Istri Tahanan Kak Raka

Istri Tahanan Kak Raka
6. Raka atau Abram?


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Cahaya di tengah kegelapan dengan suara rintikan hujan, masih menjadi kesukaan bagi Dinara. Sebagai mengembali suasana hati yang memburuk, mereka adalah tahta tertinggi di hidup Dinara. Gemericik air berjatuhan diputar melalui platfrom YouTube, gumaman lembut dari narator menjadikan motivasi baginya.


Kebanyakan orang tidak menyukai suara hujan, bahkan takut. Namun, Dinara mencintainya, tetapi saat disertai petir, Dinara membencinya. Menenangkan tapi terkadang juga menakutkan. Seperti perasaan cinta, kala takut memberikan perasaan tulus kepada orang yang salah.


Jurusan seni dan desain merupakan pilihan Dinara sendiri. Ingin mempunyai benda dengan gambar yang dibuat sendiri. Namun, gadis itu masih belum menentukan akan berbuat apa untuk mewujudkan cita-citanya.


Saat fokus dengan buku gambarnya, terdengar ketukan pintu dari luar. Dinara lantas menoleh dan beranjak untuk pergi membukakan. Rania ternyata berdiri di sana dengan senyum yang mengembang. "Ada Mamanya Raka," ucapnya.


Dinara membulatkan mata mendengarnya, kemudian mengangguk singkat. "Lalu?" tanya Dinara.


"Ya temui calon mertua kamu! Dia ke sini nyariin kamu."


"Cari aku?"


"Buruan, ganti kaosnya! Masa kayak gembel."


Dinara berdecak kesal, kemudian menutup pintu. Bajunya terkesan santai, celana pendek selutut dan baju kaos polos. Demi bundanya, dia berganti untuk menemui wanita yang mencarinya. Mama mertua? Baiklah, Dinara punya dua ibu sekarang.


Kania berada di ruang tengah, dia sedang menikmati roti yang disuguhkan oleh Rania. Keduanya berbincang ringan sembari menunggu Dinara. "Nanti, kalau nikahan Raka sama Dinara, kamu buat roti yang banyak buat suguhan, ya!" ucap Kania. "Enak banget soalnya."


Rania tertawa mendengar pujian dari calon besannya. Wanita itu merasa bangga dengan dirinya sendiri karena telah menemukan keluarga baru, yang baik untuk sang putri. "Iya, makasih," jawab Rania.


"Ma." Suara pelan itu berasal dari Dinara yang berdiri di belakang Rania. Lalu, dia menyalami tangan Kania dan tersenyum simpul. "Maaf, udah nunggu lama," ujar Dinara.


"Tidak apa-apa." Kania memerintahkan Dinara agar duduk di sampingnya, kemudian dia mengelus kepala gadis itu. "Aku gak salah pilih," kata Kania.


Satu ruangan menggema suara tawa Rania. "Aku permisi ke belakang dulu, ya?" ujar Rania, dibalas anggukan oleh Kania. Lalu, wanita itu melenggang pergi meninggalkan Dinara hanya berdua dengan calon ibu mertuanya.


Tidak mendapati tanda-tanda keberadaan Raka. Dinara mengangkat kepalanya untuk mengintip luar rumah melalui jendela, benar tak ada siapa pun. "Rakanya tidak ikut," celetuk Kania, Dinara lantas malu setengah mati.

__ADS_1


"Kalian sudah saling kenal, kan?" Dinara mengangguk. "Bagaimana pertemuan pertama kalian?" tanya Kania.


Dinara merasakan sesuatu yang meluap dari dalam dirinya. Jika mengingat pertemuan pertama, dia sangat benci. "Di kampus, Tante," jawab Dinara, gelagapan.


"Bagaimana?"


"Bisa dibilang nggak menyenangkan. Soalnya waktu itu, Kak Raka tiba-tiba muncul dan hampir aku tabrak."


Kania sedikit terkejut, dia menautkan kedua alisnya. "Kok ceritanya beda sama Raka, ya?"


"Memangnya bagaimana, Tante?"


"Katanya waktu Raka nyebrang, kamu kebut-kebutan naik sepeda dan kamu tabrak dia."


Gadis itu membulatkan lebar matanya, bibirnya sedikit terbuka. Dinara menggelengkan pelan kepalanya, tidak habis pikir dengan lelaki itu. "Anak Tante bohong," ucap Dinara, menundukkan kepala agar menarik simpati Kania. "Kak Raka yang nyebrang sembarangan."


Bisa buruk nama Dinara bila wanita itu percaya cerita palsu Raka.


.....


Restoran mewah yang menyuguhkan pemandangan kota dari atas. Pelayanan serta makanan istimewa. Mereka tengah membicarakan hal serius, mengenai pernikahan putra dan putrinya.


Rania, Kania, Roni, Nek Hani, dan Dio---papa Raka berkumpul di sana. Mereka sesekali tertawa saat membahas anak-anak yang akan mereka jodohkan.


"Pertemuan mereka yang bikin mereka jadi gak akur," ujar Kania.


"Mau gak mau, mereka harus tetap menikah," sambung Nek Hani.


Di dalam pembicaraan pernikahan itu, seharusnya Dinara dan Raka ikut serta. Namun, Dinara permisi ke luar untuk mencari udara segar. Tidak berselang lama, Raka menyusul Dinara.


Gadis itu sendirian di balkon restoran, menatap jauh ke depan. Angin malam menerpa wajahnya yang terlihat tidak berenergi. Kalut, dia bingung dengan perasaannya. "Kenapa tadi bisa aku tolak ajakan Kak Abram?" Dinara bermonolog, suara kendaraan di bawah menjawabnya. "Padahal, selama ini aku mengharapkan kami bisa kembali seperti dulu."

__ADS_1


Menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan pelan. Pikiran Dinara penuh, antara tetap menerima perjodohan dengan Raka atau kembali bersama Abram. "Apa dua-duanya saja?" Namun, Dinara menggelengkan kuat kepalanya, dia bukan perempuan yang tidak cukup dengan satu lelaki.


"Lagi mikirin apa?" Suara berat berasal dari belakang, membuat Dinara sempat terhenyak. Langkah kaki Raka terdengar mendekat, lelaki itu kemudian berdiri di samping Dinara, melakukan hal yang sama. "Mikirin gue atau ...." Kalimat menggantung hingga Dinara penasaran.


"Atau mikirin Abram?"


Dinara tersentak kaget, bagaimana dia bisa bilang begitu?


"Maksudnya?" tanya Dinara, tidak mengerti.


"Gue tahu hubungan kalian di masa lalu. Abram pernah cerita soal cewek, tapi gue gak pernah tahu dia siapa." Raka berhenti dengan ucapannya, menatap lamat gadis di depannya. "Ternyata cewek itu lo, Dinara," kata Raka.


Dinara menelan ludah yang menyangkut karena tenggorakannya terasa kering. Dia tidak berani menatap Raka, hanya melirik sekilas, tetapi berulang-ulang.


"Gak usah khawatir, lo sekarang milik gue," celetuk Raka.


"Gue tahu, lo terpaksa nikah sama gue dan gue juga sama. Tapi, apa salahnya kita terima ini buat bahagiain orang tua?"


"Gue mau buat perjanjian supaya lo lebih ringan sama keputusan mereka." Dinara mengangkat pandangannya, netra mereka saling beradu. "Kalau lebih dari tiga bulan kita tetap gak saling cinta, lo bisa minta berhenti dan kita bisa pisah," kata Raka. Dalam kalimat, mengandung keseriusan, tanpa candaan.


Dinara merasakan jantungnya berdebar, apalagi Raka mengulurkan tangan sebagai bentuk setuju perjanjian tersebut. Lalu, tanpa pikir panjang dan merasa yakin, Dinara menjabat tangan Raka yang terasa kasar dan berotot.


Raka bergetar, sensasi hati dan otaknya melebur seperti orang jatuh cinta. Tangan lembut yang tengah digenggamnya, ingin selalu Raka genggam. Keduanya tercekat dalam pikiran masing-masing sambil memandang kedua tangan sedang menyatu.


Tanggal berganti, siang sepulang dari kampus, Dinara dikejutkan bingkisan yang tergeletak di atas kasur. Kondisi rumah juga sepi, sepertinya sang bunda sedang pergi. Dia penasaran membuka tote bag bergambar bunga tersebut. Kedua alisnya saling bertaut. "Undangan?"


Dinara mengambil satu buah dari banyaknya benda itu. Perpaduan warna cream dan gold, juga bunga mawar merah muda. Tertulis jelas di sana nama pasangan yang akan menikah. Raka Arona dan Dinara Sarafati.


Hati Dinara kacau, air mata sudah tidak bisa dibendung olehnya. Entah, rasa yang aneh. Senang, tetapi sedih. Lantas, apa ini cinta? Atau marah?


...SUPPORTMU, SEMANGATKU...

__ADS_1


...🐰👋...


__ADS_2