
''POV ALINE ON''
Lengkaplah sudah sepi ini mengurung sendiriku.
Terkulai dikunyah nelangsa yang berapi-api,
Menyusuri jalanan lengang.
Bersimbah angan tanpa tujuan
Dalam derap gerimis yang pongah menghujam,
Terbuai wajahmu menyusup bertubi-tubi
Membawa sebaris kata bahagia yg menenggelamkan nurani.
Di atas pengharapan tak berkesudahan
Tentang rindu kusam
Tentang cinta terbuang
Mengutip satu namamu di antara keluh kesah.
Gundah gelisah, air mata, dan lara
Masihkah ada sedikit senyum darimu
Di batas penantianku yang kini makin terbata.
Jika masih ada ruang di hatimu
Untukku, sedikit saja, tolong bicaralah
Pada tanah membentang,
Pada pohon-pohon rindang.
Dan angin yang mengusik keangkuhan.
Setidaknya biar ada tanda yg bisa kubaca dan kuraba,
Janganlah sepi yang hadir.
Janganlah semu yang membeku,
Karena aku selalu berjalan menujumu.
Aku ini manusia,
Terdiri dari darah dan nadi.
Bukan kabel dan oli.
Terus dihajar tuntutan.
Segala harus runtut dan manut
Dengan embel-embel, kamu besok mau jadi apa?.
Aku ini manusia
Terdiri dari syaraf dan hati.
Bukan dari mesin dan besi
Jadi jangan kaget suatu saat mata ku merah.
Hati ku bergejolak kepanasan,
Otak mumet banyak tuntutan.
Badan lemes kebanyakan beban,
Telinga tuli banyak kotoran.
Inikah cinta?
Mengapa penuh derita?
Jika ada dia,
__ADS_1
Mengapa harus ada aku.
Jika ingin keduanya
Bersiap untuk kehilangan salah Satu.
Hati tak bisa dibelah,
Dia akan retak sendirinya.
Saat itu terjadi,
Jangan berharap dia menyatu kembali.
Jika perkara mengiklaskan itu mudah
Sudah ku lakukan sebelum kau menemui nya.
Nyatanya perihal melepaskan
Tak semudah menjatuhkan.
Jika dahulu dia sudah ada
Mengapa kau usik aku?.
Seolah kau bilah hati ini menjadi kepingan tak bersalah
Lalu sekarang apa?.
Aku pergi menjauh?
Kau mengujiku?
Kata-kata hanyalah asap bagiku
Tidak bisa ku tangkap.
Terbang ke langit menjauhiku,
Aku melihat asap berkumpul dengan awan.
Lalu turunlah hujan ,Itu bagian darimu.
Hujan tidak bisa bertahan lama.
Berhenti, lalu tanah menyerap air.
Kau pun menghilang!
Hangatnya perapian malam
Mengingatkanku akan hangatnya pelukanmu.
Kesejukan sungai kebahagiaan,
Bagai menatap senyummu,Damainya jiwaku.
Di mana belas kasih itu?
Bersamamu seperti mimpi semu.
Hanya bisa merasakan abadinya duka dan luka.
Dalam hati tersimpan banyak doa,
Bisa saling mencintai,Bersama sampai tua. Bersatu hingga mati.
Namun apa yang terjadi kini?
Biarlah langit yang memutuskan.
Satu keinginan, Menciptakan bahagia bersamamu.
Tak semudah yang ku duga, Bagaimana harus ku hentikan air mata?
Impian ku hanya sebatas dalam mimpi
Biarlah langit yang memutuskan.
Tentang akhir cerita cinta ku
__ADS_1
Lengkaplah sudah sepi ini mengurung sendiriku.
Terkulai dikunyah nelangsa yang berapi-api. Menyusuri jalanan lengang
Bersimbah angan tanpa tujuan.
Dalam derap gerimis yang pongah menghujam.Terbuai wajahmu menyusup bertubi-tubi
Membawa sebaris kata bahagia yg menenggelamkan nurani. Di atas pengharapan tak berkesudahan
Tentang rindu kusam.
Tentang cinta terbuang
Mengutip satu namamu di antara keluh kesah.
Gundah gelisah, air mata, dan lara
Masihkah ada sedikit senyum darimu.
Di batas penantianku yang kini makin terbata.
Jika masih ada ruang di hatimu Untukku, sedikit saja, tolong bicaralah
Pada tanah membentang, Pada pohon-pohon rindang
Dan angin yang mengusik keangkuhan.
Setidaknya biar ada tanda yg bisa kubaca dan kuraba, Janganlah sepi yang hadir,
Janganlah semu yang membeku.
Karena aku selalu berjalan menujumu
Di bawah hamparan gelap luas yang bertabur bintang.
Aku menatap satu bintang yang paling terang.
Aku menatapnya dengan penuh harapan, Seolah itu kau Yang kini jauh seakan hilang..
Selama ini, Aku mencoba tuk selalu mengerti hatiku. Namun ternyata semua masih semu ku rasakan.
Nama yang terukir dalam karang hatiku
Kini seakan terkikis
Oleh ombak yang menghantam..
Aku dan jenuhku, bersama membisu, Terlalu jauh untuk meraih bintang yang sedang ku tatap.
Aku dan senyumku,
Mengikuti diam termenung
Namun tercipta sebuah mimpi
Yang hilang hanya dalam sekejap.
Teriakan Hati,
Disaat terpikir tentang mu
Yang entah ada di mana.
Terkadang hati teriak dengan kehampaannya.
Mencari dan menunggu hati cintanya.
Ku menangis tanpa air mata, Ku teriak tanpa suara.
Hanya merasakan sakitnya hati.
Begitu tersiksa menunggu yang di nanti
Begitu berat melepaskan rasa ini. Yang sudah merasuk dalam hati.
Mungkin bila aku nanti mati,Sesalku akan abadi. Akankah penantian ini berujung bahagia. Ataukah hanya asa semata.
Tapi hatiku kan selalu tegar menghadapinya. Walau akhirnya hanya membuat luka.
POV ALIN OFF.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸