Jangan Salahkan Aku Meminta Cerai

Jangan Salahkan Aku Meminta Cerai
Eps 7


__ADS_3

"Wan, mana uangnya?" Bu Nining menyodorkan tangannya ke arah Wawan.


"Uang apa, Bu?" Tanya Wawan.


"Loh masa kamu lupa, kan tempo hari yang lalu kamu udah janji sama ibu mau ngasih uang bonus kamu untuk ibu beli perhiasan."


"Eh.. Iya Bu. Wawan lupa." Ucap Wawan kemudian mengeluarkan uang dari dompetnya sebesar dua juta rupiah.


Bu Nining tersenyum sumringah lalu cepat-cepat memasukan uangnya ke dalam kantong celana ketika melihat Lisa anaknya pulang.


"Kamu gak usah kasih tau kakakmu!" Bisik Bu Nining.


"Ibu tenang saja, kalau kak Lisa tau pasti dia pasti juga minta uang Wawan." Bisik Wawan.


"Wan, kakak minta uang dong!" Ujar Lisa.


"Aku udah gak punya uang, uang ku udah aku kasih semua ke Ayu." Bohong Wawan.


"Wawan kamu itu jadi suami jangan mau dibodoh- bodohin istri kamu! Kamu yang kerja capek-capek, eh malah istri kamu yang menghabiskan uang kamu!"


Wawan hanya diam, kakaknya tidak tahu saja bahwa uangnya habis ia kasihkan kepada Bu Nining.


Keesokan paginya, seperti biasa Ayu bangun pagi-pagi lalu membuat sarapan. Setelah selesai memasak, Ayu pergi ke kamar untuk membangunkan suaminya. Wawan bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian sarapan.


"Yu, ini uang belanja." Wawan menaruh uang tiga puluh ribu di atas meja.


Ayu mengerutkan dahinya, uang belanja yang biasanya limapuluh ribu sekarang turun menjadi tiga puluh ribu.


"Mas, kamu gak salah ngasih segitu?" Tanya Ayu.


"Nggak salah, Yu. Pokoknya itu uang kamu irit-irit sampai besok. Mas, udah nggak punya uang lagi." Ucap Wawan seketika membuat mata Ayu terbelalak.


"Mas...! Ini mana cukup buat beli lauk pauk sampai besok, kamu ini gimana sih mas?"


"Jangan membantah, Yu! Kalau kata ku harus irit ya harus irit. Aku suami kamu jadi kamu harus nurut sama aku."


"Tapi gak gini juga, mas kenapa kamu ngasih aku cuma segini, hm?" Tanya Ayu yang masih tak percaya.


"Kamu bisa gak jangan membantah suami kamu, hah!" Sentak Wawan. "Ah... udahlah! Capek aku sama kamu!" Ucap Wawan kesal, pria ini pun pergi begitu saja tanpa menghabiskan sarapannya.


Ayu menghembuskan nafasnya kasar, wanita ini pun segera bersiap-siap untuk berangkat kerja karena hari ini hari pertama ia bekerja. Ia tidak mau merusak moodnya jadi ia memutuskan untuk tidak ambil pusing dengan perdebatan pagi ini.


"Ayu, siang ini kamu temani saya meeting." Ucap Sadam.


"Baik, pak!"


"Oh ya, sudah saya bilang jangan panggil Pak."


"Tapi pak, saya merasa kurang nyaman jika memanggil atasan saya dengan sebutan selain pak."


"Baiklah!" Ucap Sadam.


"Ada yang bisa saya bantu lagi?" Tanya Ayu


"Tidak ada, silahkan kamu bekerja kembali!" Ucap Sadam.

__ADS_1


"Baik, pak!" Jawab Ayu.


Di dalam ruang kerjanya, Sadam terus saja memperhatikan Ayu yang sangat fokus sekali mengerjakan tugasnya, Sadam yang melihat pun tersenyum dan sangat kagum pada Ayu.


"Namanya cantik, orangnya pun juga cantik." Gumam Sadam. "Eh.. ngomong apa aku barusan." Sadam menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tok... tok...


"Masuk!" Titah Sadam.


"Pak, bapak harus menandatangani berkas ini." Ucap Ayu.


Sadam mengangguk lalu menandatangani berkas tersebut.


"Terimakasih, pak! kalau begitu saya permisi dulu."


"Ayu..!" Panggil Sadam dan Ayu menoleh.


"Ada yang bisa saya bantu, pak?"


"Sebentar lagi jam istirahat, nanti kamu temani saya makan, ya." Ujar Sadam.


"Maaf, pak saya tidak bisa karena banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." Tolak Ayu halus.


"Baiklah." Ucap Sadam yang sebenarnya ingin mengenal Ayu lebih jauh lagi.


"Kalau begitu saya permisi dulu, pak!" Ucap Ayu lalu Sadam mengangguk.


Jam makan siang hampir habis tapi Ayu belum juga beranjak dari mejanya, Sadam yang kebetulan akan masuk ke dalam ruangannya melihat Ayu yang masih bekerja.


"Yu, kamu gak keluar makan siang, udah jam berapa ini?" Tegur Sadam.


"Hampir jam satu, pak!"


"Udah, kamu makan dulu pasti kamu laper."


"Nggak usah, pak! Udah jam segini. Sebaiknya saya lanjut kerja aja, Pak!"


"Hem.. Baiklah!" Ucap Sadam, pria ini tidak jadi masuk ke dalam ruangannya. Ayu heran, tapi ia tidak ambil pusing.


Beberapa saat kemudian, Sadam kembali lagi dengan membawa bungkus makanan dan satu cup minuman.


"Ini buat kamu." Sadam meletakkan di atas meja.


"Loh pak, gak usah."


"Gak apa-apa, anggap saja hadiah karena kamu sudah bekerja keras hari ini." Ucap Sadam.


"Saya jadi gak enak sama bapak, sudah merepotkan." Ucap Ayu tertunduk.


"Sudah, tidak perlu merasa bersalah begitu. Cepatlah dimakan, kamu pasti lapar!" Ucap Sadam lalu Ayu mengangguk.


"Saya juga berterimakasih, kemarin bapak sudah mentraktir saya dan Dinda makan." Ucap Ayu.


"Sama-sama, Yu!" Ucap Sadam, pria ini menampilkan senyum manisnya. "Kalau ada waktu lagi, saya ingin mentraktir kamu lagi." Ucap Sadam.

__ADS_1


"Boleh juga, pak! Tapi sama Dinda juga." Gurau Ayu.


"Ide bagus! Ya sudah. Mari kita bekerja lagi tapi kamu makan dulu, gih!" Perintah Sadam.


-


-


-


Tanpa terasa satu bulan telah berlalu, itu artinya sudah satu bulan Ayu bekerja tanpa sepengetahuan Wawan.


"Yu, kamu sore-sore begini baru pulang, habis dari mana kamu?" Tanya Wawan.


"Habis kumpul-kumpul sama teman lama ku, mas." Jawab Ayu.


"Bukannya masak untuk suami eh malah keluyuran aja kamu, Yu!"


"Aku bawa makanan. Nih, aku beliin tadi buat mas makan." Ayu menyodorkan plastik berisi makanan.


"Kamu punya uang darimana, Yu?" Tanya Wawan.


"Ada, selama ini aku menabung." Jawab Ayu.


"Hah, menabung?" Wawan mengernyitkan alisnya.


"Iya. Udahlah mas aku mau bersih-bersih dulu." Ucap Ayu kemudian berlalu begitu saja.


Malam harinya, Wawan sedang menikmati makan malamnya seorang diri sementara Ayu berada di ruang tamu menonton televisi.


Setelah selesai makan, Wawan menghampiri Ayu yang tengah asik menonton.


"Yu, kamu mau ikut mas gak kerumah ibu?" Tanya Wawan.


"Aku dirumah aja, mas." Jawab Ayu datar tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.


"Yu, kamu kenapa sih gak pernah mau kalau di ajak ke rumah ibu."


"Bukannya gak mau, mas. Hanya saja aku malas mendengar ocehan ibu kamu itu."


"Namanya juga orang tua, Yu harus di maklumi."


Ayu tertawa tapi bukan menertawakan Ucapan Wawan melainkan melihat acara di tv.


Wawan mendengus kesal, pria ini pun berlalu begitu saja. Sudah menjadi kebiasaan Wawan setiap malam pergi ke rumah ibunya jadi Ayu sudah tidak heran lagi.


"Bu, buatkan Wawan kopi dong!" Ucap Wawan yang baru saja datang ke rumah.


"Aduh Wan, Wan kamu itu sudah punya istri kok kesini cuma nyuruh bikinan kopi terus, apa istri kamu gak mau buatin?" Tanya Bu Nining.


"Aduh Bu, tinggal buatin sebentar juga kenapa sih!"


"Kamu pikir ibu ini tukang jualan kopi, apa!"


"Wan, kamu itu punya istri bisanya apa sih?" Tanya Lisa yang muncul tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan bisanya cuma ngabisin uang kamu aja?" Tanya lagi Lisa.


Wawan tak membenarkan ucapan kakaknya, tapi ia juga tak membela istrinya.


__ADS_2