
Di bawah atap yang sama, dua insan yang berlagak saling membenci tinggal. Mereka seolah-olah musuh semenjak awal pertemuan, layaknya minyak dan air, ia tidak mau bersatu. Dinara masih dalam perasaan kesalnya. Gadis itu melengos saat berpapasan di dapur dengan Raka, kemudian Dinara kembali ke kamar membawa segelas air mineral.
Raka mengerutkan keningnya bingung, lantaran sang istri mendiaminya sedari tadi. Dia berjalan ke ruang tengah, menyalakan televisi seraya mendudukkan tubuh di sofa. Sambil memasukkan kentang goreng ke dalam mulut, Raka menikmati tontonan.
Raka adalah tipe pria yang suka berpikir keras. Sesuatu akan memenuhi pikirannya, jika hal itu masih dirinya pertanyakan, walau kecil. Namun, Raka pantang dalam apapun, akan berusaha hingga dapat.
Dinara, gadis itu menjadi perbincangan di otaknya. Sambil menikmati camilan, Raka memikirkan istrinya yang tadi datang dan langsung menegurnya. Lantas apa ada kesalahannya?
"Walau gue gak buat salah. Tapi, kayaknya apa yang gue lakuin emang selalu kelihatan salah di mata dia," gumam Raka.
Raka merenung, menonton dengan saksama film bergenre aksi itu. Meski pikirannya berada di tempat lain, lelaki itu memelototi layar televisi di depannya. "Sialan!" umpat Raka, kemudian mematikan televisi dan berjalan ke kamar Dinara.
Cowok tersebut berhenti tepat di depan kamar Dinara dengan pintu tertutup. Raka menghela napas panjang, kemudian menurunkan gagang pintu hingga membuatnya terbuka.
Saat pintu itu terbuka, memperlihatkan Dinara yang tengah berteman dengan buku di dalam kegelapan. Dinara lantas menoleh cepat ke arah Raka dan menatapnya tajam. "Gak sopan banget, Kak!" tegurnya.
Raka menggaruk tengkuk lehernya. Sambil cengengesan, dia melangkah memasuki kamar Dinara. "Eh! Siapa yang suruh masuk?" Dinara cepat bangun dari kursi, menghampiri Raka dan menghentikan pergerakan lelaki itu.
"Kenapa? Gak boleh?" balas Raka. "Gue suami lo. Jadi, gue punya hak."
"Tapi ini namanya nggak sopan, Kak!"
Raka membuang muka. Netra miliknya mengedar, melihat buku-buku di atas meja belajar Dinara, dan keadaan kamar yang gelap membuatnya heran. "Belajar di kegelapan? Gak baik buat kesehatan mata," tutur Raka.
"Lampu belajar aku nyala, kok," ucap Dinara sambil menunjuk mejanya, yang diterangi lampu.
"Mata lo bisa panas, Ra." Lelaki itu berjalan menuju jendela, menarik perlahan tirai itu hingga cahaya menembus kacanya. Keadaan kamar Dinara pun menjadi terang. "Lama-lama jadi sakit mata," lanjutnya.
"Kak! Jangan lancang!" peringat Dinara dengan ketus. Suaranya terdengar membentak hingga membuat Raka menoleh, kemudian tersenyum simpul. "A--aku lagi belajar."
"Kalau belajar itu harus terang, biar matanya gak capek." Raka berkata di depan Dinara, gadis itu sedikit mendongak agar dapat menatap Raka
__ADS_1
"Aku nyamannya gelap, Kak." Wajah Dinara menjadi merah, dia sedikit kesal.
Raka menghembuskan napas panjang. "Belajarnya nanti aja!" ucap Raka. "Sekarang, ikut gue ke luar, kita cari makan malam."
Dinara tidak menjawab, hanya diam menatap suaminya. Raka melenggang melewati tubuh Dinara. Namun, ketika berada di ambang pintu, suara Dinara menghentikan Raka. "Gak mau, Kak."
Raut wajah Raka menjadi lesu. Dia berbalik badan, kemudian menarik pundak kanan Dinara agar menghadapnya. Dinara pun merasa ketakutan karena tatapan tajam itu. "Kenapa, Ra!" tanya Raka.
"Aku gak mau, Kak."
Raka geram, kedua tangannya mengepal. "Lo ada masalah apa, Ra?"
Dinara menggelengkan kuat kepalanya. "Gue tanya baik-baik sama lo, Ra. Ada masalah apa?"
Dinara menundukkan dalam kepalanya, lagi-lagi menjawab dengan gelengan. Raka kesal. Tangan laki-laki itu mendorong tubuh Dinara hingga jatuh ke kasur. Tidak lama setelahnya, Raka mengunci pergerakan Dinara dengan berada di atasnya.
Raka mengunakan kedua tangannya sebagai tumpuan. Dia menatap tajam Dinara. Rahang kokoh yang mengeras dapat dilihat jelas oleh Dinara dari bawah. "Kak," panggil Dinara lirih.
Dinara memejamkan mata saat bentakan itu keluar dari mulut Raka. Tidak dapat dipungkiri, tubuh Dinara bergetar kala itu karena ketahuan. Dari atas, Raka pun dapat melihatnya.
"Ra," panggil Raka dengan suara lembut. Raka melihat air mata menetes dari ekor mata Dinara, kemudian Raka memutuskan untuk bangun. "Jangan nangis!"
Dinara segera mendudukkan tubuhnya, dengan cepat menyeka air matanya. Dia terisak, napasnya sesenggukan. Sedangkan Raka, memalingkan wajah dan melirik ke arah istrinya. "Maaf, Ra," ujar Raka.
"Maaf, aku udah berani sama Kak Raka. Aku benci, Kak," ungkap Dinara.
Raka lantas menatap gadis itu. "Benci siapa, Ra?"
Dinara masih menundukkan kepalanya, tidak berani membuka matanya. "Ada cewek yang suruh aku buat jauhi Kak Raka."
"Siapa, Ra?"
__ADS_1
Dinara menggelengkan kepala dengan pelan. "Aku nggak tahu, lupa, Kak." Napas gadis itu memburu, seperti tengah ketakutan.
Raka menatap lekat istrinya dari samping, kemudian tangannya bergerak menarik Dinara ke dalam pelukannya. "Udah!" titah Raka. Memeluk erat Dinara sambil mengelus lembut punggung kecil gadis itu. "Maaf, ya?"
Dinara mengangguk singkat dalam pelukan hangat Raka. Terasa nyaman dan saat itu juga, jantungnya berdebar dan merasa senang bisa dekat dengan suaminya.
"Ganti baju! Kita makan malam di luar," ucap Raka sebelum pergi dari kamar Dinara.
Yang awalnya asing, kini menjadi begitu dekat. Bahkan, Dinara menjadi satu-satunya di antara teman Raka. Gadis itu beruntung mendapatkan Raka, tetapi hati Dinara belum sepenuhnya untuk sang suami.
Dinara mengoleskan sedikit lipstik ke bibir kecilnya. Lalu, dia mengambil tas di samping pintu dan keluar kamar. Raka sudah menunggu Dinara di ruang tengah.
"Udah, Kak," ujar Dinara. Lalu, Raka mengulurkan tangannya. Dinara acuh. "Kayak mau nyebrang aja." Tanpa menerima ajakan bergandeng tangan, Dinara melenggang keluar.
Angin dingin menerpa kulit mereka, menerbangkan beberapa helai rambut Dinara. Terdapat beberapa bintang di langit biru sana. Bulan tidak kelihatan malam ini.
Setelah makan malam di sebuah restoran yang terlihat mewah, Raka mengajak Dinara berhenti di pesisir pantai. Sepi dan gelap, hanya diterangi sedikit lampu.
Dinara mendongak untuk melihat langit. Kesukaannya. Itu terlihat gelap dan menenangkan. Dua pasangan tersebut duduk dengan alas pasir pantai berwarna putih kecoklatan. Tanpa takut baju kotor, mereka lebih suka duduk seperti ini demi menikmati pemandangan.
Raka menoleh, menatap wajah Dinara yang terukir cantik. "Ra, suka langit malam atau siang?" tanya Raka.
Dinara menoleh sejenak, kemudian kembali melihat ombak yang bergerak di tengah laut sana. "Aku nggak begitu suka langit. Tapi, aku juga nggak benci," jawab Dinara.
"Jadi, benda bumi yang paling lo sukai, apa?"
Dinara mengedarkan pandangannya. "Manusia."
"Walau beberapa dari mereka suka buat kesal," sambung Dinara.
Perbincangan hangat diselimuti dinginnya angin malam pun berlanjut. Sampai akhirnya, beberapa bintang mulai tidak terlihat dan Dinara menjadi kurang bersemangat karena mengantuk.
__ADS_1
🐰