
“Apa kamu yakin akan kembali keasrama hari ini?” Tanya Bryan, sambil menikmati secangkir kopi miliknya.
“Iya” sahut Nadia sambil menganggukkan kepala.
“Baiklah, sebelum iitu kamu harus menghabiskan ini dulu” Ucapnya sambil memberikan segelas susu ke Nadia.
Mengingat ancaman Bryan kemarin membuat Nadia dengan patuh meneguk segelas susu itu, bahkan tidak tersisa setespun.
“Aku suka melihatmu makan dengan lahap” Ucap Bryan dia menarus sepotong roti panggang di piring Nadia.
Nadia menarap potongan roti itu dengan tatapan tak nyaman, pasalnya ini sudah roti ketiga, dia berpikir jika pria ini sengaja menghukumnya, dengan ragu- ragu Nadia menyantap roti itu.
Bryan tersenyum saat melihat Nadia makan dengan lahap kemudian berkata “Nadia kamu tidak harus memakan semua itu jika kamu sudah kenyang, aku tidak bermaksud menyuruhmu untuk menghabiskan apa yang aku tahur di piringmu.”
Nadia mengangkat kepala dia menatap Bryan dengan tatapan heran, dia berpikir jika Bryan mengerjainya, dia memasang wajah cemberut dan berkata “Seheruanya kamu mengatakan ini dari tadi!”
Bryan tertawa renyah kemudian berkata “Aku tidak ingin mengganggumu karena kamu sangat imut saat makan.”
“Apa kau berpikir jika aku terlihat seperti baby yang rakus” Seru Nadia dengan wajah cemberut, bibirnya yang menyun terlihat sangat imut.
Bryan tertawa terbahak- bahak saat melihat reaksi istri kecilnya yang berlebihan “Tidak, tida kau tidak terlihat seperti baby melainkan kucing kecil yang lucu” sanggahnya dengan senyuman yang menawan.
__ADS_1
Nadia menjatuhkan rahangnya saat mendegar penjelasan suaminya yang tampan, dia segera menaikkan rahangnya dan berkata dengan nada kesal “Aku sudah selesai” Dia berdiri dan hendak pergi “kamu bisa menikmati leluconmu sendiri.”
Saat Nadia hendak melangkah pergi Bryan menariknya kedalam pangkuannya, Para pelayan dengan professional menundukkan kepala mereka, mereka sudah tidak lagi terkejut dengan keintiman mereka berdua.
“Lepaskan aku” Seru Nadia meronta.
Bryan mengencangkan cengramannya, dia mendekatkan wajahnya ke Nadia dan berbisik “Wife ini masih pagi, jika kau tidak bisa diam aku akan memakanmu disini” ucapnya dengan suara serak.
Nadia yang terkejut membuka mulutnya, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja pria tampan ini katakan, dia berpikir jika ini hanya gertakan sambal, dia terus meonta.
“Kosongkan tempat ini” Ucap Bryan dengan nada memerintah.
Detak jantung Nadia berdetak tak karuan, dia menelan ludah dengan kasar. Bryan menghujaninya dengan ciuman di wajahnya mulai dari pipi kelopak mata dan berganti kebibirnya, setelah itu dia memberi jarak satu mili dan berkata “Aku tidak pernah bercanda dengan ucapanku! Sebaiknya kamu jangan meronta jika tidak aku tidak akan melepaskanmu, patuhlah”
Nadia berhenti meronta, dengan patuh dia duduk di pangkuan Bryan.
Perjalanan ke Asrama.
Paman Selamat mengemudi mobil dengan kecepatan sedang, sementara Bryan sibuk membaca dokumen, dan Nadia menghabiskan waktunya untuk melihat pemandangan di luar jendela, sesekali dia melirik kearah Bryan yang terlihat sangat serius.
Penampilannya yang serius membuat Nadia tersihir dengan ketampanannya, siapa yang menyangka pria dingin di sampingnya itu memiliki sikap yang berbeda, baginya dia adalah pria yang sangat centil, yang suka menggangunya.
__ADS_1
Tindakannya yang sangat intim membuat jantungnya berdetak tak karuan, pria yang menjadi suaminya saat ini terlalu tampan, akan sangat mudah baginya jatuh cinta kepada pria tampan ini, namun dia selalu memberi batas pada dirinya sendiri, karena dia tidak ingin terluka untuk kedua kalinya.
Saat ini mobil Rolls Royee berhenti tepat didepan gerbang masuk Asrama, Bryan menutup dokumen kemudian menatap kearah Nadia dan berkata “Beri aku ciuman selamat tinggal” printahnya sambil menunjuk pipi sebelah kanannya.
“Hah” Nadia terkejut dengan permintaannya.
Bryan tersenyum “Jika kamu tidak memberiku ciuman aku tidak akan membiarkanmu keluar” Ucapnya dengan nada menggoda.
Nadia tahu betul jika pria ini sangat berbahaya, jika dia tidak melakukan apa yang di perintahkan dia akan memperlakukannya seperti tadi, mengingat kejadian tadi pagi membuat wajah Nadia merona, dia meyakinkan dirinya jika ini hanya subuah kecupan jadi tidak apa- apa.
Dengan terpaksa dia memberi Bryan ciuman singkat, saat dia hendak menjauh Bryan menariknya, memberinya ciuman panas, sementara Paman Selamet sudah yakin jika hal ini akan terjadi, jadi dia terlebih dulu menutup pembatas sebelum dia menginjak rem.
“Kau berbohong” Seru Nadia dengan wajah cemberut, setelah Bryan melepaskannya.
Bryan tertawa renyah, dia tidak menyangka jika istri kecilnya sangat lugu “Aku tidak bohong ini ciuman perpisahan” Ucapnya sengan senyum penuh kemenangan.
Nadia melihat bekas lipsticknya di bibir suaminya namun dia tidak berencana untuk memberitahunya, ini adalah salah satu bentuk balas dendamnya.
Nadia mendegus sambil melolot, setelah mengambil tas dia segera keluar dari mobil, sebelum pergi dia berkata “Hati- hati di jalan” Ucapnya sambil melambaikan tangan.
Bryan tersenyum tipis saat melihatnya pergi dengan wajah merona, dia menyentuh bibirnya, kemudian memberi perintah “Ayo jalan.”
__ADS_1