
"Yu, Kalau kamu mau, kamu bisa melamar pekerjaan di perusahaan milik kakak sepupuku, sepupuku juga mencari orang untuk di tempatkan menjadi sekretarisnya." Tawar Dinda.
"Wah kebetulan sekali, jadi kapan nih aku bisa melamar?" Tanya Ayu antusias.
"Secepatnya, besok juga bisa."
"Tapi kenapa gak kamu aja yang jadi sekretaris sepupumu?" Tanya Ayu.
"Aku udah nyaman jadi manager di perusahaan papa ku." Jawab Dinda.
Ayu tersenyum lebar sesaat sebelum wajahnya terlihat lesu kembali.
"Kenapa, Yu?" Tanya Dinda yang bingung dengan perubahan ekspresi wajah Ayu.
"Tapi suamiku melarang ku untuk bekerja." Jawab Ayu lesu.
"Suami kamu itu aneh, kerja gak di bolehin tapi kebutuhan istrinya gak di cukupi!" Ucap Dinda. "Apa jangan-jangan ibu mertua kamu ikut campur lagi, Yu?"
"Nggak tahu aku lah, Din setiap aku nanya gaji suami ku pasti bilangnya, gajinya gak seberapa, jadi aku pikir gak mungkin lah dia ngasih ibunya sedangkan kita aja makan susah." Ucap Ayu semakin membuat Dinda heran.
"Kamu istrinya tapi gak tahu gaji suami mu berapa." Dinda geleng-geleng kepala.
"Ya udah lah, Din. Gak usah di bahas. Persetan sama Wawan, pokoknya besok aku akan pergi ke perusahaan sepupu mu." Ujar Ayu.
Dinda manggut-manggut tanda mengerti, wanita ini pun melirik jam yang melingkar di tangannya lalu berkata.
"Udah hampir sore nih. Kamu gak pulang, ntar di cariin suami kamu loh, Yu."
"Eh.. Iya kamu benar, Din. Sebaiknya aku segera pulang sebelum suami ku sampai di rumah." Ucap Ayu.
"Aku antar, Yu." Tawar Dinda tapi Ayu menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan Dinda.
"Ya udah, Yu. kalau begitu sampai jumpa di kantor sepupuku besok." Ucap Dinda. Kedua wanita ini pun memutuskan untuk pulang karena hari memang sudah hampir sore.
Keesokan harinya setelah suaminya berangkat kerja, Ayu bergegas membersihkan diri lalu memakai pakaian terbaik yang ia miliki dan tak lupa juga ia memoles wajahnya dengan dandanan tipis.
Setelah selesai, Ayu segera pergi ke depan gang untuk memesan ojek. Lima belas menit kemudian Ayu sudah sampai di perusahaan Gempita Cahaya, milik sepupu Dinda.
"Ayu... !" Seru Dinda.
"Dinda, ngapain disini?" Tanya Ayu.
"Nunggu kamu lah," jawab Dinda.
Ayu manggut-manggut.
"Maaf udah bikin nunggu." Ucap Ayu.
"Gak apa-apa, kamu gak bilang sih, kalau bilang pasti aku jemput.
"Gak usah repot-repot, Din. Kamu nawarin aku untuk melamar disini aja aku udah banyak terimakasih."
"Iya gak apa-apa, ayo kita masuk kedalam ketemu sama sepupu aku." Ajak Dinda kemudian merangkul tangan Ayu.
Singkat cerita, setelah melakukan interview, akhirnya Ayu di terima menjadi sekretaris di perusahaan Gempita Cahya berkat pendidikan sarjana yang ia punya."
__ADS_1
"Yu, makan siang yuk!" Ajak Dinda.
"Ayo.."
Dinda dan Ayu pun pergi ke cafe yang jaraknya tak begitu jauh dari kantor. Setelah sampai di cafe, Dinda dan Ayu memesan makanan dan minuman yang ada di cafe tersebut.
"Yu, gimana?" Tanya Dinda.
"Gimana apa nya?"
"Sepupuku ganteng, kan. Belum beristri loh, Yu."
"Iya, memangnya kenapa kalau belum beristri?"
"Kamu sama dia aja, Yu."
Pletak! Dinda meringis dan mengusap keningnya yang di Sentil oleh Ayu.
"Sakit, Yu!"Ucap Dinda cemberut.
"Kamu sih kalau ngomong gak di saring dulu, aku kan sudah ada suami, ya kali kamu nyuruh aku sama bos ku sendiri," Ayu terkekeh.
"Bercanda, Yu tapi kalau beneran ya gak apa-apa lagipula aku lihat-lihat sepertinya sepupuku tertarik sama kamu!" Ucap Dinda tersenyum mengejek.
Ayu menatap kesal ke arah perempuan di hadapannya.
"Dinda, kamu harus ingat kalau aku sudah menikah." Ayu memutar bola matanya malas.
"Yu, sepertinya itu Sadam." Tunjuk Dinda ke arah seorang pria yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Sadam ya bos kamu, Yu! Sama bos sendiri gak tau." Dinda terkekeh.
"Dinda, kamu belum pulang?" Tanya Sadam ketika sudah sampai.
"Ini habis makan nanti pulang, mas." Jawab Dinda.
"Yu, gak disapa?" Bisik Dinda pada Ayu.
"Selamat siang, pak! Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ayu.
"Selamat siang, kamu Ayu, sekretaris baru ku, kan?" Tanya Sadam pada Ayu.
"Betul, pak!"
"Yu, gak usah bicara formal sama kakak sepupu ku ini." Ujar Dinda, Ayu langsung menoleh dan menatap tajam Dinda.
"Apa yang di katakan Dinda itu benar, Yu. Kalau sama aku santai saja." Ucap Sadam bersahabat.
"Baik, Pak!" Ucap Ayu singkat.
"Aku baru berumur dua puluh sembilan tahun, jadi jangan panggil aku bapak." Jelas Sadam membuat Ayu serba salah.
"Lantas saya harus memanggil bapak apa?" Tanya Ayu.
"Terserah kamu, Yu. Panggil sayang juga boleh." Celetuk Dinda membuat mata Sadam dan Ayu menatap tajam ke arahnya sedangkan yang di tatap hanya tertawa.
__ADS_1
"Kalau di luar panggil Sadam saja tapi kalau kita sedang di kantor panggil aku pak aja atau senyaman kamu aja lah, Yu."
"Kalau begitu bos saja!"
"Tidak buruk!" Ucap Sadam. "Oh ya, Yu. Semoga kamu betah ya bekerja di perusahaan ku ini." Sambung Sadam.
"Siap bos!" Ucap Ayu antusias.
Keduanya tampak akrab, Sadam sangat asyik di ajak bicara sama halnya seperti Ayu yang tidak merasa canggung ketika di ajak berbicara. Terus mengobrol, banyak hal yang mereka bicarakan.
Sadam melirik jam yang melingkar di tangannya kemudian berkata.
"Hampir dua jam kita mengobrol, kalau begitu aku pamit dulu ke kantor." Ucap Sadam, pria ini pun berpamitan pada Ayu dan Dinda untuk kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat terbengkalai selama dua jam.
Setelah kepergian Sadam, barulah kedua wanita ini beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke kasir untuk melakukan pembayaran.
"Yu, biar aku yang bayar." Ucap Dinda. "Yah, itung-itung hadiah dari aku karena kamu keterima di kantor sepupuku." Timpalnya.
"Seharusnya aku loh Din yang traktir kamu."
"Udah, traktir nya nanti aja pas kamu gajihan pertama." Ucap Dinda dan di iyakan oleh Ayu.
"Jadi totalnya berapa, mbak?" Tanya Dinda pada kasir.
"Atas nama Dinda, sudah di bayar." Jawab kasir tersebut.
"Haa, siapa yang bayarin mbk?" Tanya Dinda.
"Yang bayar tadi adalah pria tinggi berkulit putih yang pakai jas hitam tadi, mbak." jawab pelayan itu.
Dinda langsung tahu siapa sosok yang dimaksud pelayan tersebut. Siapa lagi kalau bukan , Sadam kakak sepupunya.
"Mas Sadam ini pasti." Gumam Dinda.
"Yu, ayo kita pulang! Aku gak jadi traktir kamu soalnya kita berdua udah di traktir sama mas Sadam." Tutur Dinda.
"Wah, aku harus mengucapkan terimakasih sama kakak sepupumu." Ucap Ayu, sementara Dinda hanya tersenyum di kulum.
Kedua wanita ini pun bergegas pulang, Dinda terus memaksa Ayu agar pulang di antar olehnya, Ayu yang sebenarnya tidak enak hati akhirnya luluh juga dengan bujukan Dinda.
Didalam mobil, tak henti-hentinya Dinda terus bercerita tentang Sadam.
"Mas Sadam itu ganteng loh, Yu banyak wanita yang ngejar-ngejar dia. Kebanyakan yang kerja disitu cari muka sama mas Sadam apalagi para wanita." Tutur Dinda.
"Tapi tujuan ku bekerja bukan untuk cari muka!" Sahut Ayu membuat Dinda tertawa.
"Yu, jadi kapan kamu mulai masuk kerja?" Tanya Dinda.
"Besok!" Jawab Ayu.
"Suami kamu, kamu kasih tau gak, Yu?"
"Enggak lah, kalau aku kasih tahu bisa-bisa perang dunia ke tiga."
Dinda, wanita ini kembali tertawa.
__ADS_1