
Bu RT semakin cemas dan histeris setelah melihat gelang milik sang putri di temukan di tempat ini, ditambah terlihat gundukan dedaunan di depannya menimbulkan kesangkaan dihati mereka jika ada sesuatu yang tidak beres. Dimalam sunyi tanpa sinar rembulan dengan penerangan seadanya para warga membongkar timbunan dedaunan yang menjadi dugaan sementara.
Mereka menggali terus menerus hingga tiba dititik dimana terlihat sebuah lubang cukup besar namun kedalamnya begitu rendah, warga mengelilingi lubang dan memberi penerangan untuk melihat ada apakah di dalamnya?. Betapa terkejutnya mereka ketika mata mereka melihat sesosok tubuh tergeletak tak bernyawa dengan lumuran darah di bagian tubuh serta wajahnya.
"Astaghfirullah" ucap mereka bersamaan menjauhi lubang tersebut
Warga lainnya yang melihat mereka tak jauh dari sana langsung berbondong bondong menghampirinya mereka semua penasaran dengan apa yang diliat para pria itu sampai seperti itu. Bu RT bertanya tanya apa yang diliat mereka ? Ia terus mendesak begitu keras memaksa ingin melihat langsung sendiri.
"Ada apa di lubang itu? Katakan" tekan nya
Memaksa untuk mengatakan.
Mereka semua tertunduk diam, terdiam saling dorong mendorong untuk mengatakan yang sebenernya pada mereka terutama Bu RT. Tak ada yang berani untuk membuka suaranya mereka semua hanya diam seperti batu.
"Katakan!!! Kenapa kalian semua diam" paksa Bu RT terus menerus
"i.....tu Bu RT" ucap salah seorang warga
"Itu apa katakan yang jelas " rintih nya geram melihat mereka menjelaskan dengan terbata bata
"Nias ada di dalam lubang itu dengan kondisi tak selamat " lugas nya
Bu RT terdiam denyut nadi nya seketika berhenti mendengar pernyataan darinya, ingin rasanya ia terbangun dari mimpi buruk nya seluruh warga lainnya ikuti tak percaya dengan ucapannya mereka semua saling toleh menoleh membicarakan kabar berita tersebut, Bu RT berteriak dengan keras ia marah dengan apa yang dikatakannya tidak mungkin putri sulung nya ada dilubang itu.
"Tidak mungkin!!!! Kamu pasti berkata kebohongan kan,,, jawab kalian semua jawab " teriak histeris
"Tapi benar Bu kami melihat dengan mata kami sendiri, bahwa itu adalah jasad Nias" jawab rekan lainnya
Disinilah tangis nya seketika pecah , ia tak kuasa lagi mendengar ucapan yang menyakiti hati dan perasaan nya , Bu RT terjatuh di antara dedaunan tubuhnya lemas dengan diikuti rintihan tangisan kesedihan yang mendalam ia mengatakan tak mungkin jika itu adalah jasad putri nya. Pak RT berdiri menahan perasaannya yang hancur , putri yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang harus melayang dengan cara seperti ini.
"Kalian tolong bantu jasad putri kami untuk keluar " perintah nya lemas
__ADS_1
"Baik Pak RT"
Para warga lainnya membantu proses pengeluaran jasad Nias yang terkubur dalam lubang itu, sedangkan Rianti menghampiri Bu RT merangkul nya dan coba menenangkan nya dengan segala cara, dia tau benar bagaimana perasaan seorang ibu ketika melihat jasad putri nya meninggal secara mengenaskan seperti ini.
" Eh mbak mau kemana?" tanya Gadis menghalangi Maya
"Mbak penasaran apa jasad nya Nias meninggal dengan cara yang sama seperti gadis waktu itu" ketus nya
"Mbak sebaiknya kita disini , kita tunggu para warga mengeluarkan nya"
Gadis menatap Maya dengan tatapan aneh ia merasa gerak gerik tante nya itu sungguh mencurigakan, bagaimana tidak? sejak ia datang sendirian ke dalam hutan yang gelap ini sama sekali raut wajah nya seperti orang sedang bahagia bahkan ketika kami semua berteriak memanggil nama Nias ia hanya terdiam.
"Apa ini hanya perasaan ku saja ya,,, " ucap Gadis
Kurun waktu 15 menit kemudian warga berhasil mengeluarkan jasad Nias dan itu memang benar Nias, ia membawa nya ke tempat lebih baik dan tidak banyak dedaunan berserakan disana, mendengar putri nya sudah dikeluarkan Bu RT langsung berlari dengan cepat ia tak memikirkan apapun selain melihat sang putri.
Tepat di hadapannya seorang gadis cantik yang dulunya ceria , selalu membantu nya dirumah gadis yang dia sayangi dan banggakan kini ia harus melihatnya terbaring tanpa nyawa , wajahnya pucat dengan darah yang memberiku noda jelek pada tubuhnya. Bu RT tak kuasa melihat putri nya ia menjatuhkan tubuhnya memeluk sang putri dengan erat.
"Nias putri ku,,,,, kenapa kamu meninggalkan ibu dengan cara seperti ini sayang" tangis nya
"Ibu tidak bisa lagi melihat kamu tersenyum "
"bangun sayang bangunnnnn......"
Rianti tak kuasa melihat rintihan tangisan seorang ibu yang memeluk jasad putri nya sendiri, air mata nya hampir ikut jatuh melihatnya. Ia tak bisa membayangkan jika diposisi Bu RT. Sedangkan Gadis ikut sedih melihat Nias, mereka sempat berteman dalam satu kampung namun pertemanan itu tak lagi baik ketika mereka harus mengejar cita cita nya.
Gadis melihat di leher Nias ada bekas merah seperti cekikan tangan seseorang, ia menoleh ke arah Maya tantenya yang tiba tiba berada di dekat jasad Nias, entah apa yang dilakukannya disana?. Ia mengingat perkataan Maya mengenai kematian gadis sebelumnya yang juga memiliki bekas cekikan yang sama.
Malam itu di desa Ilir Sebrang suasana berubah menjadi kedukaan, malam yang panjang rasanya sang Surya pun tak ingin ikut menyinari bumi. Jasad Nias dibawa dengan tandu yang terbuat dari bambu ditutupi kain putih dan digotong bersama oleh para warga. Tangisan menyelimuti kepergiannya.
.
__ADS_1
.
.
Pagi hari nya Rianti, Gadis dan Maya tiba dirumah Abi mereka semua duduk di kursi sofa sembari meregangkan tubuhnya semalaman mereka semua tidak tidur ikut mencari putri dari RT disana, terdengar suara anak kecil memanggil jiwa keibuan nya.
"Mamah" panggil Ningsih menuruni anak tangga
Ningsih menghampiri Rianti memeluk nya dan duduk di sebelahnya, sepertinya ia terlihat rindu dengan kepergian sang ibu semalaman.
"sini sayang,,, maaf ya mama sama kak Gadis harus ninggalin Ningsih sendirian"
"iya engga apa apa kok"
"oh ya Salim dulu sama Tante Maya " Ningsih menoleh ke arah Maya
Ningsih terdiam mematung ketika sang ibu meminta nya untuk bersalaman, ia malah memilih untuk duduk dan tak ingin mendekati bibi nya itu. Reaksi Ningsih dicurigai oleh Gadis ini kedua kali nya Ningsih tak ingin mendekati Maya entah ada apa sebenernya?.
"Ningsih kok malah duduk, Salim dulu ayok" bujuk nya
"Ningsih tidak mau Mah"
"udah tidak apa apa Mbak, mungkin Ningsih belum terbiasa melihat aku ya kan sayang" jawab Maya
"Oh iya mbak sebenernya aku mau bicara sesuatu sama mbak"
"bicara aja May soal apa?"
Maya memulai pembicaraannya mengenai ide nya agar Rianti bisa memperkerjakan pembantu dan juga tukang kebun sekaligus penjaga rumah disini, dirumah sebesar ini ia kasihan jika harus melihat Rianti bekerja sendirian apalagi saat ini kesehatan Annaya belum pulih benar.
"Hmmm sebenernya mbak belum kepikiran kesana May, karena mbak rasa mbak masih sanggup" jawab nya
__ADS_1
"Maya tau mbak engga bakal setuju, tapi mbak itu semua penting apalagi setelah kematian beberapa gadis , rumah ini perlu penjagaan dan pembantu untuk membantu merawat Annaya"