
...HALLOOO...
...MAAF LAMA UPDATE-NYA😔...
...AKU LAGI SAKIT NIEHHH HEHEHE...
...SELAMAT MEMBACA YAA...
Beberapa anggota LGP sudah datang mengunjungi Raka dan mengatakan berduka cita. Hanya Roi dan Boi yang belum datang. Saat di hari kedua, mereka datang dengan tiba-tiba tanpa mengirim pesan terlebih dahulu.
Dinara yang sedang bersih-bersih rumah, langsung berlari ke kamar dan memanggil suaminya. Lalu, Raka menyuruh Dinara agar bersembunyi karena pernikahan mereka masih rahasia.
Melihat alat bersih-bersih berada di sekitar ruang tengah, Kray langsung berujar memuji ketua geng itu. "Rajin juga lo, Bos."
"Iya. Masih pagi udah bersih-bersih, aja," sambung Abram.
"Gue aja jarang," celetuk salah seorang anggota, yang langsung dipukul lengannya oleh Kray.
"Bukan jarang, tapi gak pernah," seloroh Kray.
Saat itu, Raka benar-benar merasa gelisah. Apalagi, Kray terus meminta untuk pergi ke kamarnya. Namun, Raka melarangnya dengan bersusah payah.
Dinara terus bersembunyi di sana sampai mereka benar-benar pulang. Beruntungnya, Kania bisa diajak bekerjasama untuk menyembunyikan pernikahan Raka dan Dinara.
Seorang lelaki berpakaian sweater biru tua berjalan menyusuri koridor rumah sakit, menuju kamar sang teman. Sebuah buku berada di tangannya. Rega berhenti di depan kamar. Sesaat ia sampai di ruangan tersebut, dua laki-laki lain membuka pintu membawa tas besar.
Rega mengangkat wajah melihat Boi dan Roi yang juga menatapnya. "Buku lo," ucap Rega, sambil menyodorkan buku di tangannya tersebut.
Boi menatap Rega dengan datar. Lalu, dia mengambil buku tersebut dan membacanya beberapa. Ia mengangguk-anggukkan kepala. "Thanks," katanya.
Sebelum pulang, Boi mengajak Rega untuk singgah sejenak di kantin rumah sakit. Mereka memesan jus dan beberapa makanan. Rega awalnya menolak, tetapi Boi memaksa.
Meski Boi masih benci dengan lelaki itu, dia berbaik hati untuk berterimakasih karena Rega sudah membantunya mencatat tugas.
"Gue ke toilet bentar, ya?" ucap Roi, berdiri dari duduknya. Dia diam-diam memegangi perut sejak tadi. Semalaman lelaki itu mengalami gangguan pencernaan karena menghabiskan dua porsi mie super pedas.
"Jadi, bau gak enak tadi lo?" celetuk Boi.
Roi mendesis mendengar ucapan Boi, kemudian dia berlari kencang meninggalkan dua lelaki itu. Perutnya mulas sejak malam tadi karena menghabiskan dua porsi mie super pedas.
Boi menggelengkan kepala melihat tingkah kembarannya yang cuek itu, bahkan terhadap kesehatannya sendiri.
Diam, senyap, tidak ada pembicaraan di antara kedua orang itu. Mereka akan langsung berpaling ketika tak sengaja saling berkontak mata. "Ekhem." Rega berdeham, dia menatap Boi. "Gue mau tanya," ujar Rega.
__ADS_1
"Tanya aja," jawab Boi.
"Gue lihat Raka sama cewek, mereka ada hubungan apa?"
Boi menggelengkan kepala cepat. "Gak tahu."
Rega menghela napas berat. Dia berdiri dari duduknya. "Gue balik sekarang aja, deh," ucapnya.
.....
Sudah tiga hari setelah kepergian Nek Hani. Dinara merengek di hadapan Raka, meminta izinnya untuk ikut pulang bersama sang bunda.
Raka sebenarnya tidak mengizinkannya, karena nanti dia pasti akan sendirian. Dia sibuk dengan kegiatan menyisir rambut. "Tapi nanti malem gue jemput, ya?" ucap Raka.
"Eng--enggak mau, aku maunya nginep," ujar Dinara.
Raka menghela napas panjang, kemudian menatap sang istri melalui kaca almari di depannya. "Berapa hari?"
Dinara mengetuk dagunya dengan telunjuk, berpikir. "Satu minggu?"
Raka langsung berdecak mendengarnya. Lalu, Dinara tergelak tawa. "Dua hari aja. Boleh ya, Kak?" Gadis itu membuat mata bulat di depan Raka.
"Ya udah, iya," ujar Raka, sambil menganggukkan kepala. "Kalau mau pulang, hubungi gue biar gue jemput!"
"Lo semangat banget mau jauhan sama gue," gumam Raka, terdengar di telinga Dinara membuat gadis itu mendongak.
"Aku kangen sama Bunda, Kak." Matanya berkaca-kaca, terlihat menggemaskan.
"Eh, iya-iya gue izinin." Raka mencegah Dinara agar tidak menangis. "Udah, sana!" pintanya.
"Kak Raka sedih ya, mau aku tinggal?" celetuk Dinara.
"Gak! Ya kali." Raka membuang muka, kemudian melenggang dari sana. "Ayo, gue anter ke depan!" ajaknya.
Dinara tersenyum lebar dan berlari kecil menghampiri suaminya. Mereka berjalan bersama untuk pergi ke ruang tengah.
Ada Kania dan Rania di bawah sana. Kedua wanita tersebut sedang mengobrol. Saat menyadari kedatangan putra dan putri mereka, senyuman lebar langsung terukir. "Bunda, Kak Raka bolehin aku ikut," ujar Dinara, kepada sang bunda. Sedangkan Raka, dia hanya memasang wajah datar.
"Beneran?" tanya Rania, Dinara mengangguk cepat. "Raka gak mau ikut nginep sekalian?"
Raka menggelengkan kepala, Dinara menatap suaminya dari samping. "Gak, Bunda. Raka harus kerja mulai besok," jawabnya. "Nanti kalian biar Raka anter."
"Nggak usah, Kak. Kan, Bunda bawa motor," ujar Dinara.
__ADS_1
"Motornya ditinggal di sini, aja! Biar Raka yang antar kalian," sahut Kania.
Dinara langsung beralih menatap mama mertuanya. "Dinara sebenernya pengen motoran, Ma," katanya.
Benar, sudah lama sekali Dinara tidak bisa bepergian sendiri. Raka selalu menemaninya ke mana pun ia pergi. Sejauh apapun, Raka akan berada bersama Dinara.
Sudah diprediksi, saat Dinara tidak ada di dekatnya, Raka akan langsung merasa gundah gulana. Dia keluar-masuk kamar membuat sang mama bingung melihatnya.
Kini, Raka berada di balkon kamar, melihat langit gelap di atasnya. Dia ditemani segelas es jeruk. Lalu, Raka merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana.
Ponsel itu bergetar ketika ia menyalakan data, memperlihatkan banyak pesan masuk dari grub chat LGP. Sesaat setelah Raka membacanya, Kray menelponnya dan Raka menerima panggilan tersebut.
"Balapan?" tanya Raka.
"Iya. Lo nonton, aja, gak usah ikut!" kata Kray di seberang sana.
"Siapa lo, berani ngatur gue?"
Kray langsung diam mendengar suara lantang Raka.
"Gue ikut, daftarin sekarang!" kata Raka, kemudian menutup telepon itu.
Sudah lama, lagian tidak ada Dinara di sini. Raka segera bersiap-siap untuk beraksi malam ini.
Lelaki itu mengambil jaket yang ada di atas kasur, kemudian memakainya. Dia turun tangga, disambut oleh kedatangan sang papa yang baru pulang berbisnis. "Mau ke mana?" tanya Aron, kepada putranya.
"Main," jawab Raka.
"Istri kamu?"
"Ikut bundanya pulang tadi."
Aron mengangukkan kepala. "Jangan aneh-aneh!" peringatnya.
Raka mendengus, kemudian melenggang begitu saja melewati sang papa. Melihatnya, Aron merasa sedikit curiga.
Raka melajukan motornya, membelah jalanan aspal di bawah langit malam. Hembusan angin menerpa. Hatinya tidak bisa tenang, saat jauh dari Dinara. Padahal, belum satu hari Dinara pergi.
Raka menghentikan motornya di sebuah tempat yang banyak orang berkerumun di sana. Terlihat seorang lelaki berlari menghampirinya. "Udah gue daftarin. Lo lawan Tero, wakil Red Diamond," ujar Kray.
...Segini dulu yaaaa ...
...Jangan lupa likee komennya😍...
__ADS_1