Jangan Salahkan Aku Meminta Cerai

Jangan Salahkan Aku Meminta Cerai
Eps 25


__ADS_3

Keesokan paginya setelah sarapan, Ayu langsung berangkat ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya. Tapi saat di lobby ia bertemu dengan mantan suaminya.


Keduanya sempat terdiam untuk beberapa saat. Wawan memandangi mantan istrinya yang terlihat lebih cantik dan segar.


"Kamu sedang apa di sini?" Tanya Wawan.


"Kamu sendiri sedang apa disini?" Tanya balik Ayu tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan mantan suaminya itu.


"Akh....aku disini diutus oleh atasan ku untuk bertemu dengan direktur dikantor ini."


"Buat apa?"


"Atasan ku ingin mengajukan kerja sama dengan perusahaan ini dan kami baru saja selesai rapat."


Ayu manggut-manggut mengerti.


"Dan kamu sedang apa di sini?" Tanya Wawan yang masih penasaran.


"Aku ingin mengajukan pengunduran diri dari perusahaan ini." Jawab Ayu membuat Wawan semakin penasaran.


"Maksud kamu apa, Yu? Memangnya sebelumnya kamu ke---" belum habis Wawan berbicara, ayu langsung memotongnya.


"Iya aku sebelumnya memang kerja disini, kerja tanpa sepengetahuan kamu." Tukas Ayu dengan santai.


Sontak Wawan mengerutkan dahinya, tak menyangka jika ayu pernah berkerja di perusahaan ini. Wawan langsung memegang tangan Ayu dan membawanya pergi sedikit menjauh dari kantor.


"Maksud kamu, kamu kerja disini waktu kita masih menjadi suami istri?" Tanya Wawan.


Ayu kembali mengangguk.


"Iya kenapa memangnya?" Tanya balik Ayu.


Wawan naik pitam mendengarnya, kenapa ayu tak pernah memberitahu dirinya jika Ayu bekerja.


"Kenapa kamu gak bilang, Yu? Jadi selama ini sama saja kamu membohongi aku!" Protes Wawan.


Ayu melepaskan tangan Wawan yang mencengkram lengannya.


"Sudahlah gak usah dibahas! Toh , lagian gak ada pentingnya juga karena kita sekarang gak ada hubungan lagi." Jelas Ayu menatap tegas Wawan.


Saat ayu ingin berlalu pergi, Wawan langsung saja meraih lengan Ayu lagi.


"Tunggu, Yu! Aku butuh penjelasan yang jelas dari kamu!"

__ADS_1


"Kalau kamu butuh penjelasan dariku, seharusnya kamu pikir sendiri mas pakai otak kamu! Pikir kenapa aku bisa kerja!" Sentak Ayu yang sudah muak melihat mantan suaminya itu.


"Kenapa, Yu? Tinggal jawab saja apa susahnya. Bukankah selama menikah denganku kamu selalu ku nafkahi? Lalu apa yang kurang?"


"Aduh mas....kamu tuh kapan sih sadarnya!" Keluh Ayu.


"Kamu yang kapan sadarnya, Yu! Aku selalu menafkahi kamu, tapi kenapa kamu tega berbohong dariku?" Tanya Wawan memasang wajah melas.


"Awalnya nafkah yang kamu kasih ke aku itu aku terima dengan lapan dada yah meskipun cuma sedikit. Tapi lama kelamaan kamu ngelunjak mas, kamu itu semakin pelit!" Jelas Ayu.


"Mana ada wanita yang mau hidup dengan lelaki pelit seperti kamu itu!" Cibir Ayu.


"Pelit darimana, Yu? Selama inikan kamu tahu sendiri gajih ku pas-pasan! Belum lagi----" belum selesai Ayu kembali memotong pembicaraan Wawan.


"Aduh mas-mas, selama ini aku gak pernah tahu gajih kamu berapa! Dan setiap ku tanya pasti kamu bilang kalau gajih kamu itu privasi." Kata Ayu geram.


"Biarpun uang mu banyak, toh lagian kamu hanya royal kepada ibu dan kakak mu saja, bukan aku istrimu!" Timpalnya lagi.


Wawan terdiam seribu bahasa. Menurutnya royal kepada ibu dan kakaknya sudah menjadi kewajibannya sebagai anak sekaligus adik.


"Kamu jangan salah paham begitu dong, Yu. Kan sudah mas bilang, mas Royal ke ibu itu karena mas ingin balas Budi kepada ibu karena tanpa ibu mas gak bisa lahir ke dunia ini. Masa kamu gak bisa berpikir jernih seperti itu sih, Yu? Mas ini laki-laki, sampai kapanpun anak laki-laki akan tetap menjadi milik ibunya." Jelas Wawan panjang lebar.


Rahang Ayu mengeras, mendengar penjelasan Wawan yang malah membela diri. Ayu pikir mantan suaminya itu sudah sadar diri, ternyata makin menjadi-jadi. Keputusan untuk bercerai pun ternyata lebih baik daripada harus bertahan dengan lelaki pelit yang selalu mengutamakan orangtuanya.


"Mas, aku nggak masalah kamu mau ngasih berapa pun uang kamu ke ibu atau kakak kamu, tapi jangan sampai kamu mengabaikan istri kamu juga lah!"


"Ibu itu tanggung jawab aku, Yu. Aku anaknya dan aku harus berbakti. Kamu seharusnya mengertilah..!"


"Seharusnya kamu bisa membedakan tanggung jawab seorang anak kepada ibu dan tanggung jawab sebagai seorang suami. Berbakti boleh, tapi sudah membuat istri kamu tercukupi apa belum?"


Wawan mengusap wajahnya kasar.


"Sudahlah jangan dibahas lagipula itu sudah menjadi masa lalu, kalau begitu aku pergi dulu," ucap Ayu seraya berlalu namun baru beberapa langkah, Wawan kembali menahannya.


"Ada apa lagi? Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi mas!" Ucap Ayu yang kesal.


"Aku tidak terima kamu membohongiku, selama ini kamu bekerja diam-diam tanpa meminta izin dariku!"


"Meskipun aku minta izin darimu sudah pasti kamu melarang aku."


"Sudah tahu aku larang, kenapa masih bekerja, hah! Seharusnya kamu di rumah saja jangan bekerja!" Ucap Wawan memasang wajah marah.


"Kamu itu kenapa sih melarang aku, aku kerja juga membantu perekonomian rumah tangga kita!" Ucap Ayu tak mau kalah.

__ADS_1


"Aku cinta sama kamu, Yu. Kamu itu cantik, aku takut kamu main serong di belakang ku. Aku tidak membolehkan kamu kerja karena aku takut kamu tergoda dengan lelaki lain yang lebih dari aku...!" Ucap Wawan dengan suara mulai meninggi.


"Rumah tangga tanpa cinta itu hambar tapi rumah tangga tanpa uang itu neraka. Cinta bisa datang dengan sendirinya tapi uang tak datang dengan sendirinya."


"Tetap saja aku tidak terima kamu membohongiku..!"


"Lantas sekarang aku harus apa? Wawan, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sekarang." Ucap Ayu. "Minggir. Aku mau lewat!" Ayu kemudian ia beranjak pergi.


Wawan mengusap wajahnya kasar, pria ini pun memutuskan untuk pergi kembali ke kantornya.


*


"Kamu yakin ingin mengundurkan diri?" Tanya Sadam saat Ayu menyerahkan surat pengunduran diri.


"Iya saya yakin, pak!" Jawab Ayu tegas.


"Apa alasanmu mengundurkan diri, Yu? Bukankah kerja disini sudah sangat nyaman bagimu?"


"Maaf pak, saya tidak bisa memberitahukan alasannya." Ucap Ayu tidak enak hati.


Sadam menghela nafas.


"Lalu setelah ini kamu ingin melakukan apa?"


"Saya akan pergi ke luar kota, pak!"


"Kamu ingin berlibur?"


"Iya, pak!"


"Yah, seharusnya memang seperti itu, kamu harus mencari ketenangan setelah masalah kemarin menimpa kamu."


"Jadi bapak sudah tahu?"


Sadam mengangguk. "Iya. Dinda sudah menceritakan semuanya." Jawabnya.


Ayu menautkan kedua alisnya.


"Tidak usah khawatir. Kalau kamu ingin pergi berlibur, berliburlah! Hidup hanya datang sekali, jadi lakukan apa yang membuatmu bahagia dan berada di sekitar orang yang membuatmu tersenyum.


"Terimakasih pak atas pengertiannya. Kalau begitu saya pamit pergi." Ucap Ayu.


"Iya. Hati-hati di jalan dan selamat melanjutkan kehidupan mu yang baru." Ucap Sadam.

__ADS_1


"Sekali lagi terimakasih," ucap Ayu kemudian berlalu pergi.


__ADS_2