
Hari ini kebetulan hari Minggu jadi Wawan tidak berangkat bekerja sama halnya dengan Ayu, wanita ini bangun tidur lalu bergegas menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum ia pergi, setelah selesai, ia segera mandi dan berdandan.
Wawan belum juga bangun karena ia baru pulang dari rumah ibunya sekitar jam satu dini hari.
Pulang jam satu malam, sudah biasa seperti ini. Ayu sebenarnya geram tapi mau bagaimana lagi, dirinya terlalu malas mencari keributan.
"Mas... mas bangun!" Ayu membangunkan suaminya, Wawan.
"Apa sih, Yu? Mas masih ngantuk!" Ujar Wawan.
"Mas, sarapannya sudah aku siapkan, aku pamit mau pergi dulu!"
Wawan membuka matanya lebar, alangkah terkejutnya Wawan saat melihat Ayu dari atas sampai ke bawah, sungguh istrinya terlihat cantik sekali hari ini. Dengan dress selutut berwarna merah muda.
"Kamu beneran Ayu istri ku, kan?" Tanya Wawan menatap takjub Ayu.
"Ya iyalah, masa istri tetangga."
Wawan diam membisu seolah-olah dirinya tersihir dengan kecantikan istrinya sendiri.
"Eh, malah melamun, nanti kesambet loh, mas!"
"Ayu, kamu mau pergi kemana?" Tanya Wawan.
"Pergi ke rumah orang tua ku, kebetulan hari ini mereka datang!" Ucap Ayu.
"Oh, dimana mereka sekarang?"
"Ada, di rumah kak Tari."
"Tapi kenapa dandanan mu seperti ini, terlalu berlebihan!" Cibir Wawan.
"Ya ampun, Mas. Masa aku harus dandan kucel, nanti apa kata orangtuaku, pasti mereka mengira aku gak terurus selama hidup sama kamu."
Wawan terdiam, sepertinya apa yang di ucapkan Ayu benar adanya.
"Ya, sudah. Jangan lama-lama!"
"Kamu nggak ikut, mas?"
__ADS_1
"Nggak, ah! Mas titip salam aja." Ucap Wawan.
Ayu mengangguk setelah itu pamit pada Wawan. Wawan beranjak dari tempat tidurnya dan langsung masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya setelah selesai mandi langsung pergi ke meja makan. Benar saja, di meja makan sudah terhidang gurami asam manis.
"Wah, tumben sekali Ayu masak enak begini." Gumam Wawan.
Wawan mengambil piring dan nasi karena memang perutnya sudah sangat lapar.
Tanpa banyak cingcong Wawan pun segera melahap masakan ayu. Wawan begitu lahap karena merasakan nikmat yang tiada Tara. Seperti orang yang tidak makan setahun.
Setelah beberapa saat, Wawan sudah selesai makan dan terlihat dipiring tak ada lagi makanan yang tersisa.
Wawan sangat bahagia, dia tersenyum lebar seraya mengelus perutnya yang sudah begitu buncit.
Tapi senyuman itu tiba-tiba memudar saat Wawan menyadari satu hal.
"Tunggu... tunggu, dari mana Ayu dapat uang untuk membeli ikan?" Tanya Wawan pada diri sendiri.
Sementara saja sudah dua hari ini Wawan tak memberi ayu jatah uang.
Wawan tidak ambil pusing, mungkin ia pikir Ayu membelinya dengan uang dari pemberian orang tua Ayu.
"Ayu, kamu belum sarapan pas mau kesini?" Tanya Tari.
"Belum Kak!" Jawab Ayu singkat.
Tari menghela nafas pelan.
"Kakak perhatikan, kamu semakin kurus. Apa jangan-jangan Wawan gak ngasih kamu makan!"
Ayu terdiam tidak tahu harus berkata apa, bohong pun percuma karena Tari kakaknya pasti tahu kalau dirinya sedang berbohong.
"Kamu menikah sama Wawan, dari awal bukannya bahagia malah sengsara."
"Tapi Ayu cinta sama Wawan, kak!"
"Kamu masih saja bercanda, Yu!"
Ayu hanya bisa menunduk saat Kak Tari menatapnya intens.
__ADS_1
"Jadi kapan ibu sama ayah kesini, kak?" Tanya Ayu yang mengalihkan pembicaraan.
"Besok sore kayaknya. Kamu nginap aja, Yu disini." Ucap Tari.
"Kalau Ayu nginap disini, mas Wawan gak ada yang ngurusin, kak." Ucap Ayu.
"Terserah kamu aja lah, Yu. Kamu mau ikut kakak apa dirumah aja?"
"Ikut kemana, kak?" Tanya Ayu balik.
"Biasalah. Ini kan Minggu jadi jalan-jalan sama mas Danu, pacar kakak."
"Dih, kalau Ayu ikut, jadi obat nyamuk dong. Gak mau ah!"
"Gak apa-apa, sekalian nyari yang baru."
"Hus.. jangan gitu, kak! Ayu masih punya suami."
"Punya suami tapi serasa kaya gak punya."
Ayu tidak berkata apa-apa lagi. Wanita ini beranjak pergi ke dapur untuk mencuci piring.
Setelah selesai, Ayu merebahkan tubuhnya di sofa empuk sambil menonton televisi. Tak lupa juga ada beberapa camilan yang menemaninya. Sedangkan Tari sudah pergi di jemput pacarnya.
Ayu merasa tenang dan damai saat berada di rumah kakaknya. Segala jenis makanan pasti ada, tinggal ambil. Berbanding terbalik saat dirumahnya, ingin jajan pun harus berdebat dulu.
Menjelang sore, barulah Tari pulang ke rumah di antar oleh pacarnya. Tari memasuki rumah dengan membawa berbagai macam jajanan di tangannya.
"Mas Danu gak mampir, kak?" Tanya Ayu.
"Enggak, dia ada keperluan mendadak ketemu sama klien."
Ayu mengangguk tanda mengerti.
"Nih, tadi kakak beliin kamu bakso bakar. Enak loh!" Ucap Tari.
Ayu mencicipi bakso bakar tersebut, sedetik kemudian matanya berbinar-binar.
"Enak banget kak, udah lama gak makan ini." Ucap Ayu.
__ADS_1
"Ya sudah, di habiskan aja semua!" Ucap Tari yang sebenarnya merasa kasihan melihat sang adik.