memaksanya untuk pergi karena sangat malu. Entah apa yang dipikirkan Dinara tadi, hingga berani mencium lelaki itu.


"Ra, lagi!"


"Nggak!"


Raka tersenyum tipis melihat wajah menggemaskan Dinara. Lalu, dia memutuskan untuk pergi sambil memegangi bibirnya.


Sendirian di rumah, Dinara tidak tahu harus berbuat apa karena masih sediki lemas. Hidungnya juga sangat sakit dan merah. Dia memutuskan untuk bersantai di kamar saja.


Karena berangkat terlalu pagi, Raka memutuskan untuk pergi kantin. Ia masih cukup mengantuk karena semalam semakin sulit tidur, sebab sambil memeluk Dinara. Nyaman, tetapi hati Raka tidak tenang. Dia berpikiran ingin menciumi Dinara sampai habis.


Duduk sendirian di kantin fakultasnya, Raka mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Ia mengambil gambar kopi miliknya, kemudian mengirimkannya kepada sang istri, sambil tersenyum tipis.


"Permisi, Kak," ucap seorang perempuan, yang datang dengan sesuatu di tangannya. Raka menatapnya. "Maaf mengganggu waktunya. Ini buat Kak Raka." Dia menyodorkan benda di tangannya.


Raka mengerutkan kening. "Buat gue? Apa?"


"Itu kue lapis buatan aku, Kak. Dimakan, ya," katanya.


"Oh, thanks." Dia mengatakannya dengan wajah datar, sedangkan perempuan itu tersenyum salah tingkah.


Perempuan itu melenggang pergi, sedangkan Raka masih bingung karena tidak mengenalnya.


.....


Dinara tertidur hingga matahari naik. Dia tidur di pagi hari, sangat tidak baik. Dinara buru-buru bangun dan mencuci muka agar kantuknya hilang.


Setelah pergi dari kamar mandi, dia membuka ponsel yang tergeletak di tempat tidurnya. Sangat ceroboh, tertidur dengan kondisi handphone masih menyala.


Dinara mendapati pesan dari Raka dan satu orang lain. Raisa, satu-satunya teman di universitas mengirimnya sebuah pesan. Namun, Dinara membuka roomchat dari Raka terlebih dahulu.


Setelahnya, Dinara pergi ke roomchat Raisa.


[Dinaraaaa]


[Lo gak masuk lagi? Sakit? Gue boleh jenguk lo gakkk?]


[Nanti lo kirim lokasi biar gue ke sana]


Namun, satu pesan terakhir membuat Dinara salah fokus.


[Raaa gilaaaa bangetttttt gue liat Raka disamperin cewe jurusan hukum sambil bawa barang gue gak tau apaan, tapi Raka terima. Gilaaa berani banget itu cewe, mana di kantin lagi ngasihnyaaa woiiii]


Dinara mengerutkan kening saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2