
Setelah berpikir beberapa saat dia duduk, otaknya masih memproses apa yang telah terjadi, setelah melihat jam di ponselnya dia segera lompat dari tempat tidur, kemudian pergi kekamar mandi.
--
Nadia berada di lantai pertama, orang yang dia temui adalah pria tua dengan setelan jas hitam, memberi hormat padanya dengan menunduk “Selamat pagi Nyonya Muda.”
Nadia terkejut, dia mundur beberapa Langkah “Kamu ..?”
Pak Agus tersenyum pada Nyonya Muda yang baru menginjak usia 20 tahunan itu “Saya Agus, kepala pelayan di kediaman ini, saat ini Tuan Muda sedang sarapan, apa Nyonya Muda ingin bergabung dengannya?”
Kepala pelayan?
Jadi ini rumah Bryan?
Selama ini dia perpikir jika itu hanya sebuah Villa biasa, tapi ini adalah Mansion mewah yang lebih besar dari berkali lipat dari Villa, saat ini dia sadar jika dia kemiskinan telah membuat imajinasinya menjadi terbatas.
“Bryan masih di rumah?” dia melihat waktu di jam tangannya, dia berpikir jika Bryan sudah pergi keperusahaan.
Kepala pelayan terkejut saat Nadia memanggil Nama Bryan secara langsung, namun dia segera menapatkan ketenangannya dan mengangguk “Iya, Tuan Muda ada di rumah.”
Nadia mengangguk paham “aku ingin menemuinya, maaf karena aku harus merepotkanmu untuk mengantarku.”
“Ini sudah menjadi kewajiban saya.” Ucap kepala pelayan buru- buru, dia berpikir jika Nyonya mudanya adalah gadis yang sangat baik.
--
Setelah beberapa menit Nadia baru saja sampai di ruang makan, andai saja kepala pelayan tidak mengantarnya dia sudah pasti tersesat.
Bryan duduk di meja makan mengenakan pakaian rumahan, meja makannya sangat lebar ada beberapa meter, saat ini dia sedang menikmati secangkir kopi dengan santai, saat mendengar Langkah kali dia menoleh, melihat Nadia dengan sorot matanya yang tajam selama beberapa detik dan detik berikutnya dia dengan santai memanggilnya.
“Nadia kemarilah” Panggilnya dengan satai sambil memberinya isyarat mendekat.
__ADS_1
Nadia melangkah mendekat setelah mendengar suaranya yang terdengar sangat berwibawah.
“kenapa kamu berhenti disitu?” Tanya Bryan, dia mengetuk kursi yang ada di sampingnya dan berbicara dengan nada menggoda “Duduklah di sini.”
Sedikit ragu, Namun detik berikutnya Nadia duduk belum sempat duduk Bryan terlebih dulu mengulurkan lengannya, memeluk pinggangnya yang ramping dan membawa kedalam pelukannya.
Nadia duduk di pangkuannya. Bryan menghirup aroma manis yang tercium dari tubuhnya dan bertanya “kenapa tubuhmu harum sekali? Parfum apa yang kamu gunakan?”
Saat dia mencium aroma tubuh dari istri kecilnya, dia merasa nyaman dan rileks yang tidak bisa di jelaskan sama sekali.
Selama ini dia mengalami insomnia yang sangat berat dan saat tidur dia selalu mengalami mimpi buruk, namun tadi malam saat dia tidur bersamanya, dia tidak lagi mengalami mimpi buruk dan dia bisa tidur selama tuju jam sama seperti orang pada umumnya.
Mungkin bagi Sebagian orang ini adalah suatu yang biasa saja, namun tidak baginya ini adalah sebuah berkah.
Kehadiran Nadia dalam kehidupannya seolah membawakan Cahaya kepada dunianya yang gelap gulita.
“Aku tidak mengenakan apapun” Berada di posisi seperti ini, dia sangat malu apalagi saat ini para pelayan sedang menyaksikan hal ini “Bryan Lepaskan.”
Semantara para pelayan sangat iri saat melihat pemandangan ini, mereka berpikir jika Nonya Mudanya menerima kasih sayang penuh dari Tuan Mudanya.
Saat ini Bryan mencubit dagunya, dan memper ketat pelukannya “Semalam kamu telah memelukku, jadi kenapa aku tidak boleh memelukmu sekarang?” Tanyanya dengan wajah tanpa dosa.
Nadia terkejut dengan pernyataan Bryan “Ak .. Aku semalam..”
Bryan menyisir rambu Nadia yang menghalangi wajahnya dan berbisik “Semalam kau membuatku tidak bisa tidur nyenyak, karena kamu memelukku seperti anak kucing yang tidak mau di lepas.”
Nadia menelan ludah seketika, semalam dia sangat kelelahan dia tidak sadar sama sekali, saat ini wajahnya benar- benar telah berubah merah seperti tomat karena sangat malu.
Membayangkan jika semalam dia tidur di ranjang yang sama, membuat jantungnya bekerja sangat keras, seolah- oleh dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
“Lalu pakaianku..?” Tanya Nadia ragu- ragu.
__ADS_1
“Tentu saja aku yang menggantinya, karena aku tidak ingin orang lain melihat tubuh istriku” Ucap Bryan dengan percaya diri.
“Kamu .. kenapa kamu yang mengganti pakaianku” seru Nadia dengan wajah merona, dengan tatapan memblalak tak percaya.
Bryan menyentuh pipinya dengan sangat lembut, dengan senyuman yang tidak bisa di sembunyikan olehnya “Mengapa kamu begitu malu? Aku suamimu, sudah normal bagi suami untuk mengantikan pakian istrinya, aku berencana untuk menjadi suami yang dapat kau andalkan dalam setiap situasi kondisi.”
“Berian! Hentikan!” seru Nadia sambil menutup bibir pria yang sangat tidak tahu malu itu dengan kedua tangannya, saat ini dia sangat malu, dia tidak pernah menyangka pria dengan kesan sangat dingin seperti gunung Everest ini memiliki sisi genit seperti ini.
Sekarang dia merasa jika apa yang di katakana oleh paman Selamet tidak benar, bagaimana bisa dia segenit ini jika dia tidak memiliki pengalaman sama sekali?
Detak jantung Nadia terasa mau meledak saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya, wajahnya yang tampan mampu membuatnya semakit tersihir, bahkan membuat hatinya goyah.
Bryan dengan jilat jari istri kecilnya, sontak membuat Nadia segera menyelamat jarinya dari suaminya yang genit.
Bryan mendenkatkan wajahnya, Nadia dengan jelas bisa merasakan nafasnya yang panas mengalir di telinganya, Suaranya terdengar parau “Sayang apa kau tahu apa yang ingin aku lakukan saat ini?” Bisikannya terdengar sangat lembut “Aku ingin memakanmu!”
Ucapan itu hanya bisa didengar oleh sepasang pasutri itu, Nadia terpancing oleh rayuannya hingga membuat wajahnya merona untuk kesekian kalinya, dia mengangkat wajahnya kemudian berkata “Bryan aku lapar.”
Saat ini Pelayan membawakan sarapan untuk Nadia, salad, roti panggang, buah dan beberapa makanan lainnya, dan semuanya terlihat sangat mewah.
Bryan sama sekali tidak mempunyai niat untuk melepaskan istrinya, dia mengambil segelas susu dan menyuapkannya ke Nadia “Minum susunya dulu.”
“Aku bisa melakukannya sendiri” ucap Nadia, dia sangat malu karena suaminya memperlakukannya seperti anak kecil.
“Emm?” Bryan mengangkat salah satu Alisnya, wajahnya yang sangat tampan menunjukkan senyum licik “Apa kamu tida suka jika di lakukan secara manual? Apa kamu ingin aku memberimu dari mulut- kemulut?”
“…” Nadia. dia tidak berani merengek, dengan wajah malu dia meminum susu dari tanga pria itu.
Saat ini para pelayan yang melihat adegan itu merasa sangat iri dengan Nyonya mudanya, karena dia mendapatkan kasih sayangnya dari Tuan Muda yang terkenal dengan sikapnya yang dingin seperti gunung Everest.
Mereka juga sadar jika Tuan Mudanyya menempatkan Nadia di dalam hatinya, jadi mereka berjanji kepada diri sendiri jika mereka akan memperlakukan Nadia dengan sangat hormat.
__ADS_1
Beri dukungannya jangan pelit- pelit, makasih
Jangan lupa ikuti penulisnya.