
Hari ini Sadam mengajak sekretarisnya Ayu mengikuti rapat di sebuah hotel berbintang dengan klien yang berasal dari luar negeri.
"Berkas-berkas sudah kamu siapkan semua kan?" Tanya Sadam pada Ayu
"Sudah semua pak!" Jawab Ayu.
"Ya sudah, ayo kita berangkat." Ucap Sadam kemudian keduanya bergegas menuju ke parkiran mobil.
Saat Sadam dan Ayu sudah berada di dalam mobil, tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kaca mobil Sadam.
"Sadam, buka pintunya!" Pinta Davina tidak hentinya mengetuk kaca mobil.
Sadam menurunkan sedikit kaca mobilnya, terlihat jelas ekspresi wajah Davina yang terlihat begitu kesal.
"Ada apa?" Tanya Sadam dengan suara dingin.
"Bukakan pintunya, aku mau masuk." Pinta Davina memaksa.
"Gak bisa. Aku harus pergi!" Tolak Sadam.
"Kamu mau kemana sama wanita itu, hah?" Tanya Davina.
"Ke hotel."
"Apa, ngapain kalian berdua ke hotel, jangan bilang kamu sama dia.--"
"Hai Davina, buang jauh-jauh pikiran negatif mu itu. Aku dan sekretaris ku akan pergi rapat dengan klien ku." Ujar Sadam.
"Aku mau ikut, Sadam!" Rengek Davina.
"Kamu pikir aku sedang jalan-jalan? Sudahlah, aku sudah terlambat lima menit. Sebaiknya kamu pergi." Ucap Sadam kemudian menaikkan kembali kaca mobilnya.
"Sadam.. Sadam.. Buka pintunya!" Seru Davina
Sadam tidak menghiraukan, pria ini langsung menancapkan pedal gas mobilnya, tanpa menoleh sama sekali ke Davina.
Davina menghentakkan kakinya kesal karena Sadam mengacuhkan dirinya. "Lihat saja Sadam, kamu akan menyesal memperlakukan ku seperti ini."
Tiba di hotel, Ayu dan Sadam langsung masuk kedalam lift menuju ke lantai lima karena di sana lah mereka akan melakukan rapat bersama kliennya.
Pukul dua siang, barulah acara rapat selesai. Sadam memutuskan untuk mengajak Ayu untuk makan siang.
"Yu, kamu laper gak?" Tanya Sadam.
__ADS_1
"Hem, iya pak." Jawab Ayu.
"Aku juga laper. Kita cari makan siang Yuk!" Ajak Sadam.
"Oh, iya. Ayo pergi...!"
Sadam pun melajukan mobilnya untuk pergi ke salah satu restoran ternama tempat langganannya. Keduanya pun makan siang berdua disana.
"Aku yakin klien kita yang dari luar negeri itu akan tertarik kerja sama dengan perusahaan kita." Ucap Sadam.
Ayu hanya diam sambil matanya terus menatap sesuatu di belakang Sadam dengan tatapan tajam. Sadam menoleh ke Belakang, mengikuti arah pandang Ayu , lalu kembali memandang Ayu yang kedua sudut matanya sudah tergenang oleh air mata.
"Ayu, kamu kenapa?" Tanya Sadam.
"Gak apa-apa pak. Saya hanya...." Ayu sudah tak mampu berkata-kata lagi. Air mata yang sejak tadi ia tahan pun akhirnya luruh juga membasahi pipinya.
Dadanya sesak, hatinya bagai di remas. Tubuhnya bergetar hebat tak kala melihat suaminya yang tengah asik merangkul seorang wanita dengan sangat mesra bahkan Ayu melihat suaminya mengecup mesra bibir wanita itu sebelum mereka pergi.
"Yu, ada apa, kamu kenapa, katakan padaku!" Ucap Sadam cemas.
Berkali-kali Ayu menghembuskan nafas panjang agar rasa sesak di dadanya berkurang.
"Saya mau izin ke toilet dulu!" Tanpa menunggu jawaban Sadam, Ayu pergi begitu saja.
Sadam semakin di buat bingung, pria ini kembali menoleh kebelakang tapi sudah tidak ada orang lagi disana.
Tak berapa lama kemudian Ayu sudah kembali dari toilet, Sadam dapat melihat wajah Ayu terlihat kusut dan sedikit murung. Wanita ini duduk tetapi tidak melanjutkan makannya, entah kenapa selera makan Ayu mendadak hilang.
"Kenapa makanannya cuma di lihatin?" Tanya Sadam.
"Saya sudah kenyang pak."
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita kembali ke kantor."
"Tapi makanan pak Sadam belum habis."
"Sama seperti kamu, saya sudah kenyang. Ayo...!" Ajak Sadam dan Ayu pun menurut.
Di mobil, Ayu berkali-kali mengusap air mata yang sialnya terus mengalir tanpa henti dan berkali-kali juga ia menghembuskan nafasnya panjang. Dadanya sesak, hatinya terasa sakit sekali.
"Kenapa kamu tega mengkhianati aku, apa kurang ku selama ini, mas?" Batin Ayu bertanya-tanya.
"Yu, ada apa, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Sadam khawatir.
__ADS_1
Tapi Ayu hanya diam dan menatap keluar jendela yang ada di sampingnya dengan air mata yang masih meleleh di pipinya.
"Pak, kenapa kita ke taman kota?" Tanya Ayu dengan suara seraknya.
"Aku gak tahu masalah mu apa, Yu. Tapi cobalah untuk bercerita, setidaknya bisa mengurangi beban di hatimu." Ungkap Sadam.
Seketika Ayu menatap Sadam dengan mata yang basah. Sadam tersenyum lembut kemudian mengajak Ayu untuk turun menuju ke kursi yang berada taman kota tersebut.
"Ceritakan apa masalahmu, aku siap mendengarkan nya." Ucap Sadam.
Dengan suara yang menahan tangis, Ayu menceritakan apa yang sebenarnya ia lihat tadi.
Sadam yang mendengar penuturan Ayu, langsung menarik tubuh Ayu masuk ke dalam pelukannya. Mencoba memberi kekuatan pada wanita yang sekarang ia peluk.
"Kamu yang sabar ya, Yu. Untuk saat ini menangis lah, tapi jangan sampai berlarut-larut, laki-laki seperti itu tidak pantas untuk di tangisi karena air matamu terlalu mahal menangisi bajingan seperti dia!" Ucap Sadam sambil mengusap punggung Ayu.
Beberapa saat kemudian, Ayu yang sudah merasa tenang melepaskan pelukan Sadam.
"Maaf, kemeja bapak jadi basah." Ucap Ayu dengan wajah tertunduk.
"Gak masalah. Yang penting kamu sudah lega bisa meluapkan semuanya." Ucap Sadam seraya tersenyum.
"saya minta maaf dan berterimakasih. Maaf karena saya sudah menceritakan masalah rumah tangga saya dan terimakasih sudah mau mendengarkan cerita saya." Ucap Ayu dengan wajah yang masih tertunduk.
"Gak masalah kok, Yu. Aku senang bisa mendengarkan ceritamu, setidaknya aku bisa membantu." Ujar Sadam.
Ayu menegakkan wajahnya seraya tersenyum.
"Sebaiknya kita kembali kantor pak."
Sadam mengerutkan dahinya.
"Kamu yakin?" Tanya Sadam.
"Memangnya kenapa, pak?" Ayu bertanya balik.
"Gak mungkin kamu kembali ke kantor dengan wajah kusut dan mata sembab begitu." Ucap Sadam. "Lebih baik aku mengantar mu pulang sebab bekerja dengan suasana hati yang tidak baik dapat menggangu kinerja dirimu dan itu bisa membuat suasana hati mu semakin memburuk." Timpalnya.
"Tapi pak--"
"Gak ada tapi-tapian, ini perintah langsung dari bos mu." Tegas Sadam.
"Tapi gak apa-apa, pak?" Tanya Ayu memastikan.
__ADS_1
"Gak apa-apa." Jawab Ayu tanpa menatap ke arah Sadam.
Kini Ayu sudah menginjakan kakinya dirumah. Ingatannya saat melihat suaminya bercumbu mesra bersama wanita lain kembali terlintas dibenaknya. Dadanya serasa amat sesak, tapi Ayu menahan itu semua karena ia tak ingin orang lain tahu.