
Sebagai seorang istri, Dinara melakukan tugasnya meski tidak dengan sepenuh hati. Dia memasak untuk sarapan. Matahari belum terbit karena masih pukul lima, Dinara bersemangat bertarung mengolah bahan mentah menjadi makanan. Raka masih terbaring di kasurnya, Dinara mengintipnya tadi.
Dinara membuka jendela kecil di pojok dapur, agar udara segar masuk hingga membuatnya lebih bersemangat. Hari ini ada dua menu makanan, ayam goreng dan sambal. Sebenarnya, gadis itu tidak ahli dalam memasak sesuatu, tetapi dengan sedikit ilmu dari sang bunda, ia bisa melakukannya.
Sekitar setengah jam, Dinara selesai dengan acara memasaknya. Segera meletakkan makanan lezat itu di atas meja. Lalu, Dinara masuk ke kamar untuk membersihkan diri.
Matahari muncul dari timur, membuat seluruh insan bangun dan pergi dari alam mimpi. Sekilas cahaya menyusup ke dalam kamar Raka melalui ventilasi, kemudian lelaki itu menggeliatkan di atas empuknya kasur. Raka bangun dari tidurnya, kemudian beranjak pergi keluar.
Raka keluar kamar, tidak mendapati Dinara di sana. "Kebo banget dia," gumamnya dengan suara serak. Lalu, terdengar dahaman dari belakang hingga membuatnya berbalik. Manik Raka melebar melihat Dinara menatapnya remeh.
"Baru bangun?" celetuk Dinara. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. "Pasti Kak Raka pikir aku belum bangun. Iya, kan?" Alis gadis itu terangkat, menebak seolah tahu isi pikiran Raka.
Raka menghembuskan napas berat, dia kalah telak. "Rajin banget lo," ucap Raka.
"Aku memang rajin, Kak. Emangnya Kak Raka?" Dinara berdecak singkat, kemudian melenggang melewati Raka. "Sarapannya di meja," ujar Dinara, seraya mengambil tas di atas meja makan. Lalu, dia melenggang pergi keluar apartemen.
Raka memandangi kepergian Dinara, gadis itu tidak seburuk yang dia kira. Lalu, Raka melangkah ke meja makan dan mendudukkan dirinya di kursi. Melihat makanan buatan sang istri terlihat enak, dia segera mengambil nasi. "Pasti enak buatan istri gue," katanya.
Piring penuh nasi dan lauk, disantap dengan lahap oleh lelaki itu. Aromanya saja sudah gurih, rasa rempah yang melekat pada ayam dan sambal, Raka menggelengkan kepala memakannya. "Gila! Sumpah! Enak banget!"
Raka heboh sendiri di sana, makan sambil membayangkan Dinara memasak makanan itu dengan penuh cinta untuknya. "Istri gue hebat banget pokoknya," ujarnya. "Ya meskipun, cintanya masih belum buat gue."
.....
"Dinara!" Raisa melambaikan tangan kepada Dinara yang tengah melangkahkan kaki menuju kantin. Dinara lantas berhenti di tempat dan menunggu Raisa menghampirinya. "Ada yang ulang tahun, nih!" seloroh Raisa.
Dinara membulatkan mata, menatap Raisa yang senyum-senyum padanya. "Kamu ulang tahun, Sa?" tanya Dinara.
Raisa sontak menghentakkan kakinya ke lantai. "Kok gue, sih. Lo yang ulang tahun, Dinara."
__ADS_1
"A--aku?" Raisa mengangguk kepala. "Aku ulang tahunnya kemarin," ungkap Dinara.
"Gak mau tahu. Kemarin, gue belum lo traktir, sekarang traktir gue!"
"Ta--tapi, aku harus pulang," ucap Dinara. Raka tadi mengiriminya pesan, setelah pulang kampus, Dinara harus langsung pulang. Meski tidak mau, Raka suaminya dan dirinya harus menurut.
"Ayo, traktir gue! Gue tahu tempat yang bagus banget pemandangannya." Raisa menarik tangan Dinara secara paksa, kemudian membawanya entah ke mana. Dinara hanya menurut karena juga tidak bisa mengecewakan Raisa.
Sepanjang perjalanan pergi keluar kampus, beberapa pasang mata menatap ke arahnya dan Raisa. Tatapan tidak suka, padahal Dinara sama sekali tak mengenal satu pun dari mereka. Gadis-gadis terkenal, kata Raisa.
Raisa rupanya sudah merencanakan ini semua. Buktinya, mobil dengan harga mahal berhenti di depan mereka, yang merupakan suruhan Raisa. Dinara berpikir gadis itu akan menculiknya, ternyata Raisa membawanya ke tempat asing bagi Dinara.
Sebuah cafe yang tidak terkenal. Tempatnya jauh dari Universitas Diamond. Area pegunungan. Luas dan penuh dengan oksigen segar karena ditumbuhi bunga-bunga cantik. Dinara sempat terpaku melihat tempat asing ini, selera Raisa benar-benar tinggi.
"Cafe ini baru buka, makanya sepi," ucap Raisa. "Bantuin promosi, Din! Punya Om aku soalnya." Setelah mengatakan itu, Raisa mengembangkan senyumnya. Sebab itu Raisa merekomendasikan tempat ini.
"Temanya bagus, kan?" tanya Raisa.
"Bagus. Aku akan rekomendasikan sama kenalan aku, deh," jawab Dinara.
"Sip!"
Perasaan senang Dinara tiba-tiba mengingatkannya pada Raka. Gadis itu mempunyai pikiran untuk mengajak suaminya tersebut mengunjungi tempat ini. Namun, segera ditepis jauh-jauh pikiran yang akan mendatangkan musibah itu.
"Dinara, lo tahu Kak Abram, kan?" celetuk Raisa, lantas membuat Dinara membulatkan mata. "Lo punya nomornya gak?"
Bingung, takut hingga gugup. Dinara mengigit bibirnya bawahnya. "Nggak punya," jawab Dinara, bohong. Baru kemarin dirinya bertukar pesan dengan lelaki itu. Jujur saja, Dinara masih menaruh perasaan kepada Abram.
Raut wajah Raisa berubah kecewa. Dia meneguk kopi kesukaannya. Lalu, menatap Dinara lagi. "Kalau Kak Raka?" Dinara menggelengkan kepala, lagi.
__ADS_1
"Buat apa memang?" tanya Dinara. Dari cara bicara Raisa, jelas gadis itu menyukai para lelaki tampan yang dibahasnya.
"Kayaknya, gue suka sama Abram."
"Dulu, udah lama banget pokoknya, gue dapet nomornya Abram. Tapi, nomornya udah ganti," ucap Raisa. "Dia beda banget dari temen-temennya. Ya meskipun, gue juga kadang oleng kalau ketemu anggota LGP lainnya."
Alis Dinara saling bertautan. Raisa mengatakan sesuatu yang asing baginya. "LPG? Apa itu? Gas LPG, Sa?" tanya Dinara.
"What? Lo gak tahu?" Raisa memekik keras, menggelengkan kepala melihat kepolosan teman di depannya. "Lightning General's Punch!" Raisa excited mengatakan kalimat itu, seolah sangat menyukainya.
"Gue diam-diam ngefans sama geng itu!"
"Raka sebagai ketua LPG, keren pakek banget!"
"Abram juga gak kalah keren, dia wakil LPG yang dikenal cerdas."
Dinara semakin tidak paham dengan apa yang keluar dari mulut gadis itu. Statusnya sebagai istri, tetapi sama sekali tak mengetahui apa arti ini semua. LPG? Kata tersebut terus berputar di kepala Dinara.
.....
Masih dan terus terputar di kepala Dinara, bahkan saat sampai di apartemen. Dinara terkejut setengah mati, ketika suaminya berdiri di depan pintu dan menatapnya tajam. "Kenapa lo kaget gitu?" celetuk Raka.
Dinara terhenyak melihat pakaian Raka yang berbalut jaket. Terdapat tulisan di sana. Lightning General's Punch. "Kak Raka kenapa berdiri di sini?" tegur Dinara.
"Nungguin lo." Raka menyodorkan boneka monyet berbulu kepala Dinara. "Buat lo," ucap Raka.
Dinara mematung, melihat Raka dan boneka itu secara bergantian. Lalu, tanpa permisi Raka berlari dengan gugup ke kamarnya.
Dinara tidak paham dengan apa yang terjadi hari ini. Aneh.
__ADS_1