
Di meja makan, sepasang suami istri ini hanya diam, bahkan Ayu lebih fokus menikmati makanannya, lain halnya dengan Wawan, pria ini merasa aneh dengan sikap istrinya yang tampak acuh bahkan tidak menghiraukan dirinya.
"Ehem.. tumben kamu diam saja?" Tegur Wawan.
"Jadi aku harus seperti apa? Bukannya kamu capek mendengar ocehan ku terus." Ucap Ayu datar.
"Ya, bagus kalau kamu sudah sadar." Ucap Wawan.
Ayu menyunggingkan senyumnya kemudian ia bangkit menaruh piring kotornya ke tempat cucian setelah itu ia pergi begitu saja masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan suaminya.
Wawan mengepalkan tangannya keras, amarah di dada semakin membuncah tak kala Ayu mengacuhkan dirinya. Pria ini bergegas menghabiskan makanannya kemudian menyusul Ayu sedang duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Yu, kamu kenapa?" Tanya Wawan.
"Apa nya yang kenapa?" Tanya Ayu balik.
"Aku perhatikan sikap kamu makin hari makin dingin kepada ku bahkan kamu bicara hanya sekedarnya saja."
Ayu menghembuskan nafasnya kasar.
"Apa salahnya? Bukankah kamu yang menyuruh ku untuk diam dan harus menurut apa saja yang kamu perintahkan, aku banyak bicara salah, diam apalagi. Jadi aku harus bagaimana?"
Plak!
Untuk kedua kalinya Wawan menampar Ayu. Ayu hanya diam tanpa melawan.
"Kamu sudah berani, aku suami kamu, Yu!" Sentak Wawan.
"Serba salah aku menghadapi kamu, seharusnya yang capek itu aku bukan kamu." ucap Ayu kemudian membaringkan tubuh dan menutupnya dengan selimut.
Wawan mendengus kesal dan seperti biasa ia akan pergi ke rumah ibunya.
"Ibu itu heran sama kamu, Wan. Setiap kesini pasti muka mu kusut begitu."
Wawan menghembuskan nafasnya kasar.
"Entahlah, Bu. Akhir-akhir ini Wawan dan Ayu sering sekali berdebat masalah uang. Padahal selama ini Wawan sudah ngasih dia jatah tapi tetap saja dia merasa kurang terus."
"Salah kamu sendiri kenapa dulu kamu memilih dia, ibu sudah bilang sama kamu mending pikir-pikir dulu sama perempuan seperti Ayu. Ayu itu sudah miskin, boros lagi." Ucap Bu Nining.
"Mending kamu cari yang lain aja, Wan. Lagipula kamu gak jelek-jelek amat, pekerjaan mu juga sudah tetap. Kamu cari istri baru yang pandai-pandai mengatur uang." Usul Lisa.
"Nah, ibu setuju sama Lisa, mending kamu ganti istri aja lah, Wan." Ucap Bu Nining yang setuju dengan usulan anak sulungnya.
"Tapi Wawan mencintai Ayu, Bu. Mana bisa Wawan meninggalkan ayu."
"Makan cinta gak bikin kamu kenyang, lihat tuh! badan mu kurus kering seperti itu." Cibir Lisa.
Wawan hanya diam, meskipun setiap hari terjadi perdebatan antara dirinya dan Ayu, tidak bisa di pungkiri bahwa ia sangat mencintai Ayu.
__ADS_1
Pukul dua belas malam barulah Wawan pulang kerumah, Ayu yang belum tidur langsung bergegas pergi keluar ketika pintu depan di buka. Kesal, marah dan jengkel bercampur jadi satu.
"Mas, kamu itu bisa nggak kalau malam, diam aja di rumah? kamu hampir tiap malam ke rumah ibu kamu terus!" Protes Ayu.
"Lah memangnya kenapa, lagipula dia ibu, apa salahnya? Dasar kamu aja yang cerewet!"
"Tapi aku sendirian terus di rumah, gak punya teman!"
"Salah kamu, ku suruh ikut ke rumah ibu gak mau!"
"Andaikan ada anak, pasti aku gak kesepian seperti sekarang ini." Singgung Ayu.
"Halah... kamu ini banyak cingcong. Sana ke kamar lagi, tidur!"
Ayu tidak menjawab, wanita ini berlalu begitu saja kembali ke kamar.
Keesokan paginya seperti biasa Wawan sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Pria ini begitu heran ketika melihat di meja makan ada beberapa macam hidangan yang lezat.
"Wah, kamu masak sebanyak dan seenak ini dapat uang darimana?" Tanya Wawan dengan ekspresi wajah kegirangan.
"Mas gak perlu tahu, sebaiknya cepat makan nanti keburu dingin loh." Ucap Ayu.
Tak ambil pusing, Wawan langsung saja melahap makanan di atas meja bahkan pria ini mencoba semua makanan yang di atas meja satu persatu.
"Nah apa ku bilang, kalau kamu pintar ngatur keuangan pasti kita makan enak terus seperti ini." Ucap Wawan di sela makannya.
Ayu hanya bisa geleng-geleng kepala. Terdengar dari luar seseorang memanggil manggil nama suaminya, Ayu sudah tahu pasti itu adalah ibu mertuanya.
"Wan...!" Seru Bu Nining.
"Uhuk...uhuk... Ada apa sih Bu, kok pagi-pagi udah teriak?"
"Kamu itu kalau lagi makan enak, lupa sama ibu kamu sendiri!"
Wawan menghembuskan nafasnya kasar.
"Bukan begitu maksud Wawan, Bu. Hanya sajaa-"
"Halah cerewet kamu, Pokoknya ibu mau semua makanan di atas meja ini di bungkus!" Titah Bu Nining.
"Loh gak bisa gitu dong, Bu. Kalau di bungkus semua, Ayu sama mas Wawan makan apa!" Ucap Ayu yang merasa geram.
"Heh, kamu ini pelit banget sama mertua sendiri!" Sentak Bu Nining.
"Bu, apa yang di katakan Ayu memang benar!" Ucap Wawan yang membela istrinya.
"Bela terus istri kamu yang pelit ini!" Kesal Bu Nining.
Wawan bingung di posisi seperti ini, akhirnya ia memutuskan untuk menyuruh Ayu memberikan semua makanan ini ke ibunya.
__ADS_1
"Tapi, Mas--"
"Sudah, Yu. Nanti mas kasih uang belanja lebih." Bujuk Wawan.
Dengan kesal Ayu pun membungkus semua makanan yang ada diatas meja hingga tak bersisa sedikitpun.
Terlihat raut wajah Ayu begitu datar, tak ada sedikitpun senyuman.
Setelah membungkus semua makanan, Ayu pun berlalu begitu saja dengan membawa piring dan mangkuk bekas sisa makanan tadi.
Dalam hatinya Wawan merasa sangat bersalah kepada Ayu. Apalagi melihat wajah Ayu yang kusut begitu.
"Nah, gini dong! Dah Wan, ibu pulang dulu!" Ucap Bu Nining dengan sumringah.
"Eh tapi Wan, ibu minta uang dong dua ratus ribu. Buat bayar arisan ibu yang udah telat dua Minggu."
Wawan menghela nafa panjang, lalu melirik ke arah Ayu yang sedang mencuci piring. Dengan hati-hati Wawan pun mulai mengeluarkan dua lembar kertas berwana merah dari saku celananya.
Bukan tak melihat, bukan tak mendengar, Ayu justru mendengar jika ibu mertuanya meminta uang lagi. Tapi kali ini Ayu sudah habis kesabarannya dan hanya memilih untuk diam saja seolah tak perduli lagi.
Sampai punggung ibunya tak terlihat lagi, barulah Wawan menghampiri Ayu.
"Kamu marah, Yu?" Tanya Wawan pada Ayu yang masih mencuci piring.
Tanpa menjawab, Ayu hanya menggelengkan kepala saja.
"Kalau nggak kenapa kamu cuma menggelengkan kepala saja ?" Tanya Wawan.
Ayu menghembuskan nafas kasarnya.
"Lalu aku harus bagaimana, Mas? Harus jawab apa? Toh, lagian kalau aku ngelarang kamu buat kasih ibumu pasti kamu akan bilang aku yang bukan-bukan." Ujar Ayu.
Wawan seperti kehabisan kata mendengar jawaban Ayu yang begitu panjang. Dia merasa Ayu bukan seperti Ayu yang dulu. Ayu sekarang begitu tegas sehingga membuat ia terus tersudut.
"Ya sudah kalau begitu mas berangkat kerja dulu." Ujar Wawan.
"Mas, tunggu!"
"Ada apa lagi, Yu?"
"Katamu mau kasih uang belanja lebih, lalu mana uangnya?"
"Bukannya kamu sudah tahu ya kalau uang nya sudah mas kasihkan semua sama ibu?" Tanya Wawan balik.
Lagi, Ayu hanya bisa menghela nafas panjang.
"Yasudah kalau begitu, tidak ada makan malam, malam ini!" Ujar Ayu
"Loh kok gitu sih, Yu!" Ujar Wawan yang merasa tak terima.
__ADS_1
"Kamu pikir aja sendiri!" Ucap Ayu kemudian wanita ini berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Wawan.