
“Apa alasannya kalian tidak bisa menjuanya kedapa kita?” Tanya Vicky dengan raut wajah heran.
“Kami hanya menerima perintah, jika ada sesuatu yang ingin ada tanyakan, anda bisa bertanya kepada atasan kamu” Ucap Petusa itu dengan raut wajah polos.
Sementara karyawann lain mulai merapukan barang yang tadinya dinya di dalam paper bag, di kembalikan ke ke tempat semula.
Salsa merasa sangat malu dan malu, sebelumnya dia berpikir jika Vicky akan mempu mengatasi hal ini hanya saja semua berakhir seperti ini, benar- benar hari yang memalukan.
---
Begitu Pintu mobil di buka Nadia, melihat Bryan dengan duduk malas sambil melihat layar laptop, sorot matanya yang menatap layar terlihat sangat dingin, detik berikutnya dia menoleh menatap Nadia.
Keduanya saling menatap selama beberapa saat, detik berikutnya Bryan menyuruh Nadia masuk “Kenapa masih di luar ayo masuk.”
“Ok” Nadia menepuk pipiinya kemudian segera menundukkan kepalda dan masuk kedalam mobil, bara bawaannya di taruh di sampingnya.
Pintu langsung tertutup.
Aroma maskulin Bryan tercium samar- samar, aromanya sangat segar dan elegan, detak jantung Nadia berdebar saat mengetahui jika Bryan memperhatikannyya tanpa sungkan, dia merasa sedikit tidak nyaman tepas saat dia akan berbicara.
Suara Serak Bryan terdengar berbibis di telinganya “Mengapa kamu tidak membeli sesuatu apa tidak ada sesuatu yang kau sukai? mengapa paper bag yang tadi kamu bawa? Apa sebelumnya Paman selamet tidak memberikan kartu kepadamu?”
“Aku sudah menerimanya, Untuk semua barang- banrang ini, ibu tidak bisa menerimanya karena bagi ibu ini terlalu mahal untuknya dia tidak ingin di bebani, dia memintaku untuk mengembalikannya kepadamu” Nadia mengeluarkan Black cart dari dalam tasnya kemudian menatap Bryan dengan sungguh- sungguh.
Bryan menatap dengan heran kemudian bertanya “Apa masukmu?” dengan sorot mata tajam.
Melihat tatapan tajam Bryan membuat Nadia takut, dia merasa tidak nyaman menerima sesuatu yang berlebihan seperti ini, karena selama hidupnya dia selalu berjuang sendirian.
Dengan ragu- ragu Nadia menatap sorot mata Bryan yang sangat tajam, dia menelan ludah kemudian berkata “Bryan memang benar kita sudah menikah, tapi aku masih belum bisa menerima semua ini secara tiba- tiba, aku ingin kau memberiku waktu, kita baru saja menikah, aku tidak bisa menerima ini, aku masih bisa bekerja untuk memberli kebutuhanku” Paparnya.
“selama ini aku sudah bekerja keras jika istriku tidak ingin menggunakan uangku, akan sangat memalukan jika istriku harus bekerja untuk mencukupi kebutuhannya”
“Aku…” Nadia
__ADS_1
Bryan menyela sorot matanya terlihat redup dan nada suaranya terdengar dingin “Nadia apa sebelumnya kau pernah menolak pemberian Vicky?”
Nadia terdiam, dia terus menutup bibirnya rapat- rapat , jelas selama ini dia tidak pernah menolah pemberian Vicky sama sekali, dia dan Vicky sudah mengenal selama bertahun- tahuan, bagaimana bisa situasinya di samakan?
Mereka baru saja menikah sehari, mereka belum mengenal satu sama lain, orang yang di sebut suami adalah orang asing yang baru saja dia temui, bagaimana bisa dia bisa menerima uang dari orang yang baru saja dia temui?
Saat kesal Nadia mengembungkan pipinya sambil memanyunkan bibirnya, matanya yang lebar melotot sampai ingin keluar sesekali dia akan melirik kesamping.
Melihat expresi Nadia, membuat rasa kesal yang ada di hati Bryan menghilang seketika, wanita yang dia nikahi terlihat seperti anak kucing yang sedang merajuk.
Dia tertawa kecil kemudian menarik bahu Nadia agar menoleh kearahnya “Apa kamu sedang marah?”
Nadia melirik Bryan dengan tatapan tajam kemudian menunduk, menoleh untuk membuka mulut.
Senyum di bibir Bryan terlihat sangat jelas, dia menautkan alisnya “Aku salah aku minta maaf ok? Aku sadar jika ucapanku telah melukai hatimu, sikapku terlalu buruk, apa aku telah membuatmu takut?”
Nadia menggigit bibir bawahnya, dan tatapannya masih melotot sesekali bulu matanya berkibar.
Jari- jarinya yang dingin menyentuh dagunya, saat Bryan menyebut namanya membuat detak jantung Nadia menjadi tak karuan, suara ringannya terdengar begitu sangat menggoda.
Wajahnya menjadi merona dia sampai lupa jika saat ini dia sedang marah, pria yang dia nikahi memiliki wajah yang sangat tampan dan rupawan, sorot matanya yang tajam terlihat sangat menawan.
Jika dia ceroboh dia akan tenggelam dalam sorot matanya, Nadia merasa jika dia kesulitan bernafas “Aku tidak marah” sanggahnya.
“Benarkan?” Bryan mendekatkan wajahnya, nafasnya yang hangat dan hangat memnyapu bibirnya “Jika kamu tidak marah, cium aku dan aku akan percaya denganmu.”
“Apa?” seru Nadia dengan raut wajah kaget tak terkira.
Melihat bibir ranum Nadia yang terbuka mengingatkan Bryan dengan kejadian malam panas itu, malam itu dia berkali- kali mencicipi bibir itu, bibirnya terasa sangat luar biasa lembut dan manis.
Memikirkan kejadian itu membuat Bryan terlihat berga!rah, terlihat jelas dari sorot matanya yang berapi- api.
Nadia snagat gugup dia mendoronya menjauh, dia segera bergeser menjauh menjaga jarak darinya, dengan wajah merona dia bicara dengan nada marah “Bryan kamu jangan bercanda?”
__ADS_1
Saat ini dia sangat binggung haru bagaimana, dia ingin lari untuk menyelamatkan diri, jika perlu dia ingin mengali lubang untuk lari.
Bryan menahan diri untuk tidak mencicipi Bibir itu, dia tidak ingin mebuat istri kecilnya yang baru dia nikahi takut kepadanya.
“Ehem” dia memperbaiki kancing mansetnya dan berkata “Ayo kita turun untuk makan malam, kita akan melakukan itu setelah makan.”
Buum
Seolah olah bom meledak tepat di atas kepalda Nadia, wajahnya memerah seketika, siapa yang tahu jika suaminya yang terlihat sangat dingin dan sombong itu memiliki sisi nakal seperi ini?
Apa dia juga bergini didepan wanita lain?
Sementara pengemudi.
Wajah paman Selamet memarah setelah mendengar percakapan sepasang pengantin itu, dia tidak mangaka jika Tuan Mudanya sangat ahli dalam mengoda istrinya.
Sebelumnya dia berpikir jika Tuan Mudanya tidak akan tahu cara mendekati Nyonya Muda, ternyata kekhawatirannya sia- sia.
Mereka mengahbiskan malam mereka di salah satu restoran selas atas, yang berada di lantai 70 gedung pencakar langit.
Maneger secara langsung menyambut kedatangan Bryan dan menyapa dengan hormat “Tuan Bryan.”
“Hemm” Bryan mengangguk sebagai bentuk jawaban.
Manager yang melihat Nadia keluar di belakang Bryan, penampilannya terlihat seperti mahasiswa, dia terkejut dan bertanya “ Tuan Bryan, ..?”
“Aku…” Nadia.
Sebelum Nadia menagtakan apa- apa, Bryan melingkarkan tangannya di pinggangnya membuat keduanya semakin dekat “dia istriku.”
“Nyonya muda ..?” Seru Manger terkejut denga napa yang baru saja dia dengar.
Beri dukungannya makasih, jangan pelit pelit
__ADS_1