
Tawaran Maya pada Rianti untuk memperkerjakan pembantu dan penjaga dirumahnya benar benar serius, sore menjelang Maghrib Maya datang kerumah Rianti dengan membawa dua orang bersamanya. Terlihat perempuan paruh baya dengan lelaki yang cukup tinggi jalannya terlihat pincang.
"Mbak Rianti" panggil Maya
Tak berselang beberapa lama Rianti keluar bersamaan dengan Gadis , Rianti menyambut hangat kedatangan Maya ia menoleh ke arah dua orang di belakang nya ia bingung dengan dua orang itu wajahnya terlihat asing.
"Siapa mereka May?" tanya Rianti menunjuk
"Ini kenalin mbak ini mbak Ratna dan Pak Karman mereka berdua ini yang mau bekerja disini mbak" jawab Maya
Ratna dan Karman memberi salam pada Rianti.
"Bekerja? Tapi kan mbak belum memberi jawaban soal itu"
"Mbak keputusan aku ini demi kebaikan mbak, kasian mbak mengurus rumah , Mas Abi dan anak anak sendirian" Bujuk Maya mendekati Rianti menyakinkan agar ia menerima saran dan menerima mereka bekerja disini.
"Mbak Maya, ini nama nya pemaksaan lagipula kami sanggup kok ngurus rumah kan ada aku " sela Gadis
"Gadis, mbak bukan memaksa ini demi kebaikan keluarga ini lagipula sedang marak teror kita perlu penjagaan dirumah " bantah Maya membela diri
Gadis menatap sinis pada Maya, ia tak terima dengan perlakuan seenaknya pada rumah ini. Rianti dan dirinya sanggup mengurus rumah dan keluarga ini mengenai teror itu tidak ada kaitannya dengan penjagaan rumah ini. Rianti memegang tangan Gadis ia memberi kode untuk tidak berbicara apapun pada Maya.
"Baiklah, kalo begitu mbak terima bantuan kamu May, kalian berdua boleh mulai bekerja dari besok pagi ya" jelas Rianti
"Baik Bu " ucap mereka bersamaan
"Terimakasih mbak sudah menerima saran dari aku" peluk Maya menoleh pada Gadis yang terlihat tidak suka jika mereka berdua diperkerjakan disini.
Gadis kembali ke kamarnya ia duduk di depan cermin sembari mengingat perlakuan demi perlakuan Maya yang lama lama semakin aneh dan seenaknya, hati nya merasa tidak suka pada Maya apalagi jika Rianti terlalu mempercayai nya.
"Clekk" pintu kamar Gadis terbuka , Ningsih memasuki kamar nya dengan membawa boneka kesayangannya bersamanya ia melihat Gadis yang tengah terlamun di depan cermin.
"Kak " tegur nya menyepuh pundak Gadis
__ADS_1
"Eh Ningsih kenapa sayang?" sapa Gadis tersenyum
"Kakak kenapa kok sepertinya sedang memikirkan sesuatu, Oh iya Ningsih dengar ada gadis yang meninggal lagi ya di desa kita " ucap nya polos
"Kakak engga apa apa kok, iya sayang Ningsih merasa engga kalo belakangan ini ada yang aneh sejak kita tinggal dirumah ini"
Ningsih menceritakan segalanya pada Gadis tentang sebelum kepindahan nya kerumah ini, dirumah lama banyak sekali hal aneh yang dia jumpai bahkan setelah pindah kemari semakin lama banyak teror gangguan bahkan mimpi mimpi buruk yang seperti kenyataan. Ia juga sering mendengar seseorang memanggil nama nya jika ia sedang sendirian.
"Kakak juga merasakan hal yang sama, sebaiknya kita ceritakan pada Mamah Rianti soal ini"
"Ningsih setuju"
"Ada satu hal lagi yang ingin kakak tanyakan, sejak pertama kali datang ke desa ini kenapa Ningsih menolak dekat dengan Tante Maya?"
"Ningsih juga tidak tahu, hati Ningsih merasa takut jika dekat dengannya, wajah Tante Maya terlihat menyeramkan jika diliat baik baik"
Jawaban dari Ningsih semakin memperkuat dugaan Maya bahwa ada yang tidak beres dengan kakak ipar nya itu, Gadis semakin berpikir jika sebaiknya ia mencari tahu mengenai Maya ia yakin tidak bisa menjalankan ini semua sendirian ia perlu bantuan Annaya meskipun Annaya belum pulih betul.
*
*
*
Maya tengah menyiapkan makan malam untuk suaminya, mereka hanya tinggal berdua dirumah yang bisa dibilang cukup mewah tak ada pembantu ataupun pekerja lainnya Maya mengurus rumahnya sendirian.
"Eh Mas malam ini Maya sudah siapkan makanan kesukaan Mas" Maya menyuguhkan masakan yang ia buat pada Putra mereka sudah menikah cukup lama tetapi belum juga dikaruniai seorang anak.
"Saya mau tanya pada kamu May, apa benar kamu memaksa mbak Rianti untuk memperkerjakan orang dirumahnya?" Tanya Putra tegas
"Memaksa? Tidak ini semua demi kebaikan keluarga mereka Mas kasian mbak Rianti mengurus rumah sendirian "
"Pasti Gadis ngadu sama Mas , dan bilang kalo saya memaksa iya kan? memang benar benar adik kamu itu suka mengadu domba kita" Oceh Maya
__ADS_1
"Sudah kamu tidak perlu membawa bawa Gadis , oh ya semalam kamu kemana? kenapa setiap jam 12 malam kamu selalu tidak ada dikamar?" Tanya Putra
Wajah Maya seketika berubah panik setelah Putra menanyakan hal tersebut pada dirinya, entah apa yang dia sembunyikan dari suami nya? Ia terdiam dan malah menyibukkan dirinya menyiapkan makanan untuk suami nya. Putra memegang tangan Maya dengan keras ia terlihat begitu kesal karena pertanyaan nya tidak dijawab olehnya.
"May saya bertanya sama kamu? Kenapa diam?" Jelas nya
Maya menghela nafasnya, ia mulai membuka suara ia mengakui sesuatu jika dirinya akhir akhir ini sering mengalami sakit di bagian perutnya dan aneh nya sakit itu datang hanya setiap malam. Ia pergi keluar hanya untuk menenangkan sakitnya dengan meminum air hangat dan segelas teh jahe yang ia buat.
"Tapi kenapa kamu tidak mengatakan itu pada Mas? dan kemarin malam Mas membuntuti kamu tengah memasuki kamar yang selama ini Mas tidak pernah masuk ke dalamnya?"
"Saya hanya ingin mengambil barang Mas, Mas kan tahu jika Maya suka mengoleksi barang barang aneh makanya Maya mengkhususkan kamar itu dan tidak membolehkan siapapun masuk ke dalamnya.
"Tapi kenapa May? Saya kan suami kamu"
Putra terus menerus mendesak Maya mengenai penjelasan kamar yang selalu ia kunci bahkan dirinya tak di izinkan untuk memasukinya, alasannya karna ia tak ingin jika suami nya merasa risih melihat benda benda aneh yang dia koleksi. Maya terus meyakinkan Putra untuk mempercayai ucapannya demi kebaikan mereka berdua.
"Mas Maya tidak pernah menyembunyikan apapun, semua ini Maya lakukan agar kita berdua bahagia dan harmonis" ucap Maya meraih tangan Putra dan meyakinkan nya.
*
*
*
Gadis membuka pintu kamar Annaya , terlihat seorang perempuan tengah terbaring tertidur dia atas ranjang dengan terbalut selimut, sudah sekitar 5 hari Annaya belum juga pulih ia sedih melihat adik nya seperti itu. Banyak sekali yang ingin dia ceritakan tetapi ia tak ingin membebani Annaya.
"An ini aku Gadis, kakak kangen sama kebersamaan kita" ucap Gadis menatap Annaya.
Annaya membuka kedua matanya ia melihat jika Gadis tengah berada di kamar nya, suara Gadis terdengar sayup sayup di telinga nya.
"Kak Gadis" ucap Annaya
"An " Gadis membantu Annaya untuk menyandarkan tubuhnya, ia masih terlihat lemas tetapi kini sudah semakin membaik. Gadis tersenyum melihat Annaya air mata nya ingin rasanya jatuh karena terharu.
__ADS_1
"Kenapa belum tidur kak? Ini sudah larut malam?"