
"Eh, pak Sadam sudah datang?" Tanya Ayu ke salah satu staf kantor.
"Belum, mbak!" Jawabnya.
"Terimakasih untuk infonya." Ucap Ayu sambil tersenyum.
"Tumben datang kesiangan, mbak?" Tanyanya.
"Hem, tadi kejebak macet!" Jawab Ayu. "Ya sudah kalau begitu, saya mau ke lantai lima dulu, ya!" Ucap Ayu karena di sanalah ruangannya berada persis di dekat ruangannya Sadam.
Mendengarkan bos nya belum datang membuat Ayu sedikit lega karena dengan begitu dirinya bisa menyiapkan berkas-berkas yang akan di serahkan kepada Sadam pagi ini.
Sesampainya di ruang miliknya, Ayu segera mempersiapkan berkas-berkas yang harus di berikan kepada Sadam pagi ini untuk di tanda tangani.
Beberapa saat kemudian beberapa berkas sudah siap. Tinggal menunggu Sadam yang sampai jam setengah sembilan belum muncul juga batang hidungnya.
Sambil menunggu kedatangan Sadam, Ayu menyusun jadwal pertemuan Sadam dan klien serta memeriksa email yang masuk di laptop.
Jam setengah sepuluh, barulah Ayu melihat Sadam memasuki ruangannya. Ayu bergegas masuk ke dalam ruangan Sadam yang berada tepat di sebelahnya.
"Maaf, pak. Ingin minum teh atau kopi hitam?" Tanya Ayu ramah.
"Teh saja tapi jangan terlalu manis!" Ucap Sadam datar.
Ayu langsung keluar dari ruangannya menuju ke arah pantry. Meracik teh untuk Sadam sudah menjadi rutinitas setiap pagi untuk Ayu sekarang. Biasanya, kalau pagi Sadam lebih memilih untuk minum teh dan untuk sore hari, Sadam akan minta di buatkan kopi. Setelah selesai, Ayu kembali ke ruangan Sadam sambil membawa secangkir teh panas di tangannya.
"Silahkan di minum, pak!" Ucap Ayu meletakkan cangkir di atas meja.
"Terimakasih, Yu!" Ucap Sadam.
"Sama-sama, pak. Kalau begitu saya pergi dulu." Pamit Ayu kemudian wanita ini bergegas pergi.
Di ruangannya, Ayu kembali memeriksa berkas pagi tadi sebelum ia memberikannya kepada Sadam.
Ayu berjalan menuju ke ruangan Sadam. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, barulah terdengar Sadam menyuruhnya untuk masuk.
"Permisi, pak. Ini ada beberapa berkas yang harus bapak tanda tangani." Ucap Ayu.
"Letakkan di atas meja!"
Ayu langsung meletakkan berkasnya di atas meja. Sementara, Sadam mengambil teh lalu menyeruputnya.
"Racikan mu sangat pas tapi sayangnya terlalu manis, mungkin karena saya melihat kamu jadi manisnya nambah." Ujar Sadam sambil kedua matanya melihat ke arah Ayu yang sedang berdiri.
Ayu yang di tatap seperti itu merasa sedikit aneh saat Sadam menatapnya dengan sorot mata seperti itu.
"Maaf, pak. Kalau begitu, saya buatkan yang baru lagi."
"Tidak usah, Yu. Mulai sekarang saya akan minta teh seperti ini setiap pagi ke kamu." Kata Sadam yang masih betah menatap Ayu, seakan-akan pria ini tidak ingin melepaskan pandangannya.
Ayu tersenyum kikuk, wanita ini lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
__ADS_1
"Ehem, kalau begitu kamu boleh kembali ke ruangan mu!"
"Baik, pak. Saya permisi dulu!" Ucap Ayu lalu beranjak pergi.
Ayu menuju keruangan nya, beberapakali ia memperhatikan Sadam yang terlihat serius dengan berkas-berkas di mejanya.
Jam makan siang telah tiba, Ayu melirik ke ruangan Sadam yang ternyata bos nya itu masih fokus dengan pekerjaannya.
Ayu berjalan menghampiri Sadam.
"Maaf, pak. Saya hanya mengingatkan, ini sudah jam makan siang." Ucap Ayu.
Sadam menghentikan aktivitasnya lalu melirik jam yang melingkar di tangannya kemudian melihat ke arah sekretarisnya sambil tersenyum.
"Kamu makan saja dulu, saya masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan." Ujar Sadam.
"Kalau begitu biar saya pesankan makanan dari luar, pak!"
"Ide bagus!"
Selang beberapa saat Ayu kembali lagi ke ruangan Sadam.
"Permisi, pak. Ini makanan yang pak Sadam pesan." Ucap Ayu.
"Letakkan disana!" Titah Sadam menunjuk sofa yang berada di pojok sisi kiri.
Ayu meletakkan makanan tersebut di atas meja yang di tunjuk oleh Sadam. Kemudian Ayu pamit keluar untuk makan siang.
Ayu hendak pergi tapi Sadam menahannya.
"Kamu temani saya makan malam, malam ini." Ucap Sadam.
"Maaf, pak! Tapi pak Sadam lupa, kalau saya sudah bersuami?"
Sadam melepaskan tangannya dari lengan Ayu.
"Apa kamu bahagia dengan pernikahan mu, saya perhatikan sepertinya kamu tidak bahagia." Ucap Sadam membuat Ayu tersinggung.
"Pak Sadam tidak perlu tahu dengan masalah rumah tangga saya." Ucap Ayu datar.
"Maaf jika sayang lancang, saya tidak bermaksud untuk--"
"Sadam..!"
Sadam dan Ayu mengalihkan tatapannya pada pintu, disana Davina terlihat kesal dengan tangan melipat di dada.
Wanita dengan pakaian seksinya itu menghampiri Sadam.
"Aku ke ruangan mu gak ada kamu, ternyata disini!" Ucap Davina menatap Ayu dengan tatapan tidak suka.
"Untuk apa kamu kemari?" Tanya Sadam.
__ADS_1
"Aku kangen, makanannya aku kesini." Ucap Davina dan tanpa rasa malu wanita ini spontan mengecup pipi Sadam.
"Davina, kamu kamu apa-apaan,sih!" Ucap Sadam sambil mengusap-usap pipinya.
"Salah dia kenapa ada disini."
Ayu memutar bola matanya malas dan berkata.
"Saya tidak salah, karena ini ruangan saya bekerja!" Ucap Ayu. "Pak Sadam, saya pamit pulang dulu." Timpalnya kemudian beranjak pergi.
Wajah Davina berubah menjadi merah padam, wanita ini ingin menyusul Ayu tapi dengan cepat Sadam menahannya.
"Mau apa?"
"Memberikan wanita arogan itu pelajaran!"
"Davina, seharusnya kamu itu jaga sikap! Lagipula apa yang sekretaris ku ucapkan itu benar adanya." Ucap Sadam membuat wajah Davina merasa malu seketika.
"Aku mau pulang, kamu mau sekalian ku antar pulang apa nggak?"
Davina mengangguk setuju. Keduanya pun meninggalkan kantor.
*
Sepulang dari kantor, Ayu langsung saja bergegas membersihkan diri lalu setelah itu pergi ke dapur untuk memasak makan malam untuk dia dan suaminya.
Kebetulan saat pulang tadi Ayu mampir sebentar disalah satu supermarket untuk membeli nugget.
Jadi kali ini Ayu hanya memasak yang simpel saja, yaitu menggoreng nugget dan membuat sambal geprek.
Makan malam telah tiba, Wawan menarik kursi untuk duduk, sementara Ayu sedang mengambilkan nasi untuk Wawan dan dirinya.
"Loh, Yu!" Seru Wawan tiba-tiba saat melihat menu makan malam kali ini.
"Ada apa lagi, Mas?" Tanya Ayu seraya menyodorkan nasi panas ke hadapan Wawan.
"Kamu beli nugget? Bukannya harga nugget itu perbungkus mahal?" Tanya Wawan.
"Tidak usaha protes, tinggal makan saja apa susahnya!" Ujar Ayu.
"Bukan begitu Yu, harga nugget itu mahal. Pasti sekarang uang jatah yang aku kasih udah habis kan? Terus besok kamu minta uang lagi pasti." Jelas Wawan.
Ayu menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Uang yang kamu kasih kemarin masih ada kok, masih utuh belum aku pakai." Kata Ayu saking kesalnya.
"Maksud kamu apa, Yu? Jangan bilang kamu diam-diam mencuri nugget ini di supermarket," Tuduh Wawan.
"Mas! Kamu ini apa-apaan sih! Mana mungkin aku mencuri. Aku beli itu pakai uang sendiri, uang yang dikasih sama orangtuaku tadi pagi." Ucap Ayu.
"Loh orngtua kamu kesini?" Tanya Wawan.
__ADS_1
"Ah sudahlah, gak usah dibahas! cepetan makan sana!" Tutur Ayu.