
Pintu ruangan itu terbuka, seluruh kekacauan di dalam rumah itu berhenti sekejap. Mbak Ratna membuka kedua matanya melihat situasi di sekitarnya sudah kembali normal tetapi barang barang beserta kursi sofa masih terlihat berhamburan.
"Kak Gadis" teriak Annaya dari dalam
Gadis menoleh ke dalam ruangan terlihat Annaya sedang tergeletak dibawah, Gadis langsung menghampiri nya dan memeluk nya.
Annaya memeluk erat Gadis sambil merintih ketakutan. Gadis menuntun Annaya keluar dari ruangan itu pelan pelan.
"Non Naya engga papa kan" ucap nya khawatir
"Bi sebaiknya kita tidak memberi tahu siapapun mengenai hal ini ,, terutama Kak Abi dan Mbak Rianti " perintah nya
"Apa yang tidak boleh kami tau" Ucap Abi menyela ucapan mereka, Abi, Rianti dan Ningsih tiba tiba datang dari arah anak tangga. Wajah Abi terlihat tegang urat urat wajahnya seperti ingin keluar membuat mereka merasa ketakutan dan kalap panik.
"Tuan Abi " sapa Bi Ratna
"Ada apa ini, kenapa seluruh ruangan berantakan seperti ini?" Tegas nya
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Rianti menghampiri Annaya yang ketakutan dan terus memeluk Gadis. Rianti mengambil Annaya dan menuntun nya untuk duduk di kursi sofa.
"Gadis jawab!!! Kenapa kalian malah diam" Tegas nya dengan suara lantang
Bibi hanya terdiam dan tertunduk ia tak berani menatap Abi jika sudah melihatnya marah seperti itu, Sedangkan Gadis mengalihkan tatapan matanya ia tak ingin menceritakan apapun tentang kejadian yang dilihat nya malam ini.
"Ohh kalian tidak ingin menjawab?? Saya yakin pasti salah satu dari kalian sudah membuka ruangan ini" Pojok Abi melihat ruangan kamar itu terbuka.
"Jawab!!!!" teriak nya, Bi Ratna sampai reflek kejang saat Abi melontarkan ucapannya yang begitu tegas.
Disisi lain Annaya hanya terdiam menangis merintih ketakutan, tak keluar satu patah kata pun dari mulut gadis remaja itu. Rianti terus menerus mencoba membujuk Annaya untuk menceritakan apa yang sebenernya terjadi. Ningsih mendekati kakak nya yang terlihat begitu ketakutan ia bertanya pada Annaya kenapa dia bisa menjadi seperti ini.
"Kakak kenapa?" Tanya nya lembut
Annaya menggeleng gelengkan kepalanya saat Ningsih hendak menyentuh tangannya, ia seperti tak ingin jika sang adik mendekati dirinya.
"Nay itu Ningsih adik kamu, ada apa sayang?" tanya Rianti bingung melihat reaksi nya.
__ADS_1
"Bawa pergi boneka itu ,,,, pergi!!!!" rintih nya berteriak menutup telinga nya
"Boneka? tetapi boneka Ningsih ada di kamar Kak , ada apa dengan boneka Ningsih"
"Sudah cukup stopppp ,,,, saya disini bertanya ada apa kenapa kalian semua hanya diam" Teriak Abi.
Rianti menghela nafas nya, kali ini suaminya sudah benar benar keterlaluan ia malah memperkeruh suasana saat putri sulungnya sedang mengalami trauma berat, Rianti berdiri menghampiri Abi dan mengatakan jika dirinya tidak perlu meninggikan nada suaranya.
"Dengar ya Saya disini kepala keluarga sekaligus pemilik rumah ini, peraturan yang saya buat kalian semua harus turuti"
"Mas tapi ini keadaan nya berbeda, Mas tau kami semua selalu mendapat teror teror yang aneh dan menyeramkan sejak kami datang di desa dan tinggal dirumah ini" Jelas nya
"Heh( senyum nya tipis) Teror kamu bilang? Saya sama sekali tidak pernah mendapat teror apapun kalian semua saja yang kampungan, tidak ada nyali dan percaya hal hal seperti itu" tegas nya
"Kak ini bukan soal kampungan, kami semua mendapat teror itu bahkan anak kakak sendiri sudah hampir kehilangan nyawanya " Sahut Gadis geram melihat tingkah kakak nya
"Oh jadi sekarang kamu sudah berani melawan ya,,, kamu tinggal disini atas persetujuan saya , kamu memang adik saya tapi jika kamu melawan ataupun ikut campur dalam urusan rumah tangga kami , saya tidak akan segan segan mengusir kamu"
"Mas"
.
.
.
Rianti dan Gadis pergi untuk berkunjung kerumah Pak RT , setelah putri nya meninggal mereka pasti bersedih dan berduka Rianti berpikir untuk membawakan kue bolu buatan nya dan berpikir untuk berbincang bincang sekaligus menghibur Bu RT.
"Semoga aja dengan ini Bu RT tidak sedih lagi ya" ucap Rianti
"Iya Mbak kasian Bu RT anak satu satu nya harus meregang nyawa dengan cara seperti itu" sahut Gadis
Di sepanjang perjalanan Rianti dan Gadis melihat para warga lainnya yang tengah mengeluarkan isi barang barang dirumahnya, bukan hanya satu tetapi banyak dari mereka yang sudah berbondong bondong membawa tas tas sepertinya berisi baju dan barang barang lainnya.
"Mbak mereka pada mau kemana sih, kayak mau pindahan" jawab Gadis tertarik tertuju pada mereka
__ADS_1
"Kita samperin aja yuk"
"Permisi ibu bapak , kenapa barang barang nya semua diluar ya?" Tanya Rianti
"Kami semua mau pindah Bu "
"Pindah? Tapi kenapa?"
"Kami takut Bu jika anak gadis kami akan menjadi korban selanjutnya dari petaka desa ini, kami rasa desa ini semakin tidak nyaman seperti desa iblis "
"Desa iblis? maaf sebelumnya Bu hidup dan mati itu kan di atur oleh yang Maha Kuasa , seharusnya kita menyerahkan semuanya pada Tuhan" Jelas Gadis
"Kalo itu saya tau,,, kami hanya mencegah sebelum semuanya terlambat, saya yakin Bu desa ini sudah tidak aman banyak sekali warga yang ketakutan dan ingin cepat cepat pindah dari sini" jelas nya
Rianti berdiri terdiam tanpa kata, kata kata yang diucapkan para warga ini merasuki pikiran nya, sebenernya dirinya juga ingin mengajak keluarganya pindah dari desa dan rumah itu. Apalagi teror sudah semakin jelas jelas terlihat.
"Mbak,,, Mbak Rianti" tegur Gadis
"Hemmm iya , yasudah kamu pamit dulu ya Bu, Pak " Ucap Rianti kembali melanjutkan perjalanan nya.
"Eh Bu Rianti" Cegah nya
"Iya Bu ada apa?"
"Saran saya mending ibu dan keluarga secepatnya pindah, apalagi rumah yang ibu Rianti huni itu dulunya adalah bekas pemuja iblis "
"Mbak sebaiknya kita pergi" ajak Gadis , ia tahu jika semakin lama mendengarkan mereka Rianti akan semakin tertekan apalagi suaminya tidak pernah mendengarkan pendapat maupun saran dari Rianti.
Di sepanjang perjalanan Rianti hanya terdiam tatapan nya kosong seperti sedang memikirkan sesuatu. Semakin hari semakin banyak omongan dan ucapan yang ia dengar mengenai rumah dan desa itu. Apalagi kematian tentang Gadis muda semakin merajalela di desa Ilir Sebrang. Sesekali ingin rasanya ia kabur dari desa dan membawa anak anaknya.
"Mbak,,, Mbak pasti lagi mikirin soal omongan ibu ibu tadi ya ,, sebaiknya mba tidak memikirkan hal itu nanti mbak bisa sakit" ucap nya
"Mbak Rianti " Panggil seseorang dari arah belakang
Terlihat Maya datang menghampiri mereka, Rianti hanya terdiam ia tak menyadari jika Maya datang ataupun memanggil nya. Gadis melihat kedatangan Maya raut wajahnya langsung berubah mengingat kejadian waktu itu yang membuat keduanya agak sedikit berjarak. Tetapi hal yang tak di sangka sangka terjadi Maya malah memeluk Gadis dengan erat seolah tak terjadi perselisihan apapun pada keduanya.
__ADS_1