Istri Tahanan Kak Raka

Istri Tahanan Kak Raka
23. Couple gemas


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACAAA...


Malam pertama tanpa adanya sang suami. Dinara naik ke kasur, kemudian meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Ia baru saja selesai membantu bunda membuat kue untuk pesanan besok pagi. Sudah lama, tidak memasak bersama ibunda.


Dinara mengerutkan kening melihat sebuah gambar dikirim oleh Raisa, di ruang chat mereka. Dengan rasa penasaran, Dinara membuka foto tersebut yang memperlihatkan Raka berdiri di samping motornya di kerumunan banyak orang.


Lelaki itu terlihat memegang helm di tangannya. Dinara mencengkram ponselnya dengan perasaan kesal. "Awas aja," gumam Dinara. Sedangkan tidak ada satu pesan pun dari Raka.


Setelah itu, Dinara membalas pesan dari Raisa. "Engga keren sama sekali."


Dinara mengerut kesal, bibirnya mengerucut. Lalu, dia membanting tubuhnya dan menghela napas berat. "Omongannya nggak bisa dipegang. Katanya nggak akan balapan lagi," gerutu Dinara.


Baru saja ia mengumpat untuk suaminya, ponsel Dinara bergetar dan menampakkan nama Raka di sana. Dinara hanya meliriknya, tanpa berniat menerima panggilan itu. "Bodo amat," katanya, sambil mematikan handphonenya.


Di seberang sana, kedua alis Raka saling bertautan karena panggilannya ditolak oleh sang istri. Lalu, dia mencoba untuk menghubunginya lagi, tetapi nomor Dinara sudah tidak aktif. Sepertinya, gadis itu mematikan daya ponselnya.


Helaan napas panjang keluar dari bibirnya. Dia berdecak kesal, kemudian membanting tubuhnya ke kasur. "Gue ada salah apa?" ucapnya, menatap layar ponselnya.


Malam itu, Raka tidak bisa memejamkan matanya, kemudian berujung dengan pertandingan sepak bola di televisi. Namun, ruangan itu terasa sangat sunyi, tanpa kehadiran seseorang. Helaan napas gusar sudah terdengar beberapa kali. Tangannya meraih gelas berisi susu di atas meja.


Raka harap, dia akan mengantuk setelah meminum susu, tetapi sama sekali tak berhasil. Suara jangkrik sesekali terdengar meramaikan, menemani lelaki yang kesepian itu. Dia berdecak kesal, merengkuh di atas sofa sambil merengek. "Gue kangen!" geramnya, menggerakkan gigi. Lalu, Raka merengangkan tubuhnya. "Gue gak bisa."


Dia benar-benar terlihat seperti orang yang sangat frustrasi. Menatap langit-langit rumah dengan wajah kacau dan sedih. "Awas aja lo Dinara! Berani banget tolak telpon gue," katanya.


Raka berakhir dengan tidur di sofa ruang tengah. Dia sempat kelabakan karena susah tidur.


.....


Pagi-pagi sekali Dinara sudah disuruh bunda untuk mengantarkan pesanan kue yang dibuat semalam. Dan ternyata, alamat pemesannya adalah rumah tante dari Abram. Dinara sangat terkejut, tetapi ia harus tetap mengantar.


Dinara memakai sepeda motor Roni, yang kebetulan belum berangkat bertugas.


Kuliah Dinara juga akan dilakukan di siang hari, jadi dia masih bisa berlama-lama di rumah sang ibunda.


Dinara sudah sampai. Dia menghela napas panjang, berharap tidak bertemu orang itu. Lalu, Dinara mengetuk pintu rumah tersebut. Tidak lama, sosok pemilik rumah muncul dan menyapanya dengan senyum.


Pelanggang setia Rania. Wanita itu sering ada acara di rumahnya, membuatnya memesan banyak kue. "Ini, Tante," ucap Dinara.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Din," kata wanita tersebut. "Ini sisa pembayarannya."


"Terima kasih, Tante." Dinara menyimpan uang itu ke dalam saku celananya. "Kalau begitu, saya permisi," ujar Dinara, kemudian melenggang pergi.


Dinara begitu bersyukur tidak bertemu sosok Abram di sana.


Saat di tengah perjalanan, ponsel di saku Dinara bergetar membuatnya harus menepi. Panggilan dari Raka.


Menghela napas panjang sebelum mengangkat panggilan tersebut. "Halo, Ra. Lagi apa?" tanya Raka, di seberang sana.


"Abis nganterin pesanan Bunda. Ini masih di jalan, kamu ganggu."


Mendengar jawaban Dinara yang ketus, Raka semakin berpikir keras. Dia mendudukkan tubuhnya di tangga, depan gedung fakultasnya. "Tolong kasih tahu gue, gue buat kesalahan apa?" ucap Raka.


Dinara menghela napas berat lagi. "Percuma. Kamu pasti ulangin lagi."


"Bilang dulu, gue berbuat apa sampai bikin lo kesal gini?"


"Kamu kemarin balapan, kan?" Langsung saja Dinara mengatakannya. "Baru ditinggal sebentar, kamu udah lupa sama janji kamu," gerutunya.


"Nggak penting! Pokoknya aku marah ke kamu!" Lalu, Dinara menutup panggilan itu secara sepihak membuat Raka panik.


Lelaki itu berusaha untuk menghubungi istrinya lagi, tetapi Dinara terus menolaknya. Raka mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


Dinara berangkat kuliah dengan diantar sang ayah, yang kebetulan pergi di waktu yang sama. Begitu sampai di sana, Dinara melihat Raka berdiri di depan fakultas dengan tersenyum ke arah Dinara. Namun, gadis itu berusaha cuek dan melewati Raka begitu saja.


Raka tidak berniat mengejar karena takut Dinara akan semakin kesal, pun hubungan mereka masih dirahasiakan.


Lelaki itu sungguh kasihan.


Tentu saja tidak menyerah. Raka menunggu Dinara di depan fakultas hingga istrinya selesai kelas. Melihat Raka, Dinara menghela napas gusar. "Ra," panggil Raka dengan suara pelan ketika Dinara berusaha melewatinya lagi.


Dinara menghentikan langkahnya, kemudian berbalik. "Maafin gue!" kata Raka.


Melihat mata lelaki di depannya berair, Dinara tidak bisa marah lagi.


"Gue gak akan balapan lagi! Janji."

__ADS_1


Lama sekali Raka menunggu jawaban dengan mata lebar, kemudian Dinara mengangguk membuatnya hampir ingin memeluk Dinara, tetapi dengan cepat dihentikan. "Pulang sama gue, ya?" ucap Raka.


Dinara mengangguk, kemudian melenggang diikuti Raka di sampingnya. "Tapi kita gak langsung pulang," celetuk Raka. "Kita ke mall dulu, ya?"


"Katanya, kalau cewek lagi ngambek bisa dibujuk dengan diajak belanja. Lo mau, kan?"


Dinara hanya melirik sinis. Namun, dia tidak mau harus berlama-lama bertengkar. Jadi, dia mengangguk setuju. "Gue pengen beliin lo baju!" ujar Raka.


Baju yang dimaksud Raka adalah baju sepasang. Dinara pikir hanya pakaian biasa.


Lelaki itu langsung menyeret Dinara ke toko yang menyediakan baju couple, dan lelaki itu langsung mengambil baju berwarna putih dengan gambar beruang membawa hati. "Ini?" tanya Dinara, tidak menyangka.


Dinara sungguh menganga melihat Raka yang tiba-tiba seantusias ini. Mendadak mengajaknya membeli baju kembaran.


"Lo mau, kan?" Ingin menolak, tetapi wajah Raka terlihat begitu memelas. "Ya?"


Berujung dengan anggukan Dinara, Raka langsung membelinya.


Sangat antusias, Raka langsung memakainya dan menyuruh Dinara untuk mengenakannya juga.


Kaos tebal berwarna putih, dengan gambar beruang coklat memegang love merah. Meski terlihat alay, entah mengapa Dinara juga menyukainya.


"Lucu," kata Raka, melihat Dinara yang kebesaran menggunakan baju itu.


"Iya, lucu. Beruangnya kayak bayi," jawab Dinara.


Sepulang dari sana, Dinara mengajak Raka untuk pergi ke rumah bunda terlebih dahulu. Sesampainya, Rania sontak menahan tawa melihat putrinya memakai baju yang sama dengan suaminya. Sebuah kelangkaan, apalagi Raka yang memiliki wajah sangar dan memakai baju itu membuatnya terlihat menggemaskan. "Couple gemas," celetuk Rania.


"Bunda, apaan, sih!" tegur Dinara karena merasa malu.


"Lucu banget, sih!" Rania malah mencubit pipi Dinara yang memerah.


"Ini Dinara yang ajak kembaran, Bun," ujar Raka.


Dinara membulatkan mata. "Kok aku?"


Raka hanya tertawa-tawa setelahnya.

__ADS_1


__ADS_2