Istri Tahanan Kak Raka

Istri Tahanan Kak Raka
18. Gadis itu


__ADS_3

Keadaan Boi membaik dan sekarang sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa. Namun, lelaki itu masih memerlukan pengawasan dokter untuk lukanya yang belum kering.


Ruangan putih yang berbeda dari tempat sebelumnya. Ruang rawat inap VIP, agar Boi dapat beristirahat dengan baik. Kembarannya itu sangat posesif bila menyangkut kesehatan.


Boi membulatkan mata ketika melihat seseorang menjenguknya. Rega itu datang. Bukan Rega yang membuat Boi terkejut, melainkan seorang gadis di samping Rega. Boi lantas menatap kembarannya.


"Hai, Kak Boi," sapa Amia seraya melambaikan tangan. "Kak Boi pasti kaget, ya? Aku adiknya Kak Rega."


Boi bergantian menatap ke arah Roi dan Amia. Sesuatu yang tidak pernah diduga. Boi masih bingung dengan begitu sempitnya dunia ini. Sedangkan Roi, dia hanya menundukkan kepala berdiri samping Boi.


"Kak." Suara halus Amia membuat Boi memandangnya lamat. "Jangan penjarain Kak Rega, ya?" ucapnya.


Roi yang mendengarnya seakan kasihan dengan gadis itu. Dia pun melenggang pergi untuk duduk di sofa sambil menonton televisi. Tingkahnya membuat tiga orang itu melihatnya bingung.


"Mia, lo pasti udah tahu gimana perasaan kembaran gue sekarang," ujar Boi. Dia memandang sejenak ke arah adiknya itu. "Gue gak mau rusak hubungan baik kalian berdua." Lalu, Boi berganti menatap Rega.


"Gue maafin lo." Rega tersentak kaget, semudah itu Boi memaafkannya. "Cuma, sebagai pertanggungjawaban lo sama gue ...."


Rega tegang, bahkan menahan napasnya untuk mendengarkan kalimat yang akan keluar dari bibir Boi.


"Lo harus isi buku catatan gue sampai gue sembuh total," kata Boi. "Setelah itu, baru lo bisa lepas."


Amia mendongak, kemudian mengangguk untuk menyetujui syarat dari Boi. "Sanggup, Kak!" pekik gadis itu.


Rega langsung mengerutkan dahi, menatap tajam Amia. "Apaan lo, main setuju-setuju aja," cetus Rega.


"Kak, nanti Amia bantuin."


"Gak. Ini tanggung jawab Rega, dia harus ngerjain sendiri," sahut Roi dari sana, tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi.


Amia menjadi lesu, sedangkan Rega menahan emosinya karena merasa sedang dipermainkan.


"Nanti, lo bisa lihat buku catatan Roi buat salin di buku catatan punya gue," jelas Boi. Dia melemparkan senyum tipis kepada Amia, gadis yang dapat mengambil hati kembaran keras kepala itu.


Hari semakin sore, matahari hendak terbenam di arah barat. Burung-burung berterbangan sambil berkicau singkat untuk pulang. Di dalam ruangan, hanya ada Raka, Roi, dan Boi. Dua saudara kembar itu tengah berbincang serius, sedangkan Raka sibuk dengan ponselnya.


Roi duduk di kursi samping kasur Boi. Sedikit tawa renyah dikeluarkan oleh Boi. "Gue paham perasaan kembaran gue, kok," ucap Boi.


"Gak nyangka gue," jawab Roi. "Tapi, gue masih dendam sama Rega."


"Gue juga. Tapi kita gak boleh sangkut pautkan mereka, Roi." Lelaki itu melirik sekilas ke arah Raka. "Amia gak tahu apa-apa," lanjutnya.


Roi mengangguk setuju. Dia melihat tubuh kembarannya yang ditutupi selimut. Selang infus dan jarum suntik sudah beberapa kali menusuknya.


Sepi, tidak ramai seperti sebelumnya. Anggota LGP sudah pulang sejak tadi. Mungkin, mereka akan datang lagi di malam hari untuk menjaga Boi. Lelaki itu banyak berperan sebagai tameng LGP dari serangan musuh. Boi berada di tingkat teratas dalam geng LGP.

__ADS_1


Raka membulat mata saat melihat jarum jam dinding menunjukkan pukul enam. Dia sampai lupa dengan istrinya. Raka bergegas memakai jaketnya, kemudian beranjak dari sofa, dan menghampiri Boi. "Boi, gue balik dulu, ya?" katanya.


Dia menepuk pundak Roi, yang sedang menyuapi Boi bubur. "Ada urusan. Gue sampai lupa," ucap Raka.


"Iya, Ka. Makasih udah sempetin ke sini," ujar Boi.


Raka mengangguk singkat. "Cepet sembuh!" Lalu, Raka melenggang pergi dengan langkah cepatnya. Dia tahu, Dinara pasti memikirkannya di rumah karena Raka tiba-tiba diajak Kray pergi begitu saja, sedangkan dirinya tidak memberi kabar.


Gadis berambut pendek menutup jendela kamar, kemudian menarik tirai itu karena hari menjelang malam. Dia berjalan ke kasur dan duduk di sana. Dinara, ia dilanda gelisah. Dinara menggenggam ponselnya, lima deret pesan belum mendapatkan balasan dari Raka.


[Ada masalah apa, Kak?]


11.30


[Kak Raka di mana?]


12.00


[Kak Raka baik-baik aja kan?]


12.45


[Kak, tolong bales!]


[Baik-baik aja kan?]


Dinara menghembuskan napas berat, membanting tubuhnya ke belakang. Matanya sayu karena terlalu mencemaskan Raka, kepalanya sampai pusing. "Nyebelin banget kamu, Kak," gumam Dinara.


Kelopak matanya mulai turun, kedua tangan Dinara menekan dadanya kuat. Sesak, seperti tidak bisa bernapas. Dinara mendudukkan tubuhnya, napasnya memburu. Lalu, dia beranjak dari kasur dan menyalakan saklar lampu. Kamar yang awalnya gelap, kini terdapat cahaya terang. "Ke--kenapa sesak?" lirih Dinara.


Tangan Dinara bertumpu pada tembok, tubuhnya bersandar di sana. Dinara mencoba menormalkan napasnya yang sesak dan detak jantungnya.


Segelas air diteguk habis oleh Dinara. Lalu, dia mendudukkan tubuhnya di kursi. Gadis itu menarik napas dalam dan menghembuskan pelan. Sedikit lebih baik dari sebelumnya.


"Ah, balkonnya belum ditutup," ujar Dinara. Lalu, dia mencoba menegakkan tubuhnya, kemudian berjalan pelan menuju ruang tengah.


Benar dugaan Dinara, pintu balkon di ruang tengah belum ditutup. Segera dia berjalan ke sana, meski sedikit terbata.


Tubuh Dinara melemah, dadanya masih sakit, dan kaki serta tangan sedikit bergetar. "Aku tunggu di kamar aja, deh," ucap Dinara.


Saat berjalan menuju kamar, kakinya tidak bisa bertumpu dengan benar, sehingga Dinara kehilangan keseimbangan dan jatuh. Dia memegangi dadanya yang seperti ditusuk-tusuk. Air mata pun keluar dari pelupuknya karena Dinara takut. "Kak Raka, cepetan pulang!" gumam Dinara.


"Loh? Ra?" Seruan itu membuat Dinara mengangkat kepala. Raka berlari ke arah Dinara yang tengah terkulai lemas.


Saat membuka pintu, Raka dikejutkan dengan kondisi Dinara seperti itu. Rasa takut dimarahi Dinara pun pudar begitu saja.

__ADS_1


"Lo kenapa?" tanya Raka. Dia mencoba membantu Dinara agar berdiri, tetapi Dinara seakan tidak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri. Tanpa berlama-lama, Raka menggendong Dinara dan membawanya ke kamar gadis itu.


Raka melenggang ke dapur dan kembali membawa beberapa obat serta segelas air. "Gue tahu obat lo habis. Jadi, tadi gue mampir ke apotek," ujar Raka. Lelaki itu membantu Dinara untuk meminta obatnya.


Dinara menghela napas panjang. Terasa jauh lebih baik dari sebelumnya. "Aku panik, Kak," ungkap Dinara. "Aku kirim pesan, tapi nggak dibalas. Kak Raka juga nggak kabarin aku."


"Maaf." Raka mengelus pelan kepala Dinara hingga membuat gadis itu meremang. "Lo istirahat dulu aja! Nanti atau besok baru gue ceritain," katanya.


Dinara tidak memberi jawaban. Lalu, Raka melenggang pergi untuk kembali ke kamarnya sendiri.


"Ra, gue masakin lo, ya?" teriak Raka dari ambang pintu. Dia tersenyum ke arah Dinara yang masih terbaring di atas kasur. "Mau makan apa? Tapi, gue cuma bisa goreng telur."


"Nggak usah nawarin makan apa, Kak, kalau gitu," jawab Dinara.


Raka terkekeh sejenak. "Telur ceplok atau dadar?"


"Dadar, Kak. Pakai bawang."


"Siap!" Lalu, Raka menghilang di balik pintu.


.....


Acara makan malam sederhana itu telah usai. Dinara sangat penasaran dengan apa yang terjadi kepada suaminya di balik ini semua. Jadi, dia memutuskan untuk menghampiri Raka di dalam kamar. Namun, Dinara hendak masuk, tetapi Raka sudah keluar sarangnya.


"Kak, aku mau tanya." Dinara menatap wajah menakutkan Raka dengan mata bulatnya. "Kak Raka tadi dari mana?" tanya Dinara.


"Lo gak perlu tahu, Ra," jawab Raka.


Marah. Dinara menganggukkan singkat kepalanya. Dari raut wajah gadis itu, Raka tahu bahwa istrinya kecewa. Dinara berniat pergi dari hadapan lelaki itu, tetapi tangannya dicekal oleh Raka. Lalu, pundaknya disentuh dan Raka menyuruh Dinara jalan mendahului.


Raka mendorong Dinara agar duduk di sofa ruang tengah. Dinara dibuat mematung, dia menatap Raka dengan bingung. "Penasaran banget, Ra?" Dinara mengangguk cepat.


"Lo tahu Boi temen gue? Dia anggota LGP juga."


"Yang anak kembar itu, Kak?"


Raka menganggukkan kepala, membenarkan jawaban Dinara. "Jadi, dia masuk rumah sakit dan harus dirawat inap di sana. Dia sempat koma."


"Tadi, gue dipanggil Kray itu gara-gara Boi udah sadar."


"Makanya, tadi gue juga sampai lupa buat kabarin lo."


Dinara menautkan kedua alisnya. Dia merasa curiga, ada yang disembunyikan dari dirinya. "Memangnya sakit apa, Kak? Kok sampai koma? Kecelakaan atau apa?" tanya Dinara.


Lelaki itu menggaruk tengkuk lehernya, merasa sudah kehabisan kata-kata. Raka pun menghembuskan napas berat. "Oke, Ra, gue bohong."

__ADS_1


"Sebenernya ...." Raka pun menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Dari pada Dinara menjadi lebih penasaran dan menjadi berbahaya untuknya.


__ADS_2