Istri Tahanan Kak Raka

Istri Tahanan Kak Raka
15. Telur gosong


__ADS_3

Dinara membuka mata, menguceknya pelan. Lalu, dia melihat jam yang ada di ponselnya. Baru pukul dua pagi. Gadis itu beranjak dari kasur karena tenggorakannya terasa kering. Jadi, Dinara berniat mengambil minum.


Dinara berjalan sempoyongan karena masih mengantuk, bahkan matanya tidak terbuka sepenuhnya. Dia segera menuangkan air ke dalam gelas, kemudian meminumnya hingga habis. Betapa terkejutnya Dinara, saat melihat dengan samar sang suami yang mengendap-endap dari luar.


Saat itu juga, mata Dinara langsung melebar. Dia pun memutuskan untuk tidak bersuara, diam-diam mengamati lelaki itu.


Jelas itu suaminya, kakinya menempel di lantai, tubuhnya terlihat jelas, hanya saja terdapat beberapa luka di wajah. Raka masih belum menyadari keberadaan Dinara, dia menutup pintu setelah melepaskan sepatu. Namun, ketika berbalik, ia kemudian mematung di tempat.


Senyum setipis benang pun terukir di wajah Raka. Detak jantungnya seakan berhenti, kala melihat tatapan tajam sang istri. "Dari mana, Kak?" Pertanyaan itu telontar dari bibir Dinara ketika Raka sudah berdiri di depannya.


Raka gelagapan, dia menggaruk tengkuk lehernya. Bahkan, lelaki itu tak berani menatap secara langsung mata Dinara. "Aku tanya dari mana, Kak?" ucap Dinara seraya melipat kedua tangan di depan dadanya.


Raka menghela napas panjang. "Main," jawab Raka. Wajahnya benar-benar terlihat seperti anak lima tahun yang sedang dimarahi ibunya.


Dinara membuang muka. "Bahkan, anak kecil aja tahu, kalau ini jamnya tidur, bukan sewajarnya main jam segini." Gadis itu menggerutu, wajahnya terlihat ketus. "Kak Raka hantu? Keluyurannya jam segini? Iya?"


Bukannya menjawab, Raka malah terkekeh ringan akan ucapan sang istri. Namun, teguran Dinara seketika membuatnya diam kembali. "Aku lagi marah, Kak! Malah ketawa!"


"Lo lucu kalau lagi marah," celetuk Raka. Dia mengangkat kepala, netranya bertemu dengan hitam pekat milik Dinara. "Gue cuma main-main biasa, kok, sama anggota gue."


"Gue tahu, lo pasti tahu kalau gue itu ketua geng."


Raka malah bangga, membusungkan dada sembari membenarkan jaket. Dinara mantap tanpa ekspresi, sehingga membuat Raka diam. "Obatin lukanya! Aku mau lanjut tidur," ujar Dinara, kemudian melewati Raka untuk kembali ke kamar.


Raka lupa, di wajahnya terdapat banyak luka lebam. Mungkin, Dinara yang mudah takut itu sedikit ketakutan melihatnya.


Setelah kejadian itu, Dinara memutuskan bangun lebih pagi dadi biasanya. Dia segera memasak untuk sarapan, dengan menu yang biasa saja. Sudah siap pergi kuliah, Dinara menutup pintu kamarnya. Namun, langkahnya terhenti oleh suara Raka. "Berangkat bareng gue, Ra!" ujar Raka.

__ADS_1


Dinara tidak menggubrisnya, dengan cepat memakai sepatunya. Lalu, dia berdiri dan sedikit menoleh. "Aku berangkat sendiri," jawab Dinara.


Raka mengerutkan dahi melihat kepergian istrinya. Terlihat jelas, Dinara marah kepadanya.


Raka memandang sepiring nasi goreng di meja makan, dengan telur mata sapi yang terlihat sedikit gosong. Tidak berlama-lama, Raka mengambil sendok untuk melahapnya. Kedua sudut bibir laki-laki itu tertarik lebar. "Lo sengaja goreng gosong telur ini karena marah sama gue, Ra?" katanya. Namun, rasanya menjadi khas di lidah Raka.


Benar-benar, cinta sudah merubah segalanya.


Dinara berangkat dengan rasa kesal, mengayuh sepedanya selambat siput. Dia mengenggam erat setirnya, menahan teriakan agar tidak keluar dari bibirnya. "Ngeselin banget," gumam Dinara.


Biasanya, Dinara berangkat dan pulang bersama Raka. Dinara akan turun di sebuah toko terdekat, agar tidak ada yang tahu bahwa dirinya bersama Raka. Pasti akan di luar dugaan Dinara, jika para penggemar suaminya tahu. Sejauh ini masih aman, tak ada rumor-rumor tentang Raka di Universitas Diamond.


Materi dan praktik yang membingungkan. Dinara menghabiskan banyak kinerja otak untuk hal ini. Namun, meski sedikit merepotkan, Dinara tetap menyukainya karena hasil memuaskan atas pekerjaannya. Menggambar, membuat tema, mendesain, dan semacamnya. "Kalau boleh jujur, sedikit capek sama usahanya. Tapi, gak ada usaha, gak ada hasil," kata Dinara.


Saat ini, Dinara menatap langkah kakinya yang entah akan menuju ke mana. Namun, hati dan pikiran mengarahkan untuk ke kantin, sebab perut Dinara kempes karena belum sarapan. Gadis itu membawa bekel, nasi goreng buatannya sendiri.


Dinara membalas senyuman hangat lelaki itu. "Hai, Kak Abram," balas Dinara. Kalau dipikir-pikir, Abram jauh lebih baik dari pada laki-laki yang berdiri di samping Abram, Raka.


"Mau ke mana, Ra?" tanya Raka. Dia mengukir senyumnya, sedikit berusaha membujuk istrinya.


"Kantin," jawab Dinara. "Kalau gitu, aku duluan." Lalu, dia melenggang begitu saja.


Menyebalkan sekali. Melihat wajah Raka yang sangar itu, membuat Dinara ingin pingsan. Bukan karena ketampanannya, melainkan Dinara tahu keburukan cowok tersebut. Meski di mata gadis lain, semua tentang Raka menarik, tetapi berbeda untuk Dinara. Benci.


"Bodoh amat sama Raka. Yang penting gue makan," gumam Dinara. Dia duduk di kantin dengan bangku paling pojok. Sengaja menghindari agar tidak dapat ditemukan oleh Raka.


Melihat telur mata sapi miliknya, Dinara teringat dengan apa yang dilakukannya tadi pagi.

__ADS_1


"Aku gosongin telurnya, biar ada pahit-pahitnya," ucapnya. Dengan semangat Dinara melihat telur itu kecoklatan di atas wajan. "Rasain cita rasa yang khas ini, Kak!"


Dinara tersenyum puas kala itu. Namun, lamunannya buyar karena suara berat tiba-tiba muncul dari sampingnya, tepat di telinga hingga gadis itu meremang. "Kenapa telurnya, Cantik?"


Dinara tersentak kaget saat melihat Raka tersenyum miring ke arahnya. Dengan cepat dan kuat dia mendorong tubuh laki-laki itu agar menjauh darinya. Sontak tidakan mereka membuat pasang mata mengarah dan menyoroti. "Pergi, Kak! Aku mau makan," ucap Dinara.


"Makan aja! Gue temenin." Raka seolah tidak peduli dengan mata yang menatap tajam. "Gue jagain," katanya.


Dinara sudah lelah untuk beradu mulut dengannya. Gadis itu memilih diam dan segera menghabiskan makanannya.


.....


Dinara cemberut, memasang wajah masam. Angin malam menerpa wajahnya, dia berpegangan pada pundak Raka. Tadi, lelaki itu memaksanya untuk ikut ke rumahnya. Padahal, Dinara sedang marah padanya. Menyebalkan.


Dinara kira ada urusan penting apa, ternyata Raka hanya menukar mobil dengan motor di rumahnya. Kekesalan Dinara semakin meningkat. Percayalah, saat ini dia ingin sekali memukul lelaki itu dari belakang.


Motor ini tinggi baginya. Dinara enggan untuk merangkul tubuh Raka, jadi dia hanya memegang pundaknya saja. Raka tidak waras, menarik gas dengan kencang. "Mau aku jambak, Kak?" bisik Dinara, tepat di telinga Raka. Lalu, Raka memelankan laju motornya.


"Lo tahu gak, kenapa gue tukar mobil sama motor?" tanya Raka. Dia menegakkan tubuhnya, agar suaranya didengar oleh Dinara.


"Nggak."


"Biar gue gak balapan mobil lagi." Ucapan itu cukup membuat Dinara lega, setidaknya Raka menurut dan mengerti perasaan istrinya. "Tapi, gue bakal balapan motor," sambungnya hingga Dinara menoyor kepala Raka.


"Mati aja, Kak," seloroh Dinara, lantaran sudah sangat kesal.


"Kalau gue mati, yakin lo bakalan gak nangis?"

__ADS_1


"Diem, Kak! Fokus nyetir!"


__ADS_2