Jalan Menuju Iblis

Jalan Menuju Iblis
Bab 1


__ADS_3

"Ningsih dimana di,,,dia" seorang wanita paruh baya terbaring lemas dengan selimut di badannya yang sudah menutupi separuh tubuh nya . Ia adalah nenek Sumi ibu dari Abi Hartono pemilik rumah itu.


Terlihat di dalam kamar mereka semua berkumpul mengelilingi sang nenek yang sepertinya sudah tak akan lama lagi. Ia terus saja memanggil Ningsih cucu bungsu nya yang baru berusia 8 tahun.


Tepat malam itu pukul 22:00 dihari Senin Kliwon ditemani dengan hujan deras dan petir yang begitu dahsyat, seorang wanita masuk dan membawa gadis kecil itu bersamanya.


Rianti istri dari Abi Hartono membawa sang anak bungsu bersama nya , gadis itu terlihat sedih ketika melihat nenek nya yang sudah lemas tak berdaya.


ia mendekat langkah nya terlihat berat,


"Nenek,,, kenapa?" tanya nya


"Nenek tidak apa apa,,, kamu jaga diri baik baik ya " ucap nya terbata bata sambil mengelus rambut Ningsih


"Ta,,Pi"


"cucu nenek,,, yang cantik jangan nangis ya"


"Kalian semua terutama kamu Abi jaga baik baik keluarga kita ,,, jangan sampai kalian berpecah belah " Pesan nya


"iya Bu " sahut nya mengangguk


Disebelah kiri Sang Nenek mulai mendekat seorang wanita muda ia adalah Maya menantu perempuan kedua di keluarga tersebut, bersama sang suami anak kedua dari keluarga Hartono.


Setelah ucapan itu Nek Sumi merasakan sesak di bagian dadanya, seisi ruangan terlihat panik dengan keadaannya,, diluar terdengar suara burung gagak yang tiba tiba mengejutkan mereka.


"Kwak Kwak Kwak"


Gadis adik perempuan dari Abi merasakan aura aneh ketika mendengar suara itu,, seketika bulu kuduk nya merinding ditambah dentuman petir menambah suasana mencekam.


"nenek,,," teriak Ningsih memegang erat tangan sang nenek sembari menangis tak henti henti.


Nek Sumi perlahan menutup kedua matanya tangannya sudah lemas dan akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya di dampingi anak dan cucu nya.


Ningsih sangat terpukul atas kepergian sang nenek begitupun yang lainnya, Nek Sumi sudah sakit keras sejak 3 tahun terakhir tetapi aneh nya banyak rumah sakit yang ia datangi satu pun tak bisa menyembuhkan nya.


*******


3 Tahun terakhir setelah kepergian sang nenek Keluarga Hartono berniat untuk berpindah dari rumah tersebut entah dengan alasan apa mereka mengambil keputusan tersebut.


"Mah kenapa kita harus pindah ,, disini kan banyak kenangan nenek " ucap Ningsih kebingungan


"Sayang Mamah juga sebenarnya tidak ingin pindah dari rumah ini tetapi ini semua keputusan Papa " sahut nya memberi pengertian pada Ningsih


"Mah ayok ditunggu ayah di depan" itu dia anak pertama dari Rianti , Anaya Hartono kini berusia 17 Tahun.


"Iya sayang sebentar"


"Tuh Papa udah manggil ayok sayang" ajak Rianti membawa beberapa koper beserta tas besar

__ADS_1


Gadis kecil itu terhenti menolak ajakan sang Mama ia menatap dengan penuh ketidakrelaan.


"Kenapa?" Tanya nya


"Ningsih mau ke kamar nenek dulu boleh ga Mah,,, sebelum pergi" ucap nya dengan wajah kesedihan


"Oke baik tapi jangan lama lama ya"


Ningsih mengangguk ia menutup pintu kamar nya dengan perlahan,,, gadis itu melangkah menuju kamar sang nenek yang berada tak jauh dari kamar nya.


'Clekk' pintu terbuka perlahan


3 Tahun kamar itu kosong semuanya masih terlihat sama , hanya saja saat ini ditambahkan bingkai foto sang nenek di sebelah tempat tidurnya.


Ningsih berjalan menuju tempat tidur ia duduk di tepi sembari mengelus bantal dan sprei kesukaan sang nenek ,, ia tersenyum kecil.


Hingga tiba tiba sebuah suara aneh terdengar di telinga nya


"Ning,,,sih " gadis itu terkejut ia melihat di setiap sudut ruangan mencari sumber suara


"Nenek" sahut nya spontan


"Ningsih,,,," suara itu terus menerus bergentayangan di telinga nya , ia terus mencari di sekitar kamar ,, tiba tiba jendela kamar itu terbuka.


Ningsih menengok ketakutan bagaimana tidak? Tiba tiba jendela yang sudah lama tak pernah terbuka kini terbuka dengan sendirinya.


Gadis kecil itu berjalan dengan rasa takut ia mendekati jendela tersebut, suara itu pun terdengar semakin dekat saat dirinya berjalan ke arah jendela.


"Nek...Nenek" panggil nya


Tiba tiba " Aaaaaaa" Ningsih berteriak


sekumpulan burung gagak berterbangan di sekitar nya suara nya begitu menusuk di telinga


"kwak Kwak Kwak"


"Pergi kamu burung,,,, pergi usir nya "


Tak habis disana bingkai foto sang nenek tiba tiba jatuh suaranya begitu nyaring, mendengar nya gadis itu bergegas menghampiri nya.


Ia menatap sejenak sebelum akhirnya tertegun melihat pecahan bingkai itu.


"Kenapa foto nenek bisa pecah," gumam nya


"Ayok semua sudah siap? " ucap Abi


"Tunggu pah, tapi Ningsih belum masuk" tanya Anaya


Abi spontan melihat ke kursi belakang bahwa anak bungsunya ternyata tidak ada.

__ADS_1


"kemana dia?" tanya Abi pada Rianti


Rianti agak canggung untuk menjawab suaminya " Pah dia pergi ke kamar ibu sepertinya ia tak ingin pindah dari rumah ini"


"Mama susulin aja ya kalian tunggu sini "


"Tidak usah !! "Bantah Abi


"Tapi kenapa Pah?"


"itu anak nya sudah datang" Anaya dan Rianti kompak menoleh ke arah Ningsih yang tengah berjalan membawa tas Pink nya.


ia kemudian menaiki mobil dan duduk di samping kakak nya wajah nya terlihat tegang dan keringatnya bercucuran keluar.


"Sayang? Kamu kenapa berkeringat ?" tanya Rianti agak cemas


"Hmmm gak papa Mah, Ningsih hanya sedikit panas"


"Tapi.."


"Sudah sudah yang terpenting kita semua sudah siap ,, mari kita berangkat hari sudah semakin sore" Sela Abi


"Iya Pah ayok" Ajak Anaya


Pukul 16:00 dari kediaman Hartono mereka ber empat memulai perjalanan menuju rumah baru mereka yang konon katanya lokasi nya cukup memakan waktu, rumah baru itu berdekatan dengan rumah sang adik dari Abi.


disepanjang perjalanan Ningsih hanya terdiam melihat ke arah kaca mobil, ia bahkan tak ingin tidur seperti kakak dan Mama nya


"Ningsih,,,," Suara sayup disertai angin yang mengikuti nya membuat Ningsih terkejut, bagaimana tidak? Suara itu sama persis dengan yang ia dengar di kamar nenek nya.


Gadis kecil itu membuka lebar kaca mobil dan melihat di sekitar tempat yang ia lewati,, banyak pepohonan tinggi suara itu semakin jelas dan nyaring terdengar di telinga nya.


Abi melihat dari cermin mobil tingkah anak bungsu nya yang sedikit aneh.


"Ningsih sedang apa kamu?" tanya nya


Gadis itu rupanya tak mendengar ucapan dari Papah nya , ia terus mencari sumber suara yang mengusik telinga nya itu.


"Ningsih...." panggil nya sekali lagi


Panggilan yang cukup keras membuat Rianti beserta Anaya terbangun dari tidurnya,, mereka berdua terkejut dan panik.


"Ada apa sih pah?" tanya Anaya


"Itu adek kamu, sepanjang perjalanan terus saja melihat keluar" sahut nya


"Pah sudah sabar " sahut Rianti


Ningsih hanya terdiam dan tertunduk ketika Papah nya menegur dirinya akan tingkah nya itu

__ADS_1


"Sayang kamu kenapa nak? " tanya Rianti


"Engga Mah,, Ningsih hanya melihat pemandangan saja "


__ADS_2