Jangan Salahkan Aku Meminta Cerai

Jangan Salahkan Aku Meminta Cerai
Eps 14


__ADS_3

Keesokan paginya, ternyata ibu mertuanya datang ke rumah lagi. Bagai tak tahu diri, bu Nining membuka isi kulkas menantunya untuk mencari sesuatu. Wawan hanya memperhatikan tanpa berniat menegur ibunya karena bagi Wawan, apa yang ada di rumah ini juga milik ibunya.


"Istrimu kemana?"Tanya Nining.


"Dirumah kakaknya, lagi ngambek sama Wawan." Jawab Wawan.


Wawan tidak tahu bahwa sebenarnya Ayu bukan pergi ke rumah kakaknya, melainkan pergi ke kantor. Yah, meskipun masih terlalu pagi untuk berangkat bekerja tapi Ayu lebih baik begitu daripada harus bertemu Wawan yang ujung-ujungnya terjadi percekcokan, melihat wajah Wawan saja sudah membuat Ayu emosi.


"Kenapa lagi istri kamu?"


"Biasalah, Bu. Kayak gak tau sama Ayu aja."


"Bukannya masakin buat suami, eh... malah ngeluyur." Ucap Nining.


"Hah, isi kulkas banyak begini tapi pelit sama orang tua. Kamu ngasih Ayu banyak uang ya?" Tuduh Nining.


"Nggak ada, enak aja ngasih uang banyak. Istri itu tidak pantas memegang banyak uang." Jawab Wawan.


"Ini ibu ambil buah dan telur. Lumayan buat masak nanti siang." Ujar bu Nining kemudian ia bergegas pulang.


Wawan juga memutuskan untuk berangkat bekerja, pria ini sama sekali tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika Ayu tahu isi kulkasnya di ambil oleh ibu mertuanya.


Waktu terus berlalu, saat jam makan siang Ayu dan Tari bertemu. Ayu menceritakan apa yang sudah terjadi kemarin pagi, tentu saja hal ini membuat Tari merasa geram mendengarnya.


"Udahlah Yu, kamu cerai saja sama Wawan. Sampai kapan kamu hidup seperti ini?"


Ayu terdiam, wanita ini menghela nafas panjang.


"Jangan bilang kamu cinta mati sama dia?"


Tari mendengus kesal.


"Yu, cinta itu nomor sekian. Yang penting uang, karena hidup butuh makan dan masih banyak kebutuhan yang lain."

__ADS_1


"Nggak usah dibahas lah kak, aku pergi duluan." Pamit Ayu yang bergegas pergi.


Sebenarnya Tari merasa kasihan pada kehidupan rumah tangga adiknya, tapi mau bagaimana lagi itu sudah menjadi pilihan Ayu sendiri.


Singkat cerita sore pun menjelang, dengan wajah lesu dan lelah Ayu memasuki rumah. Tenggorokannya kering, Ayu sangat ingin meminum jus buah. Dengan penuh semangat ia menuju dapur lalu membuka kulkas. Wanita mencari-cari buah apel yang dibelinya hanya tiga biji.


"Loh, kok nggak ada!" Ujar Ayu yang merasa heran.


Ayu terus mencari, tapi tetap saja tidak ada.


"Loh, kok telur juga nggak ada. Kemana? Siapa yang ambil?" Ayu terus bertanya-tanya.


Wanita ini pun membongkar isi kulkas, mana tahu hanya terselip. Tapi, setelah semua dibongkar, tetap saja ia tidak menemukan buah apel dan telur miliknya.


"Siapa yang ambil?" Begitulah pertanyaan yang selalu keluar dari mulut Ayu.


Ayu memijat kepalanya yang terasa nyeri, wanita ini terduduk lemas di lantai dapur. Bahkan suaminya yang baru pulang saja tidak ia hiraukan. Wawan merasa heran kenapa istrinya seperti orang gila seperti ini?


"Yu, kamu ngapain duduk di situ?" Tanya Wawan lalu meneguk segelas air.


"Oh, itu yang ambil ibu tadi pagi. Katanya buat makan siang." Jawab Wawan dengan santainya.


Ayu menghembuskan nafas kasar, wanita ini mencoba menahan rasa sabarnya. Tapi, tubuh yang lelah ditambah lagi ia kehilangan barang membuat emosinya tak terselamatkan lagi.


"Ibu kamu itu sudah seperti pencuri ya?"


"Ayu...! Apa maksud kamu bicara seperti itu?" Sergah Wawan yang tidak terima.


"Ya, ibu kamu itu pencuri. Bisa-bisanya dia mengambil barang milik orang lain tanpa izin bahkan berani membuka isi rumah orang lain." Jawab Ayu dengan nada yang tak kalah tingginya.


"Bicara apa kamu itu hah? ibuku ibu kamu juga. Kurang ajar kamu bilang ibu aku pencuri." Ucap Wawan semakin membuat Ayu murka.


"Kalau begitu kembalikan buah apel dan telur-telur ku!" Jerit Ayu yang sudah tidak tahan lagi. "Aku membelinya bukan menggunakan uangmu apa lagi uang bapakmu! Cepat kembalikan!"

__ADS_1


"Keterlaluan kamu pelitnya, Yu. Itu makanan, dimakan sama ibu dan kakakku. Bisa-bisanya kamu perhitungan seperti itu."


"Heh, mas! Bukannya kemarin pagi ibu mu sudah mengambil ikan dan daging ayam punya ku dan hari ini ibumu mengambil buah dan telur punyaku. Besok apa lagi yang akan Ibumu ambil, hah! Ibu mu pikir ini warung...!!"


Ayu naik pitam, wanita ini beranjak dari duduknya kemudian pergi ke rumah ibu mertuanya. Wawan yang bertanya pun sudah tidak ia hiraukan. Ayu pergi untuk melabrak bu Nining yang sudah berani mengambil barang miliknya tanpa izin bahkan meminta kepada dirinya.


"Ayu, ngapain kamu kesini?" Tegur bu Nining dengan wajah angkuhnya.


"Kembalikan telur dan buah apelku!" Pinta Ayu yang sudah kalap.


"Dasar menantu pelit, serakah kamu Yu!"


"Aku tidak peduli...!" Jerit Ayu hingga mengundang keramaian. "Pencuri... Bisa-bisanya ibu mengambil barang di rumah tanpa seizin ku, apa lagi meminta padaku."


"Ayu, ayo pulang!" Wawan menarik tangan istrinya karena mereka sudah menjadi tontonan para tetangga sore itu. "Yu, ayo pulang. Malu dilihat sama tetangga."


"Diam...!!" Sentak Ayu. "Habis sudah kesabaranku!"


"Wawan juga tahu ibu mengambil buah apel dan telur itu. Apaan sih? Gitu aja jadi masalah, apa kamu nggak malu di lihat sama tetangga?" Ujar bu Nining yang merasa tak bersalah sama sekali.


"Ibu pikir semua itu dibeli menggunakan uang anak ibu? Seisi kulkas dibelikan sama kakakku. Mas Wawan cuma ngasih jatah tiga puluh ribu untuk dua hari, kalau ibu mau makan enak, jangan ngambil punya orang dong!"


Mendengar perkataan Ayu, para tetangga pun mulai bergosip. Bu Nining merasa malu apa lagi Wawan. Pria ini menarik istrinya pula secara paksa. Wawan bahkan tega menghardik istrinya, berkata kasar.


Sesampainya di rumah, pertengkaran suami istri ini pun tak bisa di elakkan lagi. Pada akhirnya, Wawan kembali pulang ke rumah ibunya karena tidak tahan pada Ayu yang terus mengomel.


"Ayu itu bikin malu, sekarang ibu disangka sebagai mertua yang suka ikut campur." Ucap Bu Nining yang merasa jengkel pada Ayu padahal apa yang dikatakannya adalah kebenaran.


"Udahlah, jangan hiraukan apa yang katakan Ayu." Sahut Wawan dengan santainya yang sama sekali tidak memikirkan perasaan istrinya.


"Masalah makanan aja diperpanjang sampai melabrak ke rumah ibu. Malu ibu, malu tahu nggak?"


Wawan hanya diam, pria ini sama sekali tidak menganggap masalah ini sangat serius.Wawan lebih betah mendengarkan ocehan ibunya dari pada istrinya sendiri.

__ADS_1


Sedangkan di rumah, Ayu hanya bisa menangis. Bahkan perut yang lapar pun tidak lagi ia hiraukan. Perasaan dihatinya bercampur aduk, Ayu semakin membenci ibu mertua dan suaminya yang menurut Ayu, ibu dan anak sama saja.


__ADS_2