
Setelah beberapa kejadian yang meneror seluruh keluarganya keluarga Hartono masih tetap bertahan dirumah itu , bahkan Anaya putri sulungnya yang sudah beberapa kali melihat kejadian aneh masih tetap diam.
Gadis itu sedang asik mengambil minuman yang ada dikulkas hingga tiba tiba suatu kejadian tak terduga terjadi, air keran yang berada dibelakangnya tiba tiba hidup dengan sendirinya padahal di dapur tak ada orang selain dirinya.
Anaya tertegun menatap ke arah keran yang tengah mengalir, ia meletakkan minuman dan cemilannya di meja, ia mulai berpikiran bagaimana bisa keran itu hidup.
"Apa mungkin ada yang salah dengan keran nya" ucap nya berpikiran positif
Anaya pergi mendekati nya kemudian mematikannya, ia membalikkan badannya dan hendak mengambil minuman nya tetapi lagi dan lagi Keran air itu mengalir kembali, kali ini Gadis itu mulai merasakan bahwa ada yang tak beres.
Ia berjalan mengendap ngendap mendekati keran air itu lagi, langkahnya terasa berat nafas nya mulai tak beraturan pemikiran nya tak bisa lagi di kendalikan, kini ia sudah berada tepat di depannya kedua matanya menoleh ke kanan dan kiri tangan nya ingin meraih keran air itu
Tetapi disaat yang bersamaan tiba tiba keran itu mati dengan sendirinya, Anaya terkejut hingga menutup mulutnya yang terbuka dengan spontan ia membenarkan rambutnya yang sejak tadi menutupi pelipis nya.
"Bagaimana ini mungkin "
Gadis itu mulai melangkah mundur menjauhinya, suasana di dapur itu semakin mencekam ketika ada bayangan hitam yang melintas di belakangnya, Anaya melihat ke belakang berteriak siapa itu.
"Siapa itu" panggil nya mata nya tak bisa di kendalikan lagi saat ini dirinya benar benar merasakan ketakutan yang bertubi tubi.
Tak habis disana Anaya mendengar seseorang yang tengah memanggil nama nya berulang ulang kali , suara itu terdengar sangat jelas seperti sedang berbisik di telinga nya.
"A... Naya..... A....na...ya"
"Siapa kamu " teriak nya menutup telinga nya
Gadis itu kemudian hendak berlari meninggalkan dapur tetapi seseorang memegang kaki nya hingga ia terjatuh,
"Awwww" Gadis itu begitu terlihat ketakutan ia mencoba melepas cengkeraman itu tetapi usahanya sia sia.
"Lepas,,,, siapa kamu "
ucap nya sambil menangis
"A,,,,,Naya,,,,," suara itu datang lagi
Tangan itu memiliki kuku yang runcing dan dipenuhi darah , tangan nya dipenuhi luka sobekan yang begitu mengerikan
Anaya berteriak dengan kencang tetapi tak ada yang mendengar nya gadis itu ketakutan dengan keadaan sekitarnya.
__ADS_1
"Lepass,,,, Mah,,, Pah tolong Naya " teriak nya berusaha bangkit
Nafas Anaya sudah berangsur angsur hati nya sudah dipenuhi oleh rasa takut, sosok itu mulai muncul dengan perawakan nya yang begitu mengerikan cara jalannya yang merangkak, rambut hitam menjuntai serta mata merah dan gigi runcing di penuhi darah.
"Aaaaaaaaaaa pergi kamu ....." teriak Anaya histeris
Gadis itu kemudian bangkit dan mencoba melarikan diri, tetapi semakin dirinya mencoba melarikan diri sosok perempuan menyeramkan itu semakin mendekati nya hingga di suatu titik ia terjatuh di depan pintu kamar bawah tangga.
"Ha,,,,ha,,,ha" sosok itu melompat dari dinding berjalan melewati atap rumah dengan darah yang bercucuran
"Mau apa kamu pergi tolong,,,," Kaki Anaya terasa sakit ia tak mampu untuk berlari lagi kini dirinya benar benar tak tahu harus berbuat apa lagi.
Sosok menyeramkan itu mengangkat tangannya yang di penuhi darah , ia menarik rambut Anaya ke dalam hingga badannya terbentur di sebuah kayu yang keras, rintihan dan teriakan meminta pertolongan sudah tak bisa membantu nya lagi.
"Awhhhhhhh" rintih nya terjatuh di lantai dengan posisi tubuh dipenuhi luka.
Kedua matanya tak tahan lagi untuk menahan rasa sakit, gadis itu melihat di sekeliling ruangan itu yang terlihat banyak sekali barang , tempat tidur bahkan semua cermin besar yang diisi oleh wewangian dupa dan kembang kembangan.
Yang mengagetkan adalah ketika gadis itu melihat boneka usang yang selalu dibawa oleh sang adik ada disebelah cermin antik itu.
*****
Rasa takut di dalam dirinya masih belum dapat dihilangkan dari memori pikiran nya.
Anaya terbangun dengan terburu buru , wajah nya ketakutan ketika melihat boneka yang dibawa sang adik bersama nya itu.
"Boneka itu " teriak nya membuat semua Pasang mata mengarah pada nya.
"Anaya...." panggil nya menghampiri nya dan hendak memeluknya
"Kakak ...."
Anaya menjauhkan dirinya dari sang Mamah yang hendak memeluk dirinya, ia bahkan masih histeris ketika melihat boneka Ningsih di tangannya semua orang di dalam kamar itu merasa bingung dengan keadaan nya.
"Sayang kenapa? Ini mamah... "
"engga menjauh kalian semua jauh...." teriak Anaya ketakutan
"Kak ini Ningsih kenapa kakak seperti itu" ucap Ningsih mendekati nya
__ADS_1
"Pergi kalian,,, pergi bawa boneka itu jauh jauh pergii" teriak nya menutup kedua telinga nya
Rianti sedih melihat putrinya yang bertingkah aneh, ia tak tau apa yang sebenernya terjadi pada anak nya sampai dia tak ingin di dekat nya.
"Mbak... Mungkin Anaya perlu waktu sendiri mari kita keluar" ucap Gadis
"Tapi ,,, mbak sedih melihat kondisi Anaya"
"Mah kakak kenapa? Tidak mau dekat Ningsih " tanya Ningsih bersedih
"Tidak apa apa sayang kakak hanya butuh istirahat"
Rianti membawa Ningsih keluar anak manis itu terlihat sedih ketika melihat sang kakak seperti itu, dengan perasaan berat hati Rianti menahan kesedihannya di depan anak bungsu nya itu.
Rianti berdiri di depan pintu kamar Anaya dengan wajah murung disusul dengan Maya dan Putra yang baru saja tiba dirumah mereka Maya dan suami nya tergesa gesa menaiki anak tangga terlihat pada mereka Rianti, Gadis dan Ningsih berada tepat di kamar nya.
"Mbak gimana keadaan Anaya?" tanya nya penasaran
"Iya mbak saya dapat telpon dari Gadis katanya Anaya pingsan di depan kamar nya apa itu benar?" Tanya putra
Pertanyaan keduanya sama sekali tak dijawab oleh Rianti , ia bahkan hanya terdiam menatap ke arah sudut dinding kamar Anaya, Gadis menegur Rianti bahwa Maya dan Putra telah datang.
"Mbak , ada mbak Maya dan Mas putra " ucap nya
"Hah...." sadar nya melihat kedua sanak sodara nya yang tengah berdiri tepat di sampingnya
"Maya, Putra kalian disini.... Maaf ya Mbak..."
"Udah gapapa mba kita ngerti kok mba pasti sedih dengan keadaan Naya sekarang " potong nya menenangkan Rianti
"Sebenernya apa yang terjadi Mbak? Kenapa Anaya bisa pingsan ?" Tanya putra
"Lalu Mas Abi kemana?"
Rianti membawa mereka ke ruang keluarga disana dia menceritakan bagaimana kronologi ketika dirinya melihat Anaya sudah tergeletak lemas dibawah tepat di depan kamar nya , ia juga menceritakan ketakutan Anaya ketika melihat adik nya.
"Mbak apa jangan jangan cerita tentang warga sekitar itu benar" ucap nya
"May itu hanya cerita warga disini saja tidak mungkin benar adanya" Sela Putra segera
__ADS_1
Rianti merespon ucapan Maya dengan cepat wajah nya seketika menatap tajam sang Adik ipar kening nya mengkerut seolah menandakan rasa penasaran dengan apa yang dikatakannya.