
Hari ini desa Ilir Sebrang mengiringi pemakaman dari putri Pak RT Nias yang ditemukan tewas mengenaskan di hutan bambu, kesedihan menyelimuti pemakaman suasana haru dan duka terasa begitu kental dan pekat saat pemakaman berlangsung, air mata seorang ibu terus menerus mengalir melihat putrinya yang sudah berada di tempat peristirahatan terakhirnya.
Pemakaman dilaksanakan siang menjelang sore hari tepat dua hari setelah jasad Nias ditemukan, Bu RT tak ingin anak nya cepat dimakamkan ia ingin Nias menginap lebih lama dirumahnya, namun hal itu akan menunda pemakaman sang putri sehingga mau tak mau pemakaman harus segera dilakukan.
"Engga nyangka ya Nias akan berakhir seperti ini," ucap ibu ibu dibelakang setelah proses doa selesai
"Ini sudah kedua kali nya anak gadis desa kita meninggal dengan cara tragis, apa jangan jangan desa kita ini angker ya" sahut lainnya
Rianti dan Gadis tak ingin melewatkan proses pemakaman ini, ia juga memiliki anak gadis dirumahnya sehingga rasanya begitu sedih ketika melihat putri Bu RT harus meregang nyawa dengan cara seperti itu.
Telinga Rianti begitu tajam ia mendengar ucapan dari ibu ibu yang menduga kematian di desa ini adalah hal yang aneh dan tragis.
"Mbak..." panggil Gadis
Rianti menoleh pada Gadis , wanita itu sejak tadi terus memperhatikan omongan dari para wanita di belakangnya yang membicarakan tentang hal ini. Wajah Rianti agak terlihat cemas.
"Gadis tau, mbak pasti dengerin omongan ibu ibu itu kan" bisik nya menatap Rianti
"Mbak takut , jika memang benar desa ini angker sebaiknya kita pindah segera sebelum terjadi malapetaka lainnya" sahut nya cemas
"Mbak sudah jangan dengarkan kata mereka, sebaiknya kita berpamitan dahulu pada Pak RT setelah itu kita bicarakan lagi" saran Gadis
Rianti mengangguk dia menyetujui saran dari Gadis, dilanjutkan dengan mereka yang pamit dan memberi rasa belasungkawa atas meninggalnya putri mereka. Rianti memeluk Bu RT dan menenangkan nya jika putri nya kini sudah memiliki tempat yang indah di atas sana. Disusul dengan warga lainnya yang mulai meninggalkan tempat pemakaman.
Rianti dan Gadis berjalan menjauhi TPA kegelisahan nya tak bisa ia tutupi , terlihat jelas jika wajahnya menunjukkan ketakutan yang luar biasa apalagi setelah berbagai keanehan yang terjadi dirumahnya dan keluarganya yang mereka alami sendiri.
"Mbak ...." panggil Gadis berhenti sejenak menunggu Rianti yang tertinggal di belakang, entah apa yang begitu ia pikirkan sampai tidak fokus pada langkah kakinya.
"Mbak sebaiknya tidak usah dipikirkan, Gadis yakin ini hanya isu warga saja"
__ADS_1
"Tapi Dis, sudah ada dua korban yang meninggal tragis dan dua dua nya masih gadis diusia dini" ketus nya menggerutu
Pikirannya semakin kacau dengan isu isu warga mengenai iblis dan tumbal korban gadis gadis desa, Rianti tak sengaja menoleh ke arah pohon besar di ujung tepat di depan pintu masuk TPA tatapannya begitu tajam bola matanya membesar dengan sempurna. Gadis memperhatikan mimik wajah Rianti yang terus melihat ke arah pohon besar itu, Gadis yang penasaran lantas ikut melihatnya.
"Mbak liatin apa sih?" tanya nya penasaran
Rianti tak menjawab pertanyaan dari Gadis , ia tiba tiba pergi tanpa berbicara apapun pandangannya masih tertuju pada pohon besar itu . Gadis memanggil Rianti sampai dua kali tetapi wanita itu tak kunjung berhenti ataupun menjawabnya.
"Mbak Rianti mau kemana sih,,,, Mbakk...." teriak nya
Gadis mulai menyusul nya tetapi tiba tiba dirinya di cegah oleh Maya yang entah berasal dari arah mana?? , ia tiba tiba muncul seperti setan dan langsung menghentikan langkah Gadis yang hendak menyusul Rianti.
Gadis terkejut dengan kedatangannya, ia tiba tiba kena semprot oleh Maya , Maya bahkan tak berhenti memarahi Gadis mengenai aduan nya pada suami nya Putra.
"Stop...stop Tan sebenernya ada apa sih? Kenapa tiba tiba Tante dateng lalu marah marah" tegas Gadis muak mendengar ucapan nya
"Kamu masih tanya ada apa? Kamu kan yang udah ngaduin Tante ke Mas Putra soal dua orang pekerja yang Tante bawa itu." cetus nya tajam
"Halah kamu engga usah ngelak" Tunjuk Maya di depan wajah Gadis , emosi Gadis semakin tersulut saat Maya terus mendesak nya dan menuduhnya tentang ia yang memaksa Rianti memperkerjakan kedua orang itu.
"Tan , jangan kira aku lebih muda dari Tante terus aku engga berani, tanya sama Kak Putra dan satu lagi jangan pernah Tante angkat tangan Tante ke aku" Tegas Gadis kesal
*
*
*
Disisi lain langkah Rianti akhirnya terhenti ketika dirinya tiba di depan pohon besar itu, ia menghentikan seorang nenek yang tengah mengintip nya sejak tadi. Nenek Tua itu membawa tongkat berpakaian hitam dengan rambut putihnya.
__ADS_1
"Tunggu..." cegah nya
Sontak Nenek tua itu membalikkan tubuhnya, punggungnya terlihat agak membungkuk Rianti begitu penasaran dengan Nenek Tua itu, dan setelah melihat wajahnya betapa kagetnya dirinya, Nenek itu adalah Nek Sumi wanita tua di sebrang danau yang ia kunjungi waktu itu.
"Nek Sumi" kejut nya tak menyangka
Nek Sumi tertawa dengan renyah setelah melihat Rianti mengenali dirinya.
"Nek Sumi ngapain disini? Rumah Nenek sampai kesini itu cukup jauh tapi..."
"Saya bisa pergi kemanapun yang saya mau, sebaiknya kamu tidak tergesa gesa dalam mengambil sebuah keputusan " cetus nya
Rianti terdiam kening nya tiba tiba mengkerut menandakan jika dirinya sedang bingung dengan apa yang dibicarakan Nenek Tua ini. Pertanyaan nya penuh dengan teka teki sama seperti pada saat awal dirinya datang mengunjungi nya.
"Maksud Nek Sumi?"
"Ini bukan tempat tinggal mu, pulang lah segera sebelum semuanya terlambat, semua akan lenyap dengan lautan darah " Ketus nya diringi dengan tawa nya
"Nek kenapa selalu berbicara teka teki, apa yang terlambat? Apa yang akan menjadi lautan darah?" pertanyaan di kepala Rianti semakin penuh setelah mendengar perkataan dari Nek Sumi
Nek Sumi menunjuk ke arah TPA Rianti mengamati petunjuk yang Nek sumi berikan, ia menoleh ke arah pintu masuk menyudut ke tempat dimana tadi dirinya berdiri dengan Gadis. Rianti terus mengamati nya namun tak terlihat apapun hanya kesunyian dan pepohonan yang dapat ia lihat. Rianti memanggil nama Nek Sumi ia mengatakan tidak ada apapun disana.
"Nek.... Tidak ada.....ap....Apun" Balik Rianti menoleh ke belakang. ia kebingungan setelah menoleh ke arah Nek Sumi, tiba tiba wanita tua itu menghilang dari tempatnya. Rianti mengamati sekitarnya mencari cari keberadaan Nenek Tua itu tetapi ia tak melihatnya lagi.
Rianti terus memanggil nama nya berulang ulang kali tetapi Nek Sumi tak kunjung terlihat juga. Rianti akhirnya memikirkan perkataan demi perkataan yang Nek Sumi ucapkan padanya.
"Mbak " tepuk Gadis mengejutkan Rianti
"Eh Gadis mbak kira siapa" ucap nya menghela nafas nya
__ADS_1
"Mbak ngapain sih disini? Gadis panggil dari tadi mbak engga denger" Gadis melihat lihat tempat disekitar nya yang dipenuhi semak belukar dan pepohonan tinggi.
"Hmmm kita pulang aja yok, kasian Ningsih sama Annaya dirumah " Ajak Rianti menarik tangan Gadis untuk kembali kerumahnya