
Satu jam kemudian.
“Kamu sudah bangun?” Tanya Nadia.
Bryan dengan malas duduk “Berapa lama aku tertidur?” Tanyanya sambil tersenyum manis.
“Baru satu jam” sahut Nadia sambil memperbaiki roknya yang kusul.
“Ayo aku akan mengantarmu kembali” Ajak Bryan setelah beranjang dari sofa.
Nadia berdiri sambil merapikan pakaiannya, dia melihat dari yang dikenakan Bryan miring “Tungu sebentar” Ucapnya dia segera berjalan kearah Bryan, dengan kepala mendongak dia mengulurkan tangannya merapikan dasi itu. sementara Bryan memperhatikannya dengan seksama “Sudah selesai, ayo pergi” Ajak Nadia.
“Bagaimana mungkin ini sudah selesai” sanggah Bryan, dia menarik Nadia kedalam dekapannya, ujung jarinya memengang dagu Nadia, dan detik berikutnya dia menciumnya dengan penuh gairah.
Sementara Nadia memblalakkan matanya karena terkejut dengan tindakannya yang tiba- tiba, namun dia dengan cepat mengikuti ritme permainan Bryan yang mendominasi.
Beberapa saat kemudian di depan pintu lift, Nadia menundukkan kepalanya karena malu mengingat ciuman yang baru saja mereka lakukan, dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Sementara Bryan dengan gagah berdiri di sampingnya, saat dia melirik istrinya sebuah senyuman tipis menghiasi wajahnya.
Detik berikunya Nadia tersadar jika dia meninggalkan ponselnya di Restoran “Ponselku tertinggal di dalam aku akan mengambilnya sebentar” Ucapnya, dia berpikir betapa bodohnya dia sampai- sampai melupanan ponselnya begitu saja, tanpa menunggu jawaban Dari Bryan dia segera pergi dengan Langkah tergesa- gesa.
Bryan hanya tersenyum saat melihat tinggahnya yang lucu, dia memperhatikan wanita kecil itu sampai dia menghilang dari pandangannya.
Nadia bersyukur karena staf restoran menyimpan ponselnya, saat dia kembali ke ruang maka VIP mereka dengan sopan memberikan ponsel itu kepadanya “Terima kasih.” Ucap Nadia kepadanya.
“Ini sudah menjadi Sebagian dari pekerjaan kami, anda tidak perlu berterima kasih” Ucap Staf pria itu dengan hormat.
Nadia tersenyum ramah kemudian perg, di perjalan menuju Lift dia melihat Bryan bersama dengan seorang wanita, dapat di lihat dengan jelas jika wanita itu berusaha kenalan dengan Bryan.
“Menjauhlah dariku” Seru Bryan tak senang, sambil mendorong wanita asing itu tanpa ragu.
__ADS_1
“Bukannya kau sangat berlebihan!” Sanggah wanita itu tidak terima dengan perlakuan kasar Bryan.
Bryan menatap wanita itu dengan tatapan tajam, nada suaranya terdengar sangat dingin “Jika kau tidak pergi dari hadapanku, aku akan menghubungi polisi!”
Wanita itu mengidik ngeri, dir tidak menyangka pria tampan itu memiliki sifat dingin seperti ini kepadanya, dengan melihat penampilan Bryan tentu dia mengetahui jika Bryan bukan pria sembarang, karena tidak ingin masuk penjara dia segera pergi menjauh.
“Apa kau mengenalnya” Tanya Nadia saat berada di jarak dua meter darinya.
Bryan menoleh melihat sumber suara, tatapannya yang dingin kini sedah berubah menjadi tatapan penuh kasih “Tidak aku tidak mengenalnya” Ucapnya dengan Nada rendah “Apa kamu sudah mendapatkan ponselmu”
“Ya” sahut Nadia. dia tidak pernah berpikir jika Bryan akan bersikap sedingin itu kepada seorang wanita, setelah itu.
ia sadar jika Bryan selalu memperlakukannya dengan sangat bak.
Saat pintu lift terbuka Bryan membiarkan Nadia masuk duluan dan menekan tombol L1, kemudian dia menyusul. Pintu lift tertutup menuju lantai dasar.
Parkiran dalam mobil.
Bryan memperhatikan Wajah Nadia yang merona, dia tersenyum dan berkata “sepertinya akhir- akhir ini kamu sudah mulai terbiasa denganku, sebelumnya kamu selalu malu saat berasa di dekatku, sekarang hanya ada kita berdua disini bolehkah aku mencium mu?” Setelah mengatakan itu dia mencondongkan tubuhnya.
Mengetahui jika suami tampannya akan segera menciumnya, dalam hitungan detik jantung Nadia berdebar, dia menutup matanya karena gugup.
Menunggu.
Bibir hanya Bryan mendarat tepat di bibinya.
“Sudah selesai” ucap Bryan, dia mebali duduk tegak
Nadia terkejut segera membuka mata dengan bingung. Saat dia membuka mata dia melihat Bryan memasang sabuk pengaman untuknya, wajahnya merah karena malu.
__ADS_1
Dia bingung? Apakah barusan hanya sebuah ilusi?
Dia tidak pernah berpikir jika dia mengharapkan hal seperti itu, dia mengutuk dirinya sendiri karena memikirkan hal mesum.
‘Ah sangat memalukan’
Selama perjalanan Nadia selalu memalingkan wajahnya untuk melihat keluar jendela, dia tidak mau memiliki pikiran kotor saat melihat pria tampan yang sedang mengemudi mobil.
Lamborghini terparkir tepat dalam gerbang universitas.
Bryan mengambil kartu hitam dari sakunya, dia memberikannya kepada Nadia “Ini uang jajanmu ada 100 juta didalamnya, jika kamu sudah memiliki kemajuan dalam berbelanja aku akan menambahinya kedepannya”
Nadia membeku.
perintah apa ini?
Dia menyuruhnya untuk menjadi orang yang boros!
“Sudah kewajiban seorang istri menghabiskan uang suaminya, jika kamu tidak membelanjakan uang ini, aku berpikir jika aku tidak memiliki kemampuan untuk memperhatikanmu.”
“…”
“Nadia jika kamu tidak menggunakan uang ini dengan bijak, aku berpikir jika kamu tidak bisa menerimaku sebagai suamimu.”
Nadia menundukkan wajahnya dia merasakan sesuatu, tanpa dia sadari Bryan sudah memasukkan kartu itu kedalam genggaman tangannya.
Setelah memberikan kartu itu Bryan mencium keningnya “uang saku itu hanya berlaku selama sebulan, beli apapun yang kamu inginkan, kamu tidak perlu berhemat untukku, hubungi aku jika itu kurang” Bryan menyatukan kening mereka “Jangan menolaknya dan membuatku marah, OK?” imbuhnya.
Nadia tidak tahu harus bagaimana, 100 juta selama sebulan! Dia tidak tahu harus bagaimana.
__ADS_1
Suaminya sangat kaya!