Jangan Salahkan Aku Meminta Cerai

Jangan Salahkan Aku Meminta Cerai
Eps 21


__ADS_3

"Jangan seperti ini, mas. Jika kamu merasa itu tidak benar seharusnya kamu menjelaskan agar aku tidak salah paham bukan bersimpuh seperti ini di bawah kaki ku." Ucap Ayu yang merasa geram.


"Wanita itu bohong, Ayu..!" Ucap Wawan yang masih bersimpuh di kaki istrinya.


"Aku tidak bohong. Jika kamu tidak percaya, lihatlah ini..!" Ucap Sella memperlihatkan sebuah video saat dirinya ditunggangi oleh Wawan bahkan Sella juga menunjukkan beberapa riwayat pesan dan panggilan dari Wawan.


Dengan hati yang sakit Ayu melihat jika suaminya sangat menikmati permainannya dengan wanita yang bernama Sella itu.


Ayu menutup mulutnya tak percaya, suami yang menurutnya tidak mungkin berkhianat ternyata mengkhianati dirinya. Ayu menampar wajahnya beberapakali untuk memastikan kalau ini hanya mimpi. Ternyata ini bukan mimpi. Ah sial, ini sakit!


"Singkirkan tangan kotor mu dari kaki ku...!" Seru Ayu dengan sorot mata tajam menatap suaminya.


"Ayu, mas mohon jangan seperti ini. Ini hanya salah paham. Wanita ini hanya ingin merusak rumah tangga kita, Yu!" Ucap Wawan yang masih berusaha membela dirinya.


"Sudah jelas-jelas video itu memperlihatkan kamu mengerang merasakan kenikmatan. Istri mana yang tidak sakit hati melihat suaminya bercinta dengan wanita lain." Ucap Ayu dengan air mata yang sialnya terus mengalir.


Ayu menghapus air matanya. "Air mataku terlalu mahal untuk menangisi pria seperti mu mas," ucap Ayu dengan suara bergetar.


"Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan melakukan hal sekeji ini kepadaku. Aku memaafkan mu karena aku pikir mungkin kamu khilaf, tapi apa...Wanita itu malah hamil. Sepertinya memberimu kesempatan adalah hal bodoh yang aku lakukan." Ujar Ayu


"Ayu, ini tidak seperti yang kamu kira."


"Menghamili wanita lain tapi kamu bilang seperti yang tidak aku kira? Yang benar saja..!!"


Wawan hanya diam, ia berusaha sekuat tenaga pun istrinya sudah tidak akan memaafkan dirinya lagi. Kesalahan yang ia lakukan sungguh sangat fatal.


*


Sore semakin menguning menanda gelap sebentar lagi akan datang. Sejak kejadian tadi siang, Ayu tak kunjung keluar dari kamarnya.Wanita ini mengurung diri di kamar untuk sekedar menjernihkan pikirannya. Sementara Wawan, pria ini duduk di sofa ruang tamu dengan keadaan yang frustasi.


Pintu kamar terbuka, Ayu menghampiri dirinya yang sedang duduk.


"Ayu..!" Lirih Wawan. Pria ini ingin mendekat tapi ia mengurungkan niatnya saat melihat Ayu menatapnya tajam.


"Kita harus membicarakan masalah ini. Masalah ini harus ada titik terangnya, mas." Ucap Ayu membuat jantung Wawan berdebar tak menentu. Pria ini hanya takut istrinya akan menceraikan dirinya.


"Selanjutnya apa yang akan kamu lakukan, Yu?" Tanya Wawan yang masih berharap Ayu memberikan kesempatan untuknya.

__ADS_1


"Aku akan menceraikan kamu, segera mungkin aku akan mengurus perceraian kita." Ucap Ayu begitu tegas.


"Tidak adakah jalan lain selain bercerai? Ayu, apa yang harus kulakukan sekarang untuk menebus dosa ku ini, aku tidak mau pisah sama kamu, Yu. Aku takut kehilangan kamu..!!" Ucap Wawan mengacak rambutnya frustasi.


"kamu sendiri yang bermain api dan sekarang kamu sendiri yang sibuk memadamkannya." Cibir Ayu. "Mas, bagiku ini juga tidak mudah, kita menikah sudah enam tahun tapi harus berakhir seperti ini."


"Mas akan mengakhiri hubungan mas dengan Sella, Yu!"


"Lalu bagaimana dengan benih yang kamu tanamkan di rahimnya, di dalam perutnya ada anak kamu mas. Kamu harus bertanggung jawab. Sebaiknya kita pisah..!!"


Seketika tubuh Wawan menjadi lemas, ia tak sanggup menahan sesak di dada sungguh ia merasa bersalah atas semua ini. Rumah tangga yang mereka bina selama enam tahun akhirnya harus hancur karena orang ketiga.


"Beritahu mas apa yang harus mas lakukan untuk memperbaiki semua kesalahan ini, Yu."


"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan, mas? Selingkuhan kamu itu sedang mengandung anak kamu, lebih baik aku mengalah..!" Ucap Ayu sekali lagi.


Wawan menatap wajah istrinya, yang terlihat datar, tak ada rasa sedih maupun air mata yang keluar.


"Apa kamu bisa hidup tanpa aku, kamu tidak bisa apa-apa tanpa aku, Yu."


"Pertanyaan macam apa itu? Bukankah sebelum aku menikah dengan mu, aku sudah terbiasa hidup di atas kaki ku sendiri?"


"Jangan sombong begitu, tanpa aku kamu tidak bisa apa-apa..!" Cibir Wawan.


"Dan mulai sekarang aku tidak akan bergantung lagi sama kamu, mas. Tunggu surat gugat dari ku..!" Ucap Ayu kemudian berjalan ke arah kamar. Ayu mengeluarkan kopernya lalu memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Setelah selesai, ia keluar melewati Wawan yang masih duduk di rumah tamu.


"Nggak, aku nggak mau kita bercerai. Kembalikan semua pakaian mu di dalam koper ini...!!" Ujar Wawan sambil merebut koper yang dipegang istrinya.


"Kamu jangan egois, mas! Untuk apa aku bertahan dengan laki-laki yang telah menghamili wanita lain, kamu membuat ku jijik...!!"


"Mas mohon, jangan pergi, Ayu. Kita bisa memperbaiki rumah tangga kita, kamu ingin punya anak, ayo kita buat sekarang, Yu." Ucap Wawan.


Ayu tergelak mendengar ucapan Wawan yang menurutnya sangat lucu bahkan ia sampai tertawa terbahak-bahak. Wanita ini merampas kopernya dari tangan Wawan.


"Sebaiknya kamu nikahi selingkuhan kamu sebelum perutnya semakin membesar."


Tanpa menunggu tanggapan dari Wawan, pada akhirnya Ayu memutuskan untuk pergi meskipun malam sudah larut.

__ADS_1


Malam semakin larut, Ayu baru sampai di rumah kakaknya. Wanita ini langsung mengetuk pintu beberapakali. Pintu terbuka, Tari keheranan melihat adiknya bertamu larut malam dengan membawa dua buah koper di tangannya.


"Ayu, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Aku memutuskan untuk pisah sama Wawan, kak!"


"Bukannya kamu memberikan dia kesempatan?"


"Tadi siang selingkuhannya datang dan meminta pertanggungjawaban dari Wawan."


"Maksud kamu, selingkuhan suami kamu hamil?"


Ayu mengangguk.


"Kurang ajar itu Wawan, kakak harus ke rumahnya sekarang juga." Ucap Tari merasa geram.


"Untuk apa sih, kak?"


"Bajingan itu udah dikasih kesempatan malah disia-siakan."


"Sudahlah, kak. Sebaiknya kakak tidur lagi, besok temani aku ke pengadilan." Ucap Ayu dan disetujui oleh Tari.


"Ayu, kamu yakin ingin bercerai dari Wawan?"


"Yakin. Lagipula wanita itu sudah mengandung anak dari Wawan. Kasihan juga nanti jika anak itu lahir tanpa seorang ayah."


"Kamu baik-baik saja kan, Yu?" Tanya Tari yang merasa cemas pada adiknya.


"Aku baik-baik aja kok, kak!" Ucap Ayu berusaha membendung air matanya yang ingin keluar.


"Kamu yang sabar ya, Yu. Kakak tahu ini menyakitkan buat kamu tapi kamu harus kuat..!!" Ucap Tari memeluk erat tubuh Ayu, sungguh ini sangat menyakitkan untuk sang adik.


"Bahkan dalam mimpi sekalipun aku tidak pernah berniat ingin bercerai darinya. Tapi sekarang, sebentar lagi aku akan menjadi janda kak. Aku harus bagaimana ini?" Ucap Ayu yang sudah berderai air mata.


"Keputusan kamu sudah tepat, Yu. Kakak percaya semua akan baik-baik saja." Ucap Tari menenangkan adiknya.


"Iya kak. Besok sebelum ke pengadilan kita mampir ke rumah ayah sama ibu dulu, kak!"

__ADS_1


"Iya. Kamu pasti lelah, istirahatlah..!" Ucap Tari dan diiyakan oleh Ayu..


__ADS_2