Jalan Menuju Iblis

Jalan Menuju Iblis
Bab 2. Rumah Baru


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan keluarga Hartono tiba di desa Melati tepat pukul 20:00 mereka sampai suasana desa terlihat agak berbeda dari perkampungan bisanya yang ramai penduduk.


Abi membangunkan istri dan kedua anak nya yang tengah tertidur pulas.


"Ma ,,, An, Ningsih bangun kita sudah sampai " Ucap Abi perlahan


Mereka bertiga membuka mata dan mulai melihat di sekeliling nya hanya kegelapan yang terlihat bahkan tak ada suara warga yang terdengar seperti pemukiman biasanya.


Anaya terlihat agak ragu


"Pah ini bener kita tinggal disini?" Tanya Anaya agak ragu


"Iya kenapa?"


Ia agak kaget dengan jawaban sang Papah


"Sepi banget kayak desa mati,,,"


"huss Nay ga boleh ngomong gitu malem malem ,,, ayok kita turun" bantah Rianti untuk menjaga omongan nya di tempat baru


Ningsih langsung membuka pintu mobil dan bergegas keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, gadis kecil itu melihat sekeliling halaman rumah nya yang begitu gelap tanpa penerangan sedikit pun.


"Ningsih sayang,,, tunggu Mama" Ucap Rianti melihat anak nya keluar sendirian


Gadis kecil itu tanpa ada rasa takut langsung berkeliling di halaman depan , ia melihat di setiap sudut halaman begitu gelap rumput dirumah itu juga sudah cukup panjang, bahkan ada satu pohon aneh yang tumbuh di depannya.


Pohon itu di penuhi oleh burung gagak , sejak tadi dirinya diusik oleh suara nya.


"Kwak Kwak Kwak" burung itu berkumpul dan berterbangan


"kenapa selalu ada gagak dimana mana" ucap hati nya


Sedangkan Anaya terlihat takut ketika hendak melangkah menuju pintu rumah nya, suasana mencekam dan kegelapan membuat siapapun akan bergidik ketakutan.


"Serem amat ni rumah,, lampu satu pun tidak ada, permisi " ucap nya melangkah menuju depan pintu, ia seperti maling berjalan mengendap ngendap.


Anaya melihat kesana kemari , ia bahkan canggung untuk membuka pintu rumah itu , sedangkan kedua orang tua nya tengah menurunkan koper.


"Kamu ga boleh takut Nay , tidak ada apapun dirumah ini " ucap pikirannya


Anaya menarik nafas nya dalam dalam sebelum kemudian ia memberanikan diri untuk membuka pintu itu, tangan nya perlahan lahan meraih gagang pintu dengan mata nya yang tertutup ketakutannya hingga...


"Kakak" sebuah suara mengagetkan nya dan membuat jantung nya hampir saja lepas


"aaaaaa" menutup kedua wajah nya


"Kak ini Aku Ningsih " menarik baju Anaya


Anaya menatap Ningsih dengan tajam, wajah nya sudah dipenuhi dengan keringat dingin. Rasanya jantung nya mulai tak terkendali


"Apaan sih,,, ya ampun Ningsih bikin kaget aja "


"Tapi kan,,, bukannya kamu bersama ,,,," belum saja Anaya menyelesaikan dialog nya Ningsih sudah membuka pintu rumah dan memasukinya, ia meninggalkan sang kakak diluar sendirian.

__ADS_1


"eh eh tuh anak main nyelonong aja,,, Ningsih tunggu" kejar Anaya


"Ningsih " panggilnya memasuki rumah itu, setiba diruang tamu hanya kegelapan yang bisa Anaya lihat bahkan sang adik sudah tak terlihat lagi batang hidung nya.


"Serem banget nih rumah,, kemana lagi tuh anak" ucap nya melangkah perlahan


Anaya menghidupkan senter hp nya dan mulai melihat satu persatu barang yang ada di dekat nya ,, semuanya masih tertutup kain putih persis seperti rumah lama yang sudah tak terurus.


"Ningsih kamu dimana?" Panggil nya sembari melangkah perlahan lahan, tak terdengar sahutan ataupun balasan dari panggilannya.


Hingga tiba tiba


"Kakak" terdengar suara sang adik di susul dengan sekelebat orang melintas dari arah belakang Anaya saat ini.


Anaya terkejut dan langsung membalikkan badannya, tetapi setelah diliat tak ada siapapun yang melintas.


"Ningsih,,, ga usah becanda deh" teriak Anaya mulai merasa ketakutan


"Dok dok dok "


Anaya melihat spontan ke arah pintu di bawah anak tangga itu, terdengar suara seperti seseorang yang ingin keluar dari kamar itu.


"Siapa itu?" Teriak nya memastikan


Tak ada sahutan ,tetapi suara itu masih terus terdengar kencang.


"Hallo apa ada orang" teriak nya sekali lagi


Semakin dekat dengan pintu suaranya semakin jelas, dengan penerangan seadanya dia nekat pergi dan....


"Anaya" Tepuk seseorang dari belakang


Gadis itu langsung membalikkan tubuhnya dan ternyata sang Mama yang menepuk nya, suara itu pun tiba tiba menghilang setelah kedatangannya.


"Kak kenapa tegang gitu?" Tanya Ningsih


"Ningsih? Kamu darimana aja kakak cariin kamu " melihat sang adik yang datang bersama ibu nya


"Ningsih bersama ibu diluar sejak tadi" sahut nya


"Diluar? bukannya kamu yang mengajak kakak untuk masuk ke rumah ini" Anaya berpikir kekeh bahwa adik nya lah yang barusan ia lihat


"Sayang kamu ngomong apa sih? dari tadi dia sama Mama diluar"


"Tapi Mah" bantah nya


"Sudah mari Mamah antar ke kamar kalian"


Anaya masih tidak percaya dengan perkataan sang adik , ia tetap bersikeras bahwa yang ia liat tadi itu adalah Ningsih.


"Aku yakin kalo tadi itu Ningsih" gumam nya kebingungan


*****

__ADS_1


"krekkkk" suara pintu terbuka


Rianti membuka pintu kamar Ningsih yang berada di lantai atas tepat bersebelahan dengan kamar sang kakak.


"Nah ini kamar kamu sayang" ucap Rianti


Ningsih melihat lihat barang yang ada dikamar itu dengan detail ia tak melewatkan satu barang pun yang ada di kamar itu.


Hingga gadis kecil itu tak sengaja menemukan sebuah boneka dengan rambut hitam di lengkapi pita merah.


"Mah ini boneka siapa?" tanya nya kebingungan sembari menunjukkan nya pada Sang Mamah


Rianti yang tengah merapikan barang barang Ningsih pun ikut bingung darimana boneka itu bisa ada di kamar ini, ia mengambil boneka itu.


"Hmm mungkin dulu nya ini pemilik boneka rumah ini seperti kamu sayang" ucap nya


"Maksudnya "


"Maksud Mamah,,,,"


"Mah " panggil Anaya memotong pembicaraan mereka , Anaya menghampiri mereka berdua dengan boneka di tangan sang Ibu.


"Iya sayang kenapa?"


"Itu dipanggil Papa dibawah "


"Oh iya,,, kalian tunggu disini dulu ya Mama turun dulu"


"baik Mah " ucap mereka bersamaan


Rianti turun dari anak tangga menghampiri Abi dengan masih membawa boneka itu di tangannya, Abi terlihat sedang berdiri tepat diruang keluarga.


"Ada apa Pah?" tanya nya perlahan memegang pundak sang Suami


"Saya ingin kamu dan anak anak tidak membuka ruangan dibawah tangga itu"


ucapan yang keluar dari mulut Abi Hartono tiba tiba membuat barang barang berjatuhan di samping kamar tersebut.


"brukkkkk, brukkkkk"


Rianti dan Abi sontak langsung melihat ke arah kamar di bawah tangga tersebut mereka terkejut melihat patung kayu berjatuhan secara bersamaan.


Rianti dan Abi saling menatap


"Pah ada apa ya kenapa barang tiba tiba berjatuhan" tanya nya


"Mungkin hanya kebetulan , hari sudah semakin larut sebaiknya kamu masuk kamar"


ucap nya


Wanita dua anak itu pergi dengan perasaan aneh, tidak mungkin barang itu jatuh dengan kebetulan apalagi dirinya baru saja pindah dari rumah peninggalan nenek.


Kira kira ada apa ya di dalam kamar itu?

__ADS_1


__ADS_2