Jalan Menuju Iblis

Jalan Menuju Iblis
8. Bab 8 Boneka


__ADS_3

Abi tiba dirumah membawa map map berwarna biru bersama nya, jalannya begitu pasti tatapan nya lurus tajam ke depan sehingga tak menyadari jika adik dan ipar nya datang kerumahnya.


"Mas" Ucap Rianti mendekati nya


Langkah Abi terhenti mendengar panggilan dari Rianti, ia melirik ke arah sofa berwarna coklat itu terlihat ada Putra dan Maya yang tengah duduk.


"Ada apa?" Tanya nya serius


"Ada adik kamu dan Maya itu sebaiknya Mas duduk bersama kamu sebentar" ajak nya


Abi melirik sekali lagi pada mereka berdua, mereka memberikan senyum tipis pada Abi.


Abi menghela nafas nya kemudian mendatangi mereka dan ikut bergabung bersama nya, Rianti agak canggung dengan perlakuan suami nya yang terlalu cuek.


"Mas Abi " sambut Putra menyalami nya


"Tumben banget kalian kesini ada apa?" Tanya Abi


"Iya Mas, kami mau menjenguk keadaan Anaya " jawab putra lembut


"Oh soal itu Anaya hanya kecapean aja tidak perlu ada yang di khawatirkan" ucap Abi santai


Rianti menatap Abi setelah ia mengutarakannya ucapannya, bagaimana bisa dia mengatakan hal itu tanpa melihat kondisi putri nya saat ini. Rianti menggelengkan kepalanya kedua matanya memperlihatkan betapa sedihnya dia mendengar ucapan itu.


Putra dan Maya saling menatap satu sama lain, ia memberikan kode seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan kakak nya itu.


"Tapi Kak , Anaya sangat histeris begitu melihat Mbak Rianti dan Ningsih"


"Halah dia hanya ingin waktu sendirian saja, kalo tidak ada yang dibicarakan lagi saya mau kekamar beristirahat" Ucap Abi kemudian memulai langkah nya dan meninggalkan mereka tanpa mendengar penjelasan dari sanak saudara nya


Rianti ikut menyusul dan ingin menghentikan nya tetapi percuma saja Abi tidak akan pernah mendengarkan nya sedikitpun, Maya menenangkan Rianti yang mencoba mencegah Abi , ia memberi pengertian bahwa kemungkinan Abi terlalu lelah setelah bekerja.


"Mbak udah gapapa , sebaiknya mbak pergi kerumah Mbah Surti dulu dialah yang mengurus rumah ini sebelum mba pindah"


"Mbah Surti?"


"Iya mbak, kemungkinan memang ada masalah dari rumah ini apa salah nya jika bertanya "


"Tapi May..."

__ADS_1


"Udah besok aku temenin mbak kesana ya,,, kalo gitu kita pamit ya mbak"


"Engga mau minum atau makan dulu" tawar Rianti


"Lain kali aja ya mbak,, kita juga masih punya urusan " Putra menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan dari istrinya untuk pulang kerumahnya.


****


Malam ini Malam Senin Kliwon, kondisi rumah Abi Hartono masih diselimuti oleh hawa tak enak , setiap malam selalu terdengar suara burung yang aneh, nuansa rumah yang dipenuhi barang antik dan ukuran menambah kesan mistis.


Dikamar nya Rianti begitu sangat resah ia tak bisa tidur bahkan perasaan nya begitu gelisah , sebenernya ia ingin menemani Anaya yang sejak tadi tak makan dan minum apapun tetapi dengan kondisi nya tak memungkinkan nya untuk menemui putri nya itu.


Rianti hanya duduk di depan jendela kamar nya , melihat suasana luar yang gelap dan diselimuti kabut dingin, tangannya mulai saling mengusap karna angin malam yang menusuk kulit.


Disisi lain ada Gadis dan Ningsih yang harus tidur satu kamar karena mengingat kondisi Anaya, Gadis tertidur dengan lelap membelakangi Ningsih. Sedangkan gadis kecil itu tidur dengan satu tangannya yang memeluk boneka usang itu.


Malam ini terasa berbeda Ningsih terusik dengan dinginnya malam, ia membuka kedua matanya dan menarik selimutnya terlihat disampingnya sosok Gadis tengah tertidur lelap.


Ia menyerongkan badannya tetapi ada yang hilang rasanya, gadis itu menoleh dan mencari sesuatu.


"Boneka ku" ucap nya kaget


Ia terbangun, matanya terus saja mencari ke setiap sudut tempat tidur bahkan sampai ke seluruh ruangan, Ningsih turun memakai sendal lucu nya ia melihat dibawah tempat tidur sampai lemari tetapi boneka itu tak ditemukan.


Ningsih berdiri dengan wajah bingung, ia berusaha mengingat ingat dimana ia meletakkan nya, pintu kamar itu tiba tiba terbuka perlahan Ningsih tertuju padanya


"Siapa yang membuka pintu" ketus nya penasaran


Ningsih berjalan mendekati pintu yang terbuka ia memegang dinding kamar itu menoleh kesana kemari, namun tak ada siapapun diluar.


"Tidak ada siapa siapa" ucap nya agak ragu


"Brukkkkk"


Ningsih terkejut suara itu terdengar dari arah anak tangga, ia keluar dengan langkah kaki perlahan melihat apakah sebenernya yang terjatuh. Gadis itu berdiri tepat di depan kamar ia sangat terkejut dengan apa yang dilihat nya.


"Nenek!" Ketus nya tak percaya


Ningsih mengusap kedua mata nya dan menampar pipi nya ia ingin memastikan jika ini bukanlah mimpi, Ningsih mendekati Nenek tua yang terlihat persis dengan Almarhum sang nenek , ia berdiri dibawah tepat diatas anak tangga kedua.

__ADS_1


"Nenek" ucap nya berbinar binar


Wanita Tua itu membalikkan badannya ia tersenyum pada Ningsih yang tengah mengarah pada nya , ditangan wanita itu terdapat boneka usang yang selama ini dicari oleh Ningsih.


"Nenek, membawa boneka ku" ucap nya tersenyum tipis


Ningsih semakin yakin jika yang dilihatnya adalah sang Nenek setelah melihat wajahnya , Ningsih mempercepat langkah nya ingin segera memeluk sang nenek. Tetapi semakin dirinya mendekat Nenek Sumi malah berjalan menjauhi Ningsih.


"Nenek tunggu" teriak nya


Ningsih terus saja mengikuti sang Nenek hingga tanpa sadar dirinya telah keluar dari rumahnya , setibanya diluar Ningsih kehilangan jejak sang Nenek ia kebingungan memanggil sang nenek.


"Nek ,,, nenek dimana?" teriak nya histeris


Ningsih terus saja memanggil Nenek nya hingga dirinya sadar bahwa kini dirinya berada di luar rumah sendirian, suasana begitu gelap hanya terlihat pepohonan, pagar rumah dan malam yang begitu berkabut.


Ningsih melihat disekelilingnya tak ada penerangan satu pun, ia mulai ketakutan akan kegelapan. Burung burung hantu mulai berbunyi bersahutan dengan gagak gagak yang biasa dia dengar saat dirumah neneknya dahulu.


"Gelap sekali, Mah Pah Ningsih takut " ucap nya bergidik merinding


Ningsih mulai melangkah mundur perlahan suara gagak dan burung hantu mulai mengusik keberanian, Ningsih ketakutan hingga tak melihat langkah kaki nya akibatnya dirinya tak sengaja menyandung batu dibelakangnya.


"Aduh..... Mah, Pah ,Nenek ,Kak Anaya" Ningsih merengek menangis


Ia mengusap air mata nya yang terus jatuh, kaki nya terasa begitu sakit hingga tak mampu untuk menopang tubuhnya. Dalam kegelapan luar Ningsih dikejutkan dengan munculnya boneka kesayangan nya hanya berjarak beberapa meter dari dirinya.


"Boneka ku" Ucap nya cukup gembira


Munculnya boneka itu membuat Ningsih kembali tersenyum, ia berusaha untuk mengambil nya, tetapi tiba tiba boneka itu bergerak dengan sendirinya ia berdiri di atas kedua kaki nya. Ningsih terdiam membulatkan kedua bola matanya.


Ningsih terheran heran , ia mengurungkan niat nya untuk mengambil boneka kesayangan nya dengan kedua matanya ia melihat boneka itu bergerak bahkan membalikkan tubuhnya ke arah nya , yang paling menyeramkan boneka itu membawa sebilah pisau dapur dengan mata nya yang terus bergerak.


"Hahhhhhh..." lirih nya ketakutan


"Bagaimana boneka ku bisa hidup"


Ningsih begitu terkejut dan ketakutan bagaimana tidak? Boneka yang lucu yang menggemaskan itu bisa berubah menyeramkan dengan mimik wajah yang menakutkan.


Boneka itu mulai berjalan mendekatinya membawa sebilah pisau dengan tatapan menyeramkan, Ningsih mulai merasa panik dia berusaha menjauhinya.

__ADS_1


"Mau apa kamu boneka ,,, pergi bagaimana kamu bisa...."


"Hidup? hahahahahhh...." menyela ucapan Ningsih


__ADS_2