Jangan Salahkan Aku Meminta Cerai

Jangan Salahkan Aku Meminta Cerai
Eps 24


__ADS_3

"Bi, di mana Ayu?" Tanya Bu Indah.


"Non Ayu ada di taman belakang, Bu." Jawab Bi Inah.


"Iya bi, terimakasih. Oh ya, untuk makan malam nanti, bibi masakin makanan kesukaan Ayu ya, bi!" Ucap Bu Indah.


"Iya, Bu!" Bi Inah pun pamit pergi.


Bu Indah melangkahkan kakinya menuju ke taman belakang, ia melihat anaknya duduk sambil termenung.


"Ayu......" Tegur Bu Indah dengan lembut.


Ayu tak menggubris, dia masih larut dalam lamunannya.


"Ayu....." Tegur bu Indah sekali lagi dan Ayu pun langsung buyar dari lamunannya.


"Ibu, ada apa?" Tanya Ayu.


"Sedang mikir apa?" Tanya Bu Indah sambil mendudukkan tubuhnya di samping Ayu. "Mikirin Wawan, ya?" Tebaknya.


Wanita itu menghembuskan nafas pelan, memejamkan mata sejenak. "Enggak kok Bu," bohong Ayu.


"Sudahlah Yu, tidak usah dipikirkan lagi. Sekarang waktunya kamu berdamai dengan masa lalu kamu." Ucap Bu Indah dengan bijak.


"Rasanya kecewa aja, Bu. Aku sudah mau diajak hidup susah dengan dia, aku tidak pernah menuntut apa pun padanya, tapi ternyata hanya di balas dengan pengkhianatan." Ucap Ayu dengan suara tercekat menahan tangis.


"Biarkan masa lalu di tempatnya, belakang. Biarkan di sana, jangan dikenang lagi. Segala apa pun yang terjadi dulu, maafkanlah. Lupakan semuanya. Meskipun masa lalu sulit untuk dilupakan, kamu harus tetap fokus menjalani hidup di masa sekarang dan berusaha memperbaiki diri agar memiliki masa depan yang cerah. Supaya bisa lebih berdamai dengan masa lalu," Nasehat Bu Indah. "Jika kamu ingin menangis, menangis lah!" Timpalnya.


"Kalau Ayu nangis bearti Ayu akan menjadi lemah, Bu. Ayu tidak mau seperti itu..!"


"Tak selamanya air mata bisa dianggap sebagai kelemahan, Yu. Mengeluarkan Air mata bisa saja membuat hati kita menjadi lebih lega dan kuat," ucap Bu Indah.


Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Ayu, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh juga. Wanita ini menangis histeris di dalam pelukan ibunya. Sekuat apapun dia pasti akan ada sisi rapuhnya.

__ADS_1


Bu indah turut perihatin melihat anaknya yang seperti itu, ia pun mengelus-elus kepala Ayu untuk menenangkannya.


"Menangis lah, Yu. Luapkan segalanya sekarang, menangis lah sampai kamu benar-benar merasa lega." Ucap Bu Indah.


Tangis Ayu semakin pecah tak kala ibunya berucap seperti itu. Meski sudah cerai, tapi entah kenapa saat mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh lelaki yang sudah bersamanya selama enam tahun itu membuat dirinya menjadi tak berdaya.


Setelah beberapa saat menangis, Ayu pun merasa cukup tenang.


"Sudah menangisinya?" Tanya Bu indah.


Ayu menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu, sudah gelap sebaiknya kita masuk ke dalam, kamu mandi dan kita akan makan malam bersama. Bi Inah sudah memasakkan makanan kesukaan kamu." Kata Bu Indah dengan senyum ramah.


Ayu pun mengiyakan, kedua ibu dan anak ini pun masuk ke dalam rumah. Ayu menuju ke kamarnya, sesampainya di kamar ia kembali menumpahkan air mata. Jujur saja ia masih mencintai mantan suaminya yang sangat pelit itu.


Jam makan malam tiba, Pak Samsul dan Bu Indah sudah berada di meja makan sementara Ayu belum juga kelihatan batang hidungnya.


Selang beberapa saat Ayu pun turun dan menghampiri orang tuanya yang sudah menunggu di meja makan.


"Maaf sudah membuat ayah dan ibu lama menunggu. Aku baru selesai mandi." Ujar Ayu.


"Sudah nggak apa-apa. Kamu pasti udah lapar, ayo makan." Ucap Bu Indah.


Merekapun mulai menyantap makanannya di piring masing-masing.


"Gimana sayang? Enak?" Tanya Bu Indah.


"Hem, iya Bu. Ini sangat enak, udah lama aku nggak makan makanan kesukaanku." Ujar Ayu seraya tersenyum.


"Memangnya kamu nggak pernah dikasih makan sama Wawan yang enak-enak?" Tanya Pak Samsul.


"Pak..!" Tegur Bu Indah.

__ADS_1


"Maafkan ayah sudah membuat kamu nggak enak hati." Ujar pak Samsul.


"Ayah nggak usah merasa nggak enak sama Ayu. Lagian selama menikah sama Wawan, Ayu memang jarang makan enak."


"Sudah... Sudah, jangan dibahas lagi sebaiknya kita lanjut makan lagi." Ucap Bu Indah.


Ketiganya pun kembali menikmati makanannya masing-masing dalam keadaaan hening hingga selesai makan.


Setelah selesai makan malam, mereka duduk-duduk di ruang keluarga sambil berbincang-bincang.


"Yu, gimana sama kerjaan kamu?" Tanya Bu Indah.


"Ayu akan mengundurkan diri Bu dari kantor." Jawab Ayu.


"Loh kenapa?"


"Ayu ingin menenangkan pikiran."


"Ya memang harus. Bagaimana kalau kamu berlibur ke luar kota saja?" Tawar Pak Samsul.


"Sepertinya ide bagus itu, Yu!" Ucap Bu Indah menimpali.


Ayu memikirkan ucapan kedua orangtuanya. Lebih baik begitu. Seharusnya ia pergi berlibur untuk menenangkan hati dan pikirannya.


"Iya sepertinya usulan ayah dan ibu ada benarnya juga."


Pak Samsul dan Bu indah pun senang mendengarnya. Mungkin dengan kepergian Ayu pergi berlibur akan membuat anaknya lupa akan masalah yang telah menimpa dirinya.


Mereka terus berbincang-bincang dan bercanda bersama. Sampai tak terasa waktu sudah larut malam.


"Sudah malam, sebaiknya kita istrihat. Ayu kamu kan besok harus pergi ke kantor." Ucap Bu Indah.


"Iya, Bu. Kalau begitu Ayu duluan pergi ke kamar." Ucap Ayu kemudian pamit pergi.

__ADS_1


__ADS_2