
Setelah Nadia kembali, mereka hanya berbicara sebentar, setelah Ibu Nadia tertidur mereka bangkir dan pergi.
Hembusan angin malam terasa sejuk saat menyentuh wajah, butuh waktuk beberapa menit untuk mereka sampai dari Gedung rawat inap ke parkiran mobil.
Nadia terpesona dengan sosok pria yang berjalan di sampingnya, tanpa sengaja dia terpeleset dan terhuyuh kedepan.
“Ah” teriaknya saat melihat jika akan tersungkur, namun detik berikutnya sebuah lengan kuat melingkari pinggangnya dan menariknya keatas.
Bryan tertawa kecil dan berkata “Apa aku begitu tampan? Sampai- sampai membuatmu terpanah?”
Nadia segera berdiri tegak, dia sangat malu karena sudah tertangkap basah, dia buru- buru mengulurkan tangan dan mendorongnya menjauh.
Nadia menggigit bibir bawahnya karena cemas, dia tidak berani menatap pria tampan yang kini menjadi suaminya itu, dia sangat malu dan berkata “Terima kasih …untuk yang barusan.”
“Apa?” Bryan berbalik, sosoknya yang tinggi menutupi bayangan mungil di depannya, dia menatap Nadia sambil menyipitkan matanya “Apa kamu memiliki hobi mengatakan terima kasih? Apa bagimu aku orang lain?"
Nadia menelan luda dengan gugup dia berkata “ Aku ..”
Belum sempat menyelesaikan kalimat yang dia ucapkan, Bryan terlebih dulu menariknya kedalam pelukannya, lengannya yang kokoh melingkari pinggangnya, dan tangannya yang lain mencubit dagunya, mengangkatnya sedikt, memaksanya untuk menatap wajahnya.
“Bryan…” seru Nadia, dia sedikit panik saat melihat tatapan tajam dari suaminya.
Tatapan Bryan tertuju ke bibir mungil yang terlihat seperti kelopak bunga mawar pink yang terlihat sangat menawan, dia berbicara dengan nada rendah “Nadia aku suamiku, kedepannya kau harus terbiasa denganku, aku akan memberimu waktu seminggu, jika dalam waktu seminggu kamu masih belum bisa terbiasa denganku, maka aku akan melakukannya dengan caraku.”
Setelah mengatakan ini nafasnya terasa sangat berat, melihat tatapan mata terkejut Nadia, dia menundukkan kepalanya dan mencium bibirnya.
Bibirnya terasa manis seperti yang ada dalam mingatannya, ******* keluar dari sentuhan bibirnya, semakin di cicipi maka semakin membuatnya candu dan ingin terus melakukannya.
Nadia membeku , otaknya terasa kosong seketika saat menerima ciuman darinya, detak jantungnya kembali berdetak sangat kencang, sampai- sampai dia takut jika Bryan akan mendengar suara detak jantungnya.
__ADS_1
Bryan menutup mata Nadia dengan kedua telepak tangannya yang hangat, Nadia dicium sampai kesusahan bernafas, pipinya terlihat merona dan tubunya terasa sangat lemas.
Dengan enggan Bryan menggigit bibinya kemudian melepaskannya, Nadia terengah- engah dalam pelukannya.
Bryan menatapnya dengan tatapan berbinar, terdengar suaranya yang serak dan rendak “Apa sebelumnya kamu tidak pernah berciuman? Mengapa kamu tidak bisa bernafas saar berciuman?”
Dia terkejut saat emngetahu jika istrinya tidak memiliki pengalaman, bukannya dia sudah bertunangan selama bertahun- tahun, bagaimana mungkin dia masih belum berpengalaman dalam hal ini?
Setelah mengingat kejadian malam itu, dia tersadar jika dia adalah orang pertama mengambil kesuciannya.
Bagaimana bisa Vicky bisa menahan diri saat bersama dengannya. Sementara dia baru sehari dan dia merasa tersiksa saat berusaha untuk menahan diri!
Nadia menatapnya dengan kesal, dia melotot dan berkata “Bagaimana kamu melakukan ini kepada …”
“Tentu saja bisa” Bryan merapikan rambutnya dengan lembut dan berkata dengan serigai di bibirnya “Karena aku adalah suamimu, Jadi kamu harus segera terbiasa denganku, karena kesabaranku ada batasnya ..”
Nadia masih bersetatus sebagai mahasiswa di tahun pertama, dia masih baru saja lulus SMA beberapa bulan lalu, sampai dia memasuki mobill dia masih terbayang dengan ciuman panas itu.
Dia baru saja sadar setelah paman Selamet menerima konfir masi dari Bryan jika mereka akan pulang.
“Pulang kemana?” Tanya Nadia binggung.
“Bukankah kita sudah menikah? Apa kamu tidak pernah kepikiran jika kedepannya kamu akan tinggal bersamaku?” Ucap Bryan sambil menatapnya, dia berpikir jika pertanyaan Nadia sangat lucu.
Tepat sasaran, Nadia sama sekali tidak pernah berpikir jika Mereka akan tinggal bersama, mengingat hal itu membuat Nadia panik seketika “Aku masih seorang pelajar” Ucapnya dengan cemas “aku harus tinggal di asrama, tempatku bersekolah melarang para siswa untuk tinggal di luar!”
Sebelumnya dia berpikir jika, mereka tidak perlu tinggal bersama karena dia harus tinggal di asrama dan mereka akan jarang bertemu.
Oleh karena itu dia tidak keberatan saat menandatangi namanya di atas akte nikah, dia berpikir jika Bryan tertarik kepadanya hanya karena bosan, jika mereka tidak pernah bertemu, dia akan segera lupa dengan keberadaannya.
__ADS_1
Bryan tidak mengatakan apa- apa selama beberapa detik, dia menatapnya dengan tatapan tajamnya, bibir tipinya melengku ke atas, dia telah memahami isi pikiran istri kecilnya, dia menarik Nadia kedalam pelukannya, untuk kedua kalinya dia mencubit dagu Nadia dan berkata “kalau tidak salah besok adalah akhir pekan, aku akan mengantarmu kembali kesekolah lusa!”
Di peluk seprti ini dan duduk seperti ini membuat Nadia sangat malu dan tidak nyaman, dia segera mendorong Bryan menjauh “Bryan lepaskan aku..”
Bryan menepis tangannya dengan lembut, Nadia terlihat seperti gadis muda pada umumnya, sorot mata Bryan berbinar, dia sekali lagi menciumnya.
Nadia sangat terkejut dengan tindakannya, matanya melotot tak percaya, dia terjebak dalam situasi itu untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari satu jam, yang bisa dia rasakan adalah dominasi dari pria tampan itu.
Sementara di kursi pengemudi.
Paman Selamet melihat apa yang terjadi dibelakang dari sepion, menyaksikan hal itu dia merasa malu, dia tidak pernah berpikir jika Tuan Mudanya yang terkenal dangat perduli dengan kesucian itu akan sangat penuh dengan gairah!
Siapapun orang yang berpikir jika tuan muudanya menyimpang adalah sebuah kesalahan, dengan jelas dia menunjukkan minatnya kepada seorang wanita.
Selama ini dia khawatir jika ada sesuatu yang tidak beres dengan tuan mudanya, tapi sekarang dia bisa bernafas dengan lega.
Bryan melepaskan Nadia setelah dia kehabisan nafas “Tinggallah bersamaku saat kamu libur? Ucapnya dia terdengar sangat lembut dan tersimpan makna tersembunyi.
Nadia menatapnya, Bryan mendaratkan sebuah kecupan di keningnya dan berkata dengan lemah “Nadia jangan tolak aku, pulanglah bersamaku?”
Nadia terpesona dengan ketampanannya, dia tidak bisa menolaknya “Aku … aku tidak memiliki baju ganti.”
Bryan tersenyum dan mengecup bibirnya singkat “Aku sudah meminta seseorang untuk menyiapkan semua kebutuhanmu.”
Nadia membatu.
Semua sudah di siapkan?
Dia berpikir jika semua ini seolah telah di rencanakan sejak awal?
__ADS_1
Selama dalam perjalanan Nadia tertidur dia bersandar kesisi mobil, tapi posisinya terlihat tidak nyaman sesekali dia mengerutkan keningnya, beberapa kali kepalanya terbentur keras.
beri dukungannya ya, jangan pelit pelit makasih banyak