Jalan Menuju Iblis

Jalan Menuju Iblis
9. Bab 9


__ADS_3

Ningsih semakin histeris saat boneka itu semakin dekat dengan dirinya, Gadis itu berusaha bangkit ia ingin cepat kembali ke dalam rumahnya.


"Pergi kamu ,,, Mah ,,, Pah tolong Ningsih" teriak nya merintih


Boneka usang itu tertawa seram tawa nya bergema ditelinga Ningsih tangan nya membawa sebilah pisau tajam , matanya dipenuhi amarah dan dendam. Langkah nya perlahan namun pasti.


"Mamah Papah" teriak nya berusaha berdiri ,Ningsih begitu ketakutan dan panik dengan keadaannya ia mengamati di sekitarnya mencari benda yang bisa dia gunakan agar menghalau boneka menyeramkan itu.


Ningsih terus berteriak tanpa henti hingga akhirnya ia mampu berdiri walaupun kaki nya terasa begitu sakit, Ningsih berlari dengan kencang menjauhi nya ia membuka pintu utama dan langsung menutupnya. Di dalam rumah Ningsih masih terus belari dan tak ingin melihat ke belakang, ia tak memikirkan apapun lagi selain melarikan diri dari boneka itu.


"Brukkkk" Ningsih terjatuh ke lantai


"Awwwww pergi kamu pergi" teriak nya histeris Ningsih tak melihat siapa yang ia tabrak, apalagi keadaan rumah yang gelap gulita.


Gadis malang itu berteriak agar tak mendekati dirinya, ia menutup kedua mata dan telinganya.


"Ningsih sayang kamu kenapa ?"


Ningsih mendengar suara seperti mirip suara sang Mamahnya , ia tak berani membuka kedua matanya namun saat ini ia berhenti berteriak , tubuh nya masih ketakutan bahkan tangan nya terlihat jelas bergetar.


"Ningsih" Sentuh nya memegang tangan Gadis kecil itu


"Ningsih ini Mamah kamu kenapa sayang?"


Ketus nya berusaha menyakinkan


Setelah mendengar perkataan itu beberapa kali Ningsih mulai membuka kedua matanya, ia melihat bahwa sosok Rianti tengah berada di depannya saat ini, Ningsih langsung memeluk sang Mamah dengan erat dengan tangisan sendu dan rasa takut dalam hati nya.


"Ningsih liat Mamah kamu kenapa? Lalu kaki kamu?" Tanya Rianti cemas melihat keadaan Ningsih , rambutnya acak acakan baju nya di penuhi kotoran tanah bahkan kaki nya lebam.


"Mah Ningsih takut ,, Mah" Ucap nya menangis


"Takut? Takut apa sayang "


"Boneka itu"


"Boneka ? Maksud kamu boneka ini sayang?" Rianti menunjukkan nya pada Ningsih bahwa boneka kesayangan nya ada padanya

__ADS_1


Mata Ningsih membesar dengan sempurna ia terkejut dengan boneka yang ada dia tangan Rianti, setelah apa yang dia alami bagaimana boneka itu bisa bersama sang Mamah. Ningsih mulai ketakutan kembali ia menjauhi Rianti secara perlahan.


"Sayang kenapa"


Rianti bingung dengan sikap Ningsih apalagi dengan pakaian nya yang lusuh serta lebam dikaki nya. Ia menatap putri nya dengan rasa sedih keadaannya sama persis dengan sang kakak Anaya.


"Bawa boneka itu pergi Mah pergi" teriak nya


Rianti mendekati Ningsih , ia mencoba membujuknya untuk menceritakan apa yang sebenernya terjadi, Rianti berusaha untuk membuat Ningsih tenang dan percaya bahwa ada sang ibu disini yang akan menjaganya.


"Sayang sebenernya apa yang terjadi? , kenapa kaki kamu bisa luka? dan baju ini kotor sekali"


"Mah boneka itu ingin membunuh Ningsih" ucap nya ketakutan


"Boneka ini? Sayang denger Mamah ya dari tadi boneka ini bersama Mamah bagaimana dia bisa bergerak apalagi ingin membunuh Ningsih " jelas nya


"Lihat dia hanya boneka dan boneka tidak bisa bergerak sayang" Mengelus rambut Ningsih


Ningsih terdiam mendengar penjelasan dari Rianti, ia berpikir bahwa perkataan sang ibu ada benar nya tidak mungkin Rianti berbohong pada anak nya sendiri, disisi lain kejadian yang dia alami itu sangat lah nyata tidak mungkin dia hanya bermimpi.


"Tapi Mah tadi Ningsih keluar gara gara melihat nenek " jelas nya


"Yasudah Ningsih malam ini tidur bersama Mamah ya , kita obati luka nya terus ganti baju oke sayang"


"Iya Mah" Rianti membantu Ningsih untuk berdiri , ia membawa nya pergi ke kamar nya walaupun sebenernya pikirannya masih memikirkan apa yang dikatakan anak nya ditambah keadaan Anaya yang belum pulih.


Keesokan hari nya


Rianti pergi bersama Maya untuk menemui Nek Surti pengurus rumah yang saat ini dia tempati , atas saran dari Maya mereka berdua akhirnya memutuskan untuk kesana perjalanan cukup melelahkan. Rumah Nek Surti tidak begitu jauh namun letaknya di ujung membuat nya cukup kesulitan.


Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai di depan rumah Nek Surti ,tak terlihat begitu layak rumah Nek Surti hanya terbuat dari anyaman bambu dan atap sederhana berbahan genteng.


"May ini benar rumah Nek Surti? " Tanya Rianti mengamati disekitarnya


"Iya mbak Ayok " Maya menarik tangan Rianti


Rianti mengamati disekitar rumah Nek Surti banyak terlihat pepohonan bahkan dibelakang rumah Nek Surti terdapat danau yang ditutupin oleh rumput liar.

__ADS_1


"Assalamualaikum ( tok tok tok ) " Maya memberikan salam, tak terdengar sahutan dari dalam.


Rianti memegang tangan Maya mengatakan apakah ini benar rumah nya, ia agak ragu karna terlihat seperti rumah tak berpenghuni suasana disekitarnya begitu aneh, bahkan banyak sekali kembang kembang bertaburan di depan pintu rumahnya.


"Kita coba sekali lagi ya mbak" jelas nya meyakinkan Rianti


"Nek, Nek Surti " Panggil Maya cukup keras


Terdengar suara langkah kaki dari dalam disusul oleh suara tongkat yang bergilir mengetuk lantai, tak lama pintu rumah itu terbuka suara Khas pintu rumah yang sudah usang dan lapuk.


Keluarlah seorang wanita tua dengan kerutan di wajahnya, rambutnya putih sempurna memakai tongkat , dengan baju yang usang dan kemben sebagai pelengkap nya, tepat di kanan wajahnya terdapat tahi lalat yang cukup besar.


"Cari siapa ya?" tanya nya terbata bata


"Maaf Apakah Nek Surti ada?" jawab Maya


"Nek Surti, itu saya sendiri"


Rianti sejak tadi terus saja mengamati wanita tua itu, ia mendekati Maya dan memegang tangannya


"May apa benar dia Nek Surti" bisik nya


"Tapi kalo dilihat dari ciri ciri nya sih seharusnya memang dia Mbak" Ucap Maya tersenyum pada Nek Surti untuk menutupi ucapannya.


"Kalo begitu mari masuk,, kita bicarakan di dalam"


Rianti menarik tangan Maya ia agak ragu apakah langkah nya untuk datang kesini itu benar, apalagi setelah melihat Nek Surti yang menurutnya cukup misterius, Maya mengedepikan mata nya dia menyakinkan Rianti tidak ada salah nya untuk mencoba.


Maya dan Rianti memasuki rumah Nek Surti , rumah nya begitu sederhana hanya ada satu pasang kursi yang terbuat dari bambu bahkan alat makan dan minum nya pun terlihat kuno semua terbuat dari kayu.


"Mari silahkan duduk, mau minum apa?" tawar Nek Surti


"Hmmm tidak usah repot repot Nek " ucap Maya melihat keadaan wanita tua itu, untuk duduk aja ia terlihat begitu kesulitan.


"Sebenernya ada keperluan apa cucu datang kesini" Tanya Nek Surti


"Hmm sebenarnya kami ingin bertanya tentang Rumah besar di ujung desa dekat dengan pohon besar itu Nek" Jawab Maya menatap Rianti

__ADS_1


Nek Surti menatap mereka berdua dengan tatapan tajam setelah mendengar ucapan dari Maya mengenai rumah besar di ujung desa ini, Rianti dan Maya saling menatap mereka agak tegang melihat tatapan mata dari Nek Surti.


"Hmmm Nek kenapa melihat kami seperti itu?" Tanya Maya gugup


__ADS_2